NovelToon NovelToon
MENANTI MENTARI

MENANTI MENTARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:88.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahyanti

Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seputar Kehamilan (2)

Meli mengangguk-angguk paham. Namun, ia masih ingin tahu tentang ngidam.

“Sebenarnya ngidam itu ada apa enggak, sih?”

“Iya, Vi. Ngidam itu bagaimana, sih?” Ratna ikut penasaran.

Lagi-lagi Via tersenyum melihat antusiasme sahabatnya. Ia membetulkan posisi duduk yang dirasa kurang nyaman.

“Ngidam itu hampir sama dengan morning sickness. Itu sering dialami oleh ibu hamil pada trimester pertama. Semua disebabkan perubahan hormon. Perasaan wanita hamil biasanya lebih sensitif dibandingkan saat dia tidak hamil.”

“Lalu kalau ngidam ingin sesuatu itu sebetulnya keinginan si ibu atau jabang bayi, sih?” tanya Mira.

“Tentu saja keinginan si ibu. Jabang bayi tentu saja belum memiliki keinginan tertentu,” jawab Via.

“Coba Vi, kamu terangkan secara ilmiah tentang ngidam!” perintah Ratna bergaya bak seorang dosen.

“Lagakmu kayak bos saja, nyuruh-nyuruh semau gue.” Via mengomel.

Ratna hanya nyengir mendapat omelan sahabat karibnya.  Ia tahu persis kalau Via pasti tak keberatan melakukan yang ia minta.

“Seperti yang aku katakan tadi, ngidam itu dipengaruhi perubahan hormon. Perubahan hormon ini memengaruhi reseptor lidah. Makanya, timbul keinginan bumil memakan makanan tertentu. Perubahan kadar hormon juga bisa membuat bumil yang tidak suka makanan tertentu menjadi suka atau sebaliknya. Indra penciuman kadangjuga terpengaruh sehingga bumil menyukai atau tidak menyukai aroma tertentu.”

“Berarti kalau nggak dituruti nggak akan bikin bayinya ileran?” sela Meli.

“Tentu saja itu hanya mitos. Tapi, sebaiknya keinginan ibu hamil memang dipenuhi selama itu tidak berlebihan. Sering kali keinginan bumil makan makanan tertentu itu sebagai sinyal kekurangan nutrisi. Misal bumil ingin makan yang asam-asam, mungkin tubuhnya kekurangan vitamin C.”

Meli, Ratna, dan Mira begitu serius menyimak penjelasan Via. Banyak hal yang ingin mereka ketahui tentang kehamilan.

“Wah, meski tidak berakibat bayi ileran, suami seharusnya mengabulkan keinginan istrinya yang tengah ngidam, ya?” ucap Mira.

“Ya, selama itu wajar. Perasaan bumil kan lebih sensitif. Kalau nggak dituruti kemauannya, biasanya ngambek, bahkan bisa jadi melakukan hal yang aneh. Semua bukan kemauan jabang bayi, tetapi terbawa perasaan yang sensitif.”

“Kalau keinginan bumil nggak wajar, lebih baik ditolak. Begitu?” Ratna menyela.

“Ya, nggak apa-apa ditolak. Tapi, cara menolaknya harus ekstra hati-hati. Masalahnya tadi, perasaan bumil itu sensitif. Misal ingin minum wine. Itu kan nggak bagus. Atau mungkin ingin makan manis, tapi berlebihan.”

Meli mengangkat barang yang telah terbungkus rapi. Ia menata di dekat meja kasir.

“Sudah beres, nih. Lanjut tentang kehamilan. Apa benar bumil nggak boleh minum es karena bisa bikin bayi terlalu besar?”

“Sebenarnya yang membuat berat janin berlebih itu kandungan karbo. Tidak hanya gula atau yang manis-manis. Makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi juga memicu berat janin berlebih. Misalnya mi. Itu karbohidratnya tinggi.”

“Berarti bumil nggak boleh mengonsumsi yang manis-manis?” tanya Mira.

“Boleh sih. Tapi, asupannya harus diperhatikan, terutama pada trimester akhir. “

“Mumpung masih trimester pertama, puas-puasin makan mi tuh, Mbak Mira!” celetuk Meli.

“Ish, ya nggak gitu juga kali. Bukankah lebih baik mengikuti pola hidup sehat? Meski masih trimester awal, nutrisi tetap harus diperhatikan. Benar yang saya katakana, Bu dokter?” Mira berlaku seolah menjadi pasien Via.

Ibu satu anak itu tergelak mendengar pertanyaan Mira. Sedari tadi ia memang berceloteh seperti sedang memberi penyuluhan.

“Ya, benar. Sebaiknya bumil menjaga pola makan seimbang.”

“Boleh nggak kalau bumil nggak minum susu khusus ibu hamil? Atau itu wajib agar bayinya sehat?” tanya Mira lagi.

“Nggak harus. Kalau bisa minum susu, itu bagus. Tapi, kadang ada yang justru mual ketika minum susu. Kalau memang tidak bisa mengonsumsi susu, ya diganti yang lain. Yang penting nutrisi tercukupi.”

Mira tampak lega. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Mbak Via kok bisa banyak tahu tentang kehamilan? Memang dulu waktu hamil Zayn, Mbak Via konsultasi ke dokter sampai detail gitu?” Meli tampak penasaran.

Via terkekeh. Ia menatap adik iparnya gemas.

“Kamu lupa siapa ayah dan bunda, hem?” Via balik bertanya.

“Meli tahu kalau ayah seorang dokter. Tapi kan bukan dokter kandungan.”

“Dokter umum juga tahu kalau cuma seperti yang aku katakan tadi. “

“Terus, kalau bunda?”

Kali ini giliran Ratna yang gemas. Ia mencubit pipi Meli.

“Ish, apaan sih nyubit pipiku? Sakit, tahu?” sungut Meli sambil mengusap pipinya.

“Gemes, sih. Bundamu itu guru Biologi yang punya wawasan luas, Mel. Bukunya saja satu rak penuh.” Ratna menjelaskan.

Meli mengingat-ingat perpustakaan keluarga yang sekarang menjadi ruang kerja Azka. Hanya ada 2 rak buku. Itu pun didominasi buku tentang agamadan tanaman.

“Tenang, Mel. Besok kalau kamu hamil, banyak ahli di sekelilingmu. Kakak iparmu ini dulu bercita-cita jadi dokter. Makanya, aku nggak heran dia tahu banyak hal yang berkaitan dengan dunia medis.” Ratna menambahkan.

Meli melongo mendengar penjelasan Ratna yang terakhir. Ia menatap Via seakan mencari tahu kebenaran ucapan Ratna.

“Iya, aku dan Ratna dulu jurusan IPA. Aku memang semula ingin jadi dokter. Tapi, setelah papa tiada, aku berubah pikiran. Karena ingin ikut mempertahankan yang papa rintis dari nol, aku masuk Fakultas Ekonomi. Ah, sudahlah. Itu masa lalu.” Via tampak enggan menceritakan lebih detail.

Meli cukup pengertian. Ia tak mendesak kakak iparnya.

“Mbak Mira sudah ke dokter kandungan?” Meli mengalihkan pembicaraan.

“Belum. Memang kenapa?” Mira balik bertanya.

“Ingin tahu jenis kelaminnya, cowok atau cewek.”

“Ah, aku nggak ingin tahu soal jenis kelaminnya. Biar itu jadi kejutan saat dia lahir,” sahut Mira.

“Lagi pula nggak bisa dalam minggu-minggu ini, Mel. Paling tidak nanti  mendekati usia 5 bulan. Sekitar usia 18 minggu. Itu pun kadang tidak bisa dilihat karena tertutup paha janin. Aku juga dulu sepakat sama Mas Farhan untuk tidak menanyakan jenis kelaminnya.”

“Kemarin bidan menyarankan aku USG setelah usia kandungan 8 minggu,” kata Mira.

“Sebab, setelah 8 minggu detak jantung janin terdeteksi dengan jelas.”

Meli hanya mengangguk-angguk. Pembicaraan saat itu dirasakan sangat bermanfaat. Ia mendapat pengetahuan baru.

“Kok Mbak Mira belum kelihatan gendut, ya?”

“Biasanya, pada kehamilan pertama perut terlihat membuncit pada usia 5 bulan. Kecuali kalau kembar,” jawab Via.

“Memangnya beda, kehamilan pertama dan kedua?”

Via mengangguk.

“Kata bunda begitu. Gerakan janin pun saat kehamilan pertama biasanya dirasakan si ibu baru pada usia 5 bulan. Sebetulnya, bulan keempat sudah ada gerakan. Tapi, mungkin si ibu  mungkin belum menyadari. Gerakannya hanya seperti kedutan.”

“Bukan nendang-nendang, Vi?” Ratna penasaran.

“Yang seperti nendang itu kalau sudah masuk trimester 3. Saat itu, gerakan janin membuat tonjolan-tonjolan di perut yang bisa terlihat jelas.”

Obrolan mereka terhenti karena terdengar kumandang azan. Mereka bertiga bergegas mengambil wudhu lalu salat zuhur dengan diimami Via. Sementara Ratna tetap duduk di tempatnya karena sedang kedatangan tamu bulanan.

Baru saja selesai salat, terdengar bunyi gaduh dari luar. Mereka bergegas turun.

“Ada apa, Ratna?” tanya Mira.

“Itu, ada truk menurunkan material bangunan. Mungkin ruko sebelah mau direnovasi pemiliknya,” jawab Ratna yang baru dari luar.

Meli menatap Via. Kakak ipar Meli hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Meli mengangguk paham.

 

 

*

Bersambung

Maaf, belum bisa update banyak, ya. Untuk yang penasaran seperti apa kehamilan Anjani, cap cusk e TAKDIRKU BERSAMAMU. Kalau tentang Alenna, ipar Anjani, langsung ke IKATAN CINTA ALENNA, ya!

Dukungan Kakak sangat berharga bagi kami.

1
Firda Sari
kapan di lanjut kak?
zee zhia
kapan lanjutanx ini thorr
피롷
kpn lanjutnya
피롷
ini kpn lanjut lg
Dhina ♑
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Heni Rani
udh lama gak up
Sabila Nurul Ma'rifah
kapan up autor aku kangen meli sama azka
Heni Rani
mba uthor nya lg traveling ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
ok thor , jgn lama lama ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
yahhhhh😂
Ananda Andin Angraini
D tunggu Kakak... tetap semangat.... semangat .... semangat.... jaga kesehatan ya.. 😘
Heni Rani
ini udh lama gak update lg kemana kah
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
wah keren azka dan farhan
Dessy Sugiarti
ditunggu kak kelanjutannya...
semoga bs SEGERA UP nya....
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
klo jadi meli gue jg cemburu tingkat balapan😄🤣
Indri Hapsari
salam luv buat Meli-Azka 💙 dan salam semangat untuk akak besan di sana 😊
Aerik_chan
Kusetia untuk menunggu
Asyilah
di nantikan selalu kak
HeniNurr (IG_heninurr88)
Setia menunggu pastinya😍😍
Vie
lanjut torrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!