Hati Zara Aurora dibuat tak berdaya akan pesona Affan Zayendra. Semua tak akan menjadi masalah andai pria itu bukan putra dari wanita yang diperistri ayahnya.
Wajah yang rupawan serta kebaikan hati yang pria itu miliki membuat hati Zara sulit berpaling, namun siapa yang menyangka diam-diam Affan menyimpan luka yang dalam. Sebuah peristiwa membuat semuanya berubah. Pria penuh kasih itu berubah menjadi sosok tak berperasaan yang bahkan tega menjadikan Zara sebagai budak hasratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
Perasaan Zara mendadak kacau ketika membuka pintu tampak Alya di sana. Zara tersenyum kecut, hatinya terasa perih melihat gadis cantik tersebut ada di rumah nya.
"Hai Zara apa kabar, kak Affan ada?" tanya Alya dengan senyum ramah seperti saat pertama kali mereka bertemu. Zara bertanya-tanya di dalam hati atas kepentingan Alya datang malam hari begini.
"Ada kak, yuk masuk" Zara memaksakan senyumnya. Ia mempersilahkan Zara duduk di sofa ruang tamu. "Tunggu bentar ya kak, Zara panggil abang dulu" pamit Zara yang dibalas anggukan oleh Alya.
Zara berusaha menata hatinya agar tak merasa sedih, gadis itu terus membisikkan pada hatinya agar tau diri dan tak pernah berharap lebih pada Affan meski pria itu telah merebut kesuciannya. Zara berjalan pelan menuju kamar Affan, ia mengetuk pintu kamar pria itu setibanya di sana. Beberapa kali masih tak ada sahutan.
"Bang, ada kak Alya" Ucap Zara lembut, hati Zara kembali berdenyut saat Affan langsung membuka pintu saat tau Alya datang. Zara menghela nafasnya berulang kali, berharap sesak yang bersarang dapat enyah dari dadanya.
"Kak Alya nya di ruang tamu" ucap Zara yang tak dijawab oleh pria itu. Affan langsung berlalu dari hadapan Zara. Gadis itu terpaku sejenak, namun ia segera mengikuti langkah Affan. Jika Affan berjalan lurus menuju ruang tamu, berbeda dengan Zara yang berbelok menuju dapur. Gadis itu berniat membawakan minuman dan cemilan untuk Alya.
Zara berusaha fokus membuatkan teh hangat untuk Alya dan Affan meski hatinya berkecamuk. Zara juga menata cemilan di nampan dan membawanya menuju ruang tamu dengan perasaan yang tak menentu.
Zara terpaku, matanya berkaca-kaca mendapati Affan dan Alya yang tengah berpelukan. Alya juga terlihat menangis, tak kuat melihat pemandangan itu dengan cepat Zara meletakkan nampan di meja dan segera berlalu tanpa mengatakan apapun. Selain karena tak kuat menyaksikan pria yang ia cintai bermesraan dengan perempuan lain Zara juga merasa takut Affan akan marah karena kehadiran nya akan mengganggu kemesraan sepasang kekasih itu.
Sementara itu selepas kepergian Zara, Affan masih diam membiarkan Alya menyelesaikan dramanya. Pria itu sama sekali tak membalas pelukan Alya juga tak berusaha menenangkannya. Terhitung sejak satu minggu yang lalu di mana ia mendapati Alya bersama Gandhi segala rasa yang ia miliki pada gadis itu benar-benar hilang tak bersisa, hanya tertinggal kekecewaan dan rasa muak yang luar biasa.
"Kak aku benar-benar minta maaf, aku mengaku salah" Ucap Alya sambil melepaskan pelukannya. Wajahnya yang banjir air mata tampak begitu menyedihkan namun sama sekali tak membuat hati Affan terenyuh. Pria itu hanya diam, menatap tanpa ekspresi pada Alya yang terus berusaha menampakkan kesedihannya. Ia begitu berharap Affan akan luluh dan menerimanya kembali.
"Aku khilaf kak, tolong kasih aku kesempatan. Aku janji akan menjadi pacar yang baik yang nggak akan pernah macam-macam kak. Aku benar-benar nggak bisa tanpa kakak, satu minggu ini hari-hari aku berat banget rasanya kak" Ucap Alya penuh permohonan, Affan telah memutus segala komunikasi dari Alya karena nya gadis itu nekat datang ke rumah pria itu malam ini.
"Aku mungkin bisa maafin kamu, tapi aku nggak bisa balik sama kamu lagi" Ucap Affan yang membuat air mata Alya kian deras.
"T-tapi kenapa kak?" tanya Alya, wajahnya begitu memelas. Gadis itu berusaha membuat hati Affan luluh.
"Karena kamu uda tidur sama Gandhi" tegas Affan dengan tatapan yang semula datar berubah sinis.
"Maafin aku kak, aku janji nggak akan pernah ngelakuin itu lagi kak" Ucap Alya yang membuat Affan menatap jijik gadis itu.
"Tapi aku nggak bisa menerima barang bekas Alya, Sorry!" Alya terperangah menatap pada Affan, ia tak menyangka pria itu akan mengatakan hal tersebut. Terlebih menyadari tatapan jijik yang Affan sematkan.
"Tapi aku bukan barang kak, hal kayak gitu udah lumrah zaman sekarang. Kakak jangan munafik, aku yakin kakak juga pasti udah pernah ngelakuin hal itu" ucap Alya kesal. Seketika Affan teringat malam panas yang telah ia lalui bersama Zara. Darahnya berdesir membayangkan tubuh adik tirinya itu.
"Aku nggak yakin kakak bisa menemukan perempuan yang benar-benar murni dan belum tersentuh. Kalaupun ada mungkin sekarang dia masih duduk di bangku sekolah dasar!" ucap Alya sengit. Affan tersenyum masam, ia tak menyangka Alya yang lemah lembut dan terlihat seperti gadis baik-baik akan memiliki pemahaman demikian.
"Udah drama nya? kalau udah selesai kamu pergi sekarang. Kamu hanya buang-buang waktu datang kemari." Tegas Affan yang membuat Alya begitu kecewa. Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar lalu berlalu dari hadapan Affan yang tersenyum sinis.
Untuk saat ini Affan merasa beruntung bersyukur segera dijauhkan dari gadis itu. Ia tak tau akan sesakit apa rasanya andai ia tau bahwa Alya pernah disentuh oleh pria lain saat mereka telah menikah. Seketika bayangan Zara melintas di benak Affan, tiba-tiba ia merasa iba. Ia sadar bahwa dirinya telah menghancurkan masa depan Zara, entah akan seperti apa reaksi suaminya nanti saat tau kesucian Zara sudah terenggut.
🍁🍁🍁
"Hai Zara ketemu lagi" Sapa seseorang saat Zara tengah menunggu Affan di sebuah Kafe yang tak begitu jauh dari kantor Affan. Pria itu tiba-tiba menyuruh Zara datang ke Kafe itu saat jam makan siang.
"Jangan bilang kamu nggak ingat aku" Ucap pria itu saat Zara hanya diam menatap padanya.
"Aku Yuda kita pernah ketemu waktu itu" Zara hanya mengangguk, sejak awal ia sudah mengenali calon seniornya di kampus tersebut, namun Zara pura-pura lupa agar Yuda tak merasa bahwa dirinya spesial bagi Zara.
"Kamu sendirian aja? aku boleh gabung di sini ya, kebetulan aku juga sendiri" ucap Yuda lagi.
"Maaf, Zara datang bersama saya. Jadi anda bisa cari kursi lain" Ucap Affan sebelum Zara sempat membuka mulutnya untuk menolak permintaan Yuda. Zara tak menyadari kapan pria itu datang.
"Anda siapanya Zara?" Tanya Yuda, Affan tersenyum sinis menyadari tatapan penuh tanya pria itu. Affan juga dapat melihat kecemasan di mata Yuda.
"Menurutmu? hem. Maaf ada hal yang serius yang harus kami berdua bicarakan dan kami tidak memiliki banyak waktu. Jadi bisakah anda pergi sekarang?" ucap Affan tanpa basa-basi.
"Baiklah, sampai jumpa satu minggu lagi di kampus Zara" Ucap Yuda sambil melambaikan tangannya. Zara menunduk cepat ketika matanya bertemu tatap dengan Affan. Zara begitu takut Affan akan marah dan berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
🍁🍁🍁