Season 1: Bara x Retha
Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?
Season 2: Hendry x Citra
Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Aneh
Retha duduk di atas pangkuan Bara dengan perasaan canggung. Ia melakukannya sesuai dengan kemauan Bara. Jika ia tidak mau menurut, kesepakatannya dianggap batal.
"Bapak janji kan, kita hanya ciuman? Saya tidak mau lebih dari itu," ucapnya sembari menahan malu.
Sebelummya Bara sudah sangat marah dan ingin mengusirnya. Retha mendorong Bara sampai lengan Bara kembali terkilir dan sakit. Untung saja bagian kaki yang dipasang gips tidak apa-apa.
"Kalau kamu tidak mau, pergi saja!" Bara membuang muka pura-pura tidak terlalu peduli. Padahal, dalam pikirannya sudah tidak sabar menyerang wanita yang akhirnya menurut seperti kucing. Retha naik sendiri ke atas pangkuannya tanpa harus dipaksa.
"Saya tidak bilang tidak mau. Saya hanya ingin memastikan Bapak bisa memegang kata-katanya." Wajah Retha terlihat begitu merah. Posisinya sekarang sungguh membuatnya seperti wanita tidak tahu malu, apalagi ia mengenal Bara sebagai salah seorang wali murid. Rasanya tidak pantas seorang guru memiliki hubungan dengan orang tua muridnya.
"Kamu bisa memegang kata-kata saya," ucapnya.
Sekali lagi Retha memandangi bibir yang ada di hadapannya. Ia begitu canggung ingin memulainya bagaimana. Perlahan ia dekatkan bibirnya pada bibir milik lelaki itu.
Bara yang tidak sabaran langsung melvmat bibir mungil itu dengan agresif. Retha sampai membelalakkan mata seolah Bara tak memberinya kesempatan untuk bernapas. Pagutannya terasa begitu hangat dan mampu menghadirkan getaran-getaran dalam hatinya.
Pertama kalinya Retha se1ntim ini dengan seorang lelaki. Ia belum pernah berpacaran apalagi berciuman. Ia tak menyangka jika ciuman itu rasanya begitu menyenangkan seakan ada kupu-kupu yang menari di dalam perutnya. Ia sampai terbuai dalam setiap cvmbuan yang diberikan.
Apalagi Bara melakukan ciumannya secara mendalam. Lidah mereka saling bersentuhan menjelajahi kehangatan mulut masing-masing. Sesekali suara d3s4han terdengar di sela-sela ciuman yang dilakukan.
Bara semakin serakah. Api gelora yang lama padam tiba-tiba menyala membuatnya ingin merasakan kembali kehangatan yang pernah ia rasakan saat masih terikat pernikahan. Tiga tahun terasa membuatnya sangat haus akan kasih sayang. Di saat yang tepat dirinya memerlukan buaian, wanita itu datang seakan bisa memenuhi kebutuhannya dan hasratnya.
Tangannya sudah tak bisa diam. Apalagi mendengarkan suara napas Retha yang terdengar merdu di telinga membuat ia kian kalap ingin meminta lebih. Retha yang terbuai dengan ciumannya sampai lupa diri bahwa lelaki itu telah berhasil melepaskan kaitan br4 miliknya. Tangannya kembali mendarat pada gundukan kenyal wanita itu.
"Pak ...." Dengan wajah yang terlihat bern4fsu, Retha kembali protes menyadari tangan Bara ada di dalam pakaiannya, menyentuh bagian yang cukup sensitif.
"Saya hanya memegangnya. Tidak akan lebih dari ini. Cium aku lagi," pinta Bara.
Retha yang sudah tidak sabar aktivitas mereka segera selesai, hanya menurut. Ia kembali memagutkan bibirnya seraya berusaha menikmatinya. Rasanya semakin membuat melayang merasakan kedua puncak gunungnya dimainkan dengan lembut oleh tangan asing itu. Bahkan suara-suara aneh lolos dari bibirnya tak tertahan. Apa yang Bara lakukan membuatnya semakin merasa malu sekaligus nikmat pada saat yang bersamaan.
"Hah! Hah! Hah!"
Retha kembali mengatur napas setelah akhirnya Bara mau melepaskan pagutan mereka. Lelaki itu tampak tersenyum memandanginya. entah seperti apa wajahnya sekarang. Rasanya ia sangat lemas hanya karena ciuman.
"Padahal aku yang memintamu menyenangkan aku. Kenapa malah kamu yang terlihat lebih senang?" ledek Bara.
"Apa ini sudah selesai?" tanyanya.
"Saat ini iya. Kita cukup sampai di sini saja," kata Bara.
Retha membenarkan kembali kaitan br4 miliknya yang terlepas. Ia masukkan lagi bukit kembarnya ke dalam tempatnya. Pandangan Bara tak bisa lepas dari sana. Ingin rasanya ia melepaskan saja pakaian yang wanita itu kenakan agar lebih leluasa memandangi benda tersebut.
"Saya harus melakukan apa lagi, Pak?" tanya Retha lagi.
Bara menelan ludah. Kalau bisa, ia ingin terus melakukan hal barusan seharian penuh. Sayangnya, ada pekerjaan yang harus ia koreksi agar tidak menumpuk. "Ambilkan tisu untukkku!"
Retha agak heran dengan permintaan Bara. Namun, tetap ia lakukan. Ia turun dari ranjang dan mengambil bungkusan tisu yang ada di atas meja ruang tamu untuk diberikan kepada Bara.
"Sekarang, kamu pergilah belanja dan jalan-jalan ke mall. Pakai kartu kredit milikku untuk membeli apapun yang kamu mau." Bara menyodorkan selembar kartu kepada Retha.
Wanita itu tampak keheranan memandangi kartu tersebut. Ia tidak mengerti kenapa Bara memberikan padanya dan kenapa ia harus pergi sendiri.
"Belilah baju baru sebanyak yang kamu mau. Jangan pulang sebelum pukul delapan malam."
Retha semakin heran dengan perintah Bara. "Tapi, kenapa saya harus pergi, Pak? Saya tidak sedang ingin membeli apapun."
Bara menggeleng. "Kamu harus pergi dan kembali pulang jam delapan tepat. Mampir ke spa supaya saat pulang tubuhmu wangi dan beli pakaian yang paling bagus. Aku akan menunggumu dengan sabar." Ia menyunggingkan senyumannya yang tidak bisa ditebak.
Retha masih tertegun di tempatnya. Apa yang Bara minta sungguh membingungkannya. "Tapi, nanti saya boleh kembali lagi, kan? Bapak tidak sedang mengusir saya secara halus?"
Bara terkekeh dengan perkataan retha. Wanita itu menganggap dirinya sedang berusaha diusir.
"Tidak, aku akan menunggu kepulanganmu. Jangan lupa kata-kataku tadi," ucapnya.
Meskipun masih tidak paham, akhirnya Retha menuruti saja perkataan Bara. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dan menyambar tas kecil miliknya. Retha meninggalkan hotel menuju mall untuk melakukan apa yang Bara mau.
Sementara, Bara menghela napas melihat kepergian Retha. Hampir saja ia kebablasan tak bisa menahan dirinya. Setelah Retha pergi, waktunya ia main solo untuk mengeluarkan sesuatu yang kini rutin harus ia keluarkan.
*****
Retha bingung sendiri berjalan di dalam mall seluas itu. Ada banyak pakaian yang menurutnya bagus, namun ia tidak tahu seperti apa selera yang Bara mau. Ia memutuskan untuk membeli beberapa potong pakaian yang menurutnya bagus serta sepatu untuk melengkapi penampilannya nanti.
"Selamat sore, selamat datang di Hellen Beauty and Spa. Kakak mau melakukan treatmen apa?"
Baru saja Retha melangkah masuk ke tempat spa, ia sudah disambut oleh resepsionis dengan ramah. Ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa di sana karena ini pertama kali baginya.
"Em, maaf, mba ... bisa treatment seluruh tubuh supaya wangi? Saya tidak tahu harus memilih yang mana."
"Oh, paket lengkap, ya? Kakak pasti mau bulan madu ... saya pilihkan paket terbaik supaya pasangan Kakak suka, ya ...." ucap pegawai tersebut dengan senyuman ramah.
Retha langsung mematung mendengar perkataan wanita tadi. Ia jadi takut kalau Bara benar-benar menyuruhnya pergi ke spa karena ingin tidur dengannya. Ia tak mau melakukannya. Bara juga sudah berjanji tidak akan sejauh itu memintanya untuk melayaninya. Retha bingung akan tetap melakukan apa yang Bara minta atau ia akan kabur saja.
ceritanya bagus
paling paling kau..
haaa
keluar juga sifat aslinya
guut Bara..
puas dah tawain thea