NovelToon NovelToon
Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:458.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: ZmLing

Truth Or Dare?
Permainan yang sudah tidak asing lagi kita dengar.
Lalu bagaimana jika yang dipilih adalah tantangan dan isi tantangan nya adalah "Menaklukkan Hati Seorang Pembunuh"?

Itulah yang di alami oleh Barbara Alexio. Di malam acara perpisahan kampusnya, ia terjebak dalam permainan yang menguji adrenalin itu dan mendapatkan tantangan yang tidak masuk akal.

Ia diberi waktu tiga bulan oleh teman-teman nya.

Mampukah ia menyelesaikan tantangan tersebut?
Atau justru dirinya yang terjebak dalam permainan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZmLing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inikah Rasanya?

"Papa." Barbara memanggil Papa nya dengan ceria saat mendapati Papa nya tengah bersantai ditaman depan rumah nya.

Hari sudah malam saat mereka sampai dirumah Barbara di Sydney, Autralia.

"Hei.." Fanco terkejut saat melihat kemunculan putrinya yang tiba-tiba.

"I miss you so much Pap." Barbara memeluk erat Papa nya.

Felix hanya menunggu giliran di perkenalkan di belakang Barbara.

"I miss you more darling." Fanco memeluk putrinya tak kalah erat.

"Dimana Mama?" Barbara bertanya mencari Mama nya.

"Mama didalam. Barusan masuk kata nya mau ngambil cemilan." Fanco menjawab setelah melepas pelukan nya.

"Oh. Bar masuk Pa, surprise-in Mama." Barbara tersenyum dan langsung melenggang masuk tanpa peduli pada Felix.

Felix hanya bisa menahan sesak sambil memasang senyum palsu.

Fanco merasa sedikit aneh melihat tingkah putrinya yang tidak peduli pada Felix.

Felix tentu saja gugup, akhirnya Fanco lah yang memulai percakapan terlebih dulu.

"Hei boy, kamu pasti Felix." Fanco sigap memeluk Felix penuh kasih.

Jantung Felix berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta. Tapi ia merasakan perasaan hangat saat Fanco memeluk nya, perasaan di peluk dengan penuh cinta oleh seorang Ayah.

"Eng..iya om. Aku Felix." Felix menjawab dengan susah payah menahan air matanya.

"Haha. Kok masih om sih? Panggil Papa lah Fel. Katanya udah mau nikah." Fanco melepas pelukan nya dan mengacak rambut Felix.

Sekali lagi Felix merasa terharu dengan perlakuan Fanco.

"Eh..i iya Om..eh Pa." Felix kembali menjawab gugup.

"Ayo duduk. Kita ngobrol aja disini. Jangan hiraukan para perempuan didapur." Fanco merangkul pundak Felix dan menuntun Felix duduk di kursi taman di samping nya.

Sementara di dapur.

"Mama." Barbara memeluk Mama nya dari belakang dengan semangat.

"Ya Tuhan. Anak ini." Kimberly tersentak dan hampir saja menumpahkan teh diatas nampam nya.

"Hehe." Barbara terkekeh dan mengecup pipi Kimberly.

"Kamu sendiri? Katanya udah ada calon suami?" Kimberly bertanya lembut.

"Ada di depan. Sama Papa kali." Barbara menjawab malas sambil mencomot camilan yang Kimberly letakkan di atas nampan.

"Loh kok gitu? Kalian bertengkar?" Kimberly bertanya heran.

"Tau ah. Mama nanya aja tuh. Sini biar aku yang bawain." Barbara merebut pelan nampan ditangan Kimberly.

"Kamu itu." Kimberly mencubit pipi putrinya.

Mereka pun berjalan beriringan keluar dari dapur menuju ke taman depan tempat Fanco dan Felix berada.

"Jadi apa kerjaan kamu Fel?" Fanco bertanya hal umum yang biasa ditanyakan para orang tua ketika anak gadis mereka membawa calon mereka kerumah.

"Um, aku punya agensi modelling om..eh Pa." Felix menjawab gugup. Belum terbiasa.

"Berapa umur kamu?" Fanco bertanya lagi.

"Um..tahun ini dua puluh delapan Pa." Felix mulai terbiasa memanggil Fanco Papa.

"Oh..jadi gimana kamu bisa kenal sama Bar?" Fanco kembali bertanya.

Felix ragu untuk menjawab, apalagi Barbara mengatakan bahwa dia tidak pernah berbohong pada orang tua nya.

"Pembunuh Pa." Barbara menjawab dari belakang mereka.

Fanco dan Kimberly membulatkan mata mereka. Sedangkan Felix hanya menunduk sedih.

Hah

Fanco menghela nafas kasar.

"Kamu benar-benar pengen wujudin impian kamu dari kecil yah." Fanco berucap santai.

Sedangkan Barbara hanya mengangkat bahunya acuh sambil memeluk manja Kimberly.

Felix mengangkat kepalanya, heran karena Fanco maupun Kimberly tidak memaki dirinya atau memarahi Barbara.

"Udah Fel, santai aja. Mama tahu kok putri Mama ini orang nya gimana. Impian nya dari kecil itu selain pengen banget jadi model, dia sebenarnya terobsesi banget pengen punya suami psikopat." Kimberly berucap sambil sesekali mengecup pipi putrinya.

Barbara sudah seperti nyawa bagi Fanco dan Kimberly.

Felix terkejut mendengar penuturan Kimberly.

"Katanya sih, psikopat sekalinya jatuh cinta tuh cinta mati. Terus romantis nya tuh, beda dari cowok normal." Fanco menimpali.

Seketika Felix tersenyum.

"Nggak usah senyum gitu. Nggak ada doyan juga." Barbara mengomeli Felix.

"Kamu doyan Bar." Felix menjawab lembut. Ia tahu kekasihnya masih marah padanya.

"Jadi, bisa cerita kalian lagi kenapa?" Fanco kembali bertanya.

"Tuh cerita kesalahan kamu. Ingat yah aku nggak pernah bohong sama Papa Mama aku." Barbara berucap ketus pada Felix.

Felix menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar.

Felix pun mulai bercerita tentang kejadian kemarin yang membuat Barbara hingga sekarang masih kesal pada nya.

"Hahaha." Fanco dan Kimberly tertawa bersamaan setelah Felix selesai bercerita.

"Gitu doang Bar?" Fanco bertanya meremehkan.

"Pa, putri Papa ini, nyawa Papa ini dikatain perempuan gampangan, murahan, tapi Pap malah meremehkan gitu?" Barbara bertanya kesal pada Papa nya.

"Bar, Felix kan nggak ada niat nya. Kamu lupa cerita Papa gimana ngelamar Mama dulu?" Fanco bertanya mengingatkan putrinya tentang cerita masa lalunya dan Kimberly.

"Ya ingatlah. Papa udah gila kali dulu. Mama juga mau aja maafin Papa." Barbara berucap kesal semakin memeluk erat Mamanya.

Felix mengerutkan kening nya heran.

"Jadi Fel, dulu itu Papa lebih gila caranya buat ngelamar Mama. Dia nyamar loh jadi penculik pake topeng segala, terus nyulik Mama. Habis Mama diculik terus maaf kata, Mama diperkosa sama dia. Terus udah gitu Mama masih tuh disekap tiga hari sama dia. Hari keempat nya dia pura-pura datang pura-pura baru nemuin Mama dan nyelamatin Mama, setelah itu pura-pura bilang terima Mama apa adanya dan nikahin Mama." Kimberly menceritakan masa lalu nya dengan Fanco.

Felix membulatkan matanya tidak percaya.

"Pantesan Bar bentukan nya kayak gitu, nggak takut mati sama sekali. Bapak nya bisa dibilang mantan psikopat kelamin." Felix membatin.

"Nggak usah ngebayangin yang nggak-nggak. Jangan ngikut bodoh." Barbara mengomeli kekasihnya itu.

Felix hanya tersenyum.

"Udah yuk, makan malam kita. Kalian pasti lapar kan. Besok aja ngomongin yang lebih serius." Kimberly mengajak ketiga orang itu untuk makan malam.

Kimberly pun bangkit dari duduk nya di ikuti Barbara yang setia menempel pada nya.

Fanco menyusul diikuti Felix.

Di meja makan Fanco dan Kimberly duduk berdampingan, Barbara dan Felix pun begitu.

Mereka makan dengan tenang sesekali mengobrol kecil.

"Nih Fel, makan yang banyak. Mesti jaga kesehatan." Kimberly menyendok lauk untuk Felix.

Perasaan hangat kembali dirasakan oleh Felix.

"Makasih Ma." Felix tersenyum.

Barbara hanya menahan senyum karena tahu apa yang dirasakan oleh kekasihnya itu.

Acara makan malam selesai, mereka tidak langsung tidur, mereka kini berkumpul di ruang keluarga.

Fanco senantiasa merangkul Felix seolah Felix adalah putranya sendiri, sedangkan Barbara selalu menempel pada Mama nya.

Rasanya Felix ingin meneteskan air mata bahagia mendapatkan perlakuan hangat dari orang tua Barbara.

"Inikah rasanya jika mempunyai keluarga yang menyayangi ku?" Batin Felix.

"Fel, pokoknya kalian mesti lama dikit disini bisa kan?" Fanco bertanya pada Felix.

"Bisa Pa." Barbara yang menjawab.

Barbara tentu sangat ingin berkumpul lama dengan orang tua nya, mengingat ia sudah sangat lama tidak pulang.

Felix mengangguk menyetujui perkataan Barbara.

Mereka kembali menghayati film yang mereka tonton.

"Hoam." Barbara menguap.

"Udah yah Ma. Bar ngantuk. Mau tidur." Barbara melepaskan pelukan nya dari Kimberly lalu mengecup pipi Mama nya.

"Night Pap." Barbara kemudian mengecup pipi Ayah nya juga, lalu berjalan naik ke kamar nya.

"Susul gih." Fanco mengusir Felix halus.

Felix pun menuruti.

Ia mengikuti Barbara hingga ke kamar.

"I miss you." Barbara berucap semangat pada kasur lalu menjatuhkan dirinya dengan posisi telungkup seolah sedang memeluk kasur nya

Felix tersenyum. Ia mendekati Barbara dan duduk di samping nya.

"Bar." Felix memanggil nya lembut sambil menunduk.

Barbara bangkit dari posisinya. Akhirnya ia memilih memaafkan kekasihnya.

Ia mendekat pada Felix, lalu memeluk Felix. Ia menaruh kepala Felix di atas dada nya.

"Udah, aku tau kamu mau ngomong apa. Nggak usah sedih ya. Mulai sekarang Papa Mama aku itu Papa Mama kamu juga." Barbara berucap lembut sambil mengelus rambut Felix.

Felix mulai menyukai hal itu dari Barbara.

"Makasih sayang." Felix membalas pelukan Barbara.

"Udah baring yuk." Barbara mengajak Felix untuk berbaring.

"Kita nggak mandi dulu?" Felix bertanya bingung.

"Nggak usah modus." Barbara menendang paha Felix karena ia sudah baring dan Felix masih duduk.

"Aku serius sayang. Kita dari tadi sampe belum mandi loh." Felix berucap serius.

"Ya udah. Tapi mandi doang. Nggak usah ngarep lebih." Barbara berucap ketus.

"Iya istri ku. Nyawa ku." Felix berucap lembut.

Ia membantu Barbara untuk bangkit dari posisinya, kemudian perlahan melucuti pakaian Barbara dan pakaiannya. Ia menggendong Barbara ke kamar mandi.

Setelahnya mereka mandi bersama. Setelah selesai mereka pun keluar dari kamar mandi. Felix kembali membantu Barbara mengeringkan rambut dan tubuhnya.

Ia membantu Barbara mengoleskan salep pada luka di tubuh Barbara, setelah itu ia membantu Barbara memakaikan pakaiannya.

Barbara pun melakukan hal yang sama, membantu Felix memakai pakaian nya.

Setelah itu mereka naik ke atas ranjang dan berbaring. Mereka saling memeluk.

"Sayang, makasih ya. Kamu udah memberi aku kehangatan kasih sayang yang nggak pernah aku dapatkan selama ini." Felix berucap mengecup puncak kepala Barbara.

"Em." Barbara menjawab singkat, membenamkan wajahnya pada dada Felix.

Perlahan mereka pun terlelap.

......~ **To Be Continue ~......

*******

Moga Felix dan Barbara bisa bersatu yah.

Like dan komentar jangan lupa.

Makasih**.

1
Marisya
bagus baguss. cerita nya keluarga keluarga psyco semua ya 😆
Marisya
aq demen niih cerita komplex dan ga gampang ditebak kyk gini. nice thor
Marisya
felix psikopat dan possesive. lbh baik frans dikit kyaknya pling gak dia gak smpe ngebunuh janin tak berdosa
❄️ sin rui ❄️
begron luar, tapi kaga bahasa anak jakarta banget 😒😒😒😒
Nefertari
aaaarrrrgghhhh jijik banget tuh dgn jalang
Lisa Sasmiati
ngeri Thor 😮😰
Lisa Sasmiati
hadiah untuk mu Thor 💐
Lisa Sasmiati
ooh aku suka 😍😍🥰
Lisa Sasmiati
ternyata orang tua nya Barbara baik dan hangat 😍😊 macam anak kepada Felix hingga Felix merasa sangat nyaman dan bahagia 😮🥰
Lisa Sasmiati
seorang psikopat yang kalau udah jatuh cinta ke banyak kan bucin dan posesif ya 😰😮🤭
Lisa Sasmiati
kalo aku sih lebih pisah dan pulang ke Australia dari pada menderita karena cinta yg mengerikan 😰🤨
Lisa Sasmiati
kok aku jadi ngeri sendiri ya 😰😰kalo emang cinta kenapa harus nyakitin pasangannya 🤨😮
Lisa Sasmiati
jadi harus nebak ya Thor 😮😊 Felix jadi nikah Ama Barbara atau tidak itu sih pilihan yg sulit ya karena hanya authorlah yg tahu 😊🤭
Lisa Sasmiati
mulut mereka lebih tajam dari pada pisaunya Felix 🤨🤨 walaupun aku nggak setuju mereka di bunuh tapi apa daya tangan tak sampai 😎
Lisa Sasmiati
bunga untuk mu Thor 👍👌
Lisa Sasmiati
ceh 🤨😮 psikopat 😡😡
Lisa Sasmiati
pastinya feliix lagi mau mgebunuh orang tuh jgn jgn Jay ya 😰😮 astaga 😱😱
Lisa Sasmiati
semua pasti ada sebab dan akibatnya moga aja dgn adanya Barbara Felix bisa mendptkan kasih sayang dari Barbara 😮🤨😊 emang Barbara emaknya Felix 😊🤭
Lisa Sasmiati
yuk lanjut
Lisa Sasmiati
aneh aja hobby membunuh orang emaknya Felix tuh dulu ngidam apa ya 🤨🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!