Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Pintu apartemen mewah milik Aiden tertutup dengan bunyi klik digital yang kokoh, mengunci seluruh kebisingan dunia luar dan menyisakan keheningan yang mendalam di antara mereka.
Suzanne masih sesenggukan kecil, meskipun badai tangisnya perlahan mulai mereda semenjak lengan kokoh remaja di hadapannya ini menuntun langkah kakinya yang lemas menyeberangi koridor, membawanya masuk ke dalam wilayah aman unit apartemennya sendiri.
Aiden tidak banyak bicara saat membawa Suzanne masuk.
Ransel hitamnya yang semula tersampir di bahu kini dilemparkan begitu saja ke atas lantai marmer lobi dalam tanpa memedulikan isinya.
Jam dinding digital di ruang tamu menunjukkan bahwa bel masuk High School Chicago akan berbunyi dalam waktu tiga puluh menit lagi, dan hari ini adalah salah satu hari krusial menjelang ujian kelulusan akhirnya.
Namun, melihat bagaimana jemari Suzanne masih bergetar hebat saat memegangi tali tasnya, Aiden mengambil keputusan instan tanpa keraguan sedikit pun.
Dia tidak jadi pergi sekolah hari ini.
Persetan dengan absensi, persetan dengan ujian tiruan pagi ini.
Baginya, wanita yang kini duduk meringkuk di atas sofa beludru abu-abu di kamar tamu apartemennya jauh lebih penting daripada selembar kertas penilaian di sekolah.
Aiden berjalan mendekati sofa, lalu berlutut di hadapan Suzanne agar sejajar dengan tinggi duduk wanita itu.
Matanya yang tajam menatap lekat-lekat wajah sembab Suzanne yang masih menyembunyikan pandangannya ke arah bawah.
"Anne," panggil Aiden lembut, suaranya terdengar rendah dan penuh penekanan yang menuntut namun menenangkan.
"Katakan padaku, apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini di koridor? Apa suamimu?"
Suzanne tetap diam. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan mata elang Aiden yang terlalu jernih.
Dia tidak menceritakan apa pun saat ditanya oleh remaja di hadapannya.
Bagaimana mungkin dia bisa bercerita?
Mengatakan bahwa suaminya yang sah baru saja membawa selingkuhannya yang hamil ke dalam rumah mereka?
Mengatakan bahwa dia diancam akan dibiarkan melihat ayahnya mati jika dia berani menggugat cerai?
Semua itu terlalu kelam, terlalu kotor untuk dikonsumsi oleh anak muda berusia delapan belas tahun yang dunianya baru saja akan dimulai.
Suzanne memilih untuk menelan semua kepahitan itu sendirian, menjaga dinding pembatas di antara rahasia rumah tangganya dan kepolosan Aiden.
Melihat keras kepalanya Anne yang tetap memilih bungkam, Aiden menghela napas pendek.
Ia tidak ingin memaksa jika itu justru akan membuat wanita ini kembali tertekan.
Aiden berniat berdiri untuk mengambilkan segelas air hangat, namun tepat saat keheningan pagi berbaur di dalam ruangan itu, sebuah suara yang sangat canggung tiba-tiba memecah atmosfer tegang di antara mereka.
Kruuukkk...
Suara ketukan halus dari dalam perut Suzanne terdengar cukup jelas di dalam kamar tamu yang sunyi itu.
Suzanne seketika mematung, matanya melebar karena rasa malu yang mendadak menyerang wajahnya yang pucat.
Merona merah langsung menjalar di kedua pipinya, kontras dengan sisa air mata yang mengering.
Dia baru ingat, sarapan yang ia masak dengan susah payah di dapurnya tadi pagi sama sekali belum sempat menyentuh bibirnya akibat pengumuman kehamilan Lydia yang mendadak menghancurkan nafsu makannya.
Mendengar suara itu, Aiden tertegun sejenak sebelum akhirnya seulas senyum tampan yang sangat tulus merekah di wajahnya.
Remaja itu terkekeh pelan, sebuah binar geli yang hangat terpancar dari matanya yang berbinar.
Aiden berdiri dari posisi berlututnya.
Tanpa canggung sedikit pun di hadapan Suzanne, tangannya bergerak naik ke kerah pakaian, membuka satu per satu kancing kemeja putih seragam high school-nya yang kaku.
Ia melepaskan kemeja sekolah itu, menyisakan tubuh bagian atasnya yang hanya terbalut kaus dalam singlet hitam ketat, menampilkan proporsi bahunya yang lebar, otot lengannya yang kokoh hasil latihan fisik berkala, dan gurat tubuh tegap seorang pria Stone.
Aiden melemparkan kemeja seragamnya ke sandaran kursi, lalu membalikkan tubuhnya ke arah dapur mini yang terletak menyatu dengan area ruang dalam kamar tamu tersebut.
Ia melangkah lebar ke sana, membuka pintu lemari pendingin dua pintu yang berlapis baja antikarat, mencari sesuatu yang bisa dimasak dengan bahan-bahan yang tersedia.
"Kau suka sarapan apa, Anne?" tanya Aiden setengah berteriak dari balik pintu kulkas, tangannya sibuk memindahkan beberapa kotak bahan makanan.
Suzanne menatap puncak kepala Aiden yang bergerak lincah di dapur mini dari tempat duduknya di sofa.
Kehadiran Aiden yang begitu kasual, perhatiannya yang tidak menuntut penjelasan, dan bagaimana remaja itu memperlakukannya dengan kelembutan murni, perlahan meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan di dalam hatinya.
Anne tidak lagi merasa sungkan atau canggung berada di tempat ini.
Dia tahu, terlepas dari fakta bahwa Aiden telah merenggut kesuciannya dalam ketidakberdayaan obat, remaja di depannya ini adalah anak yang baik.
Sifat aslinya adalah pelindung, bukan perusak seperti Willem Daendels.
"Apapun yang dibuat olehmu, ku makan," jawab Suzanne dengan suara yang sedikit parau namun terdengar jauh lebih rileks, seulas senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di wajahnya untuk pertama kali sejak fajar menyingsing.
Aiden menoleh sejenak, memberikan kedipan mata yang penuh percaya diri sebelum mulai menyalakan kompor induksi.
"Tenang saja, seleraku tidak buruk. Mommy selalu mendidikku untuk bisa bertahan hidup di luar rumah."
Suara desisan mentega yang meleleh di atas wajan dan aroma harum dari telur dadar serta sosis panggang perlahan memenuhi udara, menciptakan ilusi kedamaian yang begitu fiktif namun sangat dibutuhkan oleh jiwa Suzanne yang lelah.
Suzanne memperhatikan setiap gerak-gerik Aiden yang tampak telaten membalik potongan roti panggang.
Kehangatan ini... adalah sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama Enam bulan menjadi Nyonya Daendels.
Namun, di tengah kedamaian semu itu, sebuah pikiran mengerikan mendadak menyengat kesadaran Suzanne.
Kejadian dua malam lalu di atas ranjang apartemen ini kembali berputar seperti film sensor yang melanggar batas hukum.
Kegilaan di mana Aiden kehilangan kendali dan dirinya yang terombang-ambing dalam kepasrahan murni.
Ada satu detail medis yang sangat krusial yang baru ia sadari akibat terlalu panik memikirkan ancaman Willem pagi ini.
Suzanne mencengkeram ujung blusnya erat-erat. Tatapan matanya berubah menjadi sangat serius, bahkan cenderung nekat dan gila.
"Aiden," panggil Suzanne, suaranya mendadak merendah hingga ke titik terendah, menciptakan kontras yang tajam dengan bunyi desisan masak di dapur.
Aiden membalikkan tubuhnya setengah, memegang spatula di tangan kanan.
"Ya? Sebentar lagi rotinya—"
"Malam itu..." potong Suzanne dengan cepat, suaranya bergetar namun terdengar begitu lugas dan tanpa filter di udara.
"Aku lupa minum pil pencegah kehamilan setelah kembali ke rumah. Maafkan aku."
Deg.
Gerakan tangan Aiden yang memegang spatula seketika terkunci di udara.
Punggung tegap remaja itu menegang sempurna mendengar pengakuan gila yang keluar dari mulut wanita berusia dua empat tahun di belakangnya.
Kata 'kehamilan' laksana guntur di siang bolong yang menghantam seluruh kedewasaan semu yang baru saja ia bangun.
Aiden meletakkan sepatulanya perlahan, mematikan kompor induksi, lalu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Suzanne. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan binar jenaka; melainkan berubah menjadi sangat dalam, gelap, dan dipenuhi oleh spekulasi masa depan yang luar biasa besar bagi seorang remaja berusia delapan belas tahun.
Ia melangkah perlahan kembali mendekati sofa, menatap Suzanne yang kini menundukkan kepalanya, tampak begitu rapuh dan dipenuhi rasa bersalah atas kelalaiannya sendiri.
"Kau lupa?" tanya Aiden, suaranya terdengar sangat rendah, serak, namun tidak ada nada kemarahan sedikit pun di sana.
Suzanne mengangguk pelan, jemarinya meremas kain celananya.
"Pagi tadi... situasi di rumahku terlalu kacau hingga aku kehilangan fokus. Maafkan aku, Aiden. Jika... jika sesuatu yang buruk terjadi, aku tidak akan menuntutmu, aku tahu kau masih sekolah dan—"
"Anne," potong Aiden, ia kembali berlutut di hadapan Suzanne, meraih kedua tangan wanita itu yang dingin ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, memaksa Suzanne untuk mendongak menatapnya.
Sepasang mata elang milik Aiden Luther Stone memancarkan ketetapan hati yang sangat kokoh, sebuah cerminan dari darah Stone yang tidak pernah lari dari konsekuensi apa pun di dunia ini.
"Kenapa kau harus meminta maaf untuk sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabku sejak awal?" ucap Aiden dengan nada suara yang begitu dewasa, mengunci pandangan mata Suzanne yang bergetar.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya, dan aku tidak akan mengubah kata-kataku. Jika kau hamil... jika anakku tumbuh di dalam rahimmu, aku akan melepaskan seragam sekolah ini detik ini juga. Aku akan menikahimu, Anne. Tidak peduli berapa usiamu, dan tidak peduli apa pun status yang kau sembunyikan di luar sana."
...OooOOOooO...
Tinggalkan komentarnya kak kalo suka cerita ini, Agar author semangat lanjut bab selanjutnya 🌷
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍