Grace Eloise seorang wanita lulusan mahasiswi tingkat atas yang sekarang sudah menjadi seorang dosen jurusan kedokteran di suatu kampus terbilang cukup elit tidak kalah terkenal dari kampus lainnya.
Wanita satu ini tidak kenal lelah karena hidupnya sangat keras sehingga dia menjadi orang yang mampu berdiri di kakinya sendiri.
Dikatakan keluarganya juga tidak terlalu mewah karena ayahnya bekerja di suatu bar kecil ibunya telah tiada dan sekarang hidup mereka sudah terbilang cukup lumayan akan tetapi sang ayah hanya menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi dan mabukan.
Grace pernah melarikan diri dari rumah karena begitu marahnya terhadap sang ayah sebab dia sangat tidak di hargai sebagai seorang anak.
Bukankah anak perempuan sangat bermanja dengan ayah mereka?
Namun tidak untuk Grace, dia hanya tahu mencari uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Sampai suatu ketika dia bertemu lagi dengan mantannya di sebuah cafe brsma seorang wanita.
Yuk ikuti kisahnya... 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Dorongan Kuat?
...『⇒Bab 24⇐』...
Apartemen 1808 milik Boy.
Malam hari di ruang tamu
Boy tampak berjalan keluar dari kamarnya hendak ingin mengambil air minum namun ia melihat Bram sedang mondar-mandir entah apa yang ingin di lakukan olehnya bahkan ponselnya berulang kali ia pegang berulang kali pula ia letakkan di atas meja.
Awalnya Boy beberapa saat hanya memperhatikan saja sambil menuang air minumnya ke dalam gelas tetapi Bram seakan tidak menyadari keberadaan Boy saat ini yang menatap ke arahnya.
Tapp
Tap
Kini Boy menjadi penasaran dengan sikap temannya itu makanya ia melangkah untuk mendekat ke arah Bram pula.
"Bram, apa yang sedang kau lakukan jam segini?" tegur Boy dari balik punggung Bram seketika sehingga Bram sedikit kaget lalu ia langsung berdiri dari duduknya serta menoleh pada Boy.
"Aku tak bisa tidur," sahut Bram dengan nada lesu serta ia kembali duduk dan memijat dahinya sembari memejam kedua matanya.
Boy pun tak mengerti kenapa Bram berkata demikian sebab tak pernah ia melihat Bram sampai duduk sendirian terlihat kegelisahan di balik sorot matanya.
Gelas yang berisi air minum itu di letakkan Boy di atas meja lalu ia duduk di sebelah Bram yang masih memejam kedua matanya.
Grepp
Berulang kali Boy menepuk sebelah bahu Bram secara perlahan lalu Bram pun membuka matanya namun ia masih tak menoleh ke arah Boy.
"Apa kau bermimpi buruk lagi tentang kedua orang tuamu?" tanya Boy yang beranikan dirinya untuk bertanya hal tersebut karena memang Bram sering mengigau bahkan kalau sudah terbangun matanya tak dapat terpejam lagi.
"Tidak, aku sudah tak bermimpi buruk!" jawab Bram dengan bergeleng kepala sehingga Boy menautkan kedua alis matanya.
"Tapi kenapa kau mengatakan tak bisa tidur? apa yang sedang kau fikirkan Bram? cerita saja siapa tahu aku bisa membantu mu memberikan solusi," imbuh Boy pula namun Bram malah menutupi wajahnya terlihat bingung harus mengatakan bagaimana pada Boy bahwa dirinya saat ini memang sedang kebingungan.
"Entahlah Boy malam ini aku memang merasa tak dapat tidur seakan mataku sulit untuk bisa terpejam," lagi-lagi Bram memijat dahinya hingga Boy melihat dengan jelas betapa Bram sangat frustasi sekali.
Boy terus menatap ke arah Bram hingga ia menyimpulkan senyum di balik bibirnya.
"Apa mengenai soal wanita?" tanya Boy sejenak membuat Bram menoleh pada dirinya.
"Wanita? sejak kapan aku begini karena wanita?" kilahnya pula namun Boy merasa sorotan mata Bram berkata benar namun ucapan Bram tak sesuai dengan reaksinya itu malah Bram mengalihkan wajah setelah menjawab pertanyaan dari Boy.
Sebelah alis mata Boy pun naik sebab temannya itu masih saja terus berkilah pada dirinya serta senyuman seringai tampak jelas di wajah Boy lalu ia berdiri dan berjalan dengan memasukkan kedua tangan dalam saku celana menghadap ke arah kaca yang belum tertutup oleh tirai hingga kerlipan lampu dari luar terpantul melalui kaca apartemennya.
Boy pun melirik dari samping tanpa menoleh. "Mau sampai kapan kau menyimpan perasaan mu itu Bram?" timpal Boy membuat Bram seakan heran pada lontaran Boy barusan.
"Perasaan apa yang kau maksud?" tanya Bram pula.
"Aku memang tak pandai dalam urusan percintaan Bram tapi aku sangat pandai dalam melihat gelagat seseorang yang sedang jatuh cinta," perjelasnya lagi sehingga Bram berdiri serta berjalan ke arah Boy namun Boy masih tidak menoleh ke arah Bram sebab ia hanya menatap ke arah kaca saja.
"Perasaan! jatuh cinta! kau sedang ingin mengatakan apa padaku sekarang?" sanggah Bram lagi hingga bertautan lah kedua alis mata Bram serta terus menatap serius ke arah Boy.
Seketika Boy menoleh ke samping membalas tatapan yang di berikan oleh Bram.
"Hei bro! kita ini tinggal dalam satu atap dan selalu bersama setiap harinya jadi walaupun aku tak pernah ingin tahu masalah privasi mu namun aku bisa melihat dari sikapmu pada seorang wanita," monolog Boy terlihat serius pula berkata demikian hingga ia terus menepuk berulang kali kedua bahu Bram.
"Sikap yang bagaimana?" berpura tidak paham maksud dari Boy dan terus berkelit pula.
"Dari awal kau bertemu Grace sikap mu selalu aku perhatikan Bram jadi kau tak bisa berbohong padaku," ungkap Boy secara jelas.
"Apa hubungannya sikap ku dengan Grace?" tanya Bram lagi masih tak ingin mengakuinya.
"Baik kau dan Gibran kalian itu sering memperhatikan Grace jadi aku tahu kalau kalian berdua sedang memendam perasaan pada satu orang yang sama," lontar Boy sehingga Bram terdiam sejenak. "Kalau kau ingin mendapatkan sesuatu maka majulah Bram jangan kau resah begini, sebab kebahagiaan harus di raih bukan di simpan terus di hati mu ini bro!" lanjut Boy lagi bahkan ia memukul pelan bagian dada Bram terlihat ingin memberi dorongan positif pada temannya itu.
Bram tertunduk sebab ia sudah tak bisa menyimpannya lagi bahkan ia tak menduga bahwa sikapnya sering di perhatikan oleh Boy padahal dirinya tak sekalipun bercerita masalah pribadinya namun Boy menerkanya secara jelas pula.
"Percuma saja Boy karena Grace juga sudah memiliki tunangan," ungkap Bram secara lirih serta terdengar hembusan nafas kasar dari mulutnya lalu ia mengatupkan kedua tangan di dada menatap ke arah kaca.
"Tunangan? dari mana kau tahu dia sudah bertunangan? apa yang di teriakin Ocha saat di lab itu benar?" tanya Boy terheran seolah ia kaget dengan pengakuan Bram.
Tanpa membuka suara Bram hanya anggukan kepala mengiyakan pertanyaan dari Boy.
"Lelaki yang bertunangan dengannya apa kau juga sudah tahu?" bertanya kembali.
Lagi-lagi Bram hanya anggukkan kepala.
"Siapa orangnya?"
"Gibran," jawab Bram serta menoleh ke arah Boy namun dari jawaban yang di terima seolah Boy tak mempercayainya.
"Kau bercanda! sejak kapan mereka bertunangan? lagian study juga masih belum kelar." Boy tampak tak percaya namun ia melihat sorotan dari mata Bram memang itulah adanya.
"Awalnya aku juga tak ingin percaya tapi setelah Gibran mengakuinya sendiri saat aku mengajaknya berbicara di kampus di situlah aku seakan tak menduga kalau Gibran lah orangnya dan aku juga tidak tahu kapan mereka tunangan yang pasti aku seperti tak punya harapan lagi Boy," setiap Boy melihat Bram membuang nafas panjang seolah ia bisa merasakan kepiluan di hati Bram saat ini.
"Bro! tak ada yang tak mungkin jika kau belum mencoba dan aku yakin mereka masih bertunangan antara keduanya tapi tak secara resmi jadi kesempatan untuk kau mengatakan sebenarnya pada Grace masih ada, ingat bro! cinta yang kau simpan ini akan menjadi rasa sakit kemudian hari kalau tak kau katakan sejujurnya dengan orang yang kau cintai itu," cakap Boy secara serius pula hingga ia merangkul bahu Bram dan sesekali menepuknya.
Bram merasa seperti ada sebuah pukulan yang keras dari dirinya setelah mendengar perkataan Boy padanya sebab itu ia langsung menerima ucapan tersebut lalu Boy melepas rangkulan di bahu Bram saat Bram ingin berjalan ke arah ponselnya.
Grace, aku ingin bicara hal penting padamu besok... Apa kau bisa luangkan waktu sebentar saat pulang kerja? balas pesan ku supaya aku bisa menjemputmu di cafe.
Pesan terkirim...
^^^To be continued^^^
^^^ 🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Cinta adalah perasaan yang harus di ungkapkan dan cinta juga kebahagiaan yang harus di menangkan. ~ Grace Eloise.
kisah perjuangan seorang Grace wanita hebat dan tangguh yang menjalani kehidupannya dg ayahnya dg kekuatannya sendiri...
sangat suka dg cerita seorang wanita tangguh yg sll di suguhkan author u para readers dg jalur cerita yg sangat menarik u di baca...
semangat ya thor u semua karya2 mu yg luar biasa. God bless always.
anak tiri di sayang sayang anak kandung di sia sia kan... sungguh ayah yg tidak bertanggung jawab terhadap anaknya
ngakak aq beb boy dpet baju ocha, warna apa sih.. jan bilang pink boy🤣🤣
untung aja OCHA msh selamat, bhya gk bisa renang