Gemintang Dahayu mampu bertahan menghadapi gosip. Ia mampu bertahan menghadapi kematian suaminya, Guntur Rimba Buana, orang paling kaya di daerahnya yang Tiga Puluh tahun lebih tua darinya. Tapi ia takut dan tidak akan sanggup menghadapi Raden Matahari Terbit Buana, putra suaminya.
Bertahun-tahun sebelum ia menikah, ketika ia dan Raden masih remaja dalam derai hujan pria itu memperkenalkan Gemintang pada cinta pertama yang menggetarkan. Lalu pria itu pergi, membuat hatinya hancur.
Tapi sekarang Raden kembali…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hanya ada lampu kecil redup yang menerangi ruang rawat inap Guntur di rumah sakit. Semacam lampu sorot, yang sinar lampu diarahkan ke bawah, sehingga cahayanya tepat mengenai wajah pria yang tengah menderita kesakitan itu.
Perawat sedang membungkukkan badan di dekat Guntur ketika Raden dan Gemintang memasuki kamar. Dengan tangan yang ditusuk selang, Guntur mengibaskan tangan, menyuruh perawat itu keluar dari kamarnya.
“Cepat keluar dari sini, tinggalkan aku."
“Tapi, tuan Buana..."
“Keluar!” bentaknya kasar. “Aku ingin bicara dengan istri dan putraku.”
Perawat itu pun segera meninggalkan kamar, sementara Gemintang mendekati ranjang Guntur dan memegang tangannya. “Kami langsung ke sini begitu dokter menghubungi kami.”
Mata Guntur yang hitam, bak peluru, menatap Gemintang bagai moncong senapan yang ditodongkan. Bayang-bayang kehidupan yang hancur terpancar dari mukanya, bukan secara fisik tetapi batin. “Kuharap aku tidak membuat kalian terpaksa harus meninggalkan sesuatu yang lebih penting,” ucap Guntur sinis dan menarik tangannya dari genggaman Gemintang.
Gemintang tidak mau terpancing,dengan tenang ia menanggapi suaminya. “Tentu saja tidak, tuan. Kau tahu aku datang ke sini untukmu.”
Guntur tersenyum sinis. “Agar kau segera tahu aku sudah mati apa belum? Supaya kau langsung tahu, kau sudah bebas dariku?”
Tubuh Gemintang tersentak mendengar ucapan Guntur. “Mengapa kau berkata seperti itu? Apa kau pikir aku ingin kau meninggal? Bukankah aku sejak dulu aku yang selalu memintamu ke dokter? Tak ada alasan kau menuduhku seperti itu."
“Itu karena kau tidak punya kesempatan saja.” Tatapan Guntur bergeser ke arah Raden, yang berdiri di ujung tempat tidur, dengan raut wajah tanpa ekspresi.
“A-apa maksudmu mengatakan begitu?” Gemintang tergagap, membuat mata Guntur kembali tertuju padanya.
“Maksudku, karena pria yang begitu kau dambakan kini tinggal satu atap denganmu. Kau bisa tergoda untuk tidak setia pada suamimu."
Gemintang merasa napasnya mau putus. “Maksudmu, Raden?” tanya Gemintang, menegaskan.
“Raden.” Guntur mengulangi, menirukan Gemintang. “Raden, Raden. Tentu saja dia! Sudah pasti yang kumaksud Raden.”
“Tetapi Raden dan aku… kami tidak punya… kami tidak pernah….”
“Jangan bohong padaku.” Guntur duduk dan membentak Gemintang. “Jangan coba berpura-pura di hadapanku, Nona Cilik. Aku tahu semua cerita tentang dirimu dan Raden.”
Gemintang menjauhkan diri dari Guntur, matanya mencari-cari Raden. Raden bergeming, ia tetap berdiri kaku di ujung tempat tidur ayahnya. Matanya menyorotkan kebencian yang dalam. “Kau tahu soal Gemintang pada malam kau memberitahuku tentang Willona yang hamil, bukan?” tanya Raden.
Guntur ambruk di bantal. Napasnya terdengar tersenggal-senggal, secara fisik, jelas tenaganya banyak tersedot untuk mengungkapkan pesan kemenangannya. Namun raut wajahnya berbinar memancarkan kepuasan ketika ia menatap putranya dengan sorot mata penuh kedengkian.
Guntur tertawa. “Aku tahu. Semuanya,” ucapnya dengan sinis. “Kau harusnya sadar, tak mungkin kau pergi menyelinap ke hutan setiap hari tanpa membangkitkan rasa oenasaranku. Aku akan mengagumi kecerdikanmu, bila kau bersikap lebih cerdik, tapi ternyata kau bodoh."
“Jadi kau pernah membuntutiku dan melihat kami bersama,” tanya Raden dengan suara tetap tenang
“Hah, tentu saja tidak!” jawab Guntur, senang. “Aku tak mau merepotkan diriku ikut campur urusanmu. Aku hanya penasaran, kenakalan apa yang kau lakukan. Cukup kusuruh budak-budakku untuk mengikutimu. Mereka memberikan laporan yang sangat menarik. Kau menemui gadis miskin di tepi sungai setiap hari.”
Gemintang terisak memilukan hati, namun Guntur sama sekali tidak memedulikannya karena yang jadi sasarannya adalah putranya.
“Gadis yang kau temui setiap hari secara sembunyi-sembunyi hanya gadis di bawah umur, kata anak buahku, tetapi tubuhnya sangat menggiurkan.” Guntur membasahi bibirnya.
Tubuh Raden gemetar karena berusaha mengendalikan kemarahan yang menyergapnya.
“Kami tertawa geli ketika tahu perempuan pujaanmu ternyata putri seorang pemabuk.” Guntur mengedipkan mata pada Raden. “Tetapi aku kagum akan seleramu pada perempuan, anakku."
“Mari kita luruskan permasalahannya,” sela Raden. “Kau tahu yang dikandung Willona bukan anakku, bukan?”
“Kurasa, bayi itu mungkin saja anakmu atau anak laki‐laki lain, dan kau tidak bisa membuktikan karena Willona menolak tes DNA."
“Bukan anakmu?” guman Gemintang dengan suara parau, menyiratkan ketidakpercayaan dan penasaran.
Raden menoleh, “Bukan, Gemintang,” jawab Raden. “Bayi itu bukan anakku.”
“Tetapi kau pernah tidur dengan Willona, bukan?” tanya Guntur.
Mata Raden tetap tertuju pada Gemintang ketika menjawab pertanyaan Guntur, “Ya. Tetapi itu terjadi jauh sebelum ia hamil. Aku tidak pernah kencan dengan perempuan lain setelah mengenal Gemintang. Alyssa bukan anakku.” Raden kembali menghadap ke arah ayahnya. “Dan kau tahu soal itu. Waktu itu kukatakan padamu bayi itu bukan anakku, karena hampir setahun aku tidak tidur dengan Willona. Tetapi kau memaksaku menikahinya juga. Mengapa?”
“Senang aku mengetahui kau lupa bahwa kau sendiri yang memilih menikahinya.”
“Karena kau mengancamku akan memasukan Laura ke panti asuhan bila aku menolak menikahi Willona!” teriak Raden, mengeluarkan kemarahan yang sejak tadi diredamnya.
“Ya ampun!” Gemintang menutup muka dengan tangan. Guntur memaksa Raden menikahi gadis yang mengandung anak laki-laki lain? Bagaimana ia bisa melakukan hal itu?
“Mengapa kau memaksaku menikahi Willona? Mengapa kau tidak menyangkal pernyataan ayah Willona bahwa aku bukanlah ayah bayi itu, padahal aku yakin kau bukan orang yang takut menanggung akibat skandal ini. Kau bukan orang yang peduli norma masyarakat. Dan aku tahu orangtua Willona tidak mengancammu. Mengapa kau memaksaku mengawininya?” Suara Raden meninggi, pertanyaannya itu menggema di dalam ruangan.
“Uang,” jawab Guntur, singkat dan mudah. “Ayahnya punya banyak uang. Aku lagi butuh uang. Se‐sederhana itu masalahnya. Aku menjualmu, senilai dua puluh lima miliar, cukup besar bukan?”