Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JADIAN YUK
Ke esokan harinya di Julian company. Abraham kembali terlihat marah dan melempar barang yang ada di sekitarnya.
"Kerja begitu saja kalian tidak becus!" Abraham yang sudah mendengar kabar penangkapan kedua anak buahnya.
"Orang yang bernama Aditya, ternyata hebat Bos. Dan kami merasa kewalahan melawanya." ucap salah bawahan Abraham yang semalam di hajar Adit.
"Diam!!!, tak ada yang meminta pendapatmu tentang bocah ingusan itu." Bentak Abraham dengan segala amarahnya.
"Kalian berdua, cepat keluar dari sini!" titah penasehat Abraham yang baru saja masuk dan bergabung.
Kedua bawahan Abraham mengangguk, seraya meninggalkan ruangan Abraham.
"Sabar, Bos. Kita harus tenang." ucap penasehat yang berdiri di belakang Abraham.
Abrahan berbalik dan memandang penuh murka pada penasehatnya.
"Apa kau bilang?, tenang?" Abraham bertanya balik.
"I ya, Bos. Kita harus menggunakan kepala dingin untuk nencari solusinya." jawab penasehat dengan santai dan membuat Abraham makin jengkel.
"Apa kau buta hah!, putraku sekarang masih terkapar tak berdaya, dan kau menyuruhku untuk tenang, dimana otakmu kau simpan?" Abraham menunjuk dahi penasehat dengan telunjuknya.
Sang penasehat hanya diam menunduk. Dan tak berselang lama, handphone di dalam saku jasnya bergetar.
Si penasehat dengan sigap mengeluarkan handphone, dan langsung menjawab panggilan teleponnya.
"I ya, bagaimana sudah kau dapatkan, alamat dimana dia bersekolah?" tanya penasehat pada anak buahnya lewat sambungan teleponya.
"Sudah, Bos. Dan nanti sore aku pastikan untuk membawanya ke hadapan anda." jawab si anak buah di dalam teleponya.
"Bagus, laksanakan!" ucap si penasehat sambil mematikan sambungan teleponya dan tersenyum memandang Abrahanm.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Abraham dengan ke ingin tahuanya.
Si penasehat tertawa terbahak di depan Abraham.
"Sudah aku bilang, Bos. Kita harus sedikit santai dalam memancing Aditya. Kita ambil kelemahanya, dan otomatis dia akan datang sendirinya tanpa kita bersusah payah mencarinya." jelas si penasehat dengan tangan mengepal penuh optimis di depan Abraham.
"Dan asal kau tahu, aku tidak mau lagi mendengar kata gagal kembali di telingaku." Abraham pergi dari ruanganya meninggalkan si penasehat yang masih berdiri sambil tersenyum penuh kelicikan.
Sementara, di Aluna company. Atau perusahaan yang di yang di pimpin Luna sebagai Ceo dan Adit sebagai Drivernya.
Mereka berdua terlihat sibuk sekali dengan beberapa pertemuan meeting bersama Client, yang di lakukan di beberapa tempat yang berbeda.
"Dit, Ratna. Yuk, makan siang dulu." ajak Luna pada sekretaris dan drivernya.
Luna memerintahkan Adit, agar menuju restoran terdekat saja. Karena setelah mereka beristirahat sejenak, Luna memberitahukan masih ada dua pertemuan lagi yang harus di temuinya.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Adit tidak seperti biasanya. Sesekali dengan kiri dia mengecek handphone dan meletakanya kembali di dashboard mobilnya.
"Kamu kenapa, Dit?" tanya Luna yang melihat Adit sedikit cemas.
Adit sekilas memandang Luna dari kaca depan dan kembali fokus pada jalanan yang di laluinya.
"Tidak ada apa apa, Non." Adit sedikit memaksakan senyumnya.
Luna kembali duduk dan berbincang dengan Ratna yang duduk di sebelahnya.
Sudah jam 1 lewat, tapi Galuh belum sms atau WA juga. Apa dia sibuk ya tumben?. Tapi kok perasaan tiba tiba gae enak gini.
Mobil yang di tumpangi Adit, kini telah sampai dan terparkir di depan Restoran yang di inginkan.
Seperti biasa, Adit keluar terlebih dahulu setelah mematikan mesin mobil dan membukakan pintu untuk Bos cantiknya.
Mereka bertiga masuk ke dalam restoran bersama sama. Sambil menunggu pesanan di antar, Adit terlihat berkutat kembali dengan handphonenya mengecek notifikasi.
"Kok, belum di balas juga." gumam Adit yang dapat di dengar Luna.
"Nunggu balasan dari siapa, Dit?" Luna menggedikan kepala dengan hati yang sedikit cemburu.
Adit mendongak dan memandang Luna
"Galuh, Non." Adit menyahutinya.
"Memang kenapa dengan Galuh?, kok kamu panik amat." tanya Luna sambil menerima pesanan yang baru datang padanya.
"Gak tahu, Non. Biasanya dia kasih kabar, ini kok tumben gak ada sama sekali." jawab Adit dengan wajah yang terlihat cemas.
"Mungkin, Galuh kehabisan pulsa atau kuota, Dit." Ratna nyeletuk dengan jawaban asalnya.
Adit terdiam dan berpikir dengan apa yang telah di katakan Ratna.
"Bisa jadi." Adit mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu. Ngobrolnya sambung ntar lagi." ajak Luna yang di balas anggukan Adit dan Ratna.
Mereka bertiga terlihat menikmati makananya. Dan tak berselang lama, Adit yang baru selesai, Kini dirinya bangun mengangkat panggilan yang masuk ke dalam handphonenya.
"Ouwh, lg di perpustakaan." ucap Adit yang baru mengetahui kabar Adiknya.
Di dalam sambungan teleponya, Adit tidak bisa berjanji menjemput Adiknya, semua itu karena tuntutan pekerjaanya yang kebetulan hari itu sangat rapat dan padat.
Setelah selesai dengan panggilanya, Adit kembali duduk.
"Gimana, udah nelpon?" tanya Luna.
"Sudah, Non. Galuh sedang berada di perpustakaan katanya." jelas Adit.
Luna dan Ratna mengangguk, dan terlihat mereka membereskan tas dan merapikan bajunya.
"Mas." panggil Luna yang sudah siap membayar bill tagihanya pada pelayan dengan unlimited cardnya.
Namun, Adit langsung menahanya. Adit melihat semua nota bill tagihan, dan terlihat mengeluarkan dompet dan membayar sesuai dengan yang tercatat di billnya.
" Ayo, Non." ajak Adit pada kedua wanita yang masih berdiri memandang heran pada Adit.
"Kamu udah gajian, Dit?" tanya Ratna to the point.
Alih alih menjawab, Adit malah tersenyum pada kedua wanita yang kini berjalan di sampingnya keluar dari restoran.
"Terus, kamu piara tuyul ya?" tanya lagi Ratna yang langsung di tegur Luna.
"I ya, ya. Maaf. Aku kan cuma bercanda, I ya kan, Dit.?" ucap Ratna yang di balas senyum dan anggukanya Adit.
Setelah selesai beristirahat dan mengisi kembali tenaganya. Kini mereka bertiga menuju perusahaan selanjutnya yang sudah di jadwalkan Ratna pada Luna.
Seperti biasanya, Adit akan mengantar Bos cantik ke rumahnya terlebih dahulu, sebelum ia pulang dan membawa Mobil Luna ke rumahnya.
"Dit, makasih ya." ucap Luna yang duduk di depan dan bersiap turun dari mobil.
"Tunggu, Non." Adit menggenggam tangan Luna.
Luna berbalik memandang Adit, dan ...
Cupsss ...
Mata cantik Luna membulat, ketika Adit berhasil mendaratkan ciuman lembut yang tak di sangka sangka akan mendarat di keningnya.
Luna terpejam merasakan bibir lembut Adit yang menyentuh keningnya, terasa hangat dan penuh kasih sayang.
Adit melepas ciumanya, dan beralih memandang wajah Luna yang kini menunduk malu. Sambil tersenyum kecil Adit mengangkat dagu Luna dengan lembut agar menatap dirinya.
"Luna, Maafkan aku yang telah kurang ajar mencintaimu." Adit menatap lekat kedalam mata Luna.
Luna terhenyak kaget, seketika rona merah terpancar dari wajah ayunya.
"Kenapa harus minta Maaaf, Dit?" tanya Luna yang kini tersenyum cantik.
Adit memandang wajah Luna yang cantik, dan beralih memandang bibir Luna yang terlihat manis dan sexy
Dan tanpa aba aba lagi, Adit menarik tengkuk Luna hingga adegan beradu bibir pun tak bisa di elakan.
Mata Luna kembali membulat memandang Adit yang kini terpejam menyesap bibir manisnya. Dan kini Luna ikut memejamkan matanya mengikuti alur permainan Aditya.
Mereka berdua melepas pagutanya ketika oksigen mereka telah terasa menipis.
Adit Menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Luna dan tersenyum.
"Aku mencintaimu Luna." Adit mendekatkan hidungnya pada hidung Luna.
"Aku juga, aku mencintai supir tampanku." Luna merangkul leher Adit.
Mereka berdua kembali beradu kasih dengan bibir yang saling bertahutan. Saling menyesap rasa manis satu sama lain dan bertukar saliva.
"Frans, kau lihat itu?, anak kita ternyata saling mencintai." Lelaki itu kembali masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan sepasang muda mudi yang sedang asik memadu kasih.
semanhat bang😊😊😊