NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Pacarku

Aku Hamil Anak Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:88.6k
Nilai: 5
Nama Author: Revina Willy

⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!

UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB

Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.

Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?

Yuk pantauin terus ceritanya! 😉

-----

Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..

-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Farel kenapa?

"Maksudnya apa sih? Aneh banget!"

Mawar yang pergi meninggalkanku perlahan mulai tak terlihat lagi di mataku. Aku sudah tidak dapat melihatnya di antara banyaknya orang-orang. Sepertinya dia sudah mengambil jalan ke arah gedung kelas 3.

"Silvi!"

Seseorang tiba-tiba memanggil namaku. Asal suaranya terasa tidak jauh dari arah belakang. Tanpa sadar aku tersenyum karena aku tau siapa pemilik dari suara ini.

"Rendi!"

Aku tersenyum senang. Kebingunganku hilang begitu saja sesaat melihat dirinya. Rendi tampak mempercepat langkahnya dan menghampiriku.

"Kamu gapapa kan? Luka yang kemarin gimana? Ada masalah?" Tanya Rendi padaku.

"Udah gapapa kok." Aku tersenyum.

Sambil berjalan berdampingan dengan Rendi, aku mulai bertanya-tanya kepada Rendi perihal Mawar.

"Rendi, gimana caranya dulu kamu sama Mawar bisa putus?" Tanyaku pada Rendi.

"Kenapa kamu nanya gitu? Jangan-jangan Mawar ngomong yang aneh-aneh sama kamu ya?" Tanya Rendi balik.

"Eh? E.. Enggak kok! Aku cuma.. penasaran doang." Bantahku.

Sebenarnya aku tidak mau membohongi Rendi. Namun entah kenapa, aku merasa kalau saat ini aku tidak boleh menceritakan apa yang Mawar katakan tadi.

Jika dilihat dari sikap yang Mawar tunjukkan padaku tadi, sepertinya dia tidak membenciku. Tapi kenapa kemarin dia ingin mencelakaiku di kantin?

Pikiranku kalut oleh banyak pertanyaan. Aku benar-benar bingung dengan semua hal yang terjadi.

"Kalau Mawar ada ngomong apa-apa, kamu jangan percaya sama dia." Ucap Rendi tiba-tiba.

Hm? Aneh. Entah kenapa di mataku Rendi tampak seperti ingin menghindari pertanyaanku.

Dari yang kuperhatikan belakangan hari ini, entah kenapa pupil mata Rendi selalu tampak melebar ketika aku mulai membahas Mawar. Kenapa begitu ya?

"Ya udah deh. Aku ga bakal nanya-nanya lagi." Kataku sambil tersenyum kaku.

"Baguslah.. Oh iya! Pulang sekolah nanti kamu ada waktu kan?" Tanya Rendi memastikan.

"Kalau gitu sore ini ya? Hm.. kayaknya ga ada tuh!" Jawabku.

"Kalau gitu kamu bisa ke kafe baru kan? Ayo kita kesana nanti!" Ajak Rendi.

"Kafe baru?" Tanyaku bingung.

"Iya, kafe itu ga jauh dari rumahku, makanya aku tau. Aku belum pernah nyoba kesana, jadi.. kamu mau kan?" Pinta Rendi.

Rendi menatapku dengan matanya yang berbinar-binar penuh harapan. Sepertinya dia sangat ingin pergi ke sana. Jika dia bersikap seperti ini, aku kan jadi tidak tega menolak ajakannya.

"Ya udah deh.. aku ikut." Kataku.

"Serius? Ya udah nanti pulang sekolah kita bareng ya." Ucap Rendi.

Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Sampai di sana, aku dan Rendi harus berpisah karena gedung ruangan kami berbeda.

Huh! Seandainya semua angkatan kelas berada di dalam bangunan yang sama. Jika begitu kan aku bisa bertemu Rendi sepanjang waktu.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 tepat, aku langsung mempercepat langkahku menuju ruangan kelas.

Ini pertama kalinya aku datang ke sekolah di jam ini. Biasanya kan lebih cepat dari ini. Ini gara-gara Farel! Jika saja dia tidak terlambat bangun, aku tidak akan sampai terlambat begini.

Tett...

Tepat ketika aku baru sampai di ambang pintu kelas, bel sekolah berbunyi. Syukurlah aku tidak terlambat. Meski begitu, rasanya tetap aneh karena tak biasanya aku tergesa-gesa hingga keringatan begini.

Haha! Anggap saja ini pengalaman baru. Kapan lagi aku bisa terlambat begini kan?

Kulihat Farel sudah ada di dalam kelas. Kulihat juga Tania yang sedang melambaikan tangannya padaku dari tempat duduknya. Kini aku jadi tidak sabar menunggu sore hari tiba.

*****

Emerald Garden, di jam pelajaran terakhir..

"Hah.."

Ini sudah ke-5 kalinya aku menghela nafas.

Selama jam pelajaran..  Aku sama sekali tak bisa fokus dengan materi yang diajarkan. Pandanganku memang mengarah ke depan, namun pikiranku sedang terpaku di tempat lain.

"Mungkin tidak apa-apa jika kamu menjadi nyonya Alerian selanjutnya."

"Hah.."

Kata-kata yang Om Ferald ucapkan tadi pagi terus-menerus muncul di benakku. Padahal Farel sudah berpesan padaku untuk tidak terlalu memikirkannya.

Kulirik Farel yang berada tidak jauh dari tempat dudukku. Pandangannya tampak fokus melihat ke arah papan tulis di depan.

Suara keras Pak Daryo yang sibuk membicarakan materi tidak kuperhatikan sama sekali. Mata dan pikiranku hanya terus terpaku pada Farel.

Farel tampak serius sekali mendengarkan ucapan Pak Daryo. Itu tidak seperti Farel yang biasanya. Dia benar-benar berbeda sejak pagi. Sikap dan perlakuannya berubah 180° secara tiba-tiba.

Jika diperhatikan dengan jelas seperti ini, ternyata Farel benar-benar tampan. Semakin lama aku menatap wajahnya, aku bisa merasakan jantungku yang berdebar-debar.

Plak

Tanpa sadar aku memukul kedua pipiku dengan kedua telapak tanganku. Suaranya berhasil membuat pandangan orang-orang di sekitarku tertuju padaku.

Astaga! Apa yang baru saja kupikirkan? Bisa-bisanya aku berdebar-debar karena sahabatku sendiri. Farel memang tampan tapi tidak seharusnya aku begitu.

"Silvia? Ada apa?" Tanya Pak Daryo yang tengah menatapku dengan heran.

"Oh! E.. Enggak pak! Itu-"

Teett.. Teet..

Belum sempat bagiku untuk meneruskan kalimatku, suara bel tiba-tiba berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.

Syukurlah.. Jujur saja aku bingung harus memberi alasan seperti apa pada Pak Daryo. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku bisa ketahuan kalau sejak tadi aku tidak memperhatikan pelajaran.

"Karna sudah waktunya pulang, kita akhiri saja pelajaran hari ini." Ucap Pak Daryo.

Pak Daryo lalu beranjak pergi dari kelas. Setelahnya anak-anak di kelas juga mulai berjalan keluar dari ruangan.

Sembari merapikan alat tulisku, sesekali aku melirik ke arah Farel. Kulihat dia juga tampak sibuk dengan ranselnya.

Setelah selesai mengemas semuanya, aku menghampiri Farel bermaksud untuk memberitahunya kalau sore ini aku akan pergi bersama Rendi.

"Farel." Panggilku.

Farel langsung menoleh sesaat kupanggil. Ternyata responnya yang sangat cepat ketika aku memanggilnya itu tidak berubah sedikitpun. Aku jadi ingin tertawa melihatnya.

"Kenapa?" Tanya Farel.

"Gue-"

Ucapanku terhenti sesaat pandanganku tertuju pada setitik noda tinta di pipi Farel. Bagaimana caranya sampai bisa ada noda tinta di wajahnya itu?

"Farel, itu.."

Tanpa sadar aku Ingin menyeka pipinya dengan jariku.

Tak

"Kamu ngapain?"

Farel tiba-tiba menepis tanganku yang ingin meraih wajahnya. Dia mengerutkan dahinya seolah-olah merasa tidak suka jika aku menyentuhnya.

Ini aneh. Farel tidak pernah bersikap sedingin ini padaku. Dalam waktu singkat, aku tidak bisa mengenali siapa orang yang tengah berdiri di hadapanku saat ini.

"Eh? M.. Maaf, gue cuma mau.."

Aku memberi isyarat dengan menunjuk pipiku sendiri, tepat seperti di mana letak noda tinta di wajah Farel.

Melihat hal itu, Farel langsung menyeka pipinya sendiri. Dan Farel mendapati jarinya yang menghitam karena noda tinta itu.

Farel hanya diam. Begitu pula aku yang sejak tadi hanya bisa tertunduk. Entah kenapa saat ini aku tidak berani menatap wajah Farel.

"Oh iya, kenapa? Kamu pasti mau ngomong sesuatu kan?" Tanya Farel.

Aku mengangguk pelan dengan pandangan yang masih tertunduk, aku mengatakan niatku padanya.

"Sore ini gue bakal pulang sama Rendi. Jadi gue ga pulang bareng lo dulu." Kataku.

"Oh? Ya sudah kalau gitu."

Farel pergi melewatiku. Rasanya aku ingin menangis. Kenapa Farel sangat dingin padaku? Apa aku telah melakukan kesalahan padanya?

Rasanya asing ketika melihat temanku yang selalu bersikap hangat mendadak berubah. Sejak kapan Farel tiba-tiba begini? Tadi pagi? Tidak, sepertinya dia mulai aneh sejak malam sebelumnya.

"Eh! Kalau diingat-ingat, dari tadi bukannya Farel ngomong pakai aku kamu? Kenapa dia mendadak begitu? Hari ini Farel memang aneh deh!"

Dengan hati yang penuh dengan rasa gundah, aku melangkah keluar dari dalam kelas yang sudah kosong.

1
Qaisaa Nazarudin
Kamu aja yg Bodoh,Farel itu tau Rendi itu seperti apa,makanya dia ingin melindungi kamu,Dasar ogeb..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Udah End aja,Gak ada kelanjutannya,Endnya kayak kegantung gitu, Ceritanya gak tuntas menurut ku..
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Rendi udah biasa ngelakuin itu ke cewek2 yg lainnya juga..
Qaisaa Nazarudin
Apakah Rendi akan bertanggungjawab setelah ini?Atau biasa saja..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Kalo emang Rendi sayang dan cinta sama Silvi,Harusnya dia menjaga Silvi bukan malah metosaknya,Ckk anak remaja jaman now..🤦🤦
Juju Siti Julaeha
pergaulan bebas dapat mengakibatkan seperti ini, hati hati aja
Toto Suharto
ceritanya bagus...konfliknya bikin baper dan penasaran...semangat lanjut dong thour...
Wahyuni
nanggung
@shiha putri inayyah 3107
kok gak ada lanjutannya...?🤔🤔
Hernawati Sitohang
jangan terjebak cinta rendi
Hernawati Sitohang
up
Rider Frost
ko ga up ya, lama thor
re
Next
Freen 🐰
hadir ya
Яцяу
farel pelindung sejatinya silvi
ai'
lanjut thor hehe
ai'
Jadi kepo ma zizi
indah
Bagus, awal yg menarik, jadi ingin baca lanjutannya karena banyak kemungkinan yg akan terjadi. Tutur bahasanya juga👍👍
mama angga
lanjuuuutttt
ai'
Rendi kek pedopil sih...eh bentar² keknya mereka mau olimpik bareng deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!