NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Obsesif

Dua hari setelah kejadian itu, suasana di dalam kamar terasa lebih berat dan sunyi. Aiden datang kembali, namun kali ini tidak membawa buku catatan seperti biasa. Ia berjalan dengan langkah mantap, wajahnya sudah kembali tenang — tapi tatapannya terasa lebih dingin, lebih teratur, seolah ia baru saja menyusun rencana yang jauh lebih sempurna untuk menguasai sepenuhnya.

Ia meletakkan nampan berisi makanan, obat, dan juga sebotol minuman manis kesukaan Alesha di meja samping, lalu berlutut kembali di posisi yang selalu menjadi wilayah kekuasaannya tepat di hadapan gadis manis nya itu. Tangannya terulur, tapi kali ini tidak langsung memegang, melainkan menunggu seolah memberi kesempatan, padahal sebenarnya sudah memastikan tidak ada jalan keluar.

Alesha memalingkan wajah, tubuhnya masih terasa nyeri di bagian kaki dan bahu, tapi sisa bara api di hatinya belum sepenuhnya padam. Suaranya terdengar serak, tapi tetap tegas:

“Jangan berpikir memberiku makanan atau minuman ini bisa menghapus apa yang Kak Aiden lakukan. Alesha tidak akan pernah lupa rasanya sakit itu… dan tidak akan pernah menganggap itu sebagai bentuk perhatian.”

Sudut bibir Aiden terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak sampai ke matanya.

“Bagus… setidaknya kau masih punya ingatan yang kuat. Itu akan memudahkan proses ini, sayang. Karena mulai hari ini, Aku tidak akan lagi berusaha membujuk mu dengan kata-kata indah saja. Kita akan buat aturan yang jelas, sederhana, dan adil — sesuai dengan apa yang kau pilih sendiri.”

“Aturan apa lagi yang kak Aiden buat? Semua aturan di sini cuma menguntungkan kak Aiden saja,” desis Alesha, matanya menyipit memandangnya dengan kebencian yang tak tersembunyi.

Aiden mencondongkan badan lebih dekat, meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lengan kursi roda, mengunci ruang pandang Alesha hanya padanya.

“Dengarkan baik-baik, ini satu-satunya sistem yang akan berlaku mulai sekarang: Kalau kau berbicara sopan, menjawab sesuai keinginan Aku , dan tidak melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Aku — kau dapat makanan enak, minuman yang kau suka, pijatan yang meredakan sakit, dan izin untuk duduk di taman menikmati udara segar.”

Ia berhenti sejenak, lalu nada bicaranya turun menjadi bisikan yang terasa menusuk tulang:

“Tapi kalau kau berani membantah, memaki, memalingkan wajah, atau menyimpan niat kabur dan melawan — maka hak-hak itu akan dicabut. Tidak ada makanan yang enak, hanya bubur hambar yang cukup untuk bertahan hidup saja. Tidak ada pijatan, tidak ada jalan-jalan ke taman. Dan kakimu yang belum sembuh ini… akan dibiarkan terasa kaku dan nyeri, tanpa obat pereda rasa sakit apa pun.”

Alesha mendengus, matanya melotot marah. “Jadi sekarang kak Aiden menggunakan rasa lapar dan rasa sakit sebagai alat untuk memaksaku patuh? Itu lebih rendah daripada hewan saja!”

“Panggil apa saja yang kau mau,” jawab Aiden tenang, bahkan terdengar puas. “Tapi ini logika yang sama dengan dunia luar yang kau puja-puja itu, kan? Kalau kau bekerja, dapat imbalan. Kalau kau melanggar aturan, dapat hukuman. Bedanya hanya satu: di sini aturannya dibuat demi kebaikanmu sendiri, bukan demi keuntungan orang lain.”

“Kebaikanku?!” Alesha tertawa sinis, suaranya bergetar menahan amarah. “Kebaikanku yang mana? Tidak bisa berjalan, tidak bisa bertemu siapa pun, tidak bisa sekolah lagi , bahkan tidak boleh berpikir sesuka hati? Apa yang tersisa dari diriku selain menjadi boneka yang kak Aiden gerakkan sesuai keinginan kak Aiden sendiri?!”

“Tersisa nyawamu, Alesha!” balas Aiden dengan suara yang tiba-tiba meninggi, lalu kembali lembut namun menekan. “Tersisa jantung yang masih berdetak, tubuh yang masih bernapas, dan tempat tinggal yang aman dari segala kejahatan di luar sana! Kau pikir kalau kau bebas nanti, hidupmu akan sempurna? Kau gadis lemah, tidak punya kedua orang tua lagi dan tidak pengalaman, tidak punya pertahanan diri — orang-orang di luar sana hanya akan memanfaatkan kecantikan dan kekayaanmu, lalu membuang mu begitu saja setelah puas!”

“Lebih baik dimanfaatkan orang lain dan mati dengan bebas, daripada hidup terus seperti ini sebagai budak kak Aiden !” sergah Alesha tanpa ragu, matanya memancarkan keberanian yang menyiksa hati Aiden.

Kata-kata itu membuat rahang Aiden mengeras. Ia mengangkat satu tangan, mengusap pipi Alesha dengan gerakan yang terasa kasar meski diklaim lembut.

“Kau sungguh ingin menguji batas kesabaranku, ya? Baiklah… kalau begitu, biar Aku buktikan apakah kau benar-benar sanggup menahan rasa sakit dan rasa lapar lebih lama daripada keinginanmu untuk melawan.”

Ia menjauhkan nampan berisi makanan dan minuman kesukaan itu ke meja jauh, lalu hanya menyisakan semangkuk bubur yang terlihat encer dan tawar, serta satu gelas air putih biasa.

“Ini saja untuk hari ini. Besok, kalau sikapmu masih sama, porsinya akan dikurangi lagi. Dan ingat satu hal: obat pereda sakit di kakimu juga ada di tangan Aku. Setiap kali kau membuat hatiku sakit, tubuhmu pun akan merasakan sakit yang setimpal. Itu keseimbangan yang adil, bukan?”

Alesha menatap bubur itu dengan pandangan jijik, lalu mendongak kembali menatap Aiden dengan tatapan menantang.

“Lakukan saja sesuka hati kak Aiden, Kak Aiden bisa membuatku kelaparan, kak Aiden bisa membuat kakiku terasa sakit, tapi kak Aiden tidak akan pernah bisa membuatku mengaku bahwa ini adalah cinta yang indah! Setiap tetes air mata yang jatuh, setiap rasa sakit yang terasa, semuanya akan menjadi bukti abadi betapa kejam dan gilanya kak Aiden !”

Aiden tertawa pelan, tapi tawanya terasa hampa dan menyedihkan — seperti suara seseorang yang sudah terperangkap dalam kegilaannya sendiri. Ia berjongkok kembali, mendekatkan wajahnya sampai napasnya menyentuh bibir Alesha.

“Biarkan saja menjadi bukti apa pun yang kau inginkan. Yang penting bukti itu tetap ada di sini, di sisiku saja. Kau tahu apa yang paling membuat Aku tenang, gadis kecil ku ? Semakin kau membenciku, semakin kau membuktikan betapa kuatnya perhatianmu hanya tertuju padaku saja. Pikiranmu tidak lagi terbagi untuk sekolah, teman, atau mimpi bodoh itu — sekarang seluruh ruang di kepalamu hanya diisi oleh satu nama saja: Aiden.”

“kak Aiden salah! Alesha memikirkannya hanya karena kak Aiden memaksanya ada di sini!” bentak Alesha, tubuhnya berusaha maju meski tidak bisa bergerak jauh. “Kalau kak Aiden hilang dari hidupku, Alesha tidak akan pernah membuang waktu untuk memikirkan orang seburuk dirimu!”

“Tapi aku tidak akan pernah hilang, sayang,” jawab Aiden dengan suara yang dalam dan penuh kepastian mutlak. “Dan justru karena kau benci, kau akan tetap bertahan untuk melawan, untuk membuktikan dirimu… dan lama-kelamaan, melawan akan menjadi satu-satunya hubungan yang kita miliki. Rasa benci itu akan mengikat hatimu sama kuatnya seperti rasa cinta, bahkan mungkin lebih kuat lagi. Kau tidak akan bisa melepaskan pikiran dari aku, sama seperti kau tidak bisa melepaskan kakimu dari rasa sakit itu.”

Ia meraih tangan Alesha, yang segera ditarik paksa, namun cengkeramannya lebih kuat.

“Coba rasakan ini… jantung Aku berdegup kencang hanya untukmu. Setiap detak adalah bukti betapa besarnya hasrat ini. Kalau ini penyakit, maka biarkan aku sakit selamanya — asalkan kau ikut terinfeksi bersamaku. Kita akan sakit bersama, terikat bersama, hidup dan mati bersama. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan keluar.”

................

Hari-hari berikutnya berjalan seperti pertarungan diam yang menguras tenaga. Alesha berusaha bertahan dengan sikap membangkang, menolak makan kadang kala, menjawab dengan kata-kata tajam setiap kali diajak bicara. Namun tubuhnya yang lemah dan luka yang belum sembuh membuatnya semakin sulit melawan. Setiap kali ia membantah, rasa nyeri di kaki akan datang kembali seperti peringatan, dan rasa lapar perlahan mulai menggerogoti kesadarannya.

Suatu sore, saat tubuhnya terasa sangat lemas dan keringat dingin membasahi keningnya karena menahan rasa sakit dan lapar, Aiden datang lagi — kali ini membawa kembali nampan dengan makanan kesukaannya, minuman manis, dan juga obat pereda sakit yang sudah lama tidak diberikan.

Ia meletakkannya tepat di depan Alesha, lalu duduk bersila di lantai, menatapnya dengan pandangan yang bercampur iba dan kepemilikan yang makin menguat.

“Sudah cukup, sayang Aku gak kuat… lihatlah dirimu sendiri. Wajahmu makin pucat, nafas mu makin pendek, dan kakimu terlihat bengkak lagi karena kurang gerak dan perawatan. Apa yang kau dapatkan dari melawan ini hmm? Hanya rasa sakit yang berlipat ganda.”

Alesha menelan ludah, tenggorokannya terasa kering, tapi ia masih berusaha mempertahankan sikapnya.

“Lebih baik lemah dan sakit karena mempertahankan harga diri, daripada sehat dan kuat tapi menjadi budak keinginan orang lain…” suaranya sudah terdengar parau dan lemah, tapi tetap menyimpan makna.

“Harga diri?” Aiden menggeleng pelan, lalu meraih sendok dan mulai menyuapkan makanan itu perlahan ke depan bibir Alesha — meski tahu kemungkinan ditolak. “Harga diri apa yang bisa kau banggakan kalau tubuhmu hancur dan nyawamu terancam? Harga diri itu hanya beban yang Aku buang jauh-jauh demi memastikan kau tetap ada di sini. Dengarkan penjelasan Aku sekali lagi, sampai masuk ke dalam tulang sumsum mu…”

Ia berhenti sejenak, matanya menyala kembali dengan obsesi yang tak pernah padam:

“Dunia ini tidak butuh Alesha yang cerdas, yang mandiri, yang punya mimpi tinggi. Dunia ini hanya butuh Alesha yang selamat, yang tenang, dan yang menjadi milikku sepenuhnya. Segala hal yang membuatmu ingin menjauh adalah racun yang harus dikeluarkan dari tubuh dan pikiranmu. Melawan itu hanya memasukkan racun baru ke dalam dirimu sendiri. Sedangkan tunduk… tunduk adalah obat yang akan membuatmu merasa damai, meski kau tidak sadar saat ini.”

Alesha menatap suapan makanan itu, lalu mengangkat wajah dengan sisa tenaga terakhirnya:

“Obat yang membuat orang menjadi mati rasa dan kehilangan jati diri? Itu bukan obat, itu racun yang lebih halus dan mematikan. Kak Aiden tidak ingin aku hidup,kak Aiden… kak Aiden hanya ingin Alesha ada sebagai cermin yang bisa memantulkan kebesaran dan kegilaan kak Aiden saja!”

Namun kali ini, Aiden tidak marah lagi. Ia hanya tersenyum sedih, lalu mengusap keringat dari kening Alesha dengan sangat lembut — kontras sekali dengan hukuman yang baru saja diberikannya.

“Panggil apa saja… tapi percayalah pada satu hal yang pasti: Tidak ada orang lain di dunia ini yang akan bersedia bertahan selama ini melihatmu memaki, membenci, dan melawan dengan keras begini. Orang lain akan pergi, menyerah, atau bahkan membalas dengan kekerasan yang lebih parah. Hanya Aku yang akan tetap di sini, menerima segala sisi buruk dan baikmu, sampai kau akhirnya lelah sendiri dan memilih jalan yang paling benar — kembali ke pelukan yang selalu menunggumu.”

Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di antara hembusan napas yang terasa lemas dari Alesha:

“Teruslah lawan selama kau masih punya tenaga… tapi ingat, setiap pertarungan yang kau lakukan hanya akan mengurangi sisa kekuatanmu untuk hal lain, dan meninggalkan hanya satu hal yang cukup kuat untuk bertahan: ketergantungan padaku. Pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa melawan itu sia-sia, dan satu-satunya hal yang bisa membuat sakit ini hilang hanyalah kata-kata yang Aku ingin dengar, dan sikap yang Aku inginkan dari dirimu.”

Alesha menutup matanya rapat-rapat, air mata kembali merembes keluar meski ia berusaha menahannya. Ia sadar perlahan kenyataan yang mengerikan itu: setiap kata bantahan, setiap usaha perlawanan, justru menjadi bahan bakar yang membuat sistem kendali Aiden makin sempurna, makin terstruktur, dan makin sulit untuk ditembus.

Di luar sana mungkin masih ada kebebasan, tapi di dalam batas dinding ini, pertarungan yang ia jalani justru sedang mengukir rantai baru yang lebih kuat — rantai yang terbuat dari rasa lapar, rasa sakit, kelelahan, dan perlahan tapi pasti, rasa takut yang berubah menjadi kebiasaan untuk hanya memikirkan apa yang diizinkan oleh Aiden.

Dan Aiden pun tahu itu. Setiap kali ia mendengar Alesha membantah, setiap kali ia melihatnya melawan, ia merasa yakin bahwa proses pembentukan itu berjalan lancar. Baginya, perlawanan itu hanyalah sisa-sisa kotoran yang harus dibersihkan sebelum hatinya menjadi bersih dan murni — hanya terisi untuknya saja, selama nya

Bersambung

thank you yang sudah baca cerita oyen😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!