Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggoda
"Ehmm... Gimana ya.." Arum juga ikut berfikir.
"Gimana kalau Mas jahit partai ke aku, atau maklon? Jadi penjahit aku yang gaji, tapi tempat jahitnya ikut di toko, bagian belakang," tanya Arum mendapatkan ide.
"Iya terserah kamu saja, kamu yang kelola toko fashion muslim sama herbalnya. Bisa segera dimulai aja, kalau stok kamu sudah banyak segera kita buka fashionnya," kata Ammar menyetujui.
"Kalau stok sih ini ada Empat puluhan khimar dengan beberapa model, dan gamis ada lima seri, itu di display ruang tamu," terang Arum sambil menengok kan kepalanya bke arah ruang tamu.
"Hmm kalau gitu bisa segera dimulai toko fashionnya, aku akan menghubungi pemilik rukonya untuk kita sewa," kata Ammar sambil menggenggam tangan Arum. Dia sedikit lega, ketegangan Arum karena akan bertemu ibunya sedikit hilang, dia bersyukur menatap wajah Arum yang sudah ceria dan bersemangat membahas toko fashion muslimnya.
"Eh, tapi itu kok banyak sekali stoknya di rumah?" tanya Ammar penasaran.
"Iya Mas, sekitar tiga bulan yang lalu itu ada teman pesan buat hadiah lebaran karyawannya, jadi beliau itu punya katering besar. Tapi qodarullah beliau kena musibah kebakaran dapurnya, jadi dicancel. Dan aku sudah beli bahan dan lebih dari separuh pesanan sudah jadi, tinggal yang super big size saja yang belum jadi. Ya sudahlah aku terima cancelannya, kan Allah janjikan kebaikan pada penjual yang sabar bila dicancel pembeli. Tapi, maa syaa Allah ini diganti sama Allah jauuuuh lebih baik, aku gak pernah nyangka, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Terimakasih ya Mas, sudah izinkan aku mengelola toko Mas," kata Arum sambil memeluk Ammar, Ammar pun membalas pelukan Arum, dan membelai rambutnya.
"Iya sayang, sudah sewajarnya Mas membahagiakan kamu," kata Ammar lembut.
"Ting tong..!!" bel pintu berbunyi.
Arum dan Ammar segera melepaskan pelukan mereka.
"Itu pasti Hasan dan Rizki Mas, mau antar uang toko," kata Arum.
"Iya, baiklah Mas saja yang temui mereka, kamu di dalam saja," kata Ammar sambil berjalan ke depan.
"Assalamualaikum Pak," ucap Hasan dan Rizki.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, mari sini masuk,duduk sini," jawab Ammar sambil mempersilahkan mereka masuk pagar kemudian duduk di kursi teras.
"Ini pak, hasil penjualan sore ini," kata Hasan sambil menyerahkan buku berisi uang itu. Ammar menghitung uang dan menandatangani buku setorannya.
"Ok, terimakasih ya, kalian bekerja dengan baik," kata Ammar sambil tersenyum pada mereka.
"Iya Pak, sama-sama, baiklah kami langsung pamit pulang, sudah malam," Hasan dan Rizki berpamitan pulang.
Setelah mengantar Hasan dan Rizki ke depan, Ammar segera masuk. Dia mencari Arum di dapur tidak ada, lalu dia pergi ke kamar, rupanya Arum sudah di atas tempat tidur bersiap tidur.
"Sudah ngantuk Dik?" tanya Ammar ketika melihat Arum.
"Iya Mas, besok bangun pagi, siap-siap bertemu mertua tercinta," jawab Arum.
*****
Esok paginya mereka mengantar anak-anak ke sekolah, karena hari itu hari Sabtu maka Ammar libur, sedangkan tokonya sengaja diliburkan karena Arum harus memasak di rumah Mamanya Ammar.
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Ammar dan Arum meluncur ke rumah Mama Ammar. Sepanjang perjalanan Arum merasa tegang, dia diam saja hanya melihat jalan. Ammar yang melihat Arum tegang, berusaha menenangkan istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, in syaa Allah kita pasti bisa, yakinlah Allah pasti memberikan kemudahan untuk kita," kata Ammar sambil menggenggam tangan Arum.
"Iya Mas, aamiin," jawab Arum. Arum bersyukur Ammar selalu di sampingnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Mama. Rumah itu nampak sepi. Ammar dan Arum segera turun dari mobil, juga menurunkan barang bawaan mereka.
"Mama kemana ya? Yuk masuk, aku bawa kunci cadangan," kata Ammar sambil membuka kunci pintu.
Tiba-tiba ada mobil datang memasuki halaman rumah Mama. Mama keluar dari mobil itu bersama Zulfa. Arum hanya membatin..
Yaa Rabb... wanita itu ada di sini, bismillah mudahkanlah Yaa Allah.
"Assalamualaikum Ma," ucap Ammar dan Arum sambil mencium tangan Mama.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, maaf tadi Mama diajak Zulfa sarapan di luar, kalian pagi-pagi sudah di sini?" tanya Mama.
"Iya Ma, kan Arum mau masak buat kita nanti," jawab Ammar. Mereka semua masuk ke dalam rumah, Arum menuju dapur hendak mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak dan bikin kue.
"Mas, kita lama gak ketemu ya," Zulfa menyapa Ammar.
"Iya," jawab Ammar singkat tanpa memandang wajah Zulfa.
Zulfa dan Mama sudah duduk berbincang di ruang tengah, sementara Ammar masuk ke kamar yang dulu ditempatinya, meletakkan handbag Arum, kemudian keluar kamar.
"Ammar sini duduk sini temani Mama ngobrol, kan sudah lama juga kamu gak ketemu Zulfa," pinta Mamanya.
"Mama kan sudah ada temannya, aku bantuin istri masak aja Ma, cari pahala," kata Ammar menolak Mamanya dengan sopan dan langsung kabur ke dapur.
Di dapur Arum sedang membuat adonan Ogura cake, Ammar melihatnya kesulitan memasak sambil memakai jilbab besarnya yang sudah belepotan tepung di sana-sini.
"Aku bantuin ya Dik," Ammar menawarkan diri.
"Gak usah gak papa Mas, temani Mama ngobrol aja," kata Arum.
"Mama sudah ditemani Zulfa, aku gak pengen deket-deket sama wanita yang bukan mahram, lebih baik berduaan sama kamu di sini aja," kata Ammar sambil memeluk Arum dari belakang.
"Mas apa sih, kan aku gak bisa kerja ini," kata Arum yang sudah memerah pipinya.
"Kamu ribet Dik kelihatannya masak pakai jilbab itu, kamu buka aja jilbabnya, aku tutup pintu dapurnya," kata Ammar sambil berjalan ke arah pintu dan menutup pintu dapurnya.
Dari ruang tengah Zulfa melihat Ammar menutup pintu dapur, hatinya makin mendidih karena Arum berduaan di dapur bersama Ammar.
"Itu ngapain sih Ma, pintu dapur pake ditutup segala, apa mau mesra-mesraan? Masih pagi gini juga," kata Zulfa dongkol.
"Biarin aja Zulfa sayang, biar masaknya gak selesai, nanti tamu-tamu datang gak ada masakan, kita kabur aja," tukas Mama sambil menyunggingkan senyumnya.
"Gimana nih Ma caranya biar mereka pisah?" tanya Zulfa.
"Mama juga masih berfikir sayang, kamu sabar dulu ya, pasti kita ada jalan untuk memisahkan mereka," jawab Mama.
"Apa sih hebatnya wanita itu?" Ucap Zulfa .
"Mama juga gak habis pikir, mengapa Ammar sampai tergila-gila sama janda itu," Mama menambahi.
Zulfa memang wanita yang cantik, anak orang kaya. Dia sendiri bekerja sebagai manager di salah satu pusat perbelanjaan di kotanya. Mama Ammar teman sekolah Mamanya Zulfa, jadi Zulfa dan Ammar berteman sejak kecil, dan Ammar menganggap adik sendiri, tapi setelah mengaji Ammar menjaga batasan, karena dia tahu, menganggap adik lantas tidak menjadikan mereka saudara kandung, mereka tetap bukan mahram.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap