Marco Antonio Brown Salim cucu dari Konglomerat ternama di Indonesia dan Asia Pacific mendapatkan panggilan untuk pulang ke Jakarta oleh Opa nya usai Opa nya mendapatkan berita heboh di internet tentang kehidupannya yang amburadul di Amerika Serikat.
Dan ,sepulangnya ia ke Jakarta. Ia bertemu dengan Salsa Angelica Wijayanto sepupunya yang manis, mungil dan menarik perhatiannya sehingga ia pun memutuskan untuk memulai karier dan hubungan yang harmonis dengan keluarganya dan Opa nya untuk dekat dengan Salsa Angelica.
Yuk ikuti kisah cinta dan perjalanan hidup seorang Marco Antonio Brown Salim!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Marco meraih pinggang kecil Salsa ketika gadis itu mendatanginya di luar kamar pribadinya dan melambaikan tangannya kepada sepupu-sepupu nya untuk masuk ke kamar pribadinya tanpa ia harus menyapa Sheila.
"Hei.. Marco.. "
Sheila membanting kaki kanannya ketika ia lihat Marco mengacuhkan dirinya dengan pemuda ini memilih untuk masuk ke kamar pribadi bersama tunangan pemuda itu sendiri.
"Sheila,sudahlah kamu harus belajar untuk lupain Marco dengan pilih cowok ganteng lainnya untuk jadi pacarmu." kata Ricco Salim memainkan alis kirinya untuk menggoda Sheila.
"Ihh jijay Gue sama Lo..! " bentak Sheila kepada Ricco Salim sebelum kembali ke lift untuk pergi dari lantai tiga yang menjadi ruangan pribadi dari Marco Antonio Brown Salim sepupunya yang telah menjatuhkan hatinya sejak mereka berdua tumbuh remaja dan dewasa namun ia selalu saja gagal karena Marco tak pernah menanggapinya bahkan sekarang sepupunya itu malah memilih untuk mendukung keputusan Opa Hendri Salim dengan menjodohkan sepupunya dengan Salsa Angelica Wijayanto cucu dari sepupu luar Opa Hendri Salim sendiri yang bernama Agustinus Adisucipto Wijayanto.
Ricco Salim mengejar Sheila dengan langkahnya yang sangat panjang dan cepat sehingga pria usia tiga puluh tahun ini berhasil mendahului Sheila untuk masuk ke dalam lift.
"Sheila,Kau sendiri harus ingat bahwa kamu itu hanyalah cucu angkat dari Opa Hendri Salim." kata Ricco Salim membalas tatapan mata sinis Sheila di dekatnya.
"Kau juga cuma seorang cucu paling dungu di mata Opa Hendri Salim yang seumur hidupnya takkan pernah melihatmu sebagai penerusnya yang berpotensi untuk menjadi ahli warisnya di seluruh Kerajaan bisnisnya." kata Sheila menatap sadis menyindir Ricco Salim.
Ricco Salim yang tersinggung dengan ucapan Sheila telah menyambar lengan gadis itu dengan kasar lalu mengejutkan gadis itu dengan pria ini malah mencium bibir Sheila dengan perasaan marah terhadap sindiran gadis itu.
"Mmmmm..Ih..! "
Sheila mendorong tubuh Ricco Salim sehingga ia dapat membebaskan dirinya dari ciuman kasar Ricco Salim terhadapnya lalu begitu pintu lift di depannya terbuka untuknya, maka gadis itu pun segera berlari keluar dari lift dengan secepatnya.
"Ugh,Kau pikir Aku bisa direndahkan begitu saja denganmu, Sheila." batin Ricco Salim.
"Hai, Kak Ricco.. " sapa seorang gadis muda usia dua puluh tahun dari arah ruang keluarga kepada Ricco Salim begitu pria ini keluar dari lift.
"Chika Purnamasari Wahyudi sejak kapan kamu datang ke Kediaman Salim?" sapa Ricco Salim dengan senyum ramahnya kepada gadis manis di depannya.
"Belum lama Aku tiba di Kediaman Salima. Kak Ricco sendiri? "Chika Purnamasari Wahyudi ini adalah gadis yang akan dijodohkan oleh Tuan Hendri Salim dengan Ricco Salim.
" Aku? Kemarin sampai disini."jawab Ricco Salim yang mendadak jengkel berjumpa dengan gadis yang menjadi tunangannya itu sedangkan dirinya itu telah jatuh cinta pada Sheila.
"Wah.Aku senang sekali mendengarmu di sini di depanku, Kak Ricco."kata Chika Purnamasari Wahyudi yang tanpa sungkan merangkul lengan kanan Ricco Salim untuk diajak berjalan menuju ke ruang pribadi Tuan Hendri Salim.
Di Kamar Pribadinya di lantai tiga, Marco duduk di sofa panjang sambil menonton film di televisi digital sambil makan popcorn dan sebotol wine untuk menghabiskan waktu santai di malam hari di dekat tunangannya yang semanis bunga lili di musim semi di kota Leiden, Belanda.
"Salsa, kemarilah dan duduklah di dekatku."kata Marco melambaikan tangannya kepada Salsa di tempat tidur untuk gadis itu pindah tempat ke sofa panjang.
"Aku mau menonton film di sini saja, Kak Marco." kata Salsa yang merasa malu jika ia duduk di dekat Marco.
"Ish.. Ku bilang kamu untuk duduk di dekatku ya kamu harus nurut sama Aku dong." kata Marco nada memerintah kepada Salsa.
"I.. Iya... Kak Marco.. "kata Salsa nada patuh dan segera pindah tempat duduk dari tempat tidur ke sofa panjang dan duduk di dekat Marco.
"Nah, gitu dong jadilah seorang tunangan yang baik dan nurut sama tunangannya sendiri." kata Marco yang langsung merangkul Salsa dengan erat sambil menyuapi gadis itu makan popcorn.
"Ehhh.. Ya, Kak Marco." kata Salsa malu sekali di perlakukan seperti itu oleh Marco yang meraba bagian penting tubuhnya yang tertutup piyama.
"Ehhhh.. Tak perlu malu karena kita akan segera menikah pada lusa hari ini." kata Marco yang kini menciumnya dengan penuh gairah sampai gadis itu hampir tak bisa bernafas.
"Kak Marco, jangan.. " pinta Salsa yang malu di sentuh sana-sini oleh Marco.
"Aku cuma ingin tahu seberapa lembutnya dirimu tanpa Aku harus melakukan hal itu sebelum hari pernikahan kita." kata Marco yang mencium bibir manis Salsa sampai bibir gadis itu berdarah.
"Kak Marco..Ku mohon kamu jangan sentuh itu karena Aku sangat malu..! " teriak Salsa yang kini direngkuh dengan kuat oleh Marco yang sudah mabuk wine.
"Kau sungguh cantik sekali, Salsa." kata Marco di dekat Salsa.
"Kak Marco....! " teriak Salsa yang meminta agar pemuda itu tidak melakukan hal itu terhadapnya.
Marco sudah menjelajahi setiap inci kulit tubuh halusnya namun tidak membuka segel resmi di bagian pentingnya. Gadis itu tersipu setelah di sentuh oleh Marco, dan merasa lega ketika ia melihat Marco sudah tidur pulas di atas pakaian tidurnya yang berantakan karena ulah Marco.
"Ihhh.. Menjauhlah dariku.." kata Salsa yang telah menjatuhkan Marco ke lantai dengan tendangan kakinya ke badan pemuda itu yang masih pakai baju tidur dengan rapat.
Salsa melompat dari sofa panjang lalu lari ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya sendiri lalu ia mencoba untuk tidak teringat tentang hal yang memalukan baginya sampai ia tertidur pulas di tempat tidur.
Marco terbangun dari tidurnya ketika pemuda itu sadar bahwa ia tidur di lantai dan merasakan dinginnya lantai di tengah malam hari itu yang juga ternyata sedang hujan deras di luar.
"Mmm.. Aku harus menonaktifkan Ac dingin dan mengaktifkan Ac hangat untuk Salsa-ku tidak kedinginan pada tengah malam hari ini yang ku lihat di luar kaca jendela kamarku rupanya hujan deras yang disertai oleh petir dan angin kencang juga kilat.
Marco mengambil remot Ac lalu mengganti Ac dingin dengan Ac hangat dan melompat kembali ke sofa panjang lalu tidur pulas dengan cepat di sana.
Salsa mengintip setiap gerak-gerik Marco dari sepasang bulu matanya yang lentik dan merasa nyaman karena Marco ternyata pengertian sekali dan tahu cara untuk menghormatinya sebagai calon istri dari pemuda itu sendiri.
" Aku tetap menilaimu dengan nilai tujuh karena kau sudah memperlakukan Aku seperti seorang gadis penghibur di klub malam saja dengan kau menyentuh seluruh tubuhku dan menciumku dengan kasar sekali. "batin Salsa.
Bersambung!!