NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Komandan Phoenix

​Dua puluh empat jam setelah insiden Beirut, Elara tidak lagi mengenakan gaun sutra. Ia kini berada di dalam ruang operasi markas pusat, mengenakan seragam tempur militer yang memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang mematikan. Pakaian ini terasa jauh lebih jujur dibandingkan sutra.

​Panglima Tertinggi, Jenderal Gedeon, berdiri di depan meja peta taktis yang menyala. Wajahnya yang keriput dan penuh perhitungan memancarkan kekecewaan dingin.

​“Kau membiarkan dia lolos, Mayor Vanya,” suara Gedeon bagaikan gerusan batu. “Kotak itu. Itu adalah kunci akses ke jaringan keuangan di Eropa Timur yang kita butuhkan. Dan dia, Kolonel Zian Arkana, mengambilnya.”

​Elara tetap tenang. Ia sudah menyiapkan jawaban. “Saya mengikuti protokol, Jenderal. Penembakan dari jarak 1,5 kilometer di zona sipil yang padat berisiko memicu konflik diplomatik besar, yang lebih berharga daripada Kotak logam kecil itu. Lagipula,” Elara berhenti, membiarkan matanya yang tajam menatap langsung ke mata Gedeon, “Zian Arkana bukanlah musuh negara, setidaknya bukan secara resmi. Dia adalah aset tak terduga yang bergerak di luar garis komando.”

​“Aset tak terduga yang membunuh dua pengawal Jenderal Al-Hassan dan mencuri barang bukti yang kita inginkan,” potong Gedeon tajam. “Laporan internal menunjukkan dia adalah pemimpin Unit Komando Khusus ‘Phoenix.’ Unit yang didirikan secara bayangan, bertanggung jawab langsung kepadaku, dan selalu berhasil dalam misi mustahil. Namun, akhir-akhir ini, sumber intelijen independen mulai mempertanyakan kesetiaannya. Dia terlalu efisien, terlalu cepat, terlalu banyak tahu.”

​Gedeon bersandar di mejanya. “Beirut hanyalah pemeriksaan, Mayor. Aku ingin tahu untuk siapa Arkana bekerja. Apakah untuk kita, atau untuk faksi di dalam negeri yang ingin mengambil alih komando dariku.”

​Elara tahu bahwa ini adalah saatnya. Ini adalah tugas yang dia minta.

​“Jenderal,” kata Elara, langkahnya maju satu langkah, menempatkan dirinya di tengah perhatian. “Jika dia adalah ancaman intelijen, mengirim tim penangkapan hanya akan membuatnya bersembunyi. Untuk mengungkapnya, kita butuh penyusup.”

​Gedeon mengangkat alisnya, sorot mata tuanya membaca Elara.

​“Kita butuh seseorang yang tidak akan dicurigainya. Seseorang yang—maafkan istilahnya—dia anggap sebagai ‘hadiah’ yang mudah dikendalikan. Anda tahu reputasi saya. Biarkan saya menyusup ke Unit Phoenix. Saya akan menjadi penghubung resmi Anda. Dia akan mengira saya adalah Tentara Seksi yang dikirim untuk memantau, dan dia akan meremehkan saya.”

​Gedeon terdiam lama, asap ketegangan terasa tebal di udara. Elara tahu dia bertaruh besar, mempertaruhkan kredibilitasnya pada kemampuan untuk memainkan peran yang paling ia benci.

​Akhirnya, Gedeon menghela napas. “Mayor Vanya. Ambisi Anda setajam pisau lemparnya sendiri. Baik. Aku akan menempatkanmu sebagai ‘Perwira Penghubung Khusus’ yang baru untuk Unit Phoenix, dengan akses penuh ke pelatihan dan misi mereka.”

​Gedeon menekan sebuah tombol, dan lampu di atas peta taktis berkedip. Sebuah koordinat muncul di timur laut, sebuah titik terisolasi di pegunungan yang tertutup salju.

​“Markas mereka, ‘The Nest.’ Kau berangkat besok pagi. Dan ingat, Elara. Jangan jatuh cinta pada targetmu. Pria seperti Arkana akan menggunakan hatimu sebagai mata-mata, lalu mematahkan lehermu tanpa berkedip.”

​“Tidak perlu khawatir, Jenderal,” jawab Elara, senyumannya yang dingin kembali. “Aku tidak punya hati untuk digunakan, atau leher untuk dipatahkan.”

​Keesokan paginya, helikopter Black Hawk menurunkan Elara di sebuah landasan tersembunyi. Udara dingin pegunungan menusuk tulang, kontras tajam dengan panas lembap di Beirut. Markas Phoenix tersembunyi di balik ngarai batu yang dicat kamuflase.

​Dia disambut oleh seorang letnan wanita yang tampak kaku dan tidak ramah. Letnan itu mengantar Elara ke kantor utama, sebuah bunker bawah tanah yang dingin namun berteknologi tinggi.

​Dan di sana, di balik meja baja besar, duduk Zian Arkana.

​Meskipun mengenakan seragam taktis lengkap yang mencantumkan pangkat Kolonel di bahunya, auranya lebih kuat dari malam sebelumnya. Di Beirut, dia adalah bayangan. Di sini, dia adalah matahari yang dingin, dikelilingi oleh gravitasi bahaya.

​Elara melangkah masuk, menjinjing tas perlengkapan tunggalnya. Dia berdiri tegak, memancarkan kepercayaan diri dan daya tarik yang ia tahu paling efektif.

​“Kolonel Arkana,” sapa Elara, suaranya halus, formal, dan sedikit menggoda—sebuah kombinasi yang dirancang untuk merobohkan pertahanan.

​Zian tidak berdiri. Dia bahkan tidak tersenyum. Matanya yang abu-abu, yang Elara lihat sekilas di bawah cahaya bulan Beirut, kini menatapnya langsung, tanpa ekspresi, seperti memindai ancaman.

​“Mayor Vanya,” jawab Zian. Suaranya serak dan dalam, tanpa emosi yang tidak perlu. “Saya telah menerima surat penugasan Anda dari Jenderal Gedeon. ‘Perwira Penghubung Khusus,’ katanya. Saya menyebutnya, pengasuh.”

​Elara tersenyum sedikit lebih lebar, seolah kata-kata Zian adalah pujian. “Panglima khawatir. Anda menghilang dari radar. Dan setelah insiden di Beirut, dia ingin memastikan bahwa aset berharga seperti Unit Phoenix beroperasi sesuai... garis komando.”

​Zian akhirnya menggerakkan tangannya, meraih kotak logam kecil yang sama yang dia curi dari Jenderal Al-Hassan, memutarnya di antara jari-jarinya.

​“Kotak ini,” kata Zian, nadanya datar. “Gedeon menginginkannya. Kau dikirim untuk mendapatkannya. Bukankah begitu, Mayor?”

​Elara tidak mundur. “Tugas saya adalah mengamati, Kolonel. Dan memastikan bahwa siapapun yang mengambil kotak itu tidak menggunakannya untuk menentang kepentingan negara kita.”

​Zian tertawa kecil, tawa yang tidak mencapai matanya. “Menentang kepentingan negara? Itu ironis, mengingat Gedeon sendiri yang menciptakan jaringan ilegal Al-Hassan. Kotak ini bukan kunci ke Eropa Timur. Ini adalah daftar nama orang-orang yang dia ingin singkirkan. Saya membersihkan kotorannya. Dan kau, Mayor Vanya, dikirim untuk menghentikan pembersihan itu.”

​Pengakuan itu seperti tamparan. Elara terkejut. Dia tahu Gedeon tidak sepenuhnya jujur, tetapi dia tidak menyangka pengkhianatan itu sejelas ini.

​“Itu tuduhan serius, Kolonel,” ujar Elara, menjaga nada suaranya tetap skeptis.

​“Bagi seorang mata-mata yang dikirim untuk memata-matai mata-mata, ya, itu serius,” balas Zian, berdiri.

​Gerakannya lambat, terkontrol, dan mengancam. Elara sekarang harus mendongak sedikit untuk menatap matanya. Kedekatannya tiba-tiba terasa mencekik, seperti gravitasi yang menariknya ke bawah. Dia memancarkan bau mesiu, kulit, dan mint.

​“Unit Phoenix tidak menerima Perwira Penghubung,” lanjut Zian, suaranya kini berbisik, tetapi lebih keras dari raungan. “Kami menerima Tentara. Kau harus mendapatkan rasa hormat kami, atau kau akan tersingkir. Di sini, Mayor, tidak ada tempat untuk ‘aset’ yang hanya tahu cara bergaul di pesta. Hanya ada tempat untuk prajurit yang bisa bertarung, bertahan, dan membunuh.”

​Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, dan Elara bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata Zian.

​“Mulai besok pagi, kau akan menjalani Hell Week Unit Phoenix. Kami akan mematahkanmu, Elara. Jika kau berdarah, kau milik kami. Jika kau menangis, kau milik Gedeon. Pilihlah dengan bijak.”

​Zian melangkah mundur. Dia menunjuk ke sudut ruangan. “Barakmu ada di sana. Bersiaplah. Jam 04.00, kau ada di lapangan berlatih.”

​Elara mengangguk, emosinya terkunci rapat. Sensasi listrik dingin yang ia rasakan di Beirut kembali—kali ini bukan karena ancaman, tetapi karena tantangan. Zian Arkana melihat menembus topengnya, dan alih-alih mengeksposnya, dia justru menantangnya untuk menjadi dirinya yang sebenarnya.

​“Sampai jumpa di lapangan, Kolonel,” Elara membalas, senyumannya yang dingin tidak lagi dibuat-buat, tetapi berapi-api. "Saya tidak pernah kalah dalam permainan taruhan tinggi."

​Elara berbalik menuju baraknya. Zian Arkana memperhatikannya, tangannya masih memegang kotak logam. Di matanya, bukan kecurigaan, tetapi secercah rasa ingin tahu yang dingin, seolah-olah dia baru saja mendapatkan mainan yang sangat berbahaya. Dia telah mengambil langkah pertama dalam permainan mematikan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!