Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Membaik (2)
Sore harinya, mereka bertiga sudah bersiap di depan rumah. Raka memakai kaos hitam polos dengan celana panjang kasual yang santai. Dia melirik ke arah Nadia yang sedang merapikan baju Reno.
"Yah, lihat deh senyum ibu. Ternyata dia jauh lebih cantik kalau lagi senyum begini," gumam Raka kagum dalam hati.
Nadia yang sadar sedang diperhatikan langsung menoleh. "Eh? Udah selesai mandinya, Mas?"
"Sudah. Yuk jalan, nanti kita naik angkot aja di depan gang."
Mereka pun berjalan bersama menikmati sore. Sesampainya di taman kota yang ramai, mereka bertiga duduk di salah satu kursi panjang bawah pohon. Nadia dan Reno tampak asyik menikmati permen kapas besar berwarna merah muda.
"Ibu mau lagi? Enak loh," tawar Reno polos.
"Kamu udah makan dua permen kapas loh, Reno. Makan yang manis terlalu banyak itu nggak baik buat kesehatan gigi kamu," tegur Nadia tegas.
Mendengar teguran ibunya, bibir Reno kecil langsung melengkung ke bawah dan matanya mulai berkecamuk menahan tangis. Dia langsung menoleh ke arah Raka, mencari pembelaan. "Ayah... Ibu pelit!"
Raka yang tadinya lagi asyik memperhatikan orang lewat langsung gelagapan. "Hah? Apa, Cil?"
Begitu Raka menoleh dan melihat tatapan mata Nadia yang mendadak tajam dan serius ke arahnya, Raka langsung ciut. Dia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain sambil bersiul canggung. "Lalala~"
"Buset, Nyokap kalau lagi mode serius serem juga ya. Baru tahu gua ekspresi galaknya kayak begitu," batin Raka membatin ngeri.
Mereka menghabiskan waktu di taman sampai jam setengah tujuh malam.
Raka juga tidak lupa membelikan beberapa potong pakaian baru untuk Nadia dan Reno, serta sebuah mainan robot yang sempat didebat Reno sambil menangis guling-guling tadi.
Malam harinya, mereka bertiga sudah kembali berdiri di depan pagar rumah. Reno kecil sudah tertidur pulas di dalam gendongan ibunya karena kelelahan, sementara Raka repot membawa beberapa kantong plastik belanjaan.
Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, langkah Nadia mendadak terhenti. "Tunggu dulu, Mas."
"Hm? Kenapa, b—Nad?"
Nadia menggigit bibir bawahnya. Wajahnya tampak ragu dan malu-malu untuk berbicara. "T-terima kasih ya... buat hari ini."
Raka terdiam sejenak. Wajah ibunya saat ini tampak merona merah karena malu, dan pemandangan itu membuat Raka tidak bisa menahan tawa kecilnya.
Dia jadi penasaran, bagaimana reaksi ayahnya yang kaku jika melihat sisi manis ibunya yang seperti ini.
Nadia merengut kesal melihat suaminya malah terkekeh. "Ih, kok malah ketawa sih, Mas?"
"Nggak apa-apa kok. Cuma... ib—Kamu kelihatan lucu aja kalau lagi malu gini."
Mendengar ucapan blak-blakan Raka, pertahanan Nadia runtuh juga. Dia ikut tertawa pelan. Suasana di antara mereka berdua malam itu terasa sangat hangat dan bahagia.
Hari-hari berikutnya dilalui Raka dengan rutinitas bekerja keras di proyek dan shift malam pabrik sepatu.
Hubungan komunikasinya dengan Nadia juga perlahan makin mencair.
Hingga akhirnya hari gajian pun tiba, dan Raka langsung menyisihkan uang hadiah dari sistem untuk membeli sebuah ponsel layar sentuh modern pertamanya di zaman itu.
Raka pulang ke rumah dengan perasaan gembira, bermaksud memamerkan ponsel barunya dan mengajak keluarganya makan enak.
Namun, begitu dia melangkah masuk ke ruang tengah, Nadia sudah berdiri menunggunya dengan wajah yang sangat dingin dan serius.
Sebelum Raka sempat menyapa, Nadia langsung melontarkan kalimat yang membuat dunia Raka serasa runtuh seketika.
"Mas... aku mau kita cerai!"