NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

"Jenaka, boleh bicara denganmu? Empat mata, please.” Wajah Dante tegang.

Jenaka menatapnya tajam, dan penasaran pada wajah pria itu. Ia menengok ke belakang Dante, kemudian ke pintu ruang kerja.

“Tari sedang bermain catur dengan Lingga,” ucap Dante, ia berhasil membaca pikiran Jenaka. Ia memberi kode kepada Jenaka untuk ikut dengannya ke halaman.

Jenaka sempat ragu, namun akhirnya ia pun menyusul Dante. Ia sempat ragu karena tidak ingin ada komentar miring tentang kebersamaannya dengan Dante, tapi di sisi lain, ia tahu Dante tak akan merayunya.

“Bukankah sekarang semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan rencanamu?” Jenaka bertanya pelan kepada Dante.

Dante tertawa getir sambil mengusap tengkuknya. "Aku rasa tidak,” sahut Dante. “Aku sudah mencoba berbaikan dengan Tari, tapi entah mengapa aku selalu berpikir jika Tari tidak akan mencintaiku seperti dia mencintai Lingga, aku tak cukup berarti seperti Lingga, dan itu membuatku hampir muak untuk menyentuhnya lagi seperti dulu."

"Situasi yang saling tak nyaman ketika memulai lagi, menurutku itu hal yang lumrah terjadi. Kecelakaan akan mengguncang jiwa semua orang yang terhubung dengan pasien. Jika yang terluka anak-anak, akan terjadi pertengkaran antara orangtua atau saling menyalahkan satu sama lain. Jika dalam kasus ini, Lingga menerima semua perhatian dari Tari, hingga membuatnya mengabaikanmu dan kamu tidak menyukai itu.”

“Kau membuatku terkesan begitu picik, seolah aku tak menyukai kedekatan kakak beradik,” ucap Dante.

“Bukan begitu. Apa yang kau rasakan itu manusiawi, seorang suami memang membutuhkan perhatian istrinya.” Suara Jenaka masih penuh kehangatan. Dante menatapnya lekat-lekat, tatapannya merayapi wajah lembut Jenaka. “Aku yakin perlahan keadaan akan membaik,” Jenaka menenangkannya.

“Sepertinya aku sudah tidak mau menyelamatkan pernikahanku." ucap Dante dengan suara berat. “Kadang-kadang aku hampir membenci Tari, dengan alasan Tari tidak mencintaiku seperti aku mencintainya, di pikirannya hanya ada Lingga seorang.”

“Mengapa hanya Tari yang harus menerima semua kesalahan itu?” desak Jenaka. “Mengapa kau tidak menunjukkan sebagian kemarahanmu pada Lingga? Mengapa kau tidak membenci Lingga karena menyita semua perhatian Tari?”

Dante tertawa. “Karena aku tidak jatuh cinta pada Lingga.” Ia terkekeh. “Aku tidak peduli apa yang Lingga lakukan… kecuali dia menyakiti hatimu.”

Jenaka terkejut, mata besarnya semakin membesar. Dalam keremangan senja, matanya berkilat. “Bagaimana Lingga bisa menyakitiku?” tanya Jenaka dengan parau.

“Dengan membuatmu jatuh cinta kepadanya. Aku memperhatikan kau berubah dua minggu terakhir ini. Sebelumnya kau sudah cantik, semua makhluk Tuhan pun setuju akan hal itu. Tapi sekarang kecantikanmu makin memesona, kau… bercahaya. Pakaian barumu, ekspresi wajahmu, bahkan caramu berjalan… semua berubah. Sekarang Lingga sangat membutuhkanmu sehingga semua orang tersingkir dari pikirannya, tapi bagaimana nanti? Ketika Lingga bisa berjalan lagi, apakah dia masih akan menatapmu? Atau dia mencari wanita lain yang sesuai dengan kriterianya, itu tentu menyakitkan untukmu."

“Aku tidak jatuh cinta pada Lingga.” protes Jenaka, ia harus mendorong jauh-jauh perasaan itu itu, ia tidak boleh jatuh cinta kepada Lingga.

“Aku tak percaya," ucap Dante.

"Aku tidak berniat membangun istana pasir di sini," ucap Jenaka meyakinkan Dante. “Setelah Lingga bisa berjalan, aku akan melanjutkan menangani pasien lain. Aku memang selalu terlibat secara personal dengan pasienku, tapi tak pernah ada hubungan istimewa,” imbuhnya sambil tertawa kecil.

Dante menggeleng-geleng dengan geli. “Kau berdusta."

“Aku tidak berdusta,” Jenaka menyangkalnya. "Kukira kau ingin berbicara tentang Tari,” ia tidak ingin lagi membicarakan lebih jauh tentang dirinya.

“Tadinya begitu, tapi setelah kupikirkan lagi, aku takkan merecokimu dengan masalah itu. Beban pikiranmu saat ini sudah cukup banyak. Pada akhirnya, aku dan Tari akan berpisah, jadi tidak ada gunanya meminta nasihat orang lain.”

Mereka berjalan bersebelahan masuk rumah dan menuju ruang kerja. Lingga mengangkat wajah ketika Dante dan Jenaka masuk. Ekspresi ketidak sukaannya terlihat jelas di wajahnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya Jenaka menjulurkan kepala ke kamar Lingga untuk mengucapkan selamat tidur, Lingga berkata dengan suara datar, “Jee, pernikahan Tari sekarang berada di ujung tanduk. Kuperingatkan kau jangan lakukan apa pun yang bisa mendorong hubungan mereka ke jurang. Tari mencintai Dante. Dia pasti merana jika kehilangan Dante.”

“Aku bukan perusak rumah tangga orang atau wanita murahan,” balas Jenaka dengan sakit hati. Bisa-bisanya Lingga berpikir… “Aku tidak seperti ibuku,” ucap Jenaka tiba-tiba, suaranya kaku, lalu berbalik cepat-cepat dan membanting pintu setelah keluar, berlari ke kamarnya meski ia mendengar Lingga memanggil namanya.

Jenaka sakit hati dan marah, dan ia membawa kemarahannya itu dalam tidurnya, tapi beberapa jam kemudian ia terbangun mendengar gema namanya dipanggil. Ia duduk tegak, menelengkan kepala sambil menyimak.

“Jee!!”

Jenaka tahu Lingga kesakitan, tanpa memakai kimononya ia berlari ke kamar Lingga. Jenaka menyalakan lampu dan Lingga sudah duduk sambil memijat betis kiri, wajahnya berkerut-kerut meringis menahankan sakit. “Kakiku....” rintihnya.

Jenaka meraih kaki Lingga dan menghunjamkan ibu jari ke tumit Lingga dan mulai memijat. Lingga menjatuhkan tubuh ke bantal, dadanya naik-turun dengan cepat saat dia menghirup udara banyak-banyak.

Jenaka mencurahkan perhatian ke kaki Lingga, ia tidak menyadari cara Lingga memperhatikannya dengan serius. Setelah beberapa menit, Jenaka meluruskan kaki Lingga dan menepuk mata kakinya, lalu menyelubunginya dengan selimut. “Selesai,” ucapnya, tersenyum sambil menaikkan tatapan, tapi senyumnya sirna saat beradu tatapan dengan Jenaka.

Mata indah Lingga, membuat Jenaka goyah di depan tatapan pria itu, bibir lembutnya terbuka. Tatapan Lingga perlahan merayap turun, dan tiba-tiba Jenaka menyadari *********** yang membusung menekan kain pakaian tidur yang tembus pandang. Baju tidurnya yang baru tidak menyembunyikan banyak bagian tubuhnya, hanya seperti selubung tipis yang membalut tubuhnya.

Jenaka berdiri kemudian tersentak, saat melihat banyaknya yang tersingkap saat ia berdiri. Ia berhasil mencapai tujuannya, tapi ia tidak merasakan kemenangan. Ia justru tertegun, bibirnya kering, denyut nadinya seperti menggedor keras pembuluh darahnya. Jenaka menelan ludah, dan berkata "Bukankah kau impoten.”

Agak lama untuk Lingga memahami kata-kata Jenaka. Ia kelihatan sama tertegunnya seperti yang Jenaka rasakan, lalu Lingga menurunkan tatapan ke bagian tubuhnya yang sudah berdiri.

"Mungkin karena baju tipis dan minim itu yang membuatnya bangun,” ucap Lingga

Jenaka tak mengeluarkan ekspresi apa pun, ia meninggalkan kamar Lingga secepat mungkin tanpa berlari.

Sasampainya di kamarnya ia mengganti pakaiannya, ia memakai kembali pakaian lamanya. Sekarang ia tidak perlu lagi memakai pakaian menggoda, kondisi fisik Lingga mengalami kemajuan pesat dan Jenaka berpikir sebaiknya ia tidak bermain api.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!