Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Dijemput
"Siapa dia?" Salma melirik
"Suamiku." Jawabnya singkat.
"Angkat!"
"Ga mau."
"Angkat!"
"Ga mau. Kamu maksa amat sih"
"Angkat Ren, Kamu jangan keras kepala. Ini demi kamu dan anak kamu jangan membuatnya khawatir. Ini sudah malam pulang lah!"
" Tapi aku mau nginap sini, Sal"
"Ngga boleh. Yang boleh nginap sini hanya yang masih jomblo. Yang sudah menikah dilarang menginap atau main selama 24 jam"
"Ih peraturan dari mana tuh?"
"Peraturan di kamar ini. Ren pulanglah kamu sedang hamil tidak baik buat janin kamu. Ini sudah malam katakan pada suamimu minta dijemput sekarang. Aku benar-benar tidak enak sama orang tuaku kalau kamu nginap. Nanti dianggap menyembunyikan bumil. Cepat hubungi suamimu!"
"Iya...iya ..dasar pelit!"
"Biarin yang penting kamu ga dapat dosa karena sudah durhaka sama suami. Astaghfirullah Ya Allah ampunilah sahabatku ini semoga ia bucin sama suaminya, aamiin" Salma mendrama.
Bibir Reni mengerucut. Dia sebenarnya enggan untuk menghubungi suaminya. Namun keterpaksaan yang mengantarkan jempolnya untuk menekan nomor suaminya.
"Assalamualaikum. Jemput aku di jalan Badak no. 5, sekarang!" Tanpa jawaban dari suaminya Reni mengakhiri pembicaraan dengan muka jutek.
"Ingat masukan yang aku berikan tadi ya Ren. Aku ga mau kamu terjerumus oleh pikiran egois kamu itu. Istighfar lah jika kamu melakukan kesalahan. Datanglah ke taman hati di sepertiga malam usahakan setiap hari. Allah akan mendengar keluh kesahmu adukan semuanya hanya pada pemilik alam semesta".
"Sal aku heran deh sama kamu. Kamu tuh belum pernah nikah tapi kamu menanggapi permasalahanku seolah kamu sudah pengalaman"
"Pengalaman itu tidak hanya terjadi pada diri sendiri. Kejadian orang lainpun bisa dijadikan pengalaman yang sangat berharga untuk dijadikan pembelajaran sehingga bisa membedakan mana yang terbaik dan mana yang terburuk."
"Kamu tuh cocok jadi psikolog, Sal" Salma hanya menanggapi dengan tertawa.
"Tapi kenyataannya aku jadi guru."
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil di pekarangan rumah.
"Hayu turun! Sepertinya suamimu sudah datang." Namun Reni enggan untuk beranjak.
"Ren mengertilah. Kamu jangan lama-lama di rumah ini. Kamu harus pulang malam ini. Kasihan suami kamu, jangan biarkan dia sendiri." Reni menghela nafas kasar. Akhirnya ia dengan terpaksa keluar kamar itu. Lalu menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah.
Salma mengantar Reni sampai teras. Tampak seorang laki-laki yang sudah mulai tumbuh uban sedang berdiri gagah di samping mobil sedan berwarna oranye. Salma memicingkan matanya seperti mengenali laki-laki itu.
"Pak Rayyan? Ren itu suami kamu?"
"Kamu kenal?"
"Ya dia temanku saat pelatihan" Reni mengangguk paham. Salma menyapa suami Reni dengan rasa takjub.
"Pak jaga baik-baik istri bapak yang masih mode manja ini dengan baik. Jangan sampai kabur-kaburan lagi, jadi pusing kan?" Salma tertawa begitupun dengan Rayyan. Reni hanya bersungut kesal dengan sahabatnya itu walaupun sebenarnya Salma begitu baik. Akhirnya Salma melepas kepergian sahabatnya yang datang tanpa diundang.
Akhirnya Salma bisa merebahkan tubuhnya setelah melewati drama sahabatnya yang keras kepala. Walaupun begitu Salma bisa menaklukkan hati yang keras itu sehingga ia pulang bersama suaminya. Ia hanya berharap Reni bisa berubah dan mengikuti saran dan nasihat darinya. Salma sangat tidak ingin rumah tangga temannya itu berantakan gegara hal duniawi. Setelah ini semoga perkawinan mereka langgeng dan samawa (Sakinah, mawaddah dan warohmah).