"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dada Karin berdenyut kencang, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Foto kiriman dari pria misterius itu membuat tubuhnya seketika terasa lemas.
“Ini nggak mungkin. Aku nggak percaya kalau Papah selingkuh.” Suaranya bergetar, penuh penyangkalan. Dengan tangan gemetar, Karin meraih ponselnya lagi. Ia harus menelepon pria misterius itu sekarang juga.
Tanpa menunggu lama, Karin langsung menghubungi pria misterius itu untuk menanyakan kebenaran foto tersebut. Menurutnya, hal itu mustahil—Karin yakin Papahnya tidak mungkin selingkuh, karena yang ia tahu, Papa nya adalah laki-laki yang setia.
“Hei!” bentaknya begitu panggilan tersambung. Rahangnya mengeras, jemarinya mencengkeram ponsel. “Apa maksudmu mengirim foto Papah ku dengan perempuan itu?” suaranya tajam, nyaris bergetar menahan amarah.
“Aku hanya ingin membantumu menghancurkan Mona, Karin. Aku yakin, jika Mona tahu Papah mu selingkuh, hal itu pasti akan membuatnya hancur,” serunya tajam.
“Apa sebenarnya rencanamu? Kenapa kamu terlihat begitu ingin Mona hancur juga? Apa kamu punya dendam dengannya?”
Ia menghela napas panjang, sorot matanya meredup sejenak.
“Iya, kamu benar,” Aku memang menyimpan dendam pada Mona. Dulu dia meninggalkanku, dan lebih memilih papah mu yang kaya, dan sejak saat itu… semuanya berubah.” ucapnya pelan.
Karin terdiam sejenak dengan wajah bingung, nada suaranya dipenuhi rasa ingin tahu.
“Jadi.... kalau dulu Mona meninggalkan kamu, berarti kamu mantan suami Mona?”
“Iya, aku memang mantan suami Mona. Namaku Bagas Prasetyo. Aku dulu hanya seorang kuli bangunan, dan karena itu Mona membenciku serta meninggalkanku sendirian,” jawabnya dengan suara bergetar.
Karin yang masih dipenuhi banyak pertanyaan dan rasa penasaran tentang masa lalu Mona akhirnya bertanya,
“Kalau kamu mantan suaminya, berarti kamu pasti tahu siapa anak kandung Mona, kan?".
Bagas menatap Karin dengan serius.
“Tentu saja aku tahu. Anak itu selalu ada di dekat kamu, Karin. Namanya Laura.”
Mendengar nama Laura, Karin langsung syok. Ia tak pernah menyangka bahwa Laura adalah anak kandung Mona. Pantas saja selama ini Mona selalu terlihat lebih perhatian kepada Laura dibandingkan dirinya.
“Pantas saja… Mona lebih menyayangi Laura daripada aku,” suara Karin bergetar, menahan tangis. “Ternyata Laura memang anak kandungnya.”
“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Mona begitu saja, Karin?” tanya pria misterius itu kepadanya.
“Tidak,” ucapnya tegas. “Aku akan memenjarakan Mona sekarang juga. Dengan semua bukti yang aku punya, itu sudah lebih dari cukup untuk menjebloskannya ke penjara.”
Pria misterius itu menatap Karin dengan tenang.
“Menurutku, lebih baik kamu kirim foto papah mu yang sedang bermesraan dengan perempuan itu kepada Mona. Biar dia merasakan sendiri bagaimana rasanya dikhianati.”
Karin setuju dengan saran pria misterius itu. Ia memutuskan untuk mengirim foto perselingkuhan papanya kepada Mona. Karin ingin Mona merasakan sendiri bagaimana rasanya dikhianati.
“Baiklah… aku akan mengirim foto ini,” gumam Karin lirih. “Aku yakin Mona akan sangat syok melihatnya.”
Beberapa saat setelah pesan itu terkirim dan dibaca, Mona langsung syok melihat foto perselingkuhan suaminya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sementara rasa percaya di hatinya runtuh seketika.
Mona menggeleng, tangannya gemetar saat memegang ponsel.
“Tidak… aku tidak percaya papa selingkuh,” ucapnya pelan.
Melihat pesan itu telah dibaca, Karin segera mengirim pesan berikutnya, sengaja memancing emosi Mona.
“Bagaimana, Mona? Rasanya dikhianati… sakit, kan?” balas Karin, singkat namun menusuk.
Mona menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Aku nggak boleh terpancing. Aku harus tanya langsung ke papa tentang foto ini,” pikirnya.
“Aku yakin papa masih ada di kantor sekarang. Aku harus menemuinya,” pikir Mona. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera meninggalkan rumah dan bergegas menuju kantor suaminya.
SEsampainya di kantor, Mona terhenti di ambang pintu. Napasnya tercekat, matanya membesar saat melihat pemandangan di depannya. Suaminya… bermesraan di ruang kerjanya sendiri, tanpa rasa malu.
Jantungnya berdegup kencang, tangan yang semula gemetar kini mengepal sekuat tenaga. Wajahnya memerah, amarah dan keterkejutan bercampur menjadi satu. Ia tak habis pikir—bagaimana suaminya bisa melakukan hal menjijikkan itu di belakangnya.
“Papa… apa yang Papa lakukan?!” teriak Mona histeris, suaranya pecah memenuhi ruangan.
“Mah… Mamah, Papa bisa jelaskan, ini tidak seperti yang Mama bayangin,” ucap Pak Sanjaya
“Apa lagi yang mau Papa jelasin?!” teriak Mona sambil menangis. “Papa tega selingkuh di belakang Mamah?!”
“Dan kamu… kamu siapa?!” tunjuk Mona tajam ke arah wanita di samping suaminya.
“Saya… hanya sekretaris Pak Sanjaya, Buk,” jawab wanita itu singkat.
“Jadi… kamu selingkuh dengan sekretaris mu, Papah?” Mona melirik tajam ke arah suaminya, mata penuh amarah dan kecewa.
“Mah… Mama itu salah paham. Papa nggak selingkuh kok,” ucap Pak Sanjaya cepat, suaranya terdengar cemas dan terbata-bata.
Wanita di sisi Pak Sanjaya menatap Mona dengan tenang, lalu berkata tegas,
“Tidak, Buk. Saya dan Pak Sanjaya memang punya hubungan… dan saya sudah hamil.”
“Hamil?!” Mona menatap suaminya tajam, matanya membara penuh kemarahan dan tak percaya.
“I… itu… bisa Papa jelaskan, Mah?” jawab Sanjaya suaranya terdengar gugup.
“Tega kamu, Pah!” teriak Mona, matanya berlinang. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan berlari meninggalkan Pak Sanjaya beserta wanita selingkuhan nya.
Bagas, mantan suami Mona, tersenyum puas. Semua yang ia rencanakan berjalan sesuai keinginannya. Mona hancur, dan itu membuat hatinya lega. Wanita yang selama ini menjadi selingkuhan Pak Sanjaya sebenarnya hanyalah orang suruhannya. Bagas membayar wanita itu untuk menggoda dan merayu Pak Sanjaya, hanya agar Mona menderita.
“Rasakan, Mona… sekarang kamu tahu rasanya dikhianati orang yang sangat kamu cintai,” ucapnya pelan, penuh kepuasan.
**Bersambung**
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak