"Awas adik...." refleks aku maraih tangan gadis kecil yang melintas di depanku.
Anya adalah gadis kecil yang berumur kurang lebih 4 tahun. Putri pengusaha sukses yang bernama Zaidan. Harus mengalami peristiwa yang tragis. Ibunda meninggal saat melindungi dirinya dari serangan pembunuh yang menginginkan dirinya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma yang mendalam pada dirinya. Sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
Selanjutnya, silahkan membaca novel ini.
Apabila ada nama atau tempat yang sama, maka itu ketidaksengajaan, karena ini hanya fiksi belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Sepi tanpa Anya
"Anya hari ini ikut ayah atau sama eyang putri dirumah?" kata Zaidan.
Sebelum Anya menjawab, nyonya Hendiyana sudah berkata terlebih dahulu.
"Biarkan di rumah saja, menemani aku."
"Baiklah, Mom."
Lalu Zaidan mengecup dahi Anya dan juga kedua pipinya dengan mesra.
"Tidak boleh nakal. Habis bermain jangan lupa dibereskan. Kasihan eyang putri. Oke." pesan Zaidan pada putrinya yang sudah terlihat cantik dan rapi. Yang telah dimandikan dan didadani oleh Zaidan sendiri. Agar tidak merepotkan mommynya, ketika Anya ditinggal di rumah.
"Baik, Ayah." jawabnya gembira.
"Mom. Mohon doanya, aku berangkat." sambil mencium tangan mommynya dengan takdzim.
"Dan titip Anya, Mom."
"Jangan khawatir. Sudah sana ... Kasihan karyawanmu nunggu kamu. Baru sekali kamu tinggalkan putrimu, kamu sudah benar-benar khawatir." sambil menepuk lengan Zaidan.
"Assalamualaikum, Mom."
"Waalaikum salam."
"Mari nyonya."kata Aldo yang duduk di belakang kemudi.
"Dah ... dah ... " Zaidan melambaikan tangan kepada putrinya dari mobil mereka.
Setelah lebih dari 4 bulan Zaidan. Baru kali ini dia pergi tanpa putrinya. Hingga dia lupa bagaimana rasanya pergi tenang tanpa beban. Alhamdulillah...Tuhan memberikan kesempatan yang lama dia rindukan.
Zaidan berharap, ini tidak akan berlalu. Tapi tak mungkin. Bila Mommy telah kembali ke Singapura, tentunya keadaan akan kembali seperti semula. Andaikan ada yang menjaga Anya sementara dia pergi, dia akan lebih tenang.
Harapan itu ada pada sosok Dinda. Yang sangat menyayangi putrinya dengan tulus. Dan Anyapun demikian, senantiasa mengharapkan ammah Dindanya segera menjadi bunda untuknya.
Dalam hati Zaidan sebenarnya masih ada bayangan-bayangan istrinya yang sangat dia cintai. Namun dia juga tak mampu menepis bayangan Dinda yang makin kuat di hatinya. Apalagi putrinya, amat membutuhkan kehadirannya.
Nyonya Hendiyana juga membuka lebar-lebar ke arah itu. Demi kebaikan semuanya. Bukan bermaksud mengorbankan Dinda. Tapi biarlah Tuhan yang mengatur bila cinta itu ada. Dan sedapat mungkin tumbuh bersemi pada tempat yang semestinya. Yaitu maghligai rumah tangga.
"Kita kemana dulu, Zai?" tanya Aldo, saat mobil sudah mulai memasuki jalanan perkotaan.
"Kita ke kantor dulu."
"Katanya?"
"Habis meetting, nanti kita ke sana."
"Aku boleh ke kantor polisi?"
"Boleh. Kapan?"
"Setelah mengantarkanmu. Sebentar."
"Ya."
Entah mengapa Zaidan merasa cocok dengan detektif yang disewa mommynya. Baru sehari kenal tapi sudah akrab.
"Aku turun sini dulu." kata Zaidan ketika tiba di depan kantor perusahaanannya.
"Aku tunggu nanti jam setengah sepuluh."
"Okey." jawab Aldo sambil memutar mobil ke arah sebaliknya.
Para pegawai dan karyawan terlihat memperhatikan Zaidan yang berjalan seorang diri menuju ke kantor. Tidak seperti hari-hari biasa, ke manapun pergi selalu disertai Anya, putri kecilnya itu.
Sebenarnya mereka senang dengan kehadiran putri kecil Zaidan, yang lucu dan menggemaskan. Hanya sayangnya Anya masih takut bila melihat seseorang. Kecuali pada 3 orang, yaitu ayahnya, eyang putrinya dan juga Dinda.
Aris juga bertanya-tanya, ketika terlihat pak Zaidan tidak membawa Anya ke kantor sebagaimana biasa.
"Anya kemana, Pak?"
"Di rumah. Sama Eyangnya."
"Kapan datang?"
"Kemarin."
"Ringan ya Pak, tanpa Anya."
Zaidan hanya bisa tersenyum mendengar komentar Aris.
"Gimana, sudah kamu beritahu Laila . Untuk datang ke sini jam 2."
"Sudah Pak. Dan ini berkas yang bapak minta."
"Terima kasih."
Sambil membawa berkas, Zaidan berlalu dari hadapan Aris menuju ke ruangannya. Dan melanjutkan memeriksa berkas-berkas yang lain. Sebelum menuju ke tempat meeting berlangsung.
Semua tampak lebih rapi dan pegawainya lebih tenang, saat meeting. Tidak ada gangguan seperti biasanya. Saat dia masih membawa Anya ke kantor. Walau semua itu bisa dimaklumi oleh mereka. Dan tetap bisa melakukan pekerjaan seperti biasa. Justru seperti ini membuat mereka kangen akan keberadaan Anya.
"Pak, Anya dimana?" tanya salah satu pegawainya.
"Di rumah, sama Eyang putrinya."
"Nggak seru kalau tidak ada Anya."
Zaidan menanggapi dengan tersenyum.
"Ya ... besok saya ajak ke kantor lagi." jawab Zaidan santai.
"Kasihan juga, Pak. Tidak bisa berkumpul dan bermain bersama teman-temannya."
"Benar juga. Bagaimana nantinya saja. Doakan yang terbaik saja."
"Ya, Pak. Aaamiiiin." jawab mereka serempak.
Semenjak rapat tadi, sebenarnya Zaidan sudah merasa kangen dengan suara putrinya. Tapi dia sembunyikan dalam sikapnya yang tenang. Karena masih banyak yang harus dia selesaikan.
Selesai meeting kembali lagi ke ruangannya, membuka komputernya lagi. Berkutat dengan laporan-laporan yang masuk. Serta menandatangai beberapa dokumen yang penting demi perkembangan perusahaannya.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Dimana dia sudah berjanji akan menjemput Dinda di restorannya. Untuk memperkenalkan pada mommynya yang sekarang menunggu di rumah.
Aldo yang Sudah sejak tadi tiba dari kantor polisi. Menunggu di parkiran seorang diri. Merasa tidak sabar. Akhirnya dia ke lantai atas. Menuju ke ruang Zaidan bekerja.
Aldo langsung masuk ke ruangan Zaidan. Mendapati Zaidan yang tengah membereskan pekerjaannya.
"Bagaimana, Zai. Jadi apa tidak."
"Sebentar, tinggal sedikit, Al. Nanggung."
"Oke ..." jawab Aldo sambil berjalan menuju sofa yang ada di depan meja Zaidan. Dan mengambil lembaran koran yang ada di meja. Membacanya sejenak sambil menunggu Zaidan beres-beres.
Tak berapa lama Zaidan sudah selesai. Merekapun pergi meninggalkan ruangan tersebut, menuju tempat parkir.
"Kemana ini?"tanyan Aldo begitu duduk di belakang kemudi.
Lalu Zaidan memperlihatkan navigator di hpnya.
"Baik."
Mobilpun meluncur di jalanan yang tak pernah sepi. Berkejaran dengan kendaraan yang ada. Agar segera sampai tujuan.
Aldo konsentrasi dengan kemudinya. Sedangkan Zaidan asyik membuka hpnya. Wajah Zaidan terlihat cerah saat mengadakan percakapan dengan seseorang. Pastinya itu Dinda, pikir Aldo.
"Assalamualaikum ...."
"Sebentar. Mau sampai."
"Ya. Waalaikum salam."
Tak berapa lama mereka sampai di restoran yang Dinda kelola. Keseluruhan bangunan sepertinya sudah rapi dan terlihat siap untuk dibuka.
Mobil berjalan pelan menuju halaman depan tanpa melalui parkiran terlebih dahulu. Dan berhenti tepat di pintu utama masuk restoran.
"Sebentar, Al." kata Zaidan saat turun dari mobil.
Aldo hanya mengangguk.
"Assalamualaikum..." Zaidan menyapa Dinda yang tengah sibuk memberikan arahan pada pegawainya.
Dinda menoleh dan menjawabnya dengan tersenyum.
"Waalaikum salam. Mana Anya?"
"Di rumah, sama eyang putrinya."
"Bebas tugas dong." kata Dinda berkelakar.
"Sekali-kalilah. Ternyata enak juga."
"Hemmmm ..."
"Terus terang aku masih merasa aneh tanpa Anya."
"Pekerjaan Mas bisa cepat beres kan?"
"Alhamdulillah. Sudah siap? Sudah selesai tho. Ayo kita berangkat" kata Zaidan.
"Siap apa?"
"Ketemu mommy."
"**Ini ... ?!"
Dinda memperlihatkan beberapa rantang yang tentunya berisi makanan serta sebuah paper bag yang berisi kotak kue. Membuat Zaidan tertawa.
"Kamu ini selalu bikin tertawa saja."kata Zaidan gemes.
"Persiapan yang bagus. Tapi bukan itu maksudnya."
Dinda menarik napas panjang dan menghempaskannya, saat mengeluarkan napas.
"Mas. Jangan bikin aku tambah gelisah lah."
"Sudah. Ayo, aku bantu."
"Yeyen, lanjutkan ya...."kata Dinda pada salah satu karyawannya.
"Ya, Mbak."
Zaidan dan Dinda berjalan beriringan sambil membawa pesanan nyonya Hendiyana. Sambil sesekali bercakap-cakap. Sekedar membantu menurunkan ketegangan yang Dinda alami. Pengalaman pertama bertemu calon mertua, yaitu Mommy angkat Zaidan.
Zaidan meletakkan semua yang dibawa Dinda di bagasi mobil. Lalu membukakan pintu tengah untuk Dinda. Lalu dia menuju ke depan, duduk di samping Aldo yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
q jd kepo sama ceritanya
semangat terus berkarya 👍
Mampir ya ke karya ku "Menikah Denganmu Adalah Takdirku"
Insyaa Allah Update setiap hari
terimakasih
salam kenal dari sajak cinta sufi dan araby
dan salam kenal dari aku dia rahasia kak 👋