Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14
"Kenapa Ayah tega sama Anna? Apa yang membuat ayah sakit hati sama dia?"
Amarah Alvaro akhirnya meledak ketika mereka sudah sampai di rumah. Pertanyaan itu terus menghantui Alvaro ketika menyaksikan sikap dingin ayahnya terhadap Anna. Namun, alih-alih mendapatkan penjelasan, Denis hanya berkata singkat.
" Kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik menurut saja," tegas Denis sama putranya.
" Haaah," ucapan itu membuat Alvaro melongo , ia semakin bingung. Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan keluarganya? Kenapa nama Anna selalu menjadi sumber pertengkaran bagaikan luka yang belum sembuh.
" Ini menyangkut masa depanku, Ayah. Aku tidak bisa diam saja. Aku hanya ingin menikah dengan Anna," tegas Alvaro.
Namun, Denis malah tertawa sinis.
"Hahaha,"... jangan melawan orang tua.
" Aku yakin Tante Yusi pasti membuat kesepakatan sehingga ayah mati-matian membelanya."
"Itu urusan ayah, bukan urusanmu. Sebaiknya kamu fokus mempersiapkan pertunanganmu dengan Eliza."
"Aku sudah bilang berkali-kali, hanya Anna yang akan menjadi istriku satu-satunya, bukan perempuan lain termasuk Eliza."
"Kamu jadi dokter karena siapa? Belum punya apa-apa sudah berani melawan. Ayah melakukan semua ini demi masa depanmu, Al."
"Masa depan? Akan ada tiga hati yang hancur jika aku menikah dengan Eliza. Pikirkan itu, Yah."
Suara Alvaro bergetar, dipenuhi keputusasaan yang selama ini ia pendam. Tatapannya tak beralih dari wajah sang ayah yang duduk dengan sorot mata tegas. Keputusan yang telah dibuat tak lagi bisa diganggu gugat. Bagi Alvaro, pernikahan itu bukan sekedar penyatuan dua keluarga. Pernikahan itu adalah akhir dari cinta yang telah diperjuangkan bersama Anna.
Ia telah mencoba berbagai macam cara untuk mengubah keputusan tersebut. Membujuk, berdebat, bahkan memohon. Namun, setiap kata yang keluar dari bibirnya seakan membentur tembok yang tak runtuh. Dalam benaknya, bagaimana caranya membatalkan semua ini tanpa menghancurkan siapa pun?
" Kamu harus terima kenyataan bahwa wanita yang akan menjadi istrimu adalah Eliza," ucap ayahnya dengan nada datar.
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dada Alvaro, ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan gejolak emosi yang hampir meluap.
" Ayah, aku mohon...Anna dan aku saling mencintai, jangan pisahkan kami.
Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya terdengar embusan napas berat dari keduanya. Sang ayah memejamkan mata beberapa saat sebelum kembali menatap putranya.
" Cinta saja tidak cukup untuk membangun masa depan, Alvaro. Ada tanggung jawab yang harus kamu pikul. Ada janji yang ayah harus tepati.
" Janji siapa?" tanya Alvaro lirih.
" Kenapa aku yang membayar harga janji itu?"
Wajah sang ayah mengeras. Ada sesuatu hal yang selama ini disembunyikan, tetapi ia memilih diam.
" Karena keputusan ini sudah final."
Alvaro menggeleng pelan, dadanya terasa sesak. Ia melangkah mundur, seakan dinding rumah itu semakin memsempit ruang bernafas.
" Kalau begitu... Ayah tidak pernah peduli dengan kebahagiaanku."
Tanpa menunggu jawaban, Alvaro berbalik pergi dari tempat itu. Perdebatannya dengan sang ayah tidak ada gunanya, toh semua adalah keputusan ayahnya.
Malam itu Alvaro menelpon Anna. Pikirannya jauh lebih kelam daripada langit yang membentang di atas kepalanya.
Tangan gemetar saat mengeluarkan ponselnya dari saku. Nama Anna terpampang di layar. Setelah beberapa detik ragu, ia menekan tombol panggil.
“Hallo?” Suara Anna di balik telepon terdengar serak, membuat Alvaro tahu betul apa yang sedang dialami gadis malang itu.
“Ada apa, Al?” Suara dingin Anna membuat Alvaro ragu mengungkapkan maksudnya menelpon. Namun, dia tetap memberanikan diri.
“Malam ini, kita ketemuan di tempat biasa.” Suara Alvaro serius, tapi tak ada jawaban di ujung telepon. Hening. Beberapa detik kemudian terdengar suara lemah, seolah tanpa harapan.
“Tidak perlu, Alvaro. Semuanya sudah usai.” Setelah mengucapkan itu, Anna mematikan ponselnya. Alvaro mencoba menelpon kembali, tapi Anna mengabaikannya.
“Tidak ada yang perlu diluruskan lagi. Percuma. Semuanya sudah diputuskan, dan tak ada yang bisa mengubahnya,” ungkap Anna dalam kesendiriannya.
***
Pukul tiga dini hari, tampak seorang wanita bersujud dengan khusyuk di atas sajadah. Air matanya mengalir tanpa henti. Meluapkan segala keluh kesah yang selama ini dipendam.
Dalam sunyi malam, ia mengadukan semua beban hidupnya hanya kepada Sang Pencipta.
Ia mencoba belajar mengikhlaskan, tapi bagi Anna, itu bukanlah hal yang mudah.
" Ya Allah...beri aku keikhlasan untuk menerima semua yang telah Engkau gariskan dalam hidupku. Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan takdir yang Engkau telah tetapkan untukku. Aku hanyalah hamba-Mu yang lemah, tidak memiliki daya dan upaya selain kekuatan, serta keridhaan-Mu. Jika ini adalah jalan terbaik, lapangkanlah dadaku untuk menerimanya. Aku yakin, Engkau memiliki rencana yang indah untukku."
Doa itu meluncur lirih dari bibir Anna, namun setiap katanya terasa begitu berat, seolah membawa seluruh beban yang selama ini dipendamnya. Air mata terus menetes membasahi sajadah, menjadi saksi bisu kepedihan yang tak mampu lagi disimpan seorang diri. Isak tangisnya pecah dalam sujud panjang, tubuh bergetar hebat, membuat malam yang sunyi terasa semakin pilu. Hanya kepada Tuhan ia berani meluapkan luka yang tak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun. Doanya begitu menyayat hati seakan setiap kalimat yang terucap adalah serpihan jiwa yang perlahan runtuh, namun tetap berharap belas kasihan pada Yang Maha Kuasa untuk mengikhlaskan semuanya.
Usai berserah kepada Tuhannya, Anna merasa beban yang menggumpal dalam diri perlahan mencair. Kepedihan yang dalam beberapa waktu terakhir hampir membuatnya tenggelam, kini mulai mereda. Sakit yang hampir menenggelamkan tak menyisakan lara, kini ada secercah harapan.
" Aku harus bangkit," lirihnya, menguatkan diri.
Pada dini hari, dia diam-diam mengemas semua barang-barang yang akan dibawa pergi, tanpa memberitahu siapa pun bahkan ibunya. Ia sudah bertekad memutuskan untuk melupakan Alvaro, karena tak ingin menjadi duri dalam pernikahan adiknya.
Tentu saja Anna merasakan sakit yang dalam, tapi dia berusaha belajar untuk mengikhlaskan. Selain itu, Anna ingin lebih fokus mengejar kariernya.