NovelToon NovelToon
My Sugar Daddy

My Sugar Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:10.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Bemine_97

Season 1 dan Season 2

Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.


Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.

Sugar Daddyku buktinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tampan dan Mapan

“Apa dia mainan baru Presdir Gabriel?” Langkah kami terhenti, aku menoleh begitu mendengar kalimat tak menyenangkan dari pria asing itu.

“Sepertinya selera pria kaya itu sudah berubah, gadis polos dan sederhana,” lanjutnya setelah melihat wajah marahku.

“Diam Zain, aku sudah memperingatkanmu!”

“Wah, kalian bertiga masih jadi budak pria itu?” Ia menatap Pak Jey, lalu tersenyum dengan tatapan mengejek.

Aku melirik gelas bening berisi kopi di atas meja.

Bbbyyuurr!

Sumpah! Aku muak dengan pria tak tahu malu ini, rasanya mengguyurnya dengan Ice Americano sisa Pak Jey tak cukup. Jika bisa aku ingin menyiramnya dengan semen sekalian agar ia tak bisa bergerak lagi. Aku sudah tak perduli jika kami bertiga menjadi tontonan menarik bagi pengunjung kafe, pria itu menghinaku tentu saja aku harus membalasnya.

Ia mengusap wajahnya yang basah dengan tangan kanannya lalu tersenyum sinis, “Sepertinya seleranya berubah menjadi gadis polos, sederhana dan kasar.”

“Queen, mari pergi dari sini, jangan hiraukan pria gila itu.” Pak Jey menarik lenganku dan menyeretku ke mobilnya.

Aku sempat melirik pada Zain meski tubuhku diseret Pak Jey, lelaki itu berulangkali mengusap wajahnya yang basah dan menutup wajahnya. Menahan malu karena sekarang ia menjadi tontonan para pengunjung kafe.

Pak Jey mengantarku dengan mobil Lamborghini yang kutebak milik Om Gabriel ke Mall tempatku bekerja. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam, aku juga tidak tertarik membuka suara. Pria ini memuakkan, awas saja jika ia mendekati Moly setelah semua hinaannya itu. Belum lagi temannya yang tiba-tiba datang dan mengganggu pembicaraan kami.

Kepala mungilku terlalu sibuk memikirkan perkataan Zain di kafe tadi. Apa simpanan dan mainan dual hal yang sama? Kenapa hinaan pria bernama Zain itu begitu menggangguku? Padahal aku hanya perlu mempercayai Om Gabriel sesuai perkataannya. Ia baik denganku dan itu sudah lebih dari cukup bukan?

****

Gara-gara kejadian tak mengenakan di kafe tadi, aku tidak fokus bekerja. Sudah dua kali pekerjaanku kacau, berulangkali salah memberikan brush hingga

jenis foundation pada Make Up Artist-ku. MUA Mei terus-menerus berdecak kesal karena aku mengganggu ritme kerjanya, ia memintaku beristirahat dan menjernihkan pikiranku.

Katanya, merias wajah seseorang harus dilakukan dengan hati yang tenang dan senang. Riasan itu seni, dan seni hanya bisa dinikmati saat senimannya bekerja dengan sepenuh hati. Tinggi sekali filosofinya tentang merias, seandainya aku bisa memandang akuntansi dari sisi yang sama.

 “Queen, gue dengar lo ngerusak pekerjaan MUA Mei?” Aira mengelus punggungku memberi kekuatan begitu ia tiba di hadapanku.

“Cepat sekali gosip tersebar Ra?” Aku mengernyitkan dahi. Berapa banyak pahala yang sudah masuk ke kantongku hari ini?

“Lo tahu, kan? Ga ada karyawan yang suka sama lo di sini, lo itu buah bibir paling manis di Salon ini Queen. Apalagi setelah Nona Nancy ngatain lo dibantu pria kaya buat masuk ke sini, padahal lo cuman dapat rekomendasi dari Pak Wahyu.” Aira berceloteh ria, seolah-olah kalimatnya itu semanis gula.

“Aku tidak ingin membahasnya Ra, banyak hal yang mengganggu pikiranku sekarang.”

“Bangunlah, kita makan siang dulu. Mumpung Salon lagi sepi.” Gadis itu mengulurkan tangannya.

“Makan dimana?”

“Mang Odeng dong, nasgor terlezat sejagat raya.” Ia berkacak pinggang, wajahnya benar-benar bahagia. Sepertinya ia sedang membayangkan sepiring nasi goreng Mang Odeng dengan ayam goreng favoritnya.

Aku menerima uluran tangannya, ia membantuku berdiri dan menyeretku bersamanya. Jika tidak ada Aira di Salon ini, mungkin aku tidak akan bertahan lama bekerja di sana.

“Gue yakin, lo engga sejahat yang dituduhkan Nona Nancy, kan? Lo masuk ke Salon karena lo lagi hoki aja, lo kenal sama Pak Wahyu dan akhirnya dapat rekomendasi dari dia.” Aira menggigit ayam goreng miliknya dan menyendok sesuap nasi goreng dari piringnya.

Aku mengangkat wajahku menatap lawan bicaraku, “Ra, aku tidak tahu apa yang sudah kamu dengar dari orang lain, aku hanya berharap kamu akan menilaiku dengan cara berbeda.” Gadis itu hanya mengangguk pelan.

Ingin rasanya kukatakan pada Aira, bahwa tuduhan Nona Nancy tak sepenuhnya salah. Aku memang bekerja di sana karena bantuan Om Gabriel, lalu bagaimana selanjutnya? Mengaku pada Aira bahwa aku simpanan pria kaya itu?

Nasi goreng dari kedai Mamang Odeng tak lagi terasa lezat, sesuap saja rasanya begitu hambar padahal perutku meminta bagian sedari tadi. Tapi pikiranku berkelana hingga aku tak tahu sudah sampai dimana, ketidaksinkronan keduanya membuatku hilang selera.

“Ya sudah Queen, tapi kalo lo butuh bantuan gue, jangan sungkan-sungkan ya? Gue akan usaha buat bantu lo. Gue percaya lo orangnya baik,” Aira tersenyum padaku lalu melanjutkan makannya.

Aku mengangguk, rasanya menenangkan ada satu orang lagi yang mempercayai dan memandangku dengan cara berbeda. Akhirnya, mawarku di gurun sahara bertambah satu lagi, semoga abadi.

****

Aku berlari menelusuri koridor kampus setelah dihubungi Moly, menurut informasi yang ia terima dari sumber yang sedikit sulit dipercaya. Semester ini aku dapat beasiswa, dan dekan memintaku datang ke kantornya untuk menandatangani perjanjian penerimaan beasiswa. Pucuk dicinta ulam pun tiba!

“Moly! Moly!” Aku menjeritkan nama gadis itu begitu melihat bayangannya di depan kantor dekan.

“Gila Queen, kamu sudah lihat SIA? IP kamu semester ini 3,30.” Matanya melotot, sepertinya ia masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

“Ia, aku sudah lihat pagi tadi. Kok bisa, ya?” Aku sendiri masih tidak percaya nilaiku benar-benar membiru semester ini.

“Queen, tarik nafas, buang nafas. Semoga sukses dan jangan lupa traktirannya ya?” Gadis itu mendorongku pelan setelah mengetuk pintu kantor dekan. Aku mengangguk padanya dan membuat tanda oke dengan jariku.

Aku berjalan pelan mendekati meja kerja dekan, beliau menyambutku dengan senyum begitu aku berjarak 1 meter darinya. Ia mempersilahkanku duduk di hadapannya yang hanya terpisah meja kerjanya. Aku tidak pernah masuk ke ruang keramat ini kecuali meminta tanda tangannya untuk bundel skripsiku dulu, ruang keramatnya hanya dimasuki mahasiswa-mahasiswa kelas atas dengan IPK biru untuk menerima beasiswa.

“Kamu Queen?”

“Benar Pak, saya Queen.”

“Kamu dapat beasiswa semester ini, IP-mu naik dan lolos seleksi penerima beasiswa dari yayasan yang baru-baru ini menandatangani kerjasama dengan kampus kita Queen.” Tangan kanannya mendorong pelan map coklat ke arahku.

“Boleh saya buka, Pak?” tanyaku padanya begitu map coklat itu berada di hadapanku.

“Tentu, cari namamu di sana, pastikan datamu benar dan tanda tangani lembar pernyataan di belakangnya.” Beliau bahkan memberiku sebuah pulpen, bukankah biasanya mahasiswa harus menggunakan pulpen mereka sendiri?

“Terima kasih, Pak.” Aku segera membuka map yang biasanya dipegang oleh mahasiswa kelas atas itu, mengeluarkan semua lembaran kertas di dalamnya dan mulai membaca.

Halaman pertama, berisi daftar nama-nama mahasiswa penerima beasiswa, rata-rata mahasiswa penerima beasiswa itu memiliki IPK cumloud. Aku mencari namaku di lembar pertama, berlanjut ke lembar kedua hingga lembar terakhir. Barulah kutemukan namaku di lembar terakhir dan nomor paling akhir.

You Are Queen            IP 3,30            IPK 2,99

Aku menghela nafas, yang benar saja, hanya aku sendiri yang memiliki IPK dengan digit dua di awalnya. Bagaimana bisa aku menerima beasiswa ini?

“Apa ini benar, Pak? Saya salah satu penerimanya?”

“Namamu ada di situ kan? Berarti kamu salah satu penerimanya.”

“Bagaimana bisa nama saya ada di sini, Pak?”

“Kampus hanya mengirimkan daftar nama mahasiswa beserta IPK-nya semester ini ke yayasan itu Queen. Mereka yang bertugas menyeleksi dan menetapkan penerima akhir. Kampus hanya meneruskan pada mahasiswa,” beliau menjelaskan padaku dengan tenang.

“Saya boleh menerimanya, Pak?” tanyaku lagi, sungguh aku tidak yakin mahasiswa diurutan terakhir itu aku.

“Cepatlah kamu tandatangani, setelah itu saya harus memanggil mahasiswa lain.” Akhirnya ia tidak sabar menghadapiku.

Aku segera menandatangani surat pernyataan itu dan menyerahkannya pada Dekan. Suhu tubuhku panas dingin, aku benar-benar bahagia bisa merasakan nikmatnya beasiswa untuk pertama kalinya dalam hidupku.

“Beasiswanya akan cair dalam dua minggu, manfaatkan dengan baik ya Queen.”

“Tentu Pak, saya akan menggunakannya dengan sebaik mungkin.”

“Teruskan usahamu Queen, semoga semester depan kamu bisa menerima beasiswa dari Yayasan Halim kembali.”

Tunggu sebentar, “Dari yayasan apa, Pak?” Aku memastikan pendengaranku tidak salah.

“Yayasan Halim, milik Halim Group. Mereka sudah menjadi sponsor kampus kita untuk dua tahun ke depan. Kamu tidak lihat kop suratnya? Kamu ceroboh sekali, asal tanda tangan, lain kali lebih teliti lagi.” Dekan tak terlihat bercanda, ia sangat serius dengan ucapannya.

Apa kalian ingat perkataanku dulu?

“Berhati-hatilah pada pria kaya atau pria tampan. Jika kedua kombinasi itu menyatu, maka menjauhlah, mereka mematikan."

Hampir saja aku lupa, bahwa Om Gabriel adalah kombinasi keduanya.

To Be Continued,

berikan dukungan untuk karya ini dengan klik like, komen, rate bintang 5 serta vote ya,

terima kasih sudah baca dan setia..

love, love

bemine_97

1
vitrienoor99
ceritanya seru, nyambung alur ceritanya
vitrienoor99
season 2 udah launching bet kk
Yuni Herwani
Luar biasa
halimah abdul hayes
Belajar sampai master tapi lembap
Arsy Mentasan
keren bgt
Maya Anzlina
bagus queen.... pertahankan kesombonganmu kepada makhluk2 seperti itu😂
Esti Jumaryati
you r so smart thor ,rangkaian kata dan kalimat yg cantik
Esti Jumaryati
ke 4 kali nya baca, ngga ada bosen
Santi450
keren
Esti Jumaryati
hebat 3 kali baca
Ratu Sanjaya
novel ke cerita ni?
sooya
Semangaatt terus yaa untuk berkarya 😊
Senja
sukaaaa pokoknya ama novel ini, sukaaa bngeeetttt
Wen's
novel yg selalu kuulang2 lg bacanya
Qaisaa Nazarudin
Skak matt buat Wahyu yg BEGO kebangetan,,
Qaisaa Nazarudin
Bodoh banget Wahyu,,apa gak ada cewek lain yg pantas utk menjadi istri mu,belum nikah aja calon istri kamu sgn xtahu malu nya masih mengejar2 lelaki lain yg sudah berstatus suami irg,Sedangkan kamu cuma anak adopsi yg gak sebanding dgn kluarga Ayunda
Qaisaa Nazarudin
Heran aku dgn nih cewek,terlalu suka mempaatkan kesempatan yg ada utk mendekati Gabriel,padahal dia tau kalo Gabriel gak suka dan ilfill pada nya,,emang gak tau malu ya..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️😡
Qaisaa Nazarudin
Salah Jey sendiri,,playboy banget,,
Qaisaa Nazarudin
Sudah seharusnya Queen belajar merubah penpilannya,walau bagaimmana pun dia istri dr lelaki yg di hormati dan kaya raya,jadi gak mungkin kan istri dr seorg Gabriel kucel kek gitu,,!!😬
Qaisaa Nazarudin
Mendalam sekali,,Tapi apa maksudnya??!!🤔🤔😇😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!