NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Ujian Pewaris Pertama

Sosok berjubah hitam itu menghilang seketika dari pandangan Lin Yuan tanpa ada sedikit pun riak energi.

Tidak ada kilatan cahaya ataupun suara, dia benar-benar lenyap seolah ditelan oleh kegelapan aula.

Pupil mata Lin Yuan mengecil karena terkejut.

"Dia menghilang?" bisiknya pelan sambil mencari keberadaan musuhnya.

Namun, naluri bertarungnya yang telah terasah selama beberapa jam terakhir tiba-tiba berteriak keras di kepalanya.

"Di belakang!"

Hampir bersamaan, Mata Takdir di mata kanannya memancarkan cahaya hitam yang pekat.

Ribuan benang Takdir memenuhi pandangannya dalam sekejap, menyingkapkan satu jalur kehidupan yang masih menyala terang.

Tanpa berpikir panjang, Lin Yuan mengaktifkan Langkah Pembelah Takdir dengan kekuatan penuh.

WHOOSH!

Tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping dengan gerakan yang cepat dan presisi.

Pada saat yang sama,

SREET!

Ujung pedang dingin menyapu bahunya hingga merobek pakaian dan melukai kulit.

Robekan panjang muncul di lengan bajunya, sementara darah segar merembes keluar membasahi jubah usangnya.

Lin Yuan meringis menahan sakit, dia tahu baru saja lolos dari maut.

Kalau terlambat sesaat saja, yang terpotong bukan pakaiannya melainkan lehernya sendiri.

Sosok berjubah hitam telah berdiri tegak tiga langkah di belakangnya dengan pedang yang kembali menunjuk ke bawah.

Seolah serangan mematikan barusan hanyalah pemanasan biasa yang tidak berarti baginya.

Penjaga Makam yang menyaksikan dari kejauhan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih karena tegang.

"Luar biasa... bocah itu berhasil menghindari serangan pertama dari proyeksi kehendak itu," gumamnya.

Namun wajahnya sama sekali belum lega, karena dia tahu serangan tadi hanyalah pembuka saja.

Lin Yuan berbalik perlahan dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari sosok musuh di depannya.

"Siapa sebenarnya identitas aslimu di balik jubah hitam itu?" tanya Lin Yuan dengan nada serius.

Sosok berjubah hitam tidak menjawab, dia hanya mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi dari posisi sebelumnya.

Lalu, dia kembali menebas dengan gerakan yang sangat sederhana, tidak terlihat terlalu cepat namun juga tidak lambat.

Namun anehnya, semakin diperhatikan Lin Yuan, gerakan itu justru terasa semakin sulit untuk ditebak arahnya.

Mata Takdir kembali bekerja keras menganalisis serangan lawan, puluhan jalur kehidupan muncul di depan mata kanan Lin Yuan.

Lalu, satu per satu jalur kehidupan tersebut putus seketika, menyisakan ketidakpastian yang sangat besar di hatinya.

Lin Yuan segera melangkah mengikuti instingnya. Langkah pertama, tubuhnya berputar ke kiri dengan sangat cepat dan lincah.

Langkah kedua, dia merendahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh lantai. Langkah ketiga, dia menebaskan pedang besinya ke arah lawan.

CLAAANG!

Suara benturan logam yang nyaring menggema ke seluruh penjuru Balai Takdir, memecah keheningan yang pekat.

Untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, pedang besi Lin Yuan berhasil bertemu langsung dengan bilah pedang milik lawannya.

Gelombang kejut yang besar menyebar ke segala arah, membuat lantai batu di bawah kaki mereka mulai retak.

Namun, sebelum Lin Yuan sempat bernapas lega karena berhasil menahan serangan, pedang lawannya tiba-tiba berubah arah secara mendadak.

Dengan gerakan yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa, bilah hitam itu meluncur mulus melewati pedang besi Lin Yuan.

SREET!

Satu sayatan tipis kembali muncul di tubuh Lin Yuan, kali ini tepat mengenai pipi kirinya hingga berdarah.

Lin Yuan segera melompat mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak, sementara jantungnya berdetak semakin kencang.

"Tidak mungkin... aku sudah yakin berhasil menangkisnya dengan benar tadi," bisiknya dengan bingung.

"Lalu bagaimana dia masih bisa melancarkan serangan lanjutan yang begitu akurat?"

Sosok berjubah hitam akhirnya membuka suara dengan nada yang tenang namun penuh wibawa.

"Gerakan yang kau lakukan tadi sudah benar," ucapnya pelan.

Lin Yuan mengangkat kepalanya untuk mendengarkan kelanjutan ucapan tersebut.

"Tetapi hatimu saat ini masih dipenuhi keraguan yang sangat besar terhadap kemampuan dirimu sendiri," lanjut sosok itu.

Kalimat sederhana itu membuat Lin Yuan terdiam. Dia mulai merenungkan kembali setiap gerakan yang telah dia lakukan.

Benar sekali, sejak awal ujian dimulai dia hanya berpikir tentang bagaimana cara bertahan hidup dan terus menghindari serangan.

Dia terus mencari jalan untuk menghindar namun tidak pernah benar-benar memutuskan kapan saat yang tepat untuk menyerang balik.

Sosok berjubah hitam kembali melangkah maju perlahan, setiap langkahnya terdengar pelan namun memberikan tekanan yang luar biasa.

Tok... Tok... Tok... Suara langkah kaki itu seolah sedang menghantam langsung ke jantung Lin Yuan.

Semakin dekat sosok itu datang, semakin besar pula tekanan aura yang dirasakan Lin Yuan di sekujur tubuhnya.

Seolah bukan manusia yang berjalan mendekat, melainkan sebuah gunung raksasa yang perlahan bergerak ke arah dirinya.

Penjaga Makam memperhatikan setiap detail pertarungan tanpa berkedip, dia tidak berniat ikut campur membantu.

Karena dia tahu persis tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan ujian berat bagi seorang calon pewaris sejati.

Lin Yuan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya, sorot matanya perlahan mulai berubah menjadi semakin tajam dan dingin.

Kalau dia terus-menerus memilih bertahan, maka dia hanya akan menunggu waktu kekalahannya yang sudah pasti akan datang.

Kalau begitu, dia harus segera mengubah cara bertarungnya secara total agar bisa memberikan perlawanan yang sebanding.

Tangannya menggenggam gagang pedang besi semakin erat, sementara api semangat kembali menyala terang di kedua bola matanya.

"Kau benar, aku terlalu sibuk mencoba menghindari kematian hingga lupa bagaimana cara meraih kemenangan sejati," serunya.

"Mulai sekarang, aku akan memaksamu untuk ikut memilih jalan pertarungan yang aku inginkan!" lanjut Lin Yuan penuh tekad.

Begitu kata-kata penuh keyakinan itu terucap, Lin Yuan justru mengambil langkah pertama untuk menyerang musuhnya dengan sangat agresif.

Melihat perubahan sikap tersebut, sudut bibir sosok berjubah hitam perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang misterius.

Senyum itu hanya bertahan sesaat saja, namun cukup untuk membuat Lin Yuan memahami satu hal penting.

Lawan di hadapannya ternyata tidak sedang berusaha membunuhnya, melainkan sedang menunggu dirinya untuk mengambil keputusan yang benar.

Tanpa ragu, Lin Yuan menghentakkan kakinya ke lantai batu dengan sangat keras hingga terdengar dentuman.

DUK! Tubuhnya melesat maju ke depan dengan kecepatan maksimal, kali ini tujuannya bukan untuk menghindar melainkan untuk menyerang.

Pedang besinya menusuk lurus ke arah dada sosok berjubah hitam dengan gerakan yang cepat, tegas, dan tanpa ragu.

Sosok berjubah hitam mengangguk hampir tak terlihat sebagai tanda pengakuan atas keberanian yang ditunjukkan Lin Yuan.

Lalu, dia mengangkat pedangnya untuk menahan serangan tersebut. CLAAANG! Dua bilah pedang kembali beradu dengan kekuatan besar.

Percikan api memenuhi udara di antara mereka, namun berbeda dari sebelumnya, kali ini Lin Yuan tidak langsung terpental mundur.

Dia mempertahankan tekanannya dengan sangat kuat, mendorong pedangnya sedikit demi sedikit ke depan untuk menekan pertahanan lawan.

Tatapan mata mereka saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat, dan dalam sekejap Lin Yuan melihat sebuah bayangan aneh.

Di balik sosok berjubah hitam, seolah berdiri sebuah gerbang kuno yang ukurannya jauh lebih besar daripada gerbang di jiwanya.

Gerbang misterius tersebut dipenuhi retakan besar, sementara di sekelilingnya terdapat rantai-rantai emas raksasa yang melilit dengan sangat erat.

Pemandangan luar biasa itu hanya berlangsung sesaat, namun sudah cukup untuk membuat hati Lin Yuan bergetar hebat.

"Apa sebenarnya benda raksasa itu?" tanyanya di dalam hati yang dipenuhi rasa penasaran.

Belum sempat pikirannya tenang kembali, sosok berjubah hitam tiba-tiba memutar pergelangan tangannya dengan gerakan yang sangat lincah.

Pedangnya berputar mengikuti lintasan yang tampak sederhana namun berhasil menutup seluruh ruang gerak di depan tubuh Lin Yuan.

Tidak ada lagi celah untuk melarikan diri. "Gawat!" batin Lin Yuan saat menyadari bahaya besar yang mengancam.

Dia segera mengaktifkan Mata Takdir untuk mencari celah, ribuan benang Takdir kembali bermunculan memenuhi pandangan mata kanannya.

Namun kali ini, dia tidak lagi hanya mencari jalan untuk menghindar saja, dia mulai memperhatikan setiap detail gerakan lawannya.

Setiap ayunan pedang, setiap perubahan arah serangan, hingga setiap langkah kaki musuh diperhatikan dengan sangat teliti oleh Lin Yuan.

Semuanya memiliki irama yang sangat sempurna. Tiba-tiba, sebuah pemahaman baru muncul di dalam benak Lin Yuan dengan jelas.

"Pedangnya tidak sedang mengejar tubuhku secara langsung," bisiknya pelan menyadari taktik yang digunakan musuh.

"Dia justru menggunakan pedangnya untuk memaksaku bergerak ke arah yang dia inginkan sejak awal pertarungan ini dimulai."

Begitu menyadari hal tersebut, cara pandang Lin Yuan terhadap pertarungan ini langsung berubah total menjadi jauh lebih cerdas.

Dia tidak lagi mengikuti pergerakan pedang lawan, sebaliknya dia mulai mengamati pusat gravitasi pada kaki sosok berjubah hitam tersebut.

Benar saja, sesaat sebelum pedang bergerak menyerang, selalu ada perubahan kecil pada tumpuan berat badan di kaki lawannya.

Perubahan itu sangat halus dan hampir mustahil untuk disadari oleh mata manusia biasa, namun Mata Takdir berhasil menangkapnya dengan akurat.

Sudut bibir Lin Yuan perlahan terangkat membentuk senyum penuh kemenangan. "Akhirnya aku berhasil menemukan kelemahan kecilmu juga," bisiknya senang.

Detik berikutnya, pedang sosok berjubah hitam kembali menebas dengan kekuatan penuh, namun kali ini Lin Yuan tidak memilih mundur.

Dia justru melangkah maju masuk ke dalam jangkauan pedang lawan, membuat Penjaga Makam langsung membelalakkan matanya karena sangat terkejut.

"Mustahil! Apa yang sedang dia lakukan?" teriak Penjaga Makam saat melihat gerakan yang tampak seperti tindakan bunuh diri tersebut.

Namun, tepat ketika ujung pedang lawan hampir menyentuh dadanya, Lin Yuan memutar tubuhnya mengikuti jalur tipis yang ditunjukkan Mata Takdir.

SWISH!

Bilah pedang hitam itu hanya melewati ujung pakaiannya saja tanpa melukai kulitnya sedikit pun karena gerakannya sangat presisi.

Pada saat yang sama, pedang besi di tangan Lin Yuan bergerak cepat dari arah bawah menuju ke arah dagu lawan.

CLAAANG!

Untuk pertama kalinya, Lin Yuan benar-benar berhasil menangkis serangan sosok berjubah hitam dan bahkan berhasil mendorong pedang lawannya.

Seluruh Balai Takdir berguncang hebat akibat benturan energi tersebut, sementara pilar-pilar batu di sekitar mereka mulai memancarkan cahaya redup.

Penjaga Makam tersenyum lebar melihat keberhasilan muridnya. "Dia berhasil! Dia mulai memahami inti sebenarnya dari teknik bertarung."

Sosok berjubah hitam menatap Lin Yuan selama beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu dia mengangguk pelan.

"Tidak buruk sama sekali," ucapnya memberikan pengakuan. "Namun, apa yang kau lihat barusan hanyalah permulaan kecil dari ujian ini."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia segera menutup kedua matanya dan seluruh aura di dalam Balai Takdir mendadak berubah.

Udara di dalam aula menjadi terasa jauh lebih berat dan menekan, sementara di belakang tubuhnya muncul ribuan bayangan pedang melayang.

Ribuan bayangan pedang tersebut memenuhi langit-langit aula, masing-masing memancarkan tekanan aura yang sangat mengerikan dan mematikan bagi siapa pun.

Suara sistem bergema tanpa henti di kepala Lin Yuan, memberikan peringatan mengenai serangan tingkat tinggi yang akan segera dilancarkan lawan.

[Peringatan Bahaya! Teknik tingkat tinggi terdeteksi. Kemampuan Tuan saat ini tidak mencukupi untuk menghadapi serangan dahsyat berikutnya!]

Lin Yuan menggenggam pedangnya semakin erat dengan tangan yang gemetar, dia tahu serangan berikutnya akan menentukan nasib hidup dan matinya.

Sosok berjubah hitam perlahan membuka matanya kembali, sorot matanya tetap tenang namun kini dipenuhi wibawa seorang ahli puncak dunia.

Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah langit, dan ribuan bayangan pedang di belakangnya ikut terangkat mengikuti gerakan pedang aslinya.

Lalu, dengan satu ayunan sederhana, seluruh bayangan pedang melesat turun dengan kecepatan cahaya seperti hujan yang menutupi seluruh langit aula.

Mata Takdir di mata kanan Lin Yuan langsung berdenyut sangat hebat menahan beban analisis terhadap ribuan serangan yang datang bersamaan.

..........

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!