NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

​Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Waktu masuk sekolah untuk Dio akhirnya datang juga. Pagi itu, suasana langit masih gelap gulita saat Rena membuka matanya. Ada debar penuh haru di dadanya melihat seragam putih-merah yang tergantung rapi di kapstok dinding. Hari ini adalah hari pertama putra kecilnya melangkah sebagai seorang murid sekolah dasar.

​Seperti biasa, Rena bangun pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. Gerakannya kini jauh lebih cepat dan gesit. Dia menyapu rumah, mencuci baju, dan merapikan dapur sebelum seisi rumah terjaga. Kali ini, dia juga memasak sesuatu yang istimewa untuk bekal Dio ke sekolah. Hanya masakan sederhana, telur dadar tebal yang diiris rapi dan tempe orek manis kesukaan putranya. Rena menata makanan itu ke dalam kotak bekal plastik, lalu membawakan air putih di botol minum baru yang baru kemarin dibelinya sepulang kerja dari sisa uang tip pemberian Ririn.

​Ada satu perubahan besar dalam tabiat Rena belakangan ini. Kini, dia tidak sungkan lagi menyisakan makanan porsi terbaik untuk dirinya dan Dio terlebih dahulu ke dalam wadah terpisah, sebelum sisa makanan lainnya diberikan dan dihidangkan di atas meja untuk Aris dan keluarganya. Rena benar-benar tidak ingin ditindas seperti sebelumnya. Pengalaman pahit selama bertahun-tahun telah menempanya menjadi wanita yang berprinsip.

​Dia tahu betul, dia tidak boleh tinggal diam lagi sekarang. Karena jika dia terus diam dan patuh seperti dalu, mereka–ibu mertua dan adik iparnya—hanya akan semakin menginjak-injak harga dirinya hingga tidak bersisa. Berdasarkan pengamatannya beberapa hari terakhir, saat dia mulai berani melawan dan bersikap dingin, mereka ternyata tidak berani lagi menginjak-injak dirinya secara langsung. Mereka kini hanya berani mengoceh tiada henti dari kejauhan, persis seperti anjing yang hanya bisa menggonggong saat mangsanya berbalik menantang.

​Saat Rena sedang memasukkan kotak bekal ke dalam tas robot baru milik Dio, Bu Broto berjalan masuk ke dapur dengan langkah diseret. Mata wanita tua itu langsung tertuju pada botol minum dan tas baru Dio yang tergeletak di atas meja.

​"Halah, anak baru masuk SD saja gayanya sudah seperti anak orang kaya," cibir Bu Broto sinis, melipat tangan di dada dengan bibir mencucu. "Pakai bawa bekal segala, jajan di luar kan bisa. Bikin repot saja pagi-pagi."

​Bu Broto yang melihat apa yang dilakukan Rena itu hanya mencibir tanpa henti. Dia sama sekali tidak memiliki rasa sayang atau kepedulian sedikit pun kepada cucu pertamanya itu, hanya karena Dio lahir dari rahim Rena yang seorang yatim piatu miskin dan teramat sangat dibencinya.

​Rena yang sedang menutup rapat kotak bekal tidak sudi memalingkan wajahnya. Dia menanggapi cibiran itu dengan wajah datar dan dingin seperti biasa yang kini ia tunjukkan kepada ibu mertuanya.

"Di luar tidak higienis, Bu. Lebih baik bawa dari rumah," sahut Rena pendek, suaranya dingin tanpa intonasi. "Kalau memang ibu menyuruh dio jajan di luar setidaknya beri Dio uang saku. Jangan hanya mengkritik tanpa memberi solusi sedikitpun. "

Bu Broto langsung kicep. Kata-kata Rena benar-benar membungkamnya kali ini. Selama ini jangankan memberi Dio uang untuk beli kue atau jajan, bahkan untuk makan sehari-hari saja Dio harus menunggu sisa dari mereka setelah makan. Benar-benar nenek yang sangat pelit.

Sekarang ​Rena benar-benar tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan mertuanya itu tentang dirinya. Terserah dia menganggap Rena istri atau menantu durhaka. Yang paling penting baginya saat ini adalah menjaga kewarasannya dan anaknya bisa sekolah dengan baik, mendapatkan pendidikan yang layak, dan tidak kelaparan saat jam istirahat sekolah nanti. Keberadaan Bu Broto kini tak lebih dari sekadar radio rusak yang diletakkan disudut ruangan, bising dan tidak patut di dengar.

​Tepat pukul setengah tujuh pagi, setelah memastikan Dio sudah rapi dengan seragam baru dan sepatu hitamnya, Rena menuntun sepedanya keluar pagar. Aris yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menatap kepergian mereka dengan pandangan rumit, ada rasa bersalah yang masih membayangi wajahnya namun dia tetap memilih bungkam. Dio hanya berpamitan dengan ayahnya dengan bersalaman dan berlari mendekati ibunya.

​Rena mengayuh sepedanya membelah udara pagi yang segar, mengantarkan Dio menuju sekolah dasarnya. Setibanya di sana, suasana gerbang sekolah tampak sangat ramai oleh riuh suara murid baru dan para orang tua yang mengantar. Rena menggandeng jari kecil Dio yang terasa sedikit dingin karena gugup.

​"Dio takut, Ibu?" tanya Rena lembut seraya berlutut menyamakan tinggi badannya dengan sang putra di depan kelas.

​Dio menggeleng, meski matanya menatap sekeliling dengan ragu. "Sedikit, Ibu. Tapi Dio mau pintar seperti kata Ibu."

​Rena tersenyum haru, merapikan kerah baju Dio yang sedikit melipat. "Anak pintar. Ibu tunggu di depan gerbang sebentar ya, sampai bel masuk berbunyi karena ibu harus kerja di rumah Bu Ririn. Nanti kalau istirahat, jangan lupa dimakan bekalnya ya, Nak."

"Iya, bu. Dio pasti menghabiskan makanan ini nanti."

"Anak pintar. Ibu yakin nanti Dio pasti akan menjadi orang sukses. " gumam Rena lirih sambi menyelipkan uang dua ribuan di saku Dio, "Ini uang saku Dio, kalau nanti Dio pengen beli jajan atau permen. "

​Rena menunggunya sebentar di bawah pohon rindang dekat halaman sekolah, berbincang sebentar dengan wali murid baru yang juga sedang menunggu anaknya di hari pertama masuk sekolah. Begitu bel masuk berdentang nyaring dan melihat Dio berjalan masuk ke dalam kelas bersama guru barunya dengan tertib, barulah Rena bisa bernapas lega. Dia melambaikan tangan kecilnya, lalu bergegas kembali ke sepedanya untuk pergi ke tempat kerja.

​Sebelum mengayuh sepedanya, Rena merogoh saku dasternya dan mengeluarkan ponsel pemberian Ririn, untuk melihat balasan pesan dari majikannya itu. Dia sudah menghubungi Ririn sejak satu jam yang lalu melalui pesan singkat, mengabarkan kalau hari ini dia akan datang sedikit terlambat kerja karena harus menemani Dio di hari pertamanya masuk sekolah terlebih dahulu.

​"Iya, Mbak Rena, santai saja. Urus Dik Dio dulu sampai selesai, saya mengerti kok," balas Ririn dalam pesan teksnya yang ramah.

​Membaca balasan itu, Rena tersenyum kecil penuh rasa syukur. Benar apa yang dikatakan Ririn tempo hari. Dengan ponsel barunya ini, dia jadi merasa sangat mudah berkomunikasi dengan Ririn maupun dengan pihak sekolah jika sewaktu-waktu ada keadaan darurat mengenai Dio. Gawai tua yang awalnya sempat dia tolak itu ternyata kini menjadi benda paling penting dalam kesehariannya. Rena sangat berterima kasih karena Ririn sudah memberinya ponsel tersebut, sebuah benda sederhana yang kini menjadi jembatan berharga untuk menyusun kepingan demi kepingan masa depannya kelak.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!