NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dari Barang Yang Dicuri

Belum sempat Jenar Karana menanggapi, Si Kundu datang dengan nafas ngos-ngosan. Jenar Karana langsung mendekati nya.

"Ada apa Kundu? Kenapa kau datang kemari? ", tanya Jenar Karana segera.

" Hooossshhh hooosshh huuuhhh...

Ka-katiwasan Jenar, katiwasan hooossshhh hooosshh hooosshh.. I-itu Pa-padepokan kita diserang orang orang ber-bertopeng!!", jawab Si Kundu dengan nafas memburu.

APAAAAAAAA...??!!!

Jenar Karana terkejut sampai bangkit dari tempat menghormat nya pada Maharesi Siwanata. Dia buru-buru menatap ke lelaki tua berjanggut putih panjang itu.

"Mohon maaf, Eyang Guru Maharesi..

Aku harus secepatnya kembali ke padepokan untuk membantu saudara saudara seperguruan ku", pinta Jenar Karana segera.

" Heh bocah bodoh, apa kau lupa bahwa aku adalah guru dari Si Tidu itu? Kita sama-sama kesana, aku juga ingin melihatnya ", jawab Maharesi Siwanata segera.

Ditemani oleh Maharesi Siwanata dan Kundu, Jenar Karana langsung bergegas menuju ke arah Padepokan Pesisir Selatan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat itu. Mata Jenar Karana melebar tatkala ia menyaksikan keadaan Padepokan Pesisir Selatan.

Beberapa bangunan hancur berantakan dan terbakar, asap hitam nampak membumbung tinggi ke langit. Puluhan murid Padepokan Pesisir Selatan bergelimpangan tak tentu arah. Beberapa terlihat sudah tak bernyawa dengan luka sedemikian parah.

Resi Mpu Tidu nampak duduk dengan dengan dada kanan seperti gosong, sedang berusaha diobati oleh beberapa sesepuh padepokan. Kesana lah Jenar Karana dan Maharesi Siwanata beserta Si Kundu bergegas mendekat.

Melihat kedatangan Maharesi Siwanata, Resi Mpu Tidu langsung berusaha untuk menghormatinya tetapi tangan kiri Maharesi Siwanata segera mencegahnya.

"Guru, murid hen... "

"Eh jangan banyak bergerak, Tidu. Luka mu sangat parah begitu, masih mau sok-sokan menjadi murid berbakti. Huh, duduk saja jangan banyak bergerak.."

Resi Mpu Tidu langsung kembali duduk bersila mendengar perintah guru nya.

"Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi disini? Aku ingin mendengar nya langsung dari mu.. ", ucap Maharesi Siwanata yang membuat Resi Mpu Tidu menghela nafas berat.

Dengan perlahan, Resi Mpu Tidu menceritakan tentang kejadian yang menimpa Padepokan Pesisir Selatan. Maharesi Siwanata dan Jenar Karana mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh pimpinan Padepokan Pesisir Selatan itu. Ketika Resi Mpu Tidu menceritakan tentang kotak kayu hitam yang dibawa kabur oleh para perusuh bertopeng tengkorak itu, rona wajah Maharesi Siwanata seketika berubah.

"Jadi sebenarnya yang diinginkan oleh para perusuh itu hanya kotak kayu hitam itu?!! ", tanya Maharesi Siwanata dengan nada meninggi.

" Sepertinya iya Guru...

Aku yakin mereka mengincar kotak kayu hitam itu sejak awal menyerbu kemari uhukk uhukk...", jawab Resi Mpu Tidu segera.

"Apa sebenarnya isi kotak kayu hitam itu, Eyang Guru? ", Jenar Karana yang penasaran langsung bicara.

Hemmmmmm..

Maharesi Siwanata nampak menghela nafas panjang mendengar apa yang ditanyakan oleh cucu muridnya ini.

" Kotak kayu hitam itu berisi sebuah batu berwarna merah sebesar kepalan orang dewasa, Jenar..

Orang dunia persilatan menyebutnya sebagai Mustika Naga Api. Konon, batu itu bukan berasal dari dunia ini dan jatuh dari langit. Beberapa pandai besi percaya bahwa batu itu adalah bahan pembuat senjata terbaik yang pernah ada. Selain itu, di dalam batu merah itu tersimpan sebuah kekuatan besar yang aku sendiri saja tak dapat menjangkau nya.

Sejak awal kemunculannya, batu merah itu sudah menjadi bahan rebutan antara para pendekar dunia persilatan di Nusantara ini. Hingga akhirnya dimiliki oleh guru ku Begawan Siwamurti yang menyembunyikan nya agar tidak lagi menjadi penyebab pertumpahan darah di kalangan para pendekar.

Dua puluh tahun yang lalu, Guru Begawan Siwamurti menyerahkan batu merah itu lengkap dengan kotak kayu hitam juga seorang bayi laki-laki. Kata beliau, jika bayi laki-laki itu sudah besar dan bisa menjaga diri, kotak kayu hitam itu harus diserahkan kepada nya karena di dalamnya selain Mustika Naga Api ada sebuah rahasia yang menyangkut asal usul dari bayi laki-laki itu. Dan bayi laki-laki itu adalah kau, Jenar Karana.. "

Hati Jenar Karana tergetar mendengar kata kata yang diucapkan oleh Maharesi Siwanata. Selama ini ia hanya tahu bahwa dirinya adalah anak pungut Resi Mpu Tidu yang memang merawatnya sejak masih bayi. Dia sungguh tak menduga bahwa rahasia jati dirinya akan serumit ini.

"Kalau begitu saya akan mengejar orang orang bertopeng tengkorak itu Eyang Guru.. "

Jenar Karana bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan tempat itu tetapi Maharesi Siwanata segera mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan kiri nya.

"Heehhh, jangan terburu nafsu Bocah Tengik!

Guru mu saja Si Tidu tidak bisa mengalahkan mereka apalagi cuma kau dengan ilmu beladiri yang hanya setebal kuku hitam. Semangat boleh, bodoh jangan.. ", ujar Maharesi Siwanata yang membuat Jenar Karana serba salah.

" Tapi mereka... "

"Hehh bocah, dengar baik baik omongan ku ya..

Aku tahu dari cerita guru mu Si Tidu ini kalau mereka adalah para pendekar dari Tanah Pasundan, tepatnya dari Lembah Tengkorak yang ada di kaki Gunung Halimun. Mereka bukan pendekar sembarangan, Jenar", nasehat Maharesi Siwanata sambil menatap ke arah muridnya ini.

"Tapi apakah aku harus diam saja Eyang Guru sementara rahasia hidup ku sudah dibawa lari mereka? ", sanggah Jenar Karana segera.

" Tentu saja tidak, Bocah..

Kau memang harus mendapatkan kembali kotak kayu hitam itu berikut isinya tapi itu tidak sekarang. Kau harus lebih dulu menyempurnakan Ilmu Silat Cakar Rajawali Pesisir Selatan yang sudah kau pelajari dari Si Tidu. Aku juga akan menambah ilmu kedigdayaan mu sesuai janji yang pernah ku berikan padamu sebelum nya. Tapi ingat! Sebelum kau berhasil menguasai Ilmu Silat Cakar Rajawali Pesisir Selatan dan ilmu kanuragan yang ku berikan, kau tidak boleh mengejar mereka ", pungkas Maharesi Siwanata yang di sambut baik oleh Resi Mpu Tidu dengan anggukan kepala.

" Saya setuju Guru..

Jika Jenar memang harus turun gunung, dia harus menjadi pendekar yang pilih tanding agar keselamatan nya di dalam pengembaraan nya mengejar orang-orang Lembah Tengkorak tetap terjaga ", timpal Resi Mpu Tidu kemudian.

" Mulai saat ini Jenar akan ku didik langsung...

Kau benahi Padepokan Pesisir Selatan sambil menyembuhkan luka dalam mu. Ayo Jenar, ikut aku ke Bukit Karang Bolong ", ajak Maharesi Siwanata sembari melangkah meninggalkan tempat itu.

" Jenar mohon pamit sekaligus mohon doa restu nya Guru", ucap Jenar Karana sembari menghormat pada Resi Mpu Tidu sebelum mengikuti langkah Maharesi Siwanata.

Dan demikianlah, Jenar Karana akhirnya dididik dengan keras oleh Maharesi Siwanata. Dalam waktu setengah tahun, ia sudah berhasil menguasai Ilmu Silat Cakar Rajawali Pesisir Selatan dengan sempurna hingga tahap puncak yang membuatnya mampu mengubah kuku tangannya tajam dan runcing seperti cakar seekor burung rajawali.

Selain ilmu silat tangan kosong, Maharesi Siwanata juga mengajarkan ilmu silat berpedang pada Jenar Karana. Meskipun masih belum paham apa yang diinginkan oleh eyang gurunya, Jenar Karana dengan tekun mempelajari ilmu berpedang dari sebuah kitab ilmu pedang yang bernama Kitab Pedang Tanpa Wujud.

Sebagai pelengkap ilmu silat nya, Maharesi Siwanata menurunkan Ajian Sepi Angin yang membuat tubuh Jenar Karana seringan kapas hingga mampu bergerak cepat secepat angin.

Kedua lengan Jenar Karana tertangkup di depan dada, tubuh kekar nya penuh dengan keringat sementara cahaya merah kekuningan menggulung di kedua lengannya.

"Sekarang hantamkan tapak tangan kanan mu ke arah batu besar itu, Jenar..!! ", teriak Maharesi Siwanata dari jarak yang cukup jauh dari tempat Jenar Karana berada.

Jenar Karana dengan patuh mengangguk dan secepat mungkin menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah batu besar yang berjarak 3 tombak jauh nya dari tempatnya berdiri.

Hiiiiiiyyyyyyaaaaaaaaaaatttt...!!

Whhuuuuuummmmmmm......

Gumpalan cahaya merah kekuningan menerabas dari tapak tangan kanan Jenar Karana dan langsung menghajar batu sebesar kerbau besar disana. Dan...

BLLAAAAAAMMMMMM!!!!!

Seketika batu besar itu meledak dan hancur berkeping-keping usai cahaya merah kekuningan itu mengenainya, menyebarkan abu dan asap yang beterbangan ke sekitarnya. Suara ledakan keras itu terdengar jauh hingga ke ujung hutan yang tumbuh subur di pesisir pantai selatan ini.

"Bagus sekali, Jenar..

Akhirnya kau berhasil menguasai Ajian Tapak Dewa Api dengan sempurna. Dengan ilmu ini, kau akan menjadi seorang pendekar yang hebat. Tapi ingat, diatas langit masih ada langit jadi kau harus tetap rendah hati meskipun sudah menguasai ilmu kedigdayaan linuwih seperti ini", tutur Maharesi Siwanata yang membuat Jenar Karana cepat menganggukkan kepalanya.

Dari kaki bukit tempat Jenar Karana dan Maharesi Siwanata berada, Si Kundu yang sering berkunjung ke tempat latihan itu bergegas mendekati mereka dengan nafas ngos-ngosan sambil berkata,

"Ah ah-da berita penting, Jenar hoosshhh.. "

1
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!