Kisah perjalanan seorang pendekar yang di benci banyak orang dikarenakan dia menjadi pewaris ilmu para tokoh persilatan aliran hitam.
Di tengah banyak pihak yang ingin membunuhnya, akankah dia dapat bertahan sekaligus menghilangkan prasangka buruk orang terhadapnya. ataukah dia malah berubah menjadi manusia ganas.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ki Suta mati.
Ki Suta tersentak kaget mendengar ucapan dari nenek tua yang dalam rimba persilatan dijuluki sebagai Iblis Picak Buntelan Kuning itu. ''Darimana nenek tua ini bisa tahu kalau Resi Bajul Getih sudah memberikan lembaran kulit rahasia itu.?'' batinnya heran.
''Orang tua., waktuku tidak banyak. jadi cepat serahkan lembaran kulit berisi 'Rahasia Ramuan Obat Peningkat Tenaga Dan Panca Indera' itu padaku.!'' bentak Iblis Picak Buntelan Kuning itu sambil maju mendesak kedepan. sebaliknya Ki Suta malah mundur setindak.
''Nenek tua., terus terang saja. aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, hampir setahun silam Resi Bajul Getih memang sempat datang kemari dalam keadaan terluka dan mendapat pertolonganku.''
''Tapi dia cuma memberi aku beberapa keping uang perak dan sekeping emas sebagai bayarannya. tidak ada yang lainnya..'' ujar Ki Suta mencoba meyakinkan si nenek picak.
Orang tua itu turunkan buntelan lain kuning bernoda darah kering yang menebar aroma busuk menyengat hidung dari bahunya. kini dia menggenggam tongkat kayu pengait buntelan kain itu dengan tangan kanannya. mulutnya memenggeram lalu terkekeh.
''Hek., he., he., sungguh jawaban yang dungu. apa kau pikir aku tidak mendengar semua yang sudah kau bicarakan dengan pemuda muka pucat dan juga muridmu yang telah kau siksa.?''
''Orang tua tolol., beraninya kau mencoba menipuku. rupanya hari ini aku harus membunuhmu terlebih dahulu untuk mendapatkan barang yang kuinginkan.!'' begitu suaranya habis nenek bermata satu ini hantamkan tongkat pendeknya kedepan. karena buntelan lain kuning itu terikat erat di tongkat maka ikut pula menyambar ke muka.!
'Whuuut., Bheet.!'
Serangkum angin keras berbau anyir busuk melabrak, cahaya kuning redup turut menyambar. Ki Suta jelas terperanjat. meskipun sudah seringkali mendengar sepak terjang si nenek yang kejam tapi dia sungguh tidak mengira jika orang tua yang matanya tinggal sebelah itu langsung berniat membunuhnya. buru- buru dia melompat mundur hingga ke dinding gubuk disebelah rak kayu berisi puluhan periuk kecil.
Bersamaan tangannya cepat meraih dua buah periuk tanah liat yang berada di rak paling atas dan langsung melemparkannya, bersamaan tubuhnya bergulingan menjauh.
Beratus- ratus butiran kecil berwarna merah dan hitam melesat kemuka, bau kemenyan memusingkan bercampur hawa panas yang menyesakkan menghampar diruangan gubuk itu.!
''Bubuk Kemenyan Api., Racun Cendawan Hitam.!'' rutuk Iblis Picak Buntelan Kuning mengenali apa yang di lontarkan Ki Suta sambil terus menggebrak. buntelan kain kuning di tangannya diputar jauh lebih cepat untuk menggebut balik bubuk beracun yang di gunakan lawannya sekalian untuk balas menyerang.!
Meskipun kedengarannya mudah tapi sesungguhnya si nenek harus sampai memutar senjata buntelan kain kuningnya berulangkali untuk menggebut buyar bubuk beracun yang di lontarkan Ki Suta sambil berusaha menutup jalan pernafasan dan kedua matanya.
Sebenarnya tingkatan racun kedua bubuk itu tidaklah ganas. yang satu hanya membuat dada terasa panas dan sesak nafas, sedang bubuk yang lain menyebabkan pusing dan pandangan mata menjadi perih serta buram jika sampai terhirup.
Tapi hasilnya akan lebih menakutkan jika kedua bubuk beracun Kemenyan Api dan Cendawan Hitam itu disatukan, kekuatan racunnya akan menjadi berlipat ganda. orang berilmu tinggi sekalipun juga bisa lumpuh dan buta jika sampai menghirupnya.!
Karenanya tidaklah heran kalau tokoh silat sekelas Iblis Picak Buntelan Kuning sampai harus berjibaku cukup lama cuma untuk membuyarkan serangan Ki Suta.
Saat semuanya sirnah si nenek memandang sekeliling gubuk, dia meraung gusar mendapati ketiga orang yang tadi berada di sana sudah tidak ada lagi di dalam gubuk. tongkat pengikat buntelan kain kuning diputar diatas kepalanya lalu menghantam. segelombang angin keras dan cahaya kuning busuk berhawa panas melabrak dinding gubuk hingga jebol dan hancur berantakan.
''Keparat., jangan berani kabur.!'' gertak Iblis Picak Buntelan Kuning murka, sekali berkelebat tubuh nenek tua itu sudah melesat puluhan tombak jauhnya ke depan. dengan kebutkan senjata buntelan kainnya bermaksud menghantam remuk punggung Ki Suta yang berlari di depannya. tabib setengah umur itu tentu saja tidak mau menyerah begitu saja. meskipun jelas kalah ilmu tapi dia tetap mencoba melawan.
Secepat yang dia mampu Ki Suta balikkan tubuhnya tiga jari tangan kanannya merapat dan langsung menghantam. selarik angin tajam berhawa dingin menusuk. inilah jurus yang dinamai 'Totokan Tiga Jari Angin.!'
Sebagai tabib Ki Suta tidak terlalu tertarik untuk memperdalam ilmu silat dan kedigjayaan yang tinggi. baginya asalkan bisa untuk bekal mempertahankan diri, itu sudah cukup.
Jurus 'Totokan Tiga Jari Angin' mungkin mampu membuat pesilat kelas dua roboh terkapar lemas. tapi jika digunakan untuk melawan pesilat kawakan sekelas Iblis Picak Buntelan Kuning jelas tidak akan banyak gunanya.
Buntelan kain kuning si nenek picak dan totokan jari Ki Suta bertemu saling hantam tiga hingga empat kali. terdengar suara tulang retak disertai keluhan Ki Suta. tulang jarinya remuk hingga ke pangkal lengan.
Tapi orang tua ini seperti sengaja berbuat begitu. karena saat berikutnya jari tangan kirinya yang ganti menghantam rusuk kanan Iblis Picak Buntelan Kuning yang agak terbuka.
''Matilah kau Iblis Picak jahanam.!'' seru Ki Suta kalap. nenek tua itu terkesiap kaget. tapi dia adalah pesilat yang berpengalaman, buntelannya disapukan kebawah menangkis sekaligus menghantam patah pergelangan kiri Ki Suta. bersamaan telapak tangan kiri lepaskan tiga buah bacokan mengarah leher dan pundak lawan, disusul sambaran cakar yang merobek dagu. gerakan ini diakhiri sebuah tendangan keras ke arah pinggang.
'Whuuk., whuut., plaaak.!'
'Dhees., dhees., khreeek.!'
'Aaakh.!'
Tanpa dapat ditahan jari tangan kiri Ki Suta terhantam remuk hingga pergelangannya terkulai. tapi sebagian tenaga jurus 'Totokan Tiga Jari Angin' yang dia lepaskan masih sanggup menembus pertahanan si nenek picak, membuat orang tua ini mengernyit kesakitan dirasuki hawa dingin dan nyeri kaku, dia juga merasa ada sebagian tulang iga kanannya yang cedera.
Ki Suta menjerit pendek. suaranya tertahan tulang lehernya yang patah dan dagunya yang robek berdarah. pinggangnya terasa jebol hingga ke lambung. tabib inipun jatuh terjungkal, nyawanya tamat dalam sebuah pertarungan singkat yang tak sampai berjalan lima jurus itu.
Iblis Picak Buntelan Kuning mendengus, tangannya meraba pinggangnya yang sakit dan terasa kaku. cepat dia kerahkan tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin akibat ilmu Totokan Tiga Jari Angin yang sempat menghantamnya. biarpun tidak sampai membahayakan nyawanya, tapi lumayan menyakitkan juga.
Dengan cepat dia menggeledah tubuh Ki Suta, nenek picak itu mengamuk saat tidak mendapati barang yang dia cari. ''Setan alas., dimana tabib sialan ini menyimpan lembaran kulit rahasia itu.?'' batin si nenek picak. dia lalu teringat dengan dua anak muda yang ada di dalam gubuk. tubuhnya yang bungkuk berkelebat cepat masuk kembali ke dalam gubuk yang kosong tanpa ada seorangpun.
Nenek itu meraung gusar, seluruh isi gubuk di hancurkan. bubuk- bubuk ramuan dan tanaman obat berhamburan. matanya melirik ke sebuah lemari kayu yang ada di sudut gubuk. dengan gerakan cepat dibukanya lemari itu. didalamnya kosong tapi bagian bawah lemari ada beberapa buku- buku ilmu pengobatan yang berserakan seakan sudah ada yang membongkar. saking marahnya senjata buntelan kuningnya menghantam lemari itu sampai hancur berantakan. ''Bocah- bocah keparat.!'' makinya. saat menoleh ke luar pintu dia melihat sebuah buku dan lembaran daun rontal yang tercecer di halaman.
''Sialan, mereka sudah kabur keluar.!'' teriaknya marah. sekali berkelebat Iblis Picak Buntelan Kuning sudah lenyap dari sana.
Hening sunyi di dalam gubuk yang hancur nyaris roboh. dari bawah kolong balai bambu merayap keluar dua sosok tubuh. seorang pemuda kurus pucat dan gadis muda yang kulitnya penuh bekas luka.
dilancarkan segala urusannya 🤲
lanjut terus 💪