Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*7
Keesokan harinya, semua kembali berjalan seperti biasa. Irza dan Asha sama-sama melakukan rutinitas mereka seperti hari-hari sebelumnya.
Memang, masalah perjodohan tidak hilang. Bahkan, masih sangat mengganggu hati mereka berdua. Terutama, bagi Asha tentunya. Tapi, dunia tetap berputar. Hidup masih tetap berlanjut. Hari harus tetap dijalani.
Untuk Asha, ditambah dengan permintaan dari kedua orang tuanya yang seolah sangat memohon agar Asha tidak mempermalukan mereka. Mau tidak mau, dengan hati yang sangat berat, Sha harus terima. Dia harus menjalani semua itu walau hatinya sangat tidak menginginkan.
"Ma, Pa. Aku berangkat sekarang."
"Lho, Sha. Ini masih sangat pagi kok udah mau berangkat aja." Sang mana angkat bicara.
"Iya, Ma. Semua gara-gara libur kemarin. Ada tugas yang harus aku siapkan pagi ini. Jadi, harus berangkat pagi-pagi sekali biar terkejar tugasnya."
"Oh ... gitu. Baiklah. Hati-hati di jalan ya, Nak."
"Mm."
Setelah selesai bersalaman dengan kedua orang tuanya, Sha pun berangkat ke kampus. Sejujurnya, gadis itu berangkat pagi bukan hanya karena tugas yang sudah tertinggal. Melainkan, ada alasan lain yang membuatnya harus pergi duluan. Yaitu, karena tidak ingin berangkat ke kampus bersama papanya. Dia masih belum sanggup jika membicarakan prihal perjodohan yang membuat separuh hidupnya menghilang.
Taksi online yang Asha tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah kampus ternama. Gadis itu turun, lalu berjalan dengan langkah santai tapi berat. Berat karena beban di hati yang tak kunjung berkurang walau hanya sedikit saja.
Beberapa langkah berjalan, Sha tiba-tiba berhenti. Dia berdiri tegak di depan kampus, lalu melepas napas berat. "Hah .... "
Ingin sekali Asha mengeluh habis-habisan pada dunia yang sudah cukup kejam padanya. Namun, keluhan sebanyak apapun tidak akan mampu mengubah apa yang telah takdir tuliskan buat dia. Karena kenyataan tetaplah kenyataan. Tidak akan berubah seperti mimpi yang akan hilang saat seseorang telah terjaga.
"Ayolah, Ashanti .... Kamu bisa. Jalani hidup seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Anggap saja mimpi. Iya, mimpi yang tidak akan jadi nyata. Akan hilang saat kamu terbangun nanti."
Sekali lagi, gadis itu melepas napas berat secara perlahan. Kemudian, berniat untuk melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti.
Namun, baru juga ingin beranjak, sebuah suara menyentuh telinga Asha.
"Sha .... "
Suaranya lembut. Sangat lembut seolah Asha adalah hal yang paling berharga dan sangat rapuh. Harus sangat berhati-hati saat memanggilnya. Karena hanya dengan volume suara saja bisa membuatnya retak atau bahkan pecah.
Sontak, Asha menoleh dengan cepat. Seketika, mata itu langsung melihat sesosok manusia yang sangat tidak ingin Asha temui. Siapa lagi dia kalau bukan, Irza.
"Astaga. Kenapa malah bertemu dia?" Bibir Asha bergumam pelan seolah baru saja bertemu masalah besar.
"Apakah hariku tidak cukup menyedihkan sebelumnya sampai aku harus bertemu dia sekarang?" Lagi, Asha bicara dengan nada pelan pada dirinya sendiri.
Tatapan itu, tatapan tidak suka atau bahkan merasa jijik akan kehadirannya. Irza bisa melihatnya dengan sangat jelas dari mata Asha. Namun, pria itu berusaha mengabaikan pandangan Asha untuknya. Irza tetap melangkah maju.
"Ashanti .... "
"Astaga." Sekali lagi, Sha berucap sambil menahan perasaan. "Iya, ada perlu apa?"
"Boleh bicara?"
"Kenapa bertanya? Bukankah sekarang kamu sudah bicara padaku?" Ketus Asha.
Sejujurnya, itu bukan niat Sha yang sesungguhnya. Hanya saja, reflek dari hati yang tidak suka. Asha tidak bisa menyembunyikan rasa itu dengan sangat baik. Karena kenyataannya, dia memang tidak suka Irza.
Entahlah. Awalnya perasaan Asha biasa saja. Tapi setelah perjodohan itu menghampiri hidupnya, perasaan itu langsung datang. Mungkin karena dia tidak suka pada pemaksaan dalam hubungan. Bukan karena tidak menyukai Irza sepenuhnya.
"Sha ... maksud aku bukan itu," ucap Irza dengan nada khasnya. Nada lemah lembut yang membuat Sha sungguh sangat-sangat tidak sabar.
'Astaga ... ya Tuhan ... tolong selamatkan aku dari pria ini. Dia bikin aku gak sabar banget jadinya,' ucap Sha dalam hati.
"Bisa bicara cepat gak sih? Langsung ke intinya gitu? Bisa? Aku orangnya gak cukup sabar ya. Kalo mau bicara, jangan belit-belit. Ngomong langsung pada poin pentingnya."
Irza langsung menunduk. Tangannya seketika reflek memainkan ujung kemeja biru yang sedang membalut tubuh kurusnya dengan sangat rapi.
"Aku ... ingin minta maaf." Perlahan ia mengangkat wajah. "Karena ... perjodohan yang telah kedua keluarga buat. Aku minta maaf, Ashanti."
"Untuk apa? Untuk menyadarkan aku bahwa kenyataan tidak akan pernah bisa diubah begitu?"
"Bu-- bukan gitu, Sha. Maksud aku-- "
"Nggak perlu. Irza, nggak perlu. Pernikahan itu akan tetap terjadi apapun alasan yang kamu berikan padaku. Kecuali, kamu bisa batalkan perjodohan itu, baru aku merasa senang."
Lagi, Irza kembali menundukkan wajahnya.
"Maaf ... Sha. Itu ... gak akan bisa. Karena ... perjodohan itu mama papa yang buat. Bukan aku yang minta."
"Kalau begitu ya sudah. Jangan bicara dengan ku lagi. Karena bicara pun gak akan ada gunanya."
Selesai berucap, Asha ingin beranjak meninggalkan Irza. Dia langsung memutar tubuh dengan cepat. Wajah kesalnya terlihat dengan sangat jelas.
Namun, langkah Asha kembali terhenti saat Irza melontarkan beberapa kata.
"Sha. Kamu benci aku?"
Satu pertanyaan yang langsung membuat Asha kembali menoleh. Saat itu, Asha bisa melihat dengan sangat jelas manik mata Irza yang terlihat berkaca-kaca. Wajah penuh akan rasa bersalah. Raut terluka yang tidak bisa di sembunyikan.
Asha ingin bilang tidak saat melihat kehancuran yang pria itu perlihatkan. Tapi yang meluncur dari bibirnya malah kata-kata yang lain. Berbeda dengan apa yang hatinya ingin katakan.
"Tidak. Mana mungkin aku berani membenci tuan muda keluarga ternama seperti kamu. Aku tidak punya kekuatan sedikitpun untuk melakukannya. Sama sekali tidak punya."
Irza menunduk. Dia ingin bilang bagaimana perasaannya pada Asha. Tapi bibirnya tidak bisa bicara lagi. Gemuruh di hatinya terlalu kuat. Manik matanya terlalu perih. Jangankan bicara, mengangkat wajah saja Irza tidak berani.
Sementara itu, Sha tidak ingin lagi tetap di sana. Kali ini, biar badai sekalipun yang datang menyapa, dia akan tetap melangkah. Karena yang paling ia inginkan saat ini hanyalah menghilang dari pandangan Irza.
Irza melihat punggung gadis itu pergi meninggalkannya. Air matanya ingin sekali jatuh, padahal sudah ia tahan dengan susah payah.
"Aku suka kamu, Sha. Sangat suka," gumamnya pelan setengah berbisik.
Buliran bening itu beneran jatuh. Irza menyekanya dengan cepat. Hatinya terluka, batinnya kecewa. Tapi niatnya untuk memiliki masih tetap ada. Walau penolakan secara nyata jelas Asha berikan, tapi dia tidak ingin menyerah. Walau perih dan pilu, ia ingin tetap bertahan.
"Aku akan menunggu mu melihatku, Sha. Walau butuh sepuluh tahun lagi untuk itu, aku akan tetap menunggu. Walau hanya sebatas melihat saja, aku juga tidak akan menyerah."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi