Lanjutan dari novel BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN.
Semuanya masih menjadi misteri.
Revan, Revin, Reon dan Carlos memutuskan untuk pergi ke negara S dan menemukan seseorang yang mencoba untuk melukai keluarga mereka.
Dengan kepintaran yang menurun dari sang ayah, membuat mereka mudah untuk mencari petunjuk akan keberadaan orang tersebut.
Tapi siapa sangka, jika keputusan yang mereka ambil, malah membawa mereka pada penderitaan penuh dengan siksaan.
"Melindungi keluarga adalah keputusanku, melindungi wanita yang ku cintai juga adalah keputusanku, maka aku akan membunuh siapapun yang ingin menganggu ketenanganku dan juga keluarga." Revan Li.
"Rahasiaku hanya aku yang tahu, aku tidak menyangka kepergianku untuk meninggalkanmu demi menyelamatkan keluarga, justru membuatku percaya, bahwa hanya kau yang ditakdirkan untukku, maka aku akan menunggumu dewasa," Revin Li.
"Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat, dan ketika aku pulang, aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya," Carlos Sia.
"Ldr lagi, Ldr lagi. Tapi aku tidak masalah, karena aku percaya bahwa kau akan setia, tunggu aku kembali kesana, dan aku akan segera mengikatmu untuk berada disisiku selamanya," Reon Sang.
penasaran yuk liat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT PERUT
Revin melajukan motornya ke tempat yang akan ia datangi untuk menghilangkan rasa bosannya.
Lima belas menit kemudian.
Revin menghentikan motornya di parkiran di luar cafe milik Reon atau lebih tepatnya milik Sarah.
Revin mematikan mesin motornya dan kemudian membuka helmnya lalu berjalan masuk ke cafe.
Revin membuka pintu cafe kemudian berjalan mendekati kursi, saat Revin ingin duduk di kursi di meja yang cukup dekat dengan pintu cafe, Revin terdiam sejenak saat melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di kursi paling pojok dengan meminum jusnya dengan wajah yang masam.
Revin mengernyit dan mengurungkan niatnya untuk duduk dan berjalan mendekat ke arah kursi paling pojok dimana sudah ada Vivian di sana yang duduk dengan wajah masam.
Vivian meminum jus yang ia pesan dengan raut wajah yang masam. Vivian tersentak saat mendengar seseorang menarik kursi di hadapannya, ia pun mendongak dan menatap Revin dengan malas.
Revin duduk di kursi berhadapan dengan Vivian. Vivian kembali meminum jusnya hingga tandas kemudian memesan lagi pada pelayan membuat Revin terkejut.
"Apa perutmu itu tidak akan kembung, Bocil? kamu sudah meminum 5 gelas dan masih ingin tambah, kamu lagi patah hati?" ucap Revin menebak.
Vivian terdiam sejenak dan kemudian menatap Revin yang juga menatapnya. tiba-tiba Vivian menangis keras membuat semua pengunjung cafe menatap ke arah mereka.
Revin terkejut saat Vivian tiba-tiba menangis padahalkan dirinya sama sekali tidak mengatakan hal buruk.
Vivian menangis karna kata-kata Revin yang tepat sasaran mengenai hatinya.
Para pengunjung cafe mulai berbisik, membuat Revin mendadak kesal.
"Astaga, lihat pria itu, membuat gadis kecil itu menangis, apa dia sama sekali tidak punya perasaan ya,"
"Percuma punya wajah yang tampan tapi sama sekali tidak menghargai pasangannya,"
"Kasihan sekali gadis itu, harus memiliki pacar seperi pria itu,"
Bisik-bisik pengunjung cafe yang masih bisa di dengar oleh Revin.
Revin berdiri dari duduknya kemudian mendekat ke arah Vivian dan menarik tangan gadis itu keluar dari cafe, karna dirinya benar-benar sudah tidak bisa mendengar bisik-bisik para pengunjung cafe yang mengatakan hal seperti itu tentang dirinya.
Vivian semakin menangis saat Revin menariknya keluar dari cafe membuat pengunjung cafe menatap sinis ke arah Revin dan kemudian mengelengkan kepala mereka.
Revin melepaskan tangan Vivian yang ia pengang saat sudah tiba di parkiran di dekat motornya.
"Berhentilah menangis, dasar cengeng!" ucap Revin yang mencoba menghibur gadis itu.
Bukannya berhenti menangis, Vivian malah semakin keras mengeluarkan suara tangisannya membuat Revin terkejut.
"Diamlah! Aku bilang diam!" suara Revin yang mulai meninggi.
Vivian tersentak dan menatap pria di hadapannya itu dengan air mata yang tidak berhenti mengalir terjun di pipinya.
Revin memengang kedua pundak Vivian kemudian menatap iris mata gadis itu dengan lekat.
"Jangan menangis, seorang gadis tidak boleh menangis hanya untuk seseorang yang sama sekali tidak menginginkannya, jangan menangis hanya untuk seseorang yang sama sekali tidak menghargaimu," ucap Revin serius.
Vivian terdiam kemudian memeluk pria di hadapannya itu dengan begitu erat.
Revin terkejut saat tiba-tiba Vivian memeluknya dengan erat, Revin menghembuskan nafasnya kemudian membalas pelukan gadis kecil di hadapannya dan mengelus rambutnya lembut.
Vivian terus menangis hingga membuat baju Revin basah karna air matanya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi, Vivian," ucap Revin dengan mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
Vivian terdiam saat mendengar Revin untuk pertama kalinya memanggilnya dengan namanya bukan bocil.
Vivian melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya yang masih jatuh ke pipi chubynya.
Revin terdiam saat melihat bajunya yang basah karna air mata Vivian.
Revin menghembuskan nafasnya, ingin marah tapi tidak tega, Revin menatap Vivian yang masih sesungukan karna terlalu lama menangis.
Jika Reana menangis atau pun marah, Revan dan Revin akan membujuknya dengan sebuah es cream dan cara itu selalu berhasil, Kini Revin akan mengunakan cara itu pada Vivian.
"Sudahlah, jangan menangis lagi, aku akan mentraktirmu es cream," ucap Revin membuat Vivian menatap pria di hadapannya.
Vivian mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Revin, Revin terdiam kemudian menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Vivian membuat gadis kecil itu tersenyum.
Revin naik ke motornya kemudian memakai helmnya.
"Naik!" ucap Revin pada gadis kecil itu, ya menurutnya Revin masih kecil.
"Aku tidak bawa helm," ucap Vivian ragu.
"Naik saja, tidak akan ada polisi!" ucap Revin dan Vivian pun naik ke atas motor.
Vivian memeluk pinggang Revin kemudian menyandarkan kepalanya di punggung pria yang selalu membuatnya kesal, tapi hari ini mendadak seperti seorang penolong bagi Vivian.
Revin segera menyalakan mesin motornya dan segera melajukannya meninggalkan parkiran di cafe itu menuju ke suatu tempat.
Sepuluh menit kemudian.
Saat ini Revin dan Vivian berada di toko es cream di pinggir jalan yang terbilang cukup ramai.
Revin menatap aneh gadis di hadapannya yang begitu lahap memakan es cream bahkan sudah menghabiskan 5 cup es cream.
"Hey, Bocil. kamu sadarkan?" tanya Revin membuat Vivian mendongak dan menatapnya malas.
"Baru juga segini, kamu ngga akan bangrut kali," ucap Vivian malas dan kemudian kembali memakan es creamnya yang ke 6.
Revin menghembuskan nafasnya, sepertinya kesabarannya selalu di uji jika bersama dengan gadis judes di hadapannya ini.
"Aku tidak masalah dengan harga es creamnya atau pun berapa banyak yang kamu makan jika itu ukuran kecil, tapi ini ukuran super jumbo dan kamu sudah menghabiskan 5 cup sendirian, nanti kamu bisa sakit perut, bocil!" ucap Revin panjang lebar.
"Bilang aja kalau ngga bisa bayar, padahal tadi sudah bilang mau traktir!" ucap Vivian dengan mengembulkan pipinya kesal.
Revin memijit keningnya, tiba-tiba tekanan darahnya mendadak naik mendengar ucapan gadis kecil di hadapannya ini.
'Sabar, Revin. Sabar,' ucap Revin dalam hati melefalkannya berulang-ulang.
"Baiklah, kalau sakit perut nanti jangan ngeluk pada ...," Revin menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Vivian memengang perutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" ucap Revin yang mulai khawatir melihat wajah Vivian yang mulai pucat.
"Perut aku sakit!" ucap Vivian dengan tangan yang memengang perutnya yang seperti melilit di dalam.
Revin terkejut mendengar hal itu kemudian segera beranjak dari duduknya mendekati kursi Vivian.
"Makanya, kalau di bilangin itu jangan ngeyel! 'kan sekarang sakit beneran! bocil!" ucap Revin dengan mengendong Vivian ala bridel style dengan mulut yang mengoceh.
"Duh, nanti aja kali marah-marahnya, sakit beneran nih!" ucap Vivian yang berada di gendongan Revin.
Revin menghembuskan nafasnya dan segera membuka pintu klinik yang berada tidak jauh dari toko es cream itu.
"DOKTER!" teriak Revin membuat semua orang di dalam klinik itu menatapnya heran.
yg menjadikan anak-anak nya seperti seorang temen, dan aku juga suka dengan anak-anak Arian mereka sangat menghormati orang tua terutama ibu... sukses untuk karya mu Thor
makanya revin gak suka
tp ap motiv nya
hmmm
makin penasaran