Gadis ABG yang di dekati seorang dokter tampan berwajah bule asli Perancis tapi sayangnya dia adalah seorang Casanova.
Sebuah pernikahan yang terjadi karena kondisi yang tidak diinginkan sang gadis, membuatnya frustasi, merasa kehilangan masa depannya. Cintanya dengan laki-laki yang telah mengisi hatinya semenjak pertama bertemu harus kandas sebelum di mulai.
Bagaimana kisah mereka bertiga? Akankah si gadis bahagia dengan pernikahannya, atau ia akan memperjuangkan cintanya kepada laki-laki yang ia cintai semenjak awal???
Nantikan dan simak terus ceritanya di sini sampai tamat yah ...
jangan lupa untuk di share ke teman, di like, juga klik favorit...🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uncle B
" Bu, Pipit pergi dulu. " Pipit berpamitan kepada ibunya dan mencium punggung tangan sang ibu.
" Hati-hati. " sahut sang ibu.
" Mbak, Pipit pergi dulu. " kini Pipit beralih berpamitan ke Armell.
" He em... Hati-hati. "
" Dada baby Dan. Onty pergi dulu yah..." ucap Pipit ke baby Dan, lalu ia mencium pipi tembem baby Dan kanan dan kiri.
" Bu, kami pergi dulu. Mohon ijin, Bryan bawa Pipit. " kini Bryan yang berpamitan kepada sang ibu mertua dan mencium punggung tangan ibu juga.
" Pipit sudah menjadi tanggung jawab kamu. Kamu bebas membawanya pergi kemanapun. " sahut sang ibu sambil menepuk bahu Bryan. " Hati-hati di jalan. "
Bryan mengangguk dan tersenyum.
" Bye...bye... Danique..." Bryan memegang jari tangan baby Dan dan menggoyang-goyangkannya.
" Bye, uncle dok. Dangan yupa bawain Dan oleh-oleh ya..." ucap Armell menirukan cara bicara anak kecil.
" Hish, kenapa kau harus memanggilkan Danique uncle dok? Kalau Danique udah mulai paham, maka dia akan menyangka aku ini bebek. "
" Bebek? "
" Dok... it's like when you say duck. Different meaning, but when Indonesian people pronounce is same. " protes Bryan.
Armell tertawa, " I am sorry, dok. Pengucapanku beda. Dok dari kata dokter. Tapi saat aku mengucapkan bebek, maka aku menyebutnya dak. Beda kan? " elak Armell.
" Pokoknya jangan mengajari anakmu memanggilku seperti itu. Ajari dia memanggilku uncle B. "
" Bee? Kau mau dia memanggilmu lebah? "
" B, from Bryan. Uncle B artinya uncle Bryan. Meskipun dia menganggap bee itu lebah, tapi dia mengeluarkan madu, yang manis. Jadi sama saja artinya kalau aku itu manis seperti madu. Iya kan baby? " Bryan menoel pipi tembem baby Dan.
" Jadi pergi nggak sih ? " protes Pipit.
" Jadi dong. " sahut Bryan lekas. " Ya udah, bye Danique, uncle B pergi dulu. Nanti uncle bawain oleh-oleh mobil-mobilan. Kakak ipar, aku pergi dulu. " lanjutnya.
" Hush....hush .. Sana..." Armell pura-pura mengusirnya.
" Kakak ipar yang kejam. " ujar Bryan sambil berlalu, berjalan mengikuti Pipit yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Sampai di luar, Pipit bertemu dengan Damar. Ia jadi canggung harus bersikap bagaimana.
" Kenapa malah berhenti? Tadi suruh buru-buru. " ujar Bryan saat mendapati Pipit malah berhenti di depan pintu.
Pipit menoleh ke arah Bryan, kemudian beralih ke Damar, bergantian. Ia bingung sekarang. Ia khawatir Damar curiga jika ada apa-apa antara dirinya dan Bryan. Dan dia juga khawatir jika Bryan curiga jika ada apa-apa antara dirinya dan Damar.
Damar tersenyum ke arah Pipit. Senyuman yang tulus. Sedangkan Pipit, sebelum membalas senyuman Damar, ia melirik ke arah Bryan sebentar. Lalu ia tersenyum kaku ke arah Damar dan segera melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa ke Damar.
Damar menatap punggung Pipit yang terhalang punggung Bryan karena Bryan berjalan tepat di belakang Pipit. Kini, sebuah pertanyaan muncul di pikiran Damar. Tapi segera ia tepis, ia menganggap jika Pipit pergi dengan dokter Bryan karena ada suatu hal yang harus mereka lakukan dan mungkin atas permintaan Seno.
" Kita mau kemana sih ini? " tanya Pipit saat mereka sudah dalam perjalanan.
" Sebentar lagi kamu juga akan tahu. " jawab Bryan sambil tetap fokus menatap jalanan.
Tak lama kemudian, Bryan membelokkan mobilnya dan masuk ke pelataran sebuah showroom mobil.
" Ayo turun. " ajak Bryan kala mobilnya sudah terparkir dengan cantik.
" Kita ngapain kesini? Abang mau beli mobil baru? Bukannya mobil bang bule yang ini masih baru ya? " ujar Pipit panjang lebar.
Bryan keluar dari mobil, lalu memutari mobilnya, dan membuka pintu untuk Pipit. " Ayok turun. " ajaknya kembali.
Pipit akhirnya turun juga tapi dengan sejuta pertanyaan. Ia berjalan mengikuti Bryan yang telah berjalan terlebih dahulu. Sampai di dalam showroom, seorang SPG mendekati Bryan dan Pipit.
" Selamat pagi tuan, nona. Mau mobil jenis apa? " tanya SPG itu.
" Kami mau melihat-lihat dulu. " jawab Bryan. Lalu ia menggandeng tangan Pipit dan di bawanya melihat ke stand mobil dengan berbagai macam jenis dan model.
" Kamu pilih mobil yang kamu suka. " titah Bryan.
Pipit langsung menoleh ke arah Bryan dan melongo.
" Awas, mingkem! Entar ada lalat lewat masuk tuh ke dalam. " ledek Bryan.
Pipit langsung menutup mulutnya lalu bertanya, " Abang kenapa nyuruh Pipit milih mobil? "
" Ini adalah sebagian mahar pernikahan kita kemarin. Sebuah mobil buat kamu. "
" Ha???" Pipit kembali di buat terkejut dan heran. " Jadi Abang serius dengan mahar yang abang ucapkan kemarin? "
" Ya serius lah. Aku sudah bilang kan kemarin. "
" Kirain abang cuma asal bilang aja biar Pipit dan ibu nggak malu sama warga. "
" Tidak ada laki-laki yang bercanda mengenai mahar untuk istrinya. "
" Lalaki iue beunghar atawa gelo? " ujar Pipit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ngomong apa kamu barusan? " tanya Bryan.
" Eh, nggak apa-apa. Nggak penting. "
" Kalau ngomong pakai bahasa Indonesia kenapa sih? Sukanya bicara pakai bahasa planet. Kan nggak ngerti aku jadinya. " protes Bryan.
" Iya...iya..."
" Ya udah buruan pilih. Kamu suka yang mana. Nanti kalau kamu udah dapet KTP, kita urus surat kepemilikan sama sekalian buat SIM. "
" Tapi bang... Nggak usah aja lah..." Pipit merasa benar-benar tidak enak hati.
" Udah, buruan...Keburu siang. Nanti kalau kamu nggak suka mobil yang ada di sini, kita pindah ke showroom lain. " ujar Bryan sambil mendorong tubuh Pipit dari belakang.
Pipit akhirnya melihat-lihat mobil yang ada di sana. Tapi semua mobil yang ada di sana, tidak ada yang Pipit sukai.
" Kenapa mobil yang di sini kecil-kecil semua? Terlalu girly. " ujar Pipit.
" Kamu nggak suka? Kalau cewek biasanya suka dan nyaman pakai mobil tipe sedan kayak gini. " sahut Bryan. " Kalau model yang itu, kamu juga nggak suka? " tanyanya sambil menunjuk sebuah model mobil tipe sedan sport dengan atap yang bisa di buka.
" Pipit sukanya mobil yang gede. Biar bisa angkut teman-teman Pipit yang nggak punya motor atau mobil entar. "
" Itu mahal loh harganya. "
" Ngapain beli mobil mahal-mahal kalau cuma muat dua orang. Mending beli motor aja. Malah nggak tambah bikin macet jalanan ibukota. " jawab Pipit enteng.
" Lalu kamu mau mobil yang gimana? "
" Yang gede pokoknya. Mmmm ....." Pipit memandang berkeliling. Tapi tidak mendapati mobil tipe Van yang dia mau. Akhirnya matanya malah melihat mobil Bryan. " Yang kayak gitu aja. Kayak mobil bang bule. " ujarnya sambil menunjuk mobil Bryan yang ada di parkiran.
Bryan menepuk jidatnya perlahan. Di tawari mobil yang harganya dua kali lipat dari harga mobilnya tidak mau, malah milih mobil yang seperti mobilnya.
" Beneran mau mobil kayak punyaku? Itu kurang cocok kalau cewek yang makai. Terlalu lakik itu. "
" Tapi Pipit maunya yang kayak itu. " kekeh Pipit.
" Oke. Ya udah, kita pindah showroom. Kita ke showroom dimana aku beli mobil itu. "
Lalu mereka keluar dari showroom itu dan pergi ke showroom mobil Mitsubishi. Tapi nasib baik belum mengikuti Pipit. Mobil yang dia mau, sedang stock kosong. Akhirnya Bryan mengajaknya ke showroom yang lain dimana di showroom itu menjual jenis mobil yang hampir sama dengan mobilnya.
" Mobil ini hampir sama dengan mobilku. Kamu mau yang ini apa nggak? " tunjuk Bryan ke mobil yang berlabel Fortuner Legender keluaran terbaru itu.
Pipit tersenyum dan mengangguk.
" Oke, kita ambil mobil tipe ini. Kamu mau yang warna apa? "
" Yang itu. " tunjuk Pipit.
" Oke. Nona, kita ambil mobil yang itu."
" Baik tuan. Mau cash, apa kredit? "
" Cash dong nona. Masak iya mahar di bayar kredit. " celetuk Bryan.
Si SPG langsung menoleh ke arah Pipit yang masih melihat mobil yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Raut wajah kecewa terpancar dari wajah SPG itu. Tadinya ia mengira jika Pipit adalah adik dari Bryan. Tapi ternyata.......
" Baik, tuan. Saya akan segera mengurus surat-surat pembeliannya. Mari, ikut saya. " ajak SPG.
Bryan mengajak Pipit mengikuti SPG itu ke sebuah meja. Bryan menyelesaikan pembayaran di sana. Dan Bryan langsung meminta mobil yang di belinya itu untuk di bawa pulang.
" Bang, Pipit boleh nggak nyetirin mobil itu sendiri? " tanya Pipit.
" Boleh lah. Kan mobil itu emang milik kamu. Tapi kita bawa mobil itu ke apartemen aku dulu, yang jaraknya dekat dengan sini. Kita taruh di sana dulu, baru nanti kita ambil lagi dan kita bawa ke rumah Seno. "
" Kenapa nggak sekalian di bawa ke rumah bang Seno aja? " tanya Pipit.
" Kita belum makan siang. Aku juga mau mengajakmu ke suatu tempat dulu. Kita pulangnya mungkin nanti sore, atau malam. Tadi aku udah bilang ke ibu kalau kita bakalan lama keluarnya. "
Pipit mengangguk. Ia tidak memprotes, karena ia menyetujui rencana Bryan. Paling tidak, ketika ia pulang nanti, ia tidak langsung bertemu dengan Damar. Ia bingung harus bagaimana menjawabnya jika tiba-tiba Damar bertanya kenapa ia pergi dengan dokter Bryan.
***
bersambung
Abang bulenya si Pipit
Si gadis ababil kesayangan Abang bule
KARNA BIKIN TRAUMA RMH TANGGAKU YG PERTAMA.😡😡😡😡😡😢😢😢😢😢