Aku di jadikan alat balas dendam oleh suamiku.
Satu tahun menikah tak ada kelembutan dan tanggung jawab suami yang kudapatkan melainkan kehadiran ku hanya di anggap patung tak ternilai.
"Kau hanyalah boneka tidak lebih dari apapun yang berharga di dunia. Kesengsaraan hidup mu kebahagiaan terbesar bagiku," ucap Rizal penuh penekanan menatap benci wulan yang seketika melemas mendengar pengakuan pria tersebut.
"Apa salah ku hingga kau tega melakukan ini? kenapa tidak kau bunuh saja aku biar kau puas, kenapa harus seperti ini? kau bukanlah manusia, kau iblis berwujud manusia!" Teriak Wulan menggebu-gebu muak dengan tingkah rizal.
"Hahaha.... hahaha ... kau benar saya iblis berwujud manusia. Dan semua itu karena kakak mu!" jawab Rizal tertawa dan seketika langsung berubah dingin dengan tatapan pembunuh.
Sanggup kah aku menjalani pernikahan ini? atau mundur agar tak tersakiti lebih dalam?
Yuk baca kisah ku🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Cinta nya hanya untuk dinda bukan untuk ku
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Rizal sudah berganti pakaian untuk berangkat dan ia juga sudah menyiapkan dua pasang pakaian nya yang akan dibawa selama berada mansion dinda.
Meski hanya menginap satu hari, pria itu tidak ingin kekurangan apapun.
"Wulan!" teriak Rizal menggelegar dari ruang kamar nya.
Dan wanita yang di panggil pria gila itu kaget.
"Astaghfirullah, ada apa dengan nya, kenapa sehari tak mencari masalah apa hidup nya akan terasa tersiksa?" ucap bingung Wulan.
Meski begitu, wulan tetap mengikuti rizal, ia keluar dan menemui rizal di kamarnya.
"Ada apa?" tanya Wulan tiba di kamar rizal.
"ini pakaian saya, masukan di tas bawaan mu," ucap Rizal santai.
"Kenapa?" tanya Wulan.
"Tidak perlu banyak tanya ikuti saja apa yang saya kata kan, kenapa kau begitu cerewet sih," kesal Rizal wulan benar-benar banyak bicara.
Wulan selalu menjawab semua perkataan nya, hingga ia bingung wanita yang berdiri di depan nya ini terbuat dari apa? sudah berkali-kali ia sakiti tapi tetap saja tidak takut malah semakin berani.
Tidak seperti wanita di luar sana, berulang kali di sakiti akan takut dan tunduk, tapi ini sebaliknya.
"Terserah," ketus Wulan tanpa peduli tatapan maut rizal.
Wulan berjalan melewati rizal dan meraih pakaian yang sudah di siapkan rizal.
"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?" tanya Rizal menatap aneh melihat wulan tersenyum sendiri.
"Kenapa apa saya tidak boleh tersenyum?" tanya balik Wulan.
"Terserah cepat urus semuanya, nanti dinda ku akan sedih menunggu kita terlalu lama."
"Dasar pria gila gak kapok juga apa dia di hajar kak Al," batin Wulan.
...****************...
Rizal dan Wulan sudah melaju ke mansion dinda dan tentu di sana tidak ada mama dan Papa angkat nya.
Wulan duduk di samping kursi mengemudikan dan rizal mengemudi.
Tak ada obrolan antara keduanya, mereka masing-masing diam.
"Kau lihat saja pria tua satu hari mu di rumah kakak ku akan ku buat hidup mu sengsara seperti di neraka agar kau tau seperti apa yang kurasakan berada di mansion mu," batin Wulan tidak sabar cepat tiba di mansion kakak nya.
Tak lama kemudian mobil rizal tiba di depan gerbang mansion dinda, dan satpam segera membuka agar mobil adik ipar majikan nya bisa masuk.
Saat wulan ingin keluar, suara rizal menghentikan langkah nya.
"Ada apa, " menaikkan alis bertanya menahan rasa kesal pada rizal.
"Tunggu situ, jangan keluar," ucap Rizal lalu keluar dan wulan memandang kepergian rizal begitu saja menjadi tambah kesal.
"Apa sebenarnya mau dia?" ucap Wulan.
Ceklek....
"Ayo," ajak Rizal mengulurkan tangan pada wulan.
"Menjijikkan, dasar pencitraan. Lihat saja sampai kapan kau akan seperti ini," batin Wulan menantang dengan senyuman yang tidak dapat di lihat orang.
Wulan menerima uluran tangan rizal, kedua pun jalan bergandengan tangan begitu romantis.
Orang yang melihat mereka akan mengira hubungan pernikahan keduanya begitu bahagia dan harmonis.
"Jangan senang dulu, saya melakukan ini terpaksa," ucap Rizal pelan.
"Saya tau itu, kau tak perlu khawatir sampai kapanpun itu saya tidak akan menyukai apapun yang kau lakukan pada saya," balas Wulan sangat yakin.
Wanita itu sangat membenci rizal, dia berjanji pada dirinya sendiri akan membalas semua siksaan yang di berikan rizal padanya cepat atau lambat.
Kedua nya pun langsung sama-sama terdiam ketika kanaya bocah perempuan anak dinda datang menghampiri mereka.
"Aunty, naya rindu kenapa tidak pernah kesini lagi, apa aunty tidak merindukan naya? aunty tidak sayang lagi ya sama naya?" ucap Kanaya cemberut.
Wulan melepaskan gandengan tangan nya dan memengang tangan kanaya.
"Aunty juga sangat rindu sama naya, maaf selama ini tidak bisa mengunjungi naya."
"Sibuk apa?"
"Naya lupa ya, aunty kan sekolah sama kayak naya dan aunty banyak tugas jadi harus belajar," jelas Wulan.
"Oh iya ya," kanaya menepuk jidat lupa.
"Sudah ngobrol nya di lanjut kan nanti, sekarang kita masuk," dinda menghentikan dan mengajak masuk.
Dinda mengajak masuk mereka untuk duduk di ruang keluarga dan bawaan wulan di bawakan art ke dalam kamar wulan biasa datang untuk menginap.
Kanaya bocah kecil itu terus menempel pada wulan tak ingin jauh, dan wulan tak masalah ia sangat merindukan kanaya bocah kecil teman berantem nya selama disini.
"Lihatlah dek, naya begitu merindukan mu sejak tadi tidak ingin berjauhan dari mu," kata Dinda melihat kanaya duduk menggengam tangan wulan seakan jika di lepaskan wulan akan kabur.
"Iya, kak, aku jadi bingung ada apa dengan bocah ini seingat ku saat itu kita lebih sering berantem tapi kenapa mendadak menjadi manja begini," usil Wulan sebenarnya ia senang dengan sikap manja kanaya seperti ini.
"Aunty, itu dulu sekarang beda dong. Oiya aunty hari ini akan nginap di sini bukan?" tanya Kanaya menatap wulan yang berlagak lupa dan mencoba mengingat ulang.
"Aunty jawab kenapa diam, mommy," aduh Kanaya dengan wajah sedih memperlihatkan aktingnya.
"Hey bocah stop menunjukkan akting mu, aunty tau itu kau sedang tidak benar-benar sedih," tatap Wulan paham benar kanaya yang pandai akting.
Sedangkan rizal hanya diam memperhatikan kedua perempuan berbicara.
Ini kali pertama ia melihat wulan ceria dan banyak bicara dan hal itu terlihat mengemaskan.
Pria itu tidak menyangka jika wulan akan terlihat imut jika berdebat dengan anak kecil.
"Dia begitu imut? kenapa selama ini aku tidak pernah melihat itu?" batin Rizal terpukau dengan wajah ceria wulan.
Entah kenapa rizal tersenyum. Dan itu adalah sesuatu yang langkah bagi seorang pria gila seperti rizal.
Dan dinda menangkap tatapan rizal tak henti memandang wulan dengan senyuman melekat di wajahnya, ikut bahagia.
Dia bahagia rizal begitu mencintai wulan.
"Kakak bahagia kamu menemukan pria yang begitu besar mencintai kamu dek, kakak berdoa semoga kalian cepat di beri momongan agar keluarga kalian lebih lengkap dengan adanya anak," batin Dinda tulus ingin yang terbaik untuk sang adik.
"Dek, rizal begitu mencintai kamu ya?" tanya Dinda yang seketika membuat wulan kaget bukan main.
Wulan melotot kan mata pada kakaknya dan lalu berpindah menatap rizal dan pria itu hanya tersenyum manis dan tentu itu adalah senyuman palsu.
"Kakak kenapa bicara seperti itu?" tanya Wulan penasaran belum menjawab pertanyaan dinda.
"Kenapa? apa pertanyaan kakak ini sangat sulit di jawab, hingga kamu balik bertanya."
"Bukan seperti itu kak, aku hanya merasa aneh saja kakak mendadak bertanya seperti ini," bohong Wulan, sebenarnya bukan itu ia kaget karena takut jika dinda curiga hubungan pernikahan ia tidak sedang baik-baik saja.
"Maaf, habis nya kakak penasaran mau denger langsung penilaian kamu tentang rizal, tapi kalau penilaian kakak sejauh ini rizal sangat mencintai kamu bukti nya saja sejak tadi dia senyum-senyum sendiri tatap kamu ngobrol sama naya," kata Dinda.
"Kakak salah besar cinta nya itu hanya pada kakak dan aku adalah kebalikan nya penuh rasa benci," batin Wulan sedih.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
Ceritanya bagus dn endingnya bahagia
Tetap semangat kakk authorrr untuk karya2 selanjutnya
Kembang sekebon buat kk otor😍