The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Jalan Suci
Aku dan Marlow mengikuti barisan peziarah yang bergerak menuju High Mountain. Barisan itu memanjang di atas Mitenn Highroad, dipenuhi orang-orang dengan jubah perjalanan, tongkat kayu, tas kain, keranjang makanan, dan anak-anak yang mulai gelisah karena terlalu lama berdiri. Beberapa kereta tertahan di belakang kami. Roda-roda kayunya sesekali bergeser beberapa inci, menggerus batu jalan dengan bunyi berat, sementara kuda dan keledai mengentakkan kaki karena tidak sabar.
Di depan, para tentara memeriksa siapa pun yang hendak melewati pos.
Mereka mengenakan zirah Izengard. Lempengan besi gelap menutupi dada, pelindung kulit terpasang di bahu, dan mantel hijau tua jatuh dari punggung dengan lambang singa Valdyr dijahit di tengahnya.
Aku mengenal warna itu.
Aku mengenal lambang itu.
Mereka adalah tentara Dad. Orang-orang yang pernah berbaris di halaman istana, bersumpah menjaga keluarga kerajaan, dan menundukkan kepala ketika kami lewat. Mereka seharusnya menjadi tentaraku suatu hari nanti.
Kini mereka berdiri di sana untuk Dann.
Aku menarik tudung lebih rendah sampai tepinya hampir menyentuh alis. Udara di bawah kain terasa pengap. Keringat mengalir tipis di pelipis meskipun angin dari pegunungan cukup dingin untuk mengibaskan ujung jubah para peziarah.
Mitenn Highroad adalah jalan suci. Bandit yang berani merampok pedagang di hutan atau membunuh orang di jalan-jalan perbatasan pun biasanya menghindarinya. Tidak semua orang benar-benar percaya pada kutukan Jessiah, tetapi hanya sedikit yang mau mengambil risiko menumpahkan darah di atas batu-batu yang membawa peziarah ke kuil pertamanya.
Pos penjagaan itu seharusnya tidak berada di sana.
Palang kayu menutup separuh jalan. Sebuah pondok kecil berdiri di sampingnya, disertai dua kuda yang diikat pada pagar. Setiap peziarah harus berhenti, membuka barang bawaan, dan memperlihatkan wajah sebelum diizinkan lewat.
Aku tidak tahu apa yang mereka cari.
Namun setiap kali melihat salah seorang tentara memeriksa wajah orang terlalu lama, perutku terasa semakin keras.
Barisan maju perlahan.
Satu keluarga melewati pos. Kemudian tiga pria tua dengan tongkat. Seorang perempuan diminta membuka seluruh isi tasnya, dan pakaian-pakaiannya jatuh ke atas batu ketika tentara mengaduknya dengan kasar. Ia memungut semuanya seorang diri setelah diizinkan pergi.
Marlow berdiri di sampingku, sedikit lebih depan. Ia tidak terus-menerus melihat pos, tetapi matanya berpindah dari satu sisi jalan ke sisi lain. Enam tentara. Dua di dekat palang. Satu memeriksa barang. Seorang lagi memegang lembaran kulit di atas papan. Dua sisanya berada di dekat pondok.
Setengah dari mereka tampak sangat muda.
Rambut mereka dipotong pendek dan tubuh mereka sudah besar oleh latihan, tetapi wajah mereka masih belum sepenuhnya dewasa. Salah seorang dari mereka bahkan memiliki jerawat merah di dagu dan bulu tipis yang tumbuh tidak rata di rahang.
Ia mungkin baru melewati musim dingin kelima belas atau enam belasnya.
Sama sepertiku.
Barisan kembali maju.
Tas di punggungku terasa semakin berat setiap kali kami berhenti. Talinya menekan bahu yang masih nyeri. Telapak kakiku panas di dalam sepatu, sementara ujung jari terasa dingin. Aku mencoba bernapas perlahan agar dada tidak naik turun terlalu jelas di bawah jubah.
Marlow bergeser sedikit, membuat tubuhnya menutupiku dari pandangan para tentara.
Dari jauh kami mungkin tampak seperti ayah dan anak yang sedang berziarah. Seorang pria bersenjata dengan pakaian perjalanan, ditemani pemuda yang menyembunyikan wajah karena sakit atau kelelahan.
Aku berharap mereka melihat itu saja.
Ketika hanya dua orang tersisa di depan kami, aku mulai mendengar pertanyaan tentara dengan jelas. Mereka menanyakan asal, tujuan, jumlah anggota rombongan, dan isi tas. Pertanyaannya sederhana. Jawabannya pun sederhana.
Tetapi orang-orang itu terus melihat wajah.
Giliran kami akhirnya tiba.
Tentara yang berjaga mengangkat tangan. Ia berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan hidung yang pernah patah dan sembuh sedikit miring. Bekas luka tipis membelah bagian atas bibirnya.
Pandangannya langsung jatuh pada pedang di pinggang Marlow.
“Tujuan perjalanan?”
Marlow melihat sekilas ke arah High Mountain yang menjulang di kejauhan.
“Kuil Besar Jessiah.”
Nada suaranya membuat jawaban itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Tentara tersebut menangkapnya, tetapi tidak membalas. Ia hanya menunjuk meja pemeriksaan.
Marlow menurunkan tasnya.
Ikatan kulit dibuka. Tentara itu mulai mengeluarkan pakaian, roti keras, daging kering, biji-bijian, tali rami, batu api, perban, dan dua botol kecil. Botol-botol itu diangkat ke arah cahaya, dikocok, lalu diletakkan kembali.
“Obat,” kata Marlow sebelum ditanya. “Untuk anakku.”
Pandangan pria itu berpindah kepadaku.
Aku menundukkan wajah lebih dalam.
“Dia sakit?”
“Demam. Sudah tiga minggu.”
Marlow mengatakannya dengan tenang, seperti seorang ayah yang sudah terlalu lelah mengulang cerita yang sama kepada tabib dan orang asing.
Tentara itu melirik tudungku.
“Buka.”
Aku tidak bergerak.
Marlow menutup kembali tasnya. “Penyakitnya menular. Ada bercak di leher dan dada. Kadang dia batuk darah.”
Pria itu menahan tangannya yang sudah hampir terangkat. Rekannya di dekat palang memandangku, lalu secara tidak sadar menarik kain penutup leher hingga menutupi mulut.
“Kenapa dibawa kemari?”
“Obat tidak bekerja. Ibunya ingin dia dibawa ke kuil.”
Tentara itu mundur sedikit. Tidak banyak, tetapi cukup untuk terlihat. Tatapannya kembali pada Marlow, lalu pada kerumunan yang mulai menumpuk di belakang kami.
Ia mengangkat tangan kepada penjaga palang.
“Lewat.”
Marlow mengangkat tasnya kembali. Aku bergerak mengikutinya tanpa mengubah langkah. Lututku terasa ringan, hampir kehilangan kekuatan ketika kami melewati meja pemeriksaan.
Palang sudah berada di belakang kami.
Aku baru sempat mengambil dua langkah ketika suara seseorang terdengar.
“Tunggu.”
Marlow berhenti.
Aku ikut berhenti, tetapi tidak menoleh. Tentara muda yang tadi berdiri di dekat pondok berjalan mendekat. Helmnya dijepit di bawah lengan. Rambut cokelat pendeknya basah oleh keringat, dan wajahnya memerah karena terlalu lama berdiri di bawah matahari.
Ia tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Hanya memandangku dari belakang, lalu berpindah ke samping agar bisa melihat bagian wajah di bawah tudung.
“Aku pernah melihat dia,” katanya.
Tentara yang lebih tua mengembuskan napas kesal. “Biarkan mereka lewat.”
Pemuda itu tidak bergerak.
Ia semakin mendekat, menatap tinggi tubuhku, bahuku, dan cara aku berdiri. Tatapannya membuat kulit di tengkukku menegang.
“Aku pernah berjaga di Izengard,” katanya. “Saat perayaan musim panen.”
Salah seorang rekannya menyuruhnya kembali ke tempat, tetapi ia seolah tidak mendengar.
Marlow berdiri di antara kami.
“Anakku tidak pernah ke Izengard.”
Tentara muda itu memiringkan kepala. Dari bawah tudung, aku bisa melihat senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya.
“Kalau begitu buka saja wajahnya.”
Marlow tidak menanggapi.
Pemuda itu memandang rekan-rekannya, seperti orang yang merasa telah menemukan sesuatu dan ingin semua orang menyaksikannya.
“Dia terlihat familiar.”
Beberapa peziarah yang berdiri paling dekat mulai menoleh.
Aku merasakan panas naik dari dada ke leher.
Tentara yang lebih tua kembali menyuruhnya berhenti, kali ini dengan suara lebih keras. Namun pemuda itu sudah terlalu menikmati perhatian di sekelilingnya.
“Pangeran yang kabur dari istana,” lanjutnya. “Katanya dia meninggalkan keluarganya saat para prajurit mati melindungi mereka.”
Jari-jariku mengencang di balik jubah.
Suara orang-orang di sekitar kami perlahan berubah menjadi dengung. Roda kereta, tangisan anak, dengus kuda, semuanya tersingkir oleh kata-kata tentara muda itu.
Meninggalkan keluarganya.
Ia mengatakannya dengan ringan. Seperti kisah murahan yang diceritakan di barak saat para prajurit bosan berjaga.
Marlow menatapku sebentar.
Tatapannya bukan penghiburan. Itu peringatan.
Aku melihatnya, tetapi tubuhku sudah terasa terlalu panas untuk mendengarkan.
Tentara muda itu maju lagi. Bau minyak zirah dan keringatnya masuk ke bawah tudungku. Dari jarak sedekat itu, wajahnya tampak lebih muda. Ada bekas luka kecil di bawah telinga, kulit pecah-pecah pada bibir, dan urat yang berdenyut di pelipis.
“Keluarga Valdyr mati,” katanya, nyaris seperti sedang memberi kabar yang menyenangkan. “Sementara putra mahkotanya lari.”
Tentara di belakangnya memegang bahunya dan mencoba menariknya mundur.
“Sudah cukup.”
Pemuda itu melepaskan tangan rekannya.
“Kalau dia memang bukan siapa-siapa, tidak ada alasan menyembunyikan wajah.”
Marlow bergerak setengah langkah ke depan.
“Kami sudah diperiksa.”
Nada suaranya rendah. Tidak mengancam. Namun rahangnya sudah mengeras, dan tangannya turun mendekati sisi mantel.
Tentara muda itu tidak memperhatikannya. Tatapannya tetap padaku.
Ia mengangkat tangan.
Jari-jarinya bergerak menuju ujung tudungku.
Aku tahu seharusnya aku diam.
Aku tahu Marlow akan menghentikannya.
Aku tahu hanya beberapa langkah lagi kami bisa berjalan menjauh dari pos itu.
Tetapi tangan itu terus mendekat, dan di kepalaku masih ada suaranya menyebutku pengecut yang meninggalkan keluarganya.
Tanganku lebih dahulu mencapai gagang pedang.
Bilahnya keluar dari sarung dengan bunyi logam yang tajam.
Pemuda itu baru sempat menoleh.
Aku menebas lehernya.
Hentakannya menjalar dari gagang ke lengan. Jauh lebih berat daripada menebas boneka jerami di halaman latihan. Pedangku tersangkut sesaat pada sesuatu yang keras, lalu terus bergerak.
Darah menyembur hangat ke tangan dan jubahku.
Mata tentara muda itu membesar. Mulutnya terbuka, tetapi yang keluar hanya suara basah dari tenggorokan. Tangannya masih terangkat di antara kami ketika lututnya lemas.
Tubuhnya jatuh di atas Mitenn Highroad.
Bunyi zirahnya menghantam batu terdengar sangat berat.
Tudungku tersibak oleh gerakan tadi. Udara dingin langsung menyentuh rambut dan wajahku. Semua orang melihatku sekarang.
Tentara.
Peziarah.
Pedagang.
Anak-anak.
Keheningan jatuh selama satu tarikan napas.
Darah pemuda itu mengalir ke sela batu jalan suci.
Seorang perempuan tua menutup mulut dengan kedua tangan. Manik-manik Jessiah melilit pergelangannya. Matanya terbuka lebar saat mengenali wajahku.
“Pangeran,” pekiknya. “Pangeran menumpahkan darah di jalan suci Jessiah!”
Teriakannya memecahkan semuanya.
Orang-orang mundur bersamaan. Keranjang jatuh. Buah dan roti menggelinding di antara kaki. Seorang anak menjerit. Keledai yang diikat dekat pondok meringkik dan menarik talinya sampai pagar bergetar.
Aku berdiri dengan pedang di tangan.
Darah menetes dari ujung bilah ke batu.
Bau besi memenuhi hidungku. Hangatnya merembes melalui lengan baju, masuk ke kulit di pergelangan tangan. Tubuh tentara muda itu bergerak sekali, tumitnya menggesek jalan, kemudian diam.
Aku baru saja menumpahkan darah di Mitenn Highroad.
Tentara yang lebih tua mencabut pedang.
“Jatuhkan senjatamu!”
Dua tombak terangkat ke arahku.
Aku mendengar perintah itu, tetapi jari-jariku tidak mau membuka. Seluruh tubuhku gemetar, bukan karena takut saja. Ada sesuatu yang masih menyala di dalam dada, bercampur dengan mual yang mulai naik ke tenggorokan.
Marlow menatapku.
Tatapannya turun pada mayat di kakiku, kemudian pada pedangku. Kemarahan terlihat pada garis rahangnya, tetapi tidak ada waktu baginya untuk mengatakan apa pun.
Tentara pertama maju.
Marlow mencabut pedangnya.
Bilah mereka bertemu dengan suara nyaring. Marlow menahan tebasan itu, memutar pergelangan tangan, lalu melangkah masuk ke sisi tubuh lawannya. Pedangnya menyusup di bawah pelindung lengan, menembus ketiak yang tidak tertutup zirah.
Pria itu tersentak.
Marlow menarik bilahnya sebelum tubuhnya jatuh.
Dua tentara bertombak maju dari sisi berbeda. Ujung tombak pertama mengarah ke dada Marlow. Ia menggeser tubuh, membiarkan mata tombak lewat di samping mantelnya, lalu menangkap batang kayunya dan menarik.
Pemiliknya kehilangan keseimbangan.
Pedang Marlow memotong pergelangan tangannya.
Jeritan pria itu pecah, tetapi hanya berlangsung sebentar. Marlow masuk lebih dekat dan menusukkan pedang ke dadanya.
Tentara kedua menyerang dari belakang. Marlow berbalik pada saat terakhir. Tombak itu ditepis ke bawah, lalu kakinya menghantam sisi lutut lawan. Bunyi patahan terdengar di tengah kepanikan. Pria itu jatuh miring, dan tebasan Marlow berhenti di lehernya.
Para peziarah berlarian keluar dari jalan.
Sebagian masuk ke parit. Sebagian mendorong orang lain untuk membuka jalan. Seorang kusir mencoba memutar keretanya, tetapi kuda-kuda sudah terlalu panik oleh bau darah dan suara jeritan.
Aku masih tidak bergerak.
Pedangku terasa berat di tangan. Napasku terlalu cepat. Tenggorokanku kering, dan seluruh tubuh tentara muda di kakiku tampak semakin besar setiap kali aku melihatnya.
Dua penjaga terakhir keluar dari pondok.
Salah satunya membawa perisai bundar. Yang lain menggenggam pedang dengan dua tangan. Mereka melihat tubuh rekan-rekan mereka di jalan, lalu maju bersama.
Marlow menghadapi yang berperisai lebih dahulu.
Pedangnya menghantam permukaan kayu dengan dentuman keras. Ia tidak menarik bilahnya jauh. Bahunya menghantam sisi perisai, mendorong lawan mundur ke bagian jalan yang sudah licin oleh darah. Ketika kaki pria itu tergelincir, Marlow menebas bagian belakang lututnya.
Tentara itu jatuh.
Pedang Marlow masuk dari sisi leher, tepat di atas zirah.
Tentara terakhir mengayunkan bilahnya dengan seluruh tenaga. Marlow mundur setengah langkah. Tebasan itu lewat dekat wajahnya, mengangkat beberapa helai rambut. Sebelum lawannya sempat menarik pedang, Marlow masuk ke jarak dekat dan mendorong siku pria itu ke atas.
Pedangnya menusuk dari bawah pelat zirah.
Tubuh tentara itu menegang.
Marlow menarik bilahnya dan membiarkan pria tersebut jatuh berlutut, lalu ambruk ke samping jalan.
Semuanya selesai terlalu cepat.
Teriakan orang-orang masih terdengar seperti satu suara panjang ketika tentara terakhir menyentuh tanah.
Marlow berdiri di tengah Mitenn Highroad dengan pedang berlumur darah. Napasnya sedikit lebih berat, tetapi gerak tubuhnya tetap terkendali. Ia melihat ke dalam pondok, ke arah kuda, kemudian menyapu jalan di kedua sisi.
Tidak ada tentara lain.
Ia berjalan cepat ke arahku.
Aku membuka mulut, tetapi tidak tahu apa yang hendak kukatakan. Kata maaf tidak terasa cukup. Penjelasan pun tidak ada. Aku sendiri tidak mengerti kapan kemarahan itu berubah menjadi gerakan tangan.
Marlow mencengkeram pergelangan tanganku.
“Lepaskan.”
Aku menatapnya.
Jari-jariku masih mencengkeram gagang pedang.
Marlow mengambil senjata itu dari tanganku, menyekanya sekali pada mantel tentara yang mati, lalu memasukkannya kembali ke sarung di pinggangku. Tatapannya keras, tetapi ia tidak membuang waktu untuk memarahiku.
Tas kulitku tergeletak dekat palang.
Ia mengambilnya, lalu melemparkannya ke dadaku. Aku menangkapnya dengan kedua tangan.
Seseorang di antara peziarah meneriakkan namaku. Yang lain memanggil Jessiah dan meminta pengampunan. Perempuan tua tadi masih menangis sambil menunjuk darah yang memenuhi sela batu.
Kabar tentang kejadian ini akan bergerak lebih cepat daripada kami.
Marlow menarik lenganku.
Kami berlari meninggalkan Mitenn Highroad.
Sepatuku tergelincir ketika berpindah dari batu ke tanah. Lututku hampir jatuh ke rumput, tetapi genggaman Marlow menahanku. Kami menuruni lereng, menerobos semak, lalu masuk ke antara pepohonan rendah di luar jalan.
Ranting-ranting menghantam lengan dan wajahku. Tas memukul punggung setiap kali kaki menyentuh tanah. Napasku segera terasa seperti api di dada, tetapi Marlow tidak melambat.
Suara kepanikan tetap mengikuti dari belakang. Aku tidak menoleh. Darah tentara muda itu masih hangat di tanganku.