Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
Keesokan paginya, Jemima sudah berada di tempat yang tidak ingin dia datangi lagi.
Walaupun langkah kakinya berat, tetapi ada sesuatu yang harus dia ambil. Sesuatu yang nilainya sama dengan nyawa dia sendiri.
Ya, kalung opal peninggalan nenek buyut Jemima. Bagi gadis itu, kalung warisan itu bukanlah kalung biasa.
Kalung itu penyelamat hidupnya dan mungkin kalung itu adalah jiwa dan raganya.
"Ayah, ini aku. Bisa buka pintunya?" Jemima mengetuk pintu yang terkunci.
Tugas mengunci pintu ruangan biasa dilakukan oleh Jemima dan Leon tak pernah ingat untuk mengunci pintu.
Namun, pagi itu pintu rumah terkunci. Pikiran Jemima sudah melayang tak tentu arah.
Sekali lagi, Jemima mengetuk pintu rumah yang mirip seperti gubuk itu. "Ayah, tolong buka pintunya!"
Setelah cukup lama menunggu di luar, pintu rumah itu akhirnya terbuka. Bukan Leon, tetapi Helena kekasih Leon.
Wanita itu menyeringai seram saat melihat Jemima. "Huh, anak sialan! Kenapa kau selalu mengganggu ketenangan ayahmu, sih?"
"Maaf, Tante, sa-, ...."
Helena tertawa keras sampai beberapa tetangga menjulurkan kepalanya ke arah mereka. "Hahaha! Siapa yang kau maksud dengan Tante? Aku bukan tantemu!"
"Maaf, Nyonya Crowd. Tapi, saya mau bertemu ayah saya," kata Jemima menundukkan kepalanya.
Dia masih menghormati Helena sebagai orang yang lebih tua dan kekasih ayahnya.
Akan tetapi, tidak begitu dengan Helena Crowd. Dia menoyor kepala Jemima dengan kasar dan mendorongnya untuk menjauh. "Ayahmu masih tidur! Dia pusing karena kau tiba-tiba menghilang."
"Aku pribadi, sih, berharap kau bunuh diri atau mati supaya asuransimu cair," lanjut Helena lagi dengan dingin.
Jemima menelan salivanya dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk menghadapi wanita setengah tua yang berdiri angkuh di hadapannya.
"Nyonya Crowd, saya tidak akan mati semudah itu karena saya sudah mencoba berbagai cara, tapi Tuhan menghendaki saya untuk tetap hidup. Kau tidak bisa berharap asuransiku akan cair dengan mudah dalam waktu dekat ini," kata Jemima perlahan tapi pasti.
Gadis manis berambut panjang itu kembali mengumpulkan oksigen untuk dia hembuskan. "Saat ini, saya mau bertemu dengan ayah saya. Kalau kau tidak mengizinkan saya akan mem-, ...."
"Kau mengancamku, Nona Muda?" Helena menusuk dada Jemima dengan kukunya yang panjang dan suara berbisik parau.
Jemima mendengus kecil. "Huh, saya tidak mengancammu. Tapi, kalau kau merasa terancam, maafkan saya."
Helena memiringkan kepalanya. Terlihat jelas wanita itu berusaha menimbang keputusan yang akan dia ambil sampai akhirnya dia mengizinkan Jemima untuk masuk ke dalam.
"Tunggu di situ, aku akan memanggil ayahmu!" kata Helena cepat.
Tak beberapa lama kemudian, Leon muncul hanya dengan menggunakan kaus singlet butut miliknya.
Untuk sepersekian detik, Jemima sempat merasa iba karena selama ini dia belum pernah membelikan ayahnya kaus atau pakaian yang layak.
"Apa?" tanya Leon singkat.
Jemima bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya. "Kalungku."
Leon tersenyum. "Sudah kujual. Uangnya sudah kupakai untuk ini."
Dia menarik tangan Helena dan mencumbunya dengan penuh nafsu di hadapan Jemima. Setelah itu, dia tertawa. "Hahaha, kau lihat, kan? Kalung rongsokan itu tidak ada harganya karena aku hanya bisa bersama dengan dia satu malam saja."
Jemima menggertakan giginya, menahan kesal. "Tidak mungkin ayah berani menjual kalung warisan nenek!"
"Oh, berani saja! Dia nenekmu bukan nenekku, hahaha!" kata Leon.
Pria tua itu masuk kembali ke dalam kamarnya dan keluar lagi dengan membawa sehelai kertas lecak. "Nah, ini buktinya. Baca saja kalau kau tidak percaya."
Jemima melihat sekilas tanda terima penjualan kalung itu. "Ayah, ini tinggi sekali harganya dan Ayah memakai uang itu untuk ...,"
Mata Jemima berlari cepat ke arah Helena yang tersenyum puas.
"Kewajibanmu memberikan aku uang, Jemi! Jadilah anak yang berbakti dan berikan aku uang setiap kali aku butuh! Kau, kan tidak mau aku menjual semua yang ada di rumah ini, kan? Hehehe," kata Leon tertawa menyebalkan.
Hilang sudah semua kekuatan yang tadi dikumpulkan oleh Jemima.
Semua harapan dan sumber kebahagiaannya sudah tidak ada. Bagaimana dia hidup tanpa kalung itu?
"Apa Ayah ingat di mana Ayah menjual kalung itu? Atau siapa yang membelinya?" tanya Jemima memohon.
Leon memandang putrinya dengan ketus. "Aku tidak peduli siapa yang membeli barang rongsokan itu, yang aku tau aku sudah mendapatkan uang dari rongsokan itu, hahaha!"
"Lebih baik kau bekerja sekarang dan berikan aku uang, hahaha! Jangan datang ke sini tanpa uangmu! Hush, sana!" Dengan kasar dan tanpa belas kasihan, Leon mengusir putri tunggalnya.
Langkah Jemima goyah saat dia berjalan menjauh. Air mata jatuh tanpa suara.
Hari itu di restoran, Jemima bekerja seperti mesin yang rusak. Tangannya gemetar saat membawa pesanan, pikirannya kosong, dan dadanya terasa berat.
“Maaf, ini bukan pesananku!” bentak seorang pelanggan, mendorong piring kembali ke arah Jemima.
Wajah Jemima memucat. “M-maaf, aku akan menggantinya.”
“Bisa kerja tidak, sih?” gerutu pelanggan itu.
Tak lama, Tom memanggilnya. “Jemi, fokus! Ini kesalahan kedua yang kau lakukan siang ini! Kau bukan seperti Jemi yang kukenal."
Kata-kata itu seperti palu terakhir yang menghantam kepalanya. Jemima mengangguk cepat dan pergi ke belakang, air mata akhirnya tumpah. "Maafkan saya, Tuan Brown. Tapi, saya sedang tidak enak badan. Boleh saya beristirahat sebentar?"
Tom mengangguk dan memandang karyawannya dengan khawatir. "Itu keputusan yang tepat. Setelah kau merasa lebih baik, kembalilah!"
"Baik, Tuan Brown. Terima kasih," kata Jemima lemah.
Dengan gontai, Jemima berjalan ke ruang ganti karyawan. Dia duduk lesu dan pandangannya kosong.
Ashley menyusnya ke sana. “Hey, kau baik-baik saja?"
Jemima menggeleng, bahunya bergetar. “Aku bodoh. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kalung itu, Ash.”
Ashley memegang wajah Jemima dengan kedua tangannya. “Jangan berani-beraninya bilang begitu. Kalung itu bukan sumber kekuatanmu.”
Kai berdiri di ambang pintu, ragu sejenak sebelum mendekat. “Kau masih sanggup berdiri tegak sampai detik ini tanpa kalung itu sudah menandakan kau bisa hidup dengan kekuatanmu sendiri, Jemi."
Jemima mengangkat wajahnya. “Tapi aku merasa ada sesuatu yang menganga besar di hidupku."
Kai tersenyum kecil. “Tapi bukan berarti kau lemah atau sekarat! Kau hanya merasa kehilangan sesaat dan sifatnya sementara."
Ashley mendengus pelan. “Kalau kau butuh sesuatu, kami ada untukmu, Jem. Jangan pernah berpikiran kalau kau sendiri. Ayo, kita kembali dan fokus bekerja sebelum Tom memisahkan shift kita!"
Untuk pertama kalinya hari itu, Jemima tertawa kecil di sela tangisnya.
Malamnya, Jemima duduk di ranjang Ashley, memeluk lututnya sendiri.
Rasa bersalah menyelinap pelan, menggantikan putus asa.
"Kenapa lagi? Kau masih memikirkan kalung itu?" tanya Ashley lembut.
Jemima mengangguk pelan. “Aku lalai, kalung itu warisan nenek buyutku. Aku seharusnya menjaga kalung itu.”
Ashley duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa, membiarkan Jemima bicara sampai dadanya terasa lebih ringan.
“Kalau kalung itu jodohmu, dia akan kembali padamu. Percaya saja dengan ucapanku, Jemi," kata Ashley.
Jemima mengangguk. "Ya, aku percaya padamu, Ash."
Satu minggu berlalu. Kalung opal masih sering muncul di pikiran Jemima. Bukan karena apa pun, tapi lebih kepada rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Kini, dia hanya ingin memperbaiki kesalahannya.
Siang itu, Kai duduk di seberangnya, makan siang mereka hampir tak tersentuh. Mata pria itu terus terpaku pada Jemima. "Makanlah, Jemi!"
Tiba-tiba, Jemima mengeluarkan selembar kartu nama dari tasnya. “Adrian Lopez? Oh, aku ingat!Aku harus menemuinya.”
Kai meraih tangan Jemima di atas meja. Genggamannya terasa hangat. "Kau butuh teman?"
Jemima menggelengkan kepalanya, lalu menghubungi nomor itu.
Tak lama, suara Adrian terdengar di seberang.
(“Jemima Shadow?”) katanya lembut. (“Nyonya Wood sudah menunggumu sejak hari kalung itu diberikan padamu.”)
Air mata Jemima menetes entah mengapa. "Tuan Lopez, kalung itu sudah dijual oleh ayahku. Maafkan aku."
Hening dari seberang, tak lama suara Adrian kembali terdengar. ("Nona Shadow, Nyonya Wood ingin bertemu dengan Anda.")
***