Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korona
Hari-hari berlalu, minggu berganti bulan dan bulan-bulan datang bergantian menggantikan tahun yang baru, harapan dan impian baru.
Rumah tangga yang kembali normal setelah badai yang melanda benar-benar menjadi sebuah pembelajaran bagi mereka berdua. Rena dan Banu. Dan untuk Sholeh sendiri, dia tidak pernah muncul dihadapan Rena kembali setelah waktu itu Rena memarahinya habis-habisan.
Pun dengan kegiatan sekolah di KB Mentari. Sederet catatan dan kegiatan sudah terpampang jelas di buku agenda. Dari mulai rapat koordinasi, pelatihan, seminar, lomba untuk hari anak nasional, lomba khusus Himpaudi, lomba yayasan satu kawedanan belum lagi dengan kegiatan akhir tahun ajaran dan perpisahan wali murid.
Semester dua benar-benar banyak sekali kegiatan. Bu Genti dan Rena harus pandai-pandai dalam membagi tugas agar semua dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan agenda.
Namun manusia hanya berencana, rencana yang tersusun rapih dan jelas harus lengser begitu saja. Tuhan mempunyai cerita lain. Dan sebagai hamba mereka hanya dapat mengikuti alur takdir yang sudah digariskan.
Awal mula sebuah bencana datang di negeri ini, Indonesia tercinta. Sebuah virus yang memporak porandakan hampir seluruh sendi kehidupan di masyarakat, tak luput pula sektor perekonomian dan pendidikan. Virus yang tak kasat mata, datang dari negeri entah berantah dari China nun jauh disana, tepatnya kota Wuhan. Yang kini telah berkembang biak dan semakin meluas di Indonesia. Korona. Virus Korona namanya.
Sebetulnya dari negara asal sana, China, korona sudah ada sejak bulan November tahun lalu. Awalnya kita tidak ada yang pernah mengira bahwa korona akan menghampiri Indonesia. Tapi ternyata sekitar Februari seorang warga negara Jepang yang disinyalir membawa virus korona masuk ke Indonesia, menularkan ke salah satu warga Depok. Kota yang cukup jauh dari kota Purwokerto ini. Dan semakin hari orang yang terdampak virus korona semakin banyak. Hingga pertengahan bulan Maret secara resmi sekolah tidak diperbolehkan untuk mengadakan pembelajaran tatap muka, atau pembelajaran dilakukan dari rumah.
Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Pemerintah benar-benar melindungi masyarakatnya dan mengambil resiko sekecil mungkin agar mengurangi penyebaran virus korona. Meskipun banyak pro dan kontra dalam pengambilan keputusan ini, namun semuanya akhirnya mematuhi keputusan dari atas. Yakni meliburkan sekolah sampai dua minggu di depan.
Dan hari ini, Rena dan Bu Genti sedang membuat kerangka kerja. Menyusun pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Dimulai dari penyusunan RPPM dan RPPH. Sebetulnya susah juga melaksanakan pembelajaran dari rumah. Terbentur oleh ragam main dan alat main yang tersedia di rumah. Mungkin karena baru, dan awal jadi terasa sulit.
Bagi anak usia dini, pembelajaran dari rumah dan ditiadakannya pembelajaran tatap muka juga terasa kurang efektif dalam penyampaian materi. Biasanya mereka bermain secara langsung. Langsung praktek, langsung belajar dari sumbernya, melakukan observasi maupun penelitian sederhana dengan dampingan dan bimbingan guru.
"Surat Keterangan dari dinas yang kemarin dishare digrup Himpaudi kecamatan sudah kamu bagikan digrup walimurid, Re?" Bu Genti mengingatkan Rena untuk meneruskan pesan dari dinas pendidikan setempat kepada wali murid. Dalam SK tertulis tentang dilakukannya PSBB selama 2 minggu. Sekolah diliburkan dahulu sampai dengan 2 minggu ke dapan.
"Bagaimana untuk kegiatan anak kita memberikan cerita tentang virus korona, Bu? seperti pengenalan tentang virus korona. Berasal dari mana, bentuknya seperti apa, cara menularnya bagaimana dan cara pencegahan penularan agar dapat diantisipasi di dalam keluarga mereka? " Rena memberi saran dengan terus searching tentang virus korona dilaptopnya.
"Ya boleh, berarti kita break dulu untuk pembelajaran tematiknya, tapi diusahakan dalam penyampaian tentang virus korona, disisipkan juga meteri pembiasaan, Ren. " Bu Genti menjawab sambil membenarkan letak kacamata nya yang melorot.
"Okeii, sebentar saya susun dulu rencana pembelajarannya." Rena menjawab pasti.
Suasana kantor hening seketika. Bu Genti dan Rena berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Hingga samar-samar suara adzan dhuhur berkumandang. Dan keduanya menghentikan aktifitas mereka, Bersama-sama bersiap untuk melaksanakan salat Dhuhur berjamaah di mushola sebelah sekolah.
Sesampainya mereka di mushola ternyata sudah ada pegawai pemerintah desa yang sedang memberikan arahan kepada pengurus mushola, bahwa per hari esok kegiatan salat berjama'ah ditiadakan. Baliho yang berukuran 1,5 x 1,5 meter bertuliskan bahaya virus korona dan himbauan agar tidak melakukan aktivasi yang dapat membuat kerumuman sementara ditiadakan dahulu. Termasuk salat berjamaah.
Dan mereka para jama'ah hanya dapat mendengarkan dengan seksama serta menuruti perintah dari pak perangkat desa.
Hingga sholat selesai, beberapa orang berkasak-kusuk mengutarakan pendapat mereka sendiri.
"Kepriwean kaya kie arep sembayang bekoh dingel-ngel temen" ( Bagaimana ini mau sholat saja dibikin susah) pak Slamet seorang pengurus mushola mendekati Bu Genti
"Nggih kito kantun nderek aturan saking nginggi, Pak, inshaAllah niki sedoyo kagem kesaean kito" ( Iya kita tinggal ikut aturan dari atas, Pak, inshaAllah ini semua buat kebaikan kita). Bu genti memberi masukan.
"Lah tapi kie sembayang loh, kewajibane wong islam, apa maning wong lanang mbok sembayang kudu jamah neng mesjid utawa langgar, ora sekepenake wong nduwur gulik gawe aturan, kanan-kanane jan-jane anu pada kepriwean, apa korona ana apa anu mung digawe-gawe menungsa nggo wedi-wedi men dadi negarane pada bodol" ( Lah, tapi ini salat loh, kewajiban orang Islam, apa lagi orang laki-laki 'kan salat harus di masjid atau mushola, tidak seenaknya orang atas/pemerintah membuat aturan, sebenarnya bagaimana, apa korona hanya dibuat oleh manusia untuk menakut-nakuti agar negara rusak). Pak Slamet masih ngotot memberikan pendapatnya. Sementara beberapa jama'ah sudah mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitasnya.
Tak berbeda jauh dengan Bu Genti dan Rena yang memilih pergi beranjak dari mushola, enggan menanggapi tanggapan Pak Slamet. Bukan apa-apa, mereka berdua pun masih abu-abu tentang virus korona ini. Karena kejadian ini begitu cepat dan proses penyebaran virusnya juga sangat pesat. Bahkan pemerintah sendiri pun sepertinya masih gamang dalam memberikan informasi.
"Sebetulnya ada benarnya juga pendapat dari Pak Slamet ya, Bu, tapi di sisi lain kita memang harus waspada, kita belum tahu betul cara penyebaran virus korona itu seperti apa dan bagaimana, pemerintah saat ini juga hanya memberi himbauan, belum ada aksi nyata di lapangan." Rena membuka percakapan bertepatan mereka sampai di sekolah, kemudian membuka pintu kantor dan kembali duduk di depan layar leptopnya.
"Kita ikuti saja apa kata negara lah, Re, semoga saja semuanya cepat berlalu." Bu Genti menarik nafas panjang, sebelum akhirnya meraih gelas di mejanya dan berjalan mendekati dispenser yang terletak di sudut ruangan.
Suara dering ponsel terdengar memekikan telinga, bukan, bukan memekikan. Mungkin lebih ke kaget😅. Memang Bu Genti selalu memaksimalkan suara dering ponselnya, mungkin agar terdengar sampai keseantero rumahnya yang luas.
Bu Genti berjalan mengambil handphone nya.
"Sedela Re, anak lanangku telpun!" ( Sebentar Re, anak lelaki ku telepon)
"Halo asalamualaikum, Nang!" Senyum cemerlang Bu Genti terlihat.
"Nggih, Ibu sehat-sehat, iya di sekolah sama Mbak Rena, pripun? "
"....... "
"Iya nang, inshaAllah aman disini, iya iya, kamu juga jaga kesehatan ya, iya Ibu gak kemana-mana di rumah saja, iya, iya nanti minta tolong Mbak Ren suruh belikan, iya wis gampang iya. Yo.. yo.. Walaikumsalam!" Bu Genti menutup telpon nya.
"Mas Bagus, Bu?" Rena yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka mencoba menebak.
"Iya, tanya kabar disini bagaimana, dia sedang bertugas di Jakarta, katanya di sana sudah mulai banyak yang terpapar virus korona Re, dia meminta Ibu buat jaga kesehatan, tadi juga bilang Ibu suruh beli masker buat persiapan, suruh minta ditemenin kamu." Bu Genti menjelaskan.
"Waduh, bahaya sekali, Bu, semoga tidak sampai ke Banyumas ya, Bu, iih aku jadi parno, Bu." Rena bergidik ngerii..
"Aamiin, semoga tidak. Yowis kita ke apotik yuk beli masker, sekalian mlipir mbakso, Ibu lapar hahha." Bu Genti tertawa.
yang dibalas tawa oleh Rena, membuat kantor dipenuhi oleh gelak tawa dua wanita beda generasi tersebut 😊
**************
Jangan lupa tekan jempolnya, bila berkenan vote juga ya.. terimakasih 🤗🙏🙏
Apalah aku tanpa like dan komentar dari panjenengan semua😘😘
Salam hangat untuk para pembaca semua😊😊😊
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor