Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sihir air
Setelah makan siang selesai, Bellatrix merasa tenaganya sudah pulih jauh lebih baik. Perutnya terasa kenyang dan hangat, ditambah suasana hati yang ringan membuatnya ingin segera mencoba apa yang baru ia sadari kekuatan sihir air yang mengalir di dalam tubuhnya.
Namun, ia tidak langsung beranjak pergi. Ia malah masih bersandar manja di lengan Duchess Elara, enggan melepaskan pelukan ibunya.
“Bunda… Bunda tidak pergi ke mana-mana dulu ya?” tanyanya dengan suara lembut dan sedikit merajuk, jari-jarinya memainkan ujung lengan gaun ibunya.
“Kalau Ayah ada pekerjaan, Bunda temani aku sebentar saja… aku ingin mencoba sesuatu, tapi rasanya lebih tenang kalau Bunda ada di dekatku.”
Elara tertawa lembut, lalu mengusap rambut panjang putrinya dengan sayang. “Tentu saja, Nak. Bunda tidak ada urusan penting hari ini. Bunda akan menemanimu. Bahkan Ayah pun sepertinya ingin melihatnya juga.”
Benar saja, Duke Leonidas yang baru saja meletakkan serbetnya menoleh dengan senyum tipis. “Ayah juga penasaran. Sihir air adalah warisan keluarga kita, tapi sudah lama sekali kita tidak melihatmu menggunakannya dengan sungguh-sungguh.”
Mendengar itu, Bellatrix tersenyum lebar, lalu bangkit berdiri sambil tetap menggandeng tangan ibunya. “Kalau begitu, ayo ke halaman belakang saja. Tempatnya luas, ada kolam kecil juga cocok sekali untuk latihan.”
Mereka bertiga berjalan perlahan menuju halaman belakang kediaman yang luas dan tertata indah. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma bunga dan rumput segar, dan di tengah halaman terdapat kolam kecil yang airnya jernih dan tenang.
Begitu sampai di tepi kolam, Bellatrix melepaskan genggamannya sebentar, lalu berdiri menghadap ke air. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan perhatian ke dalam dirinya, merasakan aliran energi yang lembut dan dingin mengalir lancar di sepanjang saluran sihirnya.
“Ingat… sihir air itu mengikuti arus, bukan dipaksa. Tenang, mengalir seperti sungai…” bisiknya dalam hati, menggunakan logika yang ia pelajari saat menjadi tentara kendali dan ketenangan adalah kunci kekuatan.
Perlahan ia mengangkat telapak tangannya menghadap ke permukaan kolam. Dengan konsentrasi lembut, ia menyalurkan seulas tenaga sihirnya. Seketika itu, permukaan air yang tadinya tenang beriak pelan, lalu sedikit demi sedikit naik membentuk tiang air setinggi pinggangnya, melayang stabil di udara tanpa tumpah.
Bellatrix membuka matanya, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. Ia menggerakkan jari-jarinya, dan tiang air itu berubah bentuk menjadi bola, lalu menjadi pita yang melingkar di sekelilingnya, seolah menari mengikuti irama yang hanya ia dengar.
“Wah… bisa juga!” serunya antusias, lalu seketika berbalik dan berlari kecil kembali mendekati kedua orang tuanya. Ia langsung memeluk lengan Elara lagi, bersandar dengan wajah berseri. “Bunda lihat? Bisa! Rasanya enak sekali, mengalir begitu saja.”
Elara membelai pipinya dengan bangga. “Tentu saja bisa, sayang. Darah Volkov mengalir di tubuhmu. Lihatlah, bahkan lebih halus dan terkontrol dibandingkan saat pertama kali Ayah atau Bunda mempelajarinya dulu.”
Leonidas mengangguk setuju, matanya memancarkan rasa bangga yang tak tersembunyi. “Dasar keturunan kita. Sihir air bukan hanya untuk pertarungan, tapi juga untuk penyembuhan, membersihkan, bahkan mengubah kondisi lingkungan. Kamu baru mulai, tapi potensinya sangat besar.”
Mendengar pujian itu, Bellatrix tersenyum malu, lalu mengangkat wajahnya sedikit merajuk. “Tapi ini baru permulaan saja, Ayah. Aku masih lemah sekali. Nanti Ayah ajari aku lebih banyak ya? Jangan terlalu keras mengajarinya… aku masih baru pulih, nanti lelah lho.”
Nada bicaranya terdengar manja, membuat Leonidas tertawa rendah suara yang jarang terdengar begitu ceria. “Baiklah, baiklah. Ayah akan mengajarimu pelan-pelan saja. Tidak akan dipaksa, janji.”
Setelah puas menunjukkan kemampuan dasarnya, Bellatrix kembali mendekati kolam. Kali ini ia ingin mencoba hal lain yang terlintas di pikirannya menggunakan sihir air untuk membantu merawat dirinya sendiri. Ia menggerakkan tangannya, dan air dari kolam itu berubah menjadi butiran-butiran halus seperti kabut, melayang mendekati wajah dan rambutnya. Kabut itu terasa sejuk, menyejukkan kulitnya, dan sekaligus membersihkan sisa-sisa kotoran serta menyegarkan tubuhnya.
“Wah… rasanya jauh lebih enak dibandingkan hanya mencuci biasa,” gumamnya sambil memejamkan mata menikmati sensasi itu. Lalu ia kembali mendekat dan memeluk lengan kedua orang tuanya bergantian, seolah tidak ingin berhenti mencari perhatian. “Bunda, Ayah… nanti aku juga mau belajar sihir yang lain ya? Di dalam cincin dimensi ada banyak buku panduan, tapi aku butuh bimbingan kalian juga. Jangan biarkan aku belajar sendirian, takut salah.”
“Tentu saja tidak akan dibiarkan sendirian,” jawab Elara sambil mencium kening putrinya. “Kita semua akan membantumu. Selama kamu mau belajar dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang mustahil.”
Bellatrix tersenyum lebar, hatinya terasa sangat ringan dan bahagia. Ia sadar, di dunia ini, ia tidak lagi harus berdiri sendirian. Ia punya keluarga yang mendukung, kekuatan yang terus berkembang, dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri termasuk menjadi anak yang manja dan dicintai tanpa syarat.
Saat matahari mulai bergeser ke barat, ia masih tetap berdiri di antara Ayah dan Bundanya, sesekali mencoba menggerakkan sihirnya lagi, sesekali bersandar dan mengeluh kecil kalau tangannya terasa sedikit pegal, lalu meminta dipijat lembut oleh Elara.
Hari itu terasa sangat sempurna hari pertama dari hidup barunya yang penuh harapan, kasih sayang, dan kekuatan yang perlahan ia bangun.