Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Cuma Oca yang Cemburu
Anthony menghentikan langkahnya sambil menatap Oca dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Cemburu?”
Oca langsung terdiam. Sesaat kemudian ia memutar bola matanya malas. Cemburu? Yang benar aja. Dalam hati ia langsung mendengus.
Sarap kali ya, nih orang. Dikira gue cemburu lihat dia sama cewek lain.
Meski terus menyangkal, perasaan mengganjal itu tetap ada. Oca buru-buru mengusir pikiran tersebut sebelum semakin jauh.
"Mimpi, ya? Siapa juga yang cemburu sama lo.”
Sambil terus menatap Oca, Anthony melangkah semakin dekat hingga Oca refleks menahan napas.
“Yakin?”
Melihat Anthony yang semakin mendekat, Oca refleks menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
"Eh... Lo mau ngapain?"
"Bukannya tadi bilang nggak cemburu?" ucap Anthony masih dengan tatapan datarnya.
"Ya emang nggak!"
"Terus kenapa panik?" sela Anthony cepat.
Wajah Oca langsung memerah.
"Minggir, lo pake baju dulu sana.”
Sudut bibir Anthony terangkat tipis, nyaris tak terlihat. Tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik menuju walk-in closet untuk berganti pakaian.
Jantung Oca masih berdebar kencang karena kejadian barusan. Ia buru-buru membenamkan wajah ke dalam selimut, berharap detak jantungnya kembali normal.
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Hingga beberapa menit kemudian Oca akhirnya terlelap, Anthony yang baru saja keluar dari walk-in closet perlahan melangkah ke sisi ranjang sebelahnya dan berbaring di sana.
______
Keesokan paginya, Oca sudah tiba di sekolah jauh lebih awal karena ia sama sekali tidak ingin mengulang kejadian datang terlambat seperti kemarin.
Begitu masuk ke kelas, ia langsung menjatuhkan tubuh di kursinya lalu menyandarkan kepala di atas meja. Matanya menatap kosong ke depan sambil mengembuskan napas pelan. Bayangan percakapan Anthony semalam terus terngiang di kepalanya.
Oca mendengus pelan. Dasar kepedean!!
Mana mungkin dia cemburu...Kan?
Ia mengacak pelan rambutnya sendiri sebelum kembali menyandarkan kepala di atas meja. Yang membuatnya semakin kesal karena pagi tadi menemukan pria itu berbaring di sebelahnya, seolah percakapan semalam tidak pernah terjadi.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu kelas.
Ketika Oca mendongak, ia melihat Kinan masuk ke kelas dengan wajah murung. Tanpa menyapa siapa pun, gadis itu langsung menjatuhkan tasnya di kursi. Alisnya sedikit berkerut, sementara bibirnya mengerucut seolah sedang menahan kesal.
Oca mengernyit, karena tidak biasanya Kinan seperti itu.
Belum sempat rasa penasarannya terjawab, Andira muncul dari pintu kelas sambil membawa sebungkus cilok yang masih mengepul.
"Pagiii..." sapanya riang sebelum duduk di samping Oca.
Namun baru beberapa detik kemudian, senyumnya ikut memudar saat melihat Kinan yang sudah duduk di tempatnya tanpa ikut bergabung bersama mereka..
Andira melirik Oca, lalu memberi kode dengan gerakan mata sebelum berbicara.
“Kenapa tuh anak?”
Oca hanya mengangkat kedua bahunya pelan.
"Nggak tahu. Datang-datang udah kayak gitu."
Andira ikut memandang Kinan beberapa saat.
"Aneh..."
Ketika Oca dan Andira mau menghampiri Kinan, bel masuk lebih dulu berbunyi membuat mereka mendesah pelan karena belum sempat berbicara dengan Kinan.
Kemudian Guru mata pelajaran pun memasuki kelas, membuat seluruh siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Mau tak mau rasa penasaran mereka harus ditunda sampai jam istirahat.
______
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Biasanya Kinan akan heboh mengajak mereka ke kantin. Namun kali ini gadis itu tetap diam di kursinya, bahkan tidak berniat bangkit sedikit pun.
Oca dan Andira saling pandang.
"Kita samperin, yuk," bisik Oca.
Andira mengangguk. Lalu mereka berdua pun menghampiri meja Kinan.
"Kinan..." panggil Oca pelan. "Lo kenapa?"
Kinan menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangkat kepala.
"Nggak apa-apa."
Andira langsung mendengus.
"Kalau nggak apa-apa, muka lo nggak bakal kayak orang mau perang."
Ucapan itu membuat Kinan terkekeh tipis, meski senyumnya hanya bertahan sesaat.
"Berantem sama Devan?" tebak Oca hati-hati.
Kinan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan lalu berbicara,
"Gue tuh ngerti kalau dia ketua OSIS. Gue juga tahu dia banyak kegiatan."
"Terus?" tanya Andira.
"Tapi akhir-akhir ini setiap gue ngajak pulang bareng atau makan bareng, jawabannya selalu sama. Katanya lagi rapat, lagi ngurus proposal, lagi ngurus acara."
Kinan mengepalkan jarinya di atas meja.
"Yang bikin gue kesel... sekretarisnya itu."
"Olivia?" tanya Oca.
Kinan langsung mengangguk.
"Iya. Tiap kali ada urusan OSIS, pasti dia terus yang bareng Devan. Bahkan kemarin gue mau ngajak Devan pulang bareng, eh Olivia tiba-tiba datang bilang ada berkas yang harus diselesaikan. Jadi akhirnya Devan malah pergi sama dia."
Andira langsung memutar bola matanya.
"Halah... sekretaris apa pengganggu hubungan orang sih."
"Itu dia!" gerutu Kinan. "Gue juga nggak tahu dia sengaja atau nggak. Tapi lama-lama nyebelin banget."
"Emang si Olivia tuh dari dulu agak aneh, deh," gumam Andira sambil menyilangkan tangan di dada. "Gue sering lihat dia nyari-nyari alasan buat ngobrol sama Devan."
"Iya, kan?" sahut Kinan cepat. "Padahal yang bisa ngerjain itu bukan cuma dia."
"Terus Devan gimana?" tanya Oca penasaran.
"Ya... dia sih biasa aja. Makanya gue makin kesel. Dia tuh terlalu nggak peka."
Andira langsung mengangguk setuju.
"Cowok emang gitu. Kadang ada cewek yang terang-terangan ngedeketin juga masih nggak sadar."
Kinan mendesah panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Gue tuh capek kalau harus kepikiran terus kayak gini."
Oca tersenyum kecil, lalu menepuk pelan tangan sahabatnya.
"Udahlah. Jangan keburu mikir yang aneh-aneh. Selama Devan nggak kasih harapan ke Olivia, menurut gue lo nggak perlu terlalu khawatir."
"Tapi kesel, Ca."
"Wajar kalau kesel," jawab Oca sambil tertawa pelan. "Tapi jangan sampai gara-gara Olivia malah lo yang berantem sama Devan. Nanti kan dia yang seneng."
Kinan terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Iya juga, sih."
"Nah, gitu dong," sahut Andira. "Kalau Olivia macem-macem lagi, tinggal bilang. Biar gue yang jitak."
"Berantemin aja lah gue sama dia," celetuk Oca iseng.
Mata Andira langsung berbinar.
"Boleh juga tuh."
Kinan spontan tertawa mendengar ucapan mereka.
"Ih, kalian berdua, ya."
"Nah, akhirnya ketawa juga." Oca ikut tersenyum lega.
Andira langsung berdiri sambil menepuk meja pelan.
"Udah ah, daripada ngomongin Olivia terus bikin darah tinggi, mending kita ke kantin. Gue masih laper."
"Kok laper lagi?" tanya Oca sambil tertawa.
"Tadi cilok gue cuma lima biji."
"Itu mah bukan ngemil, itu nyicip," goda Kinan.
Mereka bertiga pun akhirnya tertawa bersama. Suasana yang sejak tadi dipenuhi keluhan perlahan kembali mencair, lalu mereka berjalan berdampingan keluar kelas menuju kantin seperti biasanya.