Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam itu beneran jadi malam paling epik sekaligus mengenaskan buat Joni. Dia terpaksa tidur di atas kasur yang separuhnya ketutupan puing batu bata, berselimutkan sarung, dan ditemani angin malam yang berembus bebas masuk dari ruang tamu akibat tembok kamarnya yang udah bolong segede gaban.
Sesekali terdengar suara dengkuran emaknya dari kamar sebelah yang untungnya masih utuh.
"Hadeeeh... untung poin Defense gue udah naik," gumam Joni sambil nepok nyamuk yang dari tadi hobi konser di kupingnya. "Kalau kagak, masuk angin stadium empat dah gue tidur beginian."
Sambil menatap langit-langit, Joni membuka menu status di jam tangan pintarnya. Layar hologram biru tipis kembali menyala di kegelapan kamar.
> [STATUS ATRIBUT - JONI]
> * Level: 10
> * Class: Brawler (Tipe: Full Defense)
> * Power: 15
> * Speed: 18
> * Defense: 55 (+15)
> * Stamina: 30 (+5)
> * Perlengkapan: Iron Gauntlet (Tier 1)
> * Skill Aktif: Heavy Punch (Level 1)
Joni ngelihat angka Defense-nya yang paling menonjol. Angka 55 itu yang bikin dia kemarin sanggup nahan sabetan rantai monster babi hutan dan—yang paling penting—selamat dari tendangan maut emaknya barusan.
"Si Ninja senior itu... kalau nggak salah namanya Kak tian dari Jurusan Ninja Tingkat Atas," batin Joni menerka-nerka. "Minimal dia pasti udah Level 25 atau 30. Mana tipe Ninja itu *Speed* ama Critical-nya gede banget. Kalau gue cuma modal badan alot doang, yang ada gue cuma jadi sansak berjalan."
Joni mengepalkan tangan kanannya yang masih terbungkus Iron Gauntlet. Aura keemasan tipis dari Heavy Punch sempat berkedip sedetik sebelum ia padamkan lagi. Dia nggak mau nyari perkara dengan ngejebolin sisa tembok rumahnya yang tinggal seupil.
"Gue harus naikin level secepatnya. Besok di Dimensi Monster, gue nggak boleh santai lagi. Gue harus bener-bener nge-teng tanking monster biar EXP-nya deres," tekad Joni bulat. "Dan... gue juga musti nyari cara biar bisa makin deket ama si Laras. Sesuai titah Baginda Kanjeng Emak."
Mengingat senyum manis Laras, rasa pegal di badan Joni mendadak ilang diganti rasa anget yang bikin dia ikutan senyum-senyum sendiri di kegelapan.
"Tapi ya kagak usah pake ngebobol tembok juga kali, Mak..." gerutu Joni pas ngelihat ke arah ruang tamu yang sekarang kelihatan jelas dari tempat tidurnya.
Keesokan paginya, belum juga matahari nongol, Joni udah kebangun gara-gara suara bising dari arah depan rumah.
Prakkk! Tokkk! Semprul lo! Tokkk!
Joni ngucek matanya yang masih sepet, lalu jalan keluar kamar dengan langkah gontai. Pas sampe di ruang tamu, dia langsung melongo.
Emaknya ternyata udah rapi pake daster motif macan tutul, rambutnya dikuncir kuda, dan tangannya lagi megang sendok semen. Di sampingnya, udah ada satu gerobak pasir, tiga sak semen, dan tumpukan batu bata baru.
"Lah, Mak? Udah mau bangun rumah baru bae?" tanya Joni heran sambil nguap.
Emaknya menoleh, lalu ngelempar cetok semen ke arah gerobak pasir dengan akurasi yang bikin merinding. "Bangun rumah pala lo peang! Ini gue lagi mesen material buat nambal tembok yang jebol gara-gara lo ama gue kemarin! Buruan sarapan, tuh nasi uduk di atas kulkas. Jangan lupa daster gue jangan lo pake buat lap tangan!"
"Kulkasnya kan di dapur, Mak. Lah itu pembatas dapurnya udah kagak ada, jadi satu sama ruang tamu," sahut Joni polos sambil nunduk ngelewatin lubang bekas Heavy Punch nya tempo hari.
"Bacot lo! Buruan makan, habis itu berangkat kuliah. Inget pesen gue semalem!" Emaknya berkacak pinggang, matanya melotot. "Pulang kuliah, gue mau denger laporan kalau lo udah bikin tuh ninja sakit hati! Paham?!"
"Iya, Mak, iya... Joni berangkat sekarang," jawab Joni buru-buru nyamber bungkusan nasi uduk lalu ngibrit ke kamar mandi sebelum emaknya ngeluarin skill Sandal Jepit Homing Missile.
Hari ini, Joni berangkat ke Kampus Sacred Gate dengan satu misi baru: Bukan cuma sekadar bertahan hidup di Dimensi Monster, tapi juga memulai taktik pertahanan berlapis demi memenangkan hati bidadari Qigong, sekaligus bersiap menghadapi badai dari faksi Ninja.
Motor tua Joni membelah jalanan pagi menuju Kampus Sacred Gate. Di kepalanya masih terngiang-ngiang ultimatum emaknya yang super ekstrem: Raih cinta Laras, bikin si ninja sakit hati, lalu ajak duel.
"Emak gue pikir nyari pacar kayak nyari Monster Core apa, tinggal digebuk langsung dapet," gumam Joni sambil geleng-geleng kepala.
Sesampainya di kampus, Joni langsung menuju warung mpok di pojokan kantin, tempat biasa dia nongkrong bareng Gondrong. Benar saja, dari kejauhan sudah kelihatan rambut gondrong yang acak-acakan sedang antre memesan ketoprak. Bedanya, pagi ini penampilan Gondrong rapi, wangi, dan—yang paling ajaib—tidak ada suara ingus meler.
"Woy, Ndrong!" sapa Joni sambil menepuk pundak sahabatnya itu dari belakang.
Gondrong menoleh, lalu menyeringai lebar. "Hehehe... Jon! Panjang umur lo. Gimana semalem? Selamat lo dari amukan singa betina?"
Joni langsung mengambil posisi duduk di bangku panjang, lalu menghela napas berat seolah membawa beban seluruh dunia. "Selamat sih selamat, Ndrong. Tapi meja makan gue hancur, tembok kamar gue bolong, dan sekarang status rumah gue udah open space tanpa sekat."
"Hehehe... kok bisa gitu?" Gondrong ikutan duduk sambil membawa dua piring ketoprak. Satu piring disorongkan ke depan Joni. "Nih, makan dulu biar kuat nahan cobaan hidup."
Joni langsung menyambar sendoknya. "Ya gara-gara info dari telik sandi ninja temen emak lo itu! Dikira gue pacaran ama adek lo. Pas udah lo jelasin di telepon, emak gue emang minta maaf..." Joni menggantung kalimatnya, lalu menatap Gondrong dengan pandangan serius. "...tapi abis itu dia malah ngasih misi baru yang lebih gila."
"Hehehe... misi apa?"
"Gue disuruh beneran dapetin Laras, bikin tuh ninja senior cemburu setengah mati, terus kalau level gue udah setara, gue disuruh ngajak dia duel satu lawan satu."
Uhuk! Uhuk!
Gondrong langsung tersedak tahu ketoprak. Dia buru-buru meminum es teh manisnya sampai tinggal setengah. "Hehehe... buset, emak lo gaul amat, Jon. Berarti gue dapet lampu hijau dong jadi kakak ipar lo?"
"Kakak ipar pala lo peang! Masalahnya, adek lo mau kagak ama gue? Mana faksi ninja itu tipenya speed ama critical. Sekali tebas bisa ilang kepala gue," gerutu Joni sambil mengunyah kerupuk.
Gondrong mengetuk-ngetuk dahinya yang keras dengan jari telunjuk. "Nah, di sinilah gunanya lo punya sahabat dengan stat Intelligence tinggi kayak gue. Sini, gue kasih tahu rahasia Laras."
Joni langsung mendekatkan kupingnya, mendadak bersemangat. "Apaan?"
"Laras itu paling nggak suka ama cowok yang agresif atau sok jagoan kayak si Tian, ninja senior itu. Dia lebih respek sama cowok yang gigih, bertanggung jawab, dan... rajin. Nah, poin terakhir ini yang agak berat buat lo, Jon. Secara lo kan aslinya pemalas tingkat dewa," ujar Gondrong tanpa dosa.
"Sialan lo. Tapi kalau cuma gigih mah gue bisa. Buktinya gue kuat jadi samsak Master Johan berhari-hari," bela Joni.
"Hehehe... itu namanya penyiksaan, bukan kegigihan. Tapi intinya, kalau nanti di Dimensi Monster, lo jangan kebanyakan gombal. Fokus jagain dia di garis depan sebagai Tanker. Biar dia lihat kalau punggung lo itu bisa diandelin. Paham?"
Joni manggut-manggut. Masuk akal juga saran dari si Raja Ingus ini. "Boleh juga otak lo kalau lagi encer, Ndrong."
"Hehehe... makanya, ketopraknya lo yang bayar ya."
"Yeee... ujung-ujungnya duit!"
Baru saja Joni mau menyuap sendok terakhirnya, aroma harum bunga melati tiba-tiba tercium di dekat mereka. Suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat.
"Pagi, Abang. Pagi, Kak Joni."
Joni hampir saja tersedak kerupuk. Dia menoleh dan melihat Laras sudah berdiri di sana. Gadis itu mengenakan seragam Qigong putih bersih dengan aksen hijau muda, lengkap dengan tongkat spiritual yang bersandar di pundaknya. Rambutnya dikuncir setengah, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya.
"Eh, Laras... Pagi," sapa Joni, mendadak suaranya berubah tiga oktav lebih lembut.
Gondrong melirik Joni sambil menahan tawa. "Hehehe... dek, nih si Joni katanya mau—"
DUAK!
Joni langsung menginjak kaki Gondrong di bawah meja dengan kekuatan penuh. Gondrong langsung meringis sambil membekap mulutnya sendiri.
"Mau apa, Bang?" tanya Laras heran sambil memandangi kakaknya yang mukanya mendadak biru menahan sakit.
"Ng-nggak, Ras. Maksud si Gondrong, gue kemarin mau ngucapin makasih banget karena lo udah nyelametin nyawa kita di Zona Hijau," potong Joni cepat, mencoba menetralisir suasana.
Laras tersenyum tipis, membuat jantung Joni berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. "Sama-sama, Kak. Tapi beneran ya, hari ini sebelum kita masuk portal lagi, kalian berdua harus ikut aku beli ramuan dulu. Aku nggak mau ya dapet *party* yang masuk dimensi cuma modal badan doang."
"Siap, Tuan Putri! Hari ini gue yang modalin ramuannya deh buat satu party," ujar Joni sambil menepuk dadanya bangga.
Laras sedikit terkejut, lalu tertawa kecil. "Wah, tumben Kak Joni royal. Biasanya kata Abang, Kak Joni kalau urusan poin akademi atau duit meditnya minta ampun."
Joni langsung melotot ke arah Gondrong yang pura-pura sibuk mengunyah timun. "Awas lo ya, Ndrong, abis ini gue pretelin dahi lo," batin Joni gemas.
"Hehe... nggak kok, Ras. Itu fitnah dari abang lo aja. Demi keselamatan party, apa sih yang enggak," sahut Joni sambil pamer senyum paling menawan yang dia punya (walaupun sudut bibirnya masih agak lebam bekas sparing).
Laras mengangguk-angguk kecil, matanya berbinar jenaka. "Bagus deh kalau gitu. Kebetulan hari ini gerbang Zona Hijau dibuka agak siang karena ada sterilisasi monster dari para dosen. Jadi, kita punya banyak waktu buat persiapan di pasar akademi."
Gondrong akhirnya ikut angkat bicara setelah rasa sakit di kakinya agak reda. "Hehehe... bener tuh, Ras. Lagian si Joni juga butuh beli perlengkapan Defense baru. Biar badannya makin tebel kayak badak. Iya kan, Jon?"
Joni tersenyum penuh arti sambil menatap jam statusnya. "Iya. Gue harus jadi lebih kuat dari kemarin. Soalnya... ada sesuatu yang harus gue lindungin."
Laras yang mendengar itu sempat mengerjapkan matanya, sedikit bingung dengan arah tatapan Joni yang tertuju padanya selama sepersekian detik. Wajah gadis Qigong itu merona tipis sebelum akhirnya dia memalingkan wajah sambil berdeham kecil.
"Y-ya udah, kalau gitu... ayo kita ke pasar akademi sekarang," ajak Laras pelan, berjalan lebih dulu di depan mereka.
Gondrong langsung menyenggol lengan Joni sambil berbisik licik, "Hehehe... langkah awal yang bagus, Tanker. Punggung lo belum apa-apa udah kelihatan menjanjikan."
Joni hanya menyeringai tipis, mengencangkan ikatan Iron Gauntlet-nya, lalu melangkah menyusul Laras dengan tekad yang makin membara. Perjalanan mereka hari ini mungkin baru sekadar ke pasar akademi, tapi bagi Joni, ini adalah cetak biru menuju kemenangan harga diri yang sesungguhnya.