NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Aku Hanya Rakyat Biasa

Di lain tempat, Dean baru keluar dari mobil dan menurunkan bawaannya. Ryan langsung melajukan mobil ke sayap kiri halaman setelah atasannya beriringan masuk melalui pintu depan.

 

“Sini, jangan jauh-jauh.” Dean merangkul bahu Winarsih dan sedikit memelankan langkah kakinya langsung menuju tangga. Ia belum siap menjawab kedua orangtuanya di depan Winarsih. Ia harus mengantar Winarsih ke kamar cepat-cepat sebelum mendapat sapaan dari ruang keluarga.

 

“Sudah pulang? Dari mana? Ibunya Dirja nyusulin ke Sukabumi?” Suara Bu Amalia terdengar menggema dari ruang keluarga.

 

Langkah Dean dan Winarsih terhenti di dasar tangga.

 

“Jumpain Mama dulu,” bisik Winarsih. Ia tahu kalau suaminya akan diomeli kalau tahu mereka baru saja berurusan kembali dengan kepolisian.

 

“Aku aja yang jawab,” kata Dean kemudian menggandeng lengan istrinya menuju ruang keluarga.

 

Ternyata di ruang keluarga dipenuhi oleh balita dan babysitter-nya. Pekik anak-anak pun berhamburan. Dita langsung mengejar dan memeluk kaki Dean.

 

“Ya ampun, anak ibu di sini semua rupanya.” Winarsih langsung mengambil Widi dari gendongan babysitter.

 

“Bapak ke mana?” tanya Dita yang sudah dalam gendongan Dean.

 

“Ibunya Dirja kok ke Sukabumi, De?” tanya Pak Hartono yang duduk di sofa memegang piring cemilan Dirja.

 

“Bawaan bayi, Pa ... kangen katanya.” Dean mengatupkan mulutnya menahan senyum. Ia melihat Winarsih yang langsung membelalak padanya.

 

“Ibunya Dirja kangen sampe nyusulin kamu?” tanya Bu Amalia dengan raut tak percaya.

 

“Iya. Tanya aja deh kalo gak percaya.” Dean menggendong Dita melewati ibunya dan duduk di sebelah Dirja. Bu Amalia sampai memutar duduknya untuk memandang Dean yang kini terlindung tubuh Pak Hartono.

 

Dean yang sadar ibunya menoleh, segera menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia mau tertawa, tapi khawatir dilempar tongkat oleh ibunya.

 

Tak berhasil melihat wajah Dean, Bu Amalia menoleh pada menantunya. “Iya, Win?” tanya Bu Amalia pada Winarsih.

 

“Ha?” Winarsih menoleh pada kedua mertuanya yang sedang memandang. Ia melemparkan tatapan pada Dean yang sedang mengangkat Dita di depan wajahnya.

 

“Iya. Keinget Bapaknya anak-anak. Jadi saya nanya ke Pak Ryan tengah malem. Pak Ryan nawarin nganter ke Sukabumi, kebetulan juga ada kerjaan yang mau diobrolin langsung. Ya udah, saya berangkat.” Winarsih sedikit meringis setelah mengatakan hal itu.

 

“Masa, sih? Mama kok nggak percaya.” Bu Amalia kembali menoleh pada Dean.

 

“Mama ini gimana sih? Seorang istri yang tiba-tiba kangen suaminya kok gak dipercayai. Ibunya Dirja kangen dengan bapak anak-anaknya. Letak anehnya di mana. Kayaknya gak ada.” Dean berdiri dan menggandeng Dita.

 

“Percaya. Tapi kok aneh ...” gumam Bu Amalia masih dengan raut tak percaya.

 

“Namanya juga lagi hamil. Mintanya pasti aneh-aneh. Gak bisa jauh dari suaminya. Suaminya ngangenin berarti,” jawab Dean.

 

Bu Amalia mendengus menatap putranya.

 

“Ya udah, mau naik dulu. Mau bersih-bersih. Ibunya Dirja juga pasti mau istirahat. Kemarin kurang tidur. Ya, kan Bu?” Dean menyenggol bahu Winarsih di sebelahnya.

 

Winarsih tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia khawatir salah bicara. Bu Amalia terlihat memalingkan wajahnya setelah mencibir melihat Dean.

 

“Dita mau ikut ke atas atau di sini?” tanya Winarsih pada putri keduanya.

 

“Sini aja, sama Uti.” Dita langsung menuju pangkuan Bu Amalia dan merebahkan kepalanya di sana.

 

“Sudah, di sini aja.” Raut penasaran Bu Amalia langsung lenyap. Ia langsung mengusap-usap kepala balita perempuan berusia tiga tahun itu.

 

“Widi gendong sama bapak aja,” kata Dean mengambil putri bungsunya dari pelukan Winarsih.

 

“Dean naik dulu, Pa.” Dean merangkul pundak Winarsih dan mempercepat langkahnya menuju lift yang berada di sisi kanan rumah. Tadinya ia memilih tangga untuk menghindari ruang keluarga. Sekarang ia memilih lift untuk segera menghilang dari lantai satu. Setidaknya sampai Bu Amalia lupa untuk menginterogasinya di depan Winarsih.

 

“Kok alasannya kayak gitu?” protes Winarsih saat mereka tiba di dalam lift. “Bilang aku yang kangen sampe nyusulin.” Winarsih kembali menekuk wajahnya.

 

“Kamu di rumah ini udah jadi warga yang kebal hukum, Win. Apapun alasan yang kamu bilang, semua orang pasti maklum. Mama itu ratunya, Papa perdana menteri. Nah, aku rakyat biasa Win. Jadi kamu adalah istri sekaligus pelindungku sekarang. Bisa kamu bayangkan seberapa besar cintaku ke kamu.” Dean menunduk dan menekan pipi Winarsih dengan hidungnya.

 

Winarsih hanya mencibir mendengar perkataan suaminya. Dean mencium pipinya seperti sedang mencium pipi Widi.

 

“Kamu Sabtu kemarin gak kuliah?” tanya Dean saat membuka pintu kamar.

 

“Katanya gak boleh masuk kalo gak Mas yang anterin,” jawab Winarsih dengan wajah sebal.

 

“Oh iya, aku ngetes kamu aja. Inget omonganku apa enggak.” Dean terkekeh meletakkan Widi di atas ranjang.

 

Sementara di ruang keluarga.

 

“Mama kok nggak yakin ibunya Dirja nyusulin ke Sukabumi cuma karena kangen Dean. Kayaknya ibu Dirja diintimidasi sama Dean.” Bu Amalia menatap Pak Hartono yang terkekeh.

 

“Makin kompak ya Dean dan istrinya ...” sahut Pak Hartono. Jauh di lubuk hatinya, Pak Hartono bisa menebak kalau Winarsih pasti ke Sukabumi untuk suatu kekacauan yang dilakukan oleh suaminya.

 

***

“Mbak Ifa, Pak Toni mana? Udah dateng? Aku mau ketemu ....” Tasya berdiri di depan meja Musdalifah yang terlihat sibuk Senin pagi itu.

 

“Belum dateng. Lagian bisa aja gak langsung masuk kantor. Bisa jadi ada urusan di luar. Kamu gak masuk kantor apa?” tanya Musdalifah menegakkan tubuhnya. Tadi ia sibuk membungkuk membongkar-bongkar setumpuk berkas demi melengkapi perizinan cabang yang baru.

 

“Aku ambil cuti tiga hari,” kata Tasya. “Aku mau ketemu Pak Toni.”

 

“Aku kira urusannya udah selesai. Ternyata belum ya ...” gumam Musdalifah kembali menunduk.

 

“Ada yang perlu diperjelas,” jawab Tasya.

 

“Kurang jelas ya ...” gumam Musdalifah lagi membuka-buka sebuah map.

 

“Jadi kapan pastinya Pak Toni ada di kantor?” desak Tasya.

 

Musdalifah menarik napas dan menegakkan tubuhnya. Ia kemudian meraih tablet dan menggulir layarnya beberapa saat.

 

“Pak Toni ... besok aja kamu ke sini lagi. Nanti aku kabari jam berapa pastinya. Biar kamu gak nunggu lama.” Musdalifah memandang Tasya.

 

Tasya yang datang berpakaian santai karena sedang cuti, akhirnya mengangguk mengikuti perkataan sekretaris mantan kekasihnya. Sekarang ia harus meminta izin dan menanyakan waktu tiap perlu menemui Toni. Padahal sebelumnya, ia hanya tinggal mengangguk pada Musdalifah dan melenggang masuk ke ruangan.

 

Musdalifah terlihat sedang berpikir. Ia kemudian meraih pesawat telepon kantor dan mengambil buku agendanya.

 

“Selamat pagi, benar ini dengan Bapak Ryan?” tanya Musdalifah melalui sambungan telepon. Ia menghubungi Danawira’s Law Firm seperti anjuran atasannya kemarin.

 

Terdengar sahutan Ryan di seberang. Musdalifah langsung menyampaikan maksudnya tanpa basa-basi.

 

“Saya Ifa sekretarisnya Pak Toni dari T&T Express. Saya mau buat janji dengan Pak Dean. Ini pesan dari Pak Toni soal konsultasi perizinan. Jam berapa Pak Dean ada kekosongan waktu? Pak Toni meminta bertemu di kantor pusat T&T. Dalam bentuk undangan profesional tentunya.”

 

Ryan kembali menyahut di seberang.

 

“Oh, baik—baik. Jam 3 sore kosong ya? Kalau begitu, jam 3 sore, besok di kantor pusat T&T Express. Baik Pak Ryan, terima kasih. Salam T&T Express. Harus Setor, Jangan Kendor, Apalagi Molor.” Musdalifah menutup pesawat telepon setelah meneriakkan yel-yel perusahaan jasa pengiriman barang mereka.

 

Musdalifah mengambil ponselnya dan mencari nama Tasya di daftar kontak. Tak ingin berlama-lama, ia langsung mengetikkan pesan pada wanita itu.

 

‘Besok kamu ke sini, jam 3 sore ya. Pak Toni ada waktu kosong. Jangan terlambat ya ... jam 3 sore.’

 

Belum lagi Musdalifah menarik napas, Tasya sudah membalas pesan itu.

 

‘Oke, Mbak. Maaci Eaaa.’

 

Membaca balasan Tasya, Musdalifah mendengus. Ia lalu mencari nomor telepon atasannya.

 

“Halo, Pak? Lagi di jalan mau ke kantor ya?” tanya Musdalifah pada Toni. Mendengar jawaban Toni, ia mengangguk lalu melanjutkan berbicara.

 

“Saya sudah menghubungi Pak Dean Danawira, tapi melalui sekretarisnya. Pak Dean bisa datang ke sini besok jam 4 sore.” Musdalifah menyeringai setelah mengatakan hal itu.

 

“Jam 4 sore ya? Kalo gitu saya cek cabang baru dulu, baru balik ke kantor nemuin Dean. Oke, makasi Mus.”

"Makasih sama-sama ..." sahut Musdalifah. Ia mengakhiri pembicaraan itu dengan wajah sumringah.

To Be Continued

 

 

 

 

 

 

1
Paramita Waluyo
😂😂😂😂
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
kakkk juss aku nyesel baru baca ini skrg. Ngakak terusss, sambil mutar sp*tify My Waynya Frank biar menjiwai 🤣🤣🤣
reti
sempet2nya narsis coba..
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
Ahmad Ibrahim
kekel bcanya🤣🤣
Ardiansyah Gg
ya ampun... aku ngakak abis l🤣🤣🤣🤣 rasain🤭
Ardiansyah Gg
gitu dong bu Win... sekali" suaminya harus di kasih efek kejut🤣
Ardiansyah Gg
pening Njuss... sampe blingsatan🤣🤣🤣
Eni Gustini
.
jumirah slavina
pelajaran berkembang biak ya Pa'De

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jessica
Seru karya karya nya gk bisa cm sekali baca novel karya Beliau ini
Jessica
dasar musdalifaaah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni
Baguusss bangeettt, buruan baca guys
Susi Andriani
aman pak de,,aman😄😄😄
Susi Andriani
aduh,,,
Lailatus
Gak ada yg d baca jadi baca dean lg aja deh 🤣
Asisthaning Nirwana
hai mbk jussssss......aku kembali lagi lhooooo.....tiba2 bgt kangen tini, lha kok jadi kangen mas dean sampai ke siniiii....hbs ini meluncur ke mas dul
sukensri hardiati
makasiiih....👍🙏💪/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
p De emang anak ragilnya b. Win.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!