Seorang gadis cantik yang hidup dengan ayah dan ibu tirinya beserta kakak tiri perempuan yang selalu iri pada kecantikannya.
Gadis itu menutupi kecantikan dirinya dengan memakai kacamata super tebal sehingga terlihat seperti gadis kutu buku.
Aku Melati Putri Hadi.
***************
Pria yang mapan,tampan dan juga seorang idola papan atas.
Pria ini di gilai kaum wanita,banyak film yang ia bintangi namun hanya satu wanita yang ingin dinikahinya,wanita yang juga berasal dari industri perfilman yang tak lain adalah pacarnya sejak duduk di bangku kuliah.
Aku Arnon Marvion Gafin.
*************
Hal tak terduga mengganggu kehidupan mereka yang sangat berbeda kasta.
Ibu keduanya bersahabat dan sepakat menikahkan mereka, apakah mereka akan menerima pernikahan itu?
Silahkan follow,klik favorit dan baca novel author ya readers
Happy reading 😘😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arifia Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Saat sudah berada di hitungan 1 senti, tiba-tiba ....
Krurukk krurukk
Bunyi perut Melati terdengar oleh Arnon,pria itu langsung menjauhkan wajahnya dengan matanya yang masih menatap sang istri.
Melati menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil membelakangi Arnon.
"Apa kau lapar?" tanya Arnon pura-pura bertanya.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih ia sembunyikan.
Arnon tersenyum melihat tingkah istrinya,ia benar-benar suka sekali melihat Melati malu-malu kucing begini.
"Kenapa aku gemas sekali dengan gadis ini!" sambil terus tersenyum.
"Jika kau tak lapar,aku akan makan sendiri saja." Sambil berjalan menuju pintu kamar di ruangan itu.
Melati masih tetap tak merespon, akhirnya pintu kamar tertutup.
Melati mulai membuka matanya,ia melihat sekelilingnya, ternyata Arnon sudah tak ada di ruangan itu.
"Huh! syukurlah dia sudah pergi,dasar ... kenapa kau berbunyi wahai perut yang kelaparan,kenapa kau tak bisa mengkondisikan keadaan sih!" menatap kearah perutnya dengan wajah kesal.
"Aku malu pada pria aneh itu,apa lagi tadi dia akan ...,tidak-tidak! itu cuma terbawa suasana saja."
Melati mulai membersihkan ranjang yang terlihat sangat berantakan karena ulah dirinya dan Arnon.
Gadis itu merapikan semua bantal yang berserakan dan sprei yang tersingkap berantakan.
"Huh,akhirnya selesai juga! perutku lapar,lebih baik aku mencari makanan di bawah." Sambil menyeka keringat yang menetes di pelipisnya.
Melati membalikkan badannya hendak keluar dari kamar itu,namun saat berbalik ia langsung menabrak sesuatu yang membuat hidungnya terasa sakit.
"Aduhhhh," rintih Melati sambil memegang hidungnya dengan wajah menunduk ke bawah.
Melati langsung mendongakkan kepalanya,ia ingin tahu siapa yang sudah menghalangi jalannya.Saat ia mendongakkan kepalanya,senyum kikuk langsung tertarik dari bibir indahnya.
"Semoga saja dia tak mendengar ucapanku tadi."
"Hehehe,kenapa kau masih disini? bukankah kau sudah keluar?" masih terus memegang hidungnya yang terasa sakit.
"Mau aku masih disini atau sudah keluar,itu bukan urusanmu," jawab orang itu yang tak lain adalah Arnon suaminya.
"Aku kan bertanya baik-baik,kenapa kau ketus sekali sih! huh,kenapa si Clara itu betah pacaran denganmu jika aku yang ada di posisinya,bisa-bisa aku stres setiap hari makan hati." Menatap Arnon tajam.
"Hohoho,kenapa kau terlalu besar kepala gadis hibernasi! siapa juga yang mau menjadikanmu pacarku,gadis yang suka tidur."
Melati kesal dengan ucapan Arnon,yang menampakkan secara langsung jika pria itu tak tertarik padanya.
"Hohoho,kau tak perlu tertawa seperti itu,kau bukan Santa Claus,wajahmu bukan tipe orang baik ... tapi orang jahat," sungut Melati berapi-api.
"Ini mulut siapa?mulutku kan,jadi terserah yang punya mulut lah," sungut Arnon balik.
"Iiiihhhh! awas aku mau makan,aku lapar." Mendorong tubuh Arnon agar tak menghalanginya jalannya.
Saat pria itu melihat hidung Melati yang nampak memerah,ia langsung menahan tubuh istrinya yang hendak keluar dari kamar.
"Diam! biar aku lihat hidungmu,kenapa merah sekali?" menatap lekat pada hidung istrinya.
"Ini hanya sakit sedikit,nanti juga sembuh! awas aku mau turun."
"Kau bisa diam tidak! jika tak di obati,hidungmu akan bengkak,apa kau mau menjadi badut untuk beberapa hari kedepan?" ucapan Arnon membuat Melati berubah pikiran.
"Benarkah?" tanya Melati dengan wajah terkejut.
"Kemarilah biar aku lihat dulu."
Gadis itu mendekat kearah Arnon,agar pria itu dapat memeriksa kondisi hidungnya.
Arnon menyentuh hidung istrinya lembut karena ia takut menyakiti gadis itu, sedangkan Melati memejamkan matanya karena takut merasakan sakit dari hidungnya.
"Bagaimana,apa baik-baik saja?" tanya Melati masih dengan posisi mata terpejam.
"Kau lucu sekali! dan hidung ini kenapa ingin selalu membuatku menyentuhnya seperti ini." Sambil menekan hidung Melati berulang-ulang.
"Kenapa kau tak menjawabku! bagaimana kabar hidungku? jangan hanya di tekan-tekan saja,nanti hidungku yang mancung ini bisa mundur kebelakang," ucapnya kesal yang tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya.
"Sepertinya tulang hidungmu sedikit retak." Menekan keras hidung Melati dengan sengaja.
"Aaaaakkkkk."
"Sakit! benarkah jika tulang hidungku retak? hiks hiks."
"Hahahaha ... dasar gadis bodoh,sudah tahu hanya terbentur dadaku,tapi masih saja percaya dengan kebohongan yang aku buat." Tersenyum dengan kepolosan istrinya.
"Apa kau ingin hidungmu cepat sembuh?" tanya Arnon berlagak seperti dewa penolong.
Melati hanya menganggukan kepalanya karena ia benar-benar takut kali ini.
"Bukalah matamu sekarang," pinta Arnon.
Pria itu telah mendekatkan wajahnya dengan wajah Melati,saat gadis itu membuka matanya,Arnon langsung menyatukan hidung mereka berdua.
Mata Melati terbelalak dengan apa yang Arnon lakukan padanya.
"Apa masih sakit?" tanya Arnon masih dengan posisi hidung menyatu.
"T-Tidak," jawabnya singkat namun tergagap-gagap.
"Benar tidak sakit?" tanya Arnon memastikan.
Gadis itu hanya mengangguk,tanpa mengeluarkan suaranya.
"Kalau begitu hidungmu tidak retak dan kau ... masuk dalam jebakanku." Menjauhkan diri dari Melati dan keluar dari kamar itu.
Mata gadis itu melotot hendak melompat keluar dengan mulut yang ternganga dan wajahnya yang mulai terlihat menahan kesal tingkat akut.
"Arnon! awas kau ya," teriak Melati frustasi.
"Kenapa aku harus tertipu dengan pria aneh itu." Mengacak-acak rambutnya kesal.
Arnon tengah berjalan menuruni tangga.Ia tak henti-hentinya tersenyum karena telah berhasil mengerjai istrinya.
"Hahahaha,kenapa kau polos sekali sih Mel? kau tak ada rasa curiga sama sekali ya? dasar gadis ceroboh." Masih tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah Arnon,sampai kau puas! sebelum tertawa itu dilarang," celetuk Melati yang juga turun dari lantai dua berjalan di belakang suaminya.
"Kau mau kemana?" tanya Arnon.
"Mau makan,lapar."
"Aku juga," ucap Arnon.
"Kalau kau lapar ya makan," sahut Melati acuh.
"Apa kau tak melihat jika di atas meja makan kosong melompong begitu?" menatap Melati kesal.
"Huh,kau ingin makan apa?" tanya Melati yang merasa kasihan pada Arnon sudah merasa kelaparan.
"Terserah kau saja,yang jelas aku lapar!" duduk di kursi meja makan.
"Kau tunggu sebentar di situ."
Melati melangkah ke arah dapur.Gadis itu mulai membuka lemari pendingin,di sana ada beberapa sayur dan ikan serta telur puyuh.
Ia memasak nasi terlebih dulu di rise cooker, setelah tombol cook menyala,gadis itu melanjutkan memasak lauknya.
Kurang lebih satu jam ia bergulat di dapur tanpa ada yang membantunya.Ia membawa satu persatu lauk yang telah jadi,disana sudah tersaji tumis kacang panjang telur puyuh dan ikan cakalang bumbu pedas serta nasi.Tak lupa Melati juga menuangkan 2 gelas air minum untuknya dan Arnon.
Pria itu menatap hidangan yang di buat oleh istrinya dengan tatapan lapar tingkat tinggi.
"Jika kau lapar makan saja! jangan hanya dilihat seperti itu,lihat air liurmu hampir menetes," ledek Melati sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
"Terserah kau saja! aku tak perduli apa yang kau katakan,yang jelas aku sekarang LAPAR." Menekankan kata"lapar"di akhir kalimatnya.
Tanpa pikir panjang,pria itu langsung mengambil nasi dan menaruh di atas piring yang sedikit menggunung serta lauk di atasnya terlihat seperti gunung berapi yang siap menumpahkan laharnya.
"Kau kelaparan atau bagaimana?" tanya Melati sambil melihat Arnon makan.
"Bukan lapar tapi KELAPARAN." Dengan mulut penuhnya.
"Awas nanti badanmu bisa gendut,Clara tak akan mau dengan pria yang memiliki perut buncit," sindir istrinya.
"Biar saja! kan masih ada kau yang mau padaku."
Seketika suasana menjadi hening.Baik Melati maupun Arnon sama-sama mencerna kalimat yang di lontarkan oleh seorang Arnon Marvion Gafin.
Arnon menghentikan makannya.
"Sial! kenapa aku mengatakan hal seperti tadi? pasti gadis itu berpikiran yang aneh-aneh."
"Apa maksudnya sih berkata seperti tadi? Melati sadar! dia itu hanya asal bicara,tak perlu kau pikirkan." Sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau?" tanya Arnon.
"A-aku tidak apa-apa! kau lanjut saja makannya,aku juga lapar." Mengambil makanan yang sudah ia masak.
tapi ya nggak 2 tahun juga