Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Istana Sisik Hitam
Rasa dingin yang menyergap kesadaran Sekar bukan jenis hawa dingin yang biasa dijumpai manusia saat puncak musim hujan. Ini adalah dingin yang mati—sebuah sensasi beku yang purba, yang hanya bisa tercipta dari pori-pori batuan candi runtuh yang terkubur ratusan meter di bawah permukaan bumi, terisolasi dari kehangatan matahari selama berabad-abad.
Ketika Sekar mencoba membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah, pandangannya langsung dihantam oleh pendaran cahaya kelabu yang statis. Cahaya itu tidak bersumber dari lampu atau obor, melainkan memantul dari permukaan air sendang ghaib di ujung aula yang permukaannya hitam sepekat oli.
Sekar mencoba menggerakkan lengan kanannya, namun jalinan sisik emas murni yang kini telah mengeras di sepanjang kulit tangan hingga ke buku-buku jarinya terasa mencengkeram erat. Persendian manusianya seolah dikunci paksa, dilekatkan pada sandaran singgasana yang dipahat dari batu kali hitam legam.
"B-Bintang... Ibu..."
Suara Sekar keluar dalam bentuk desisan lirih yang kesat. Tenggorokannya terasa kering dan kasar, seolah-olah dia baru saja dipaksa menelan segenggam tanah kuburan yang gembur.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang masif. Dinding-dinding aula bawah tanah ini tidak terbuat dari tanah gua biasa. Ketika matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan yang pekat, Sekar menyadari dengan rasa ngeri yang teramat murni bahwa seluruh permukaan dinding setinggi puluhan meter itu tersusun dari tumpukan jutaan sisik ular hitam legam.
Sisik-sisik itu berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa. Mereka tidak mati; sisik-sisik itu tampak bergetar halus secara simultan, seolah mengikuti detak jantung raksasa yang tertanam di fondasi bumi. Lendir amis yang kental terus menetes lambat dari sela-selanya, menimbulkan suara tik... tik... tik... yang bergaung konstan, memantul di dalam rongga telinga Sekar dengan frekuensi yang menyiksa kewarasan.
Di bawah singgasananya, lautan makhluk melata masih setia menundukkan kepala. Gesekan sisik kering dari ular-ular tanah yang berhimpitan menciptakan atmosfer claustrophobic yang luar biasa menyesakkan. Volume udara ghaib di tempat itu begitu kental, dipenuhi oleh aroma minyak kenanga busuk dan bau anyir reptil yang mati membusuk di bawah terik matahari.
Sreeet... sssss...
Gesekan berat dari ekor ular raksasa menandai kedatangan sang penguasa tunggal. Kalingga melangkah—atau lebih tepatnya meliuk kaku—keluar dari balik bayangan pilar yang terbuat dari jalinan tengkorak manusia purba berselimut sisik hitam. Dalam dimensi kekuasaannya sendiri, aura magis yang memancar dari mahkota emas berkarat di kepalanya terasa menekan dada Sekar hingga gadis itu sulit untuk sekadar menghirup udara ghaib.
"Jangan mencari apa yang sudah kau tinggalkan di atas sana, Cah Ayu," suara bariton Kalingga bergetar lambat, merayap masuk ke dalam pusat kesadaran Sekar tanpa perlu melewati indra pendengaran fisik.
Kalingga menegakkan separuh tubuh manusianya yang pucat, kontras dengan bagian bawah tubuhnya yang berupa ular raksasa bersisik emas kelabu. Sepasang matanya yang berbentuk silet vertikal berwarna emas menatap lekat-lekat, mengunci seluruh kehendak bebas Sekar.
"Rumahmu ada di sini. Di bawah tanah yang hitam, tempat di mana waktu tidak akan pernah bisa membuat kecantikanmu membusuk menjadi tanah."
Kalingga menjentikkan jemarinya yang berkuku hitam panjang. Suara petikan itu terdengar seperti tulang rusuk yang patah.
Seketika, tiga sosok wanita dengan pakaian kemben Jawa kuno berwarna hijau lumut merangkak keluar dari kegelapan lorong batu. Pergerakan mereka ganjil, tulang-tulang persendian mereka berbunyi berderak setiap kali melangkah, persis seperti boneka kayu yang digerakkan secara paksa. Wajah mereka luar biasa pucat, dengan tatapan mata yang kosong tanpa adanya selaput hitam—hanya menyisakan bagian putih mata yang mulai mengeruh. Atas kepala mereka masing-masing mengusung sebuah nampan perak besar yang dipenuhi oleh perjamuan yang terlihat sangat mewah di mata fana.
Ada buah-buahan ghaib yang terlihat ranum kemerahan, air jernih yang berkilauan di dalam cangkir emas, dan hidangan daging panggang yang mengepulkan asap hangat yang menggugah selera.
Aroma makanan itu mendadak menguar hebat, memanipulasi rasa lapar dan haus yang luar biasa yang mulai menyerang tubuh spiritual Sekar. Jiwa Sekar yang terpisah dari raga manusianya merasa sangat hampa. Perutnya bergejolak hebat; rasa haus yang membakar tenggorokannya seolah memaksanya untuk menggerakkan tangannya yang lumpuh, berniat meraih cangkir emas tersebut.
"Makanlah, Ratu-ku... Kau butuh energi untuk menyatukan darah Sabtumu dengan takdir keabadian kerajaan ini," bisik Kalingga lembut, namun tatapan matanya yang merah darah tampak berkilat penuh intrik, menanti dengan tidak sabar.
Sekar memejamkan mata rapat-rapat. Sisa batin manusianya berontak. Dia mengingat peringatan mendiang kakeknya di masa lalu tentang hukum-hukum dunia ghaib. Dia memfokuskan seluruh energinya untuk menolak manipulasi visual tersebut.
Tepat ketika dia memfokuskan spiritualitasnya, pendaran cahaya kelabu di ruangan itu mendadak bergeser tajam. Ilusi mewah yang menyelimuti nampan perak di depannya runtuh dalam sekejap.
Sekar membuka mata dan tersentak ngeri. Buah-buahan yang tadinya terlihat ranum ran memikat kini berubah wujud menjadi gumpalan daging mentah yang membusuk, dikerubuti oleh ribuan belatung ghaib berkepala hitam yang menggeliat kelaparan. Air jernih di dalam cangkir emas itu tidak lain adalah genangan darah kental hitam yang berbau belerang panas dan mengeluarkan uap beracun.
Sekar menarik tubuhnya mundur hingga bagian belakang kepalanya membentur kerasnya sandaran batu singgasana. Rasa mual yang teramat sangat menggulung isi perutnya, membuat air mata ghaibnya mengalir deras membasahi sisik-sisik baru yang kian merayap naik menutupi rahangnya.
Kalingga yang melihat penolakan tersebut sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Makhluk purba itu justru mendekatkan wajah pucatnya yang tanpa pori-pori ke arah Sekar. Lidahnya yang bercabang menjulur tipis, hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidung Sekar, menghirup dalam-dalam aroma ketakutan yang pekat yang menguar dari tubuh sang gadis Sabtu Kliwon.
"Kau cerdik, Nduk..." Kalingga berbisik, seulas senyum dingin dan licik terkembang di bibirnya yang tipis keunguan. "Ingat ini baik-baik di dalam kepalamu yang fana. Jika kau makan atau minum di istanaku ini walau hanya setetes air, maka sisa kemanusiaanmu akan gugur detik itu juga. Jiwamu akan mengeras menjadi sisik, dan kau tidak akan pernah bisa kembali lagi ke tubuh manusiamu di dunia atas, selamanya. Kau akan terjebak menjadi ratu di sarang ular ini hingga bumi ini hancur."
Sekar mencengkeram ujung singgasana batu kali hingga kuku-kuku jarinya yang mulai meruncing mengeluarkan cairan bening berbau busuk. Dia menyadari posisinya saat ini: terjebak di inti kegelapan ghaib, dikelilingi oleh jutaan makhluk melata yang haus darah, disiksa oleh rasa lapar dan haus spiritual yang membakar, sementara di dunia nyata, waktu terus berjalan mundur menuntun cangkang fisiknya menuju ambang kematian total.
Di bawah cengkeraman atmosfer ghaib yang membekukan, Sekar memalingkan wajahnya dari nampan perak berisi daging busuk dan darah kental itu. Kepalanya berdenyut menyiksa, beriringan dengan detak Sengkolo di belikat kanannya yang kian mengencang. Rasa haus yang membakar tenggorokannya bukan lagi sekadar sensasi fisik, melainkan kekosongan spiritual yang menyedot paksa sisa-sisa kewarasannya.
Setiap detik yang berlalu di aula batu kali hitam ini terasa seperti setahun siksaan. Kalingga masih berdiri tegak di hadapannya, meliuk kaku dengan keanggunan seorang predator purba yang tahu bahwa mangsanya tidak memiliki jalan keluar.
"Kau bisa menolak hidanganku sekarang, Cah Ayu," desis Kalingga, suaranya beralih rupa menjadi gema ganda yang berat, memantul di antara pilar-pilar tengkorak. "Namun, ragamu di dunia atas tidak akan mampu menahan rindu darahku. Semakin kau mengosongkan perutmu di sini, semakin cepat cangkang manusiamu di atas sana mengering."
Kalingga mengayunkan ekor raksasanya, menciptakan sapuan angin anyir yang membuat jutaan ular di lantai gua mendesis ketakutan. Makhluk itu melangkah mundur, perlahan melebur kembali ke dalam kegelapan pekat di balik singgasana, meninggalkan Sekar sendirian di atas takhta batu yang dingin. Tiga wanita berkemben hijau lumut tanpa bola mata itu ikut merangkak mundur, menyeret nampan perak mereka masuk ke dalam celah-celah dinding sisik yang berlendir.
Kini, sunyi yang mati kembali menguasai aula. Hanya ada suara tik... tik... tik... dari lendir kenanga busuk yang menetes dari langit-langit gua.
Sekar mencoba memfokuskan pikirannya. Di tengah keputusasaan yang mengurung jiwanya, dia mulai merapalkan potongan doa yang sering dia dengar dari ibunya dan bimbingan Bintang. Namun, setiap kali asma suci itu terbentuk di dalam benaknya, jalinan sisik emas di lehernya mendadak memanas, membakar pita suara ghaibnya hingga dia terbatuk memuntahkan cairan bening yang kental. Tempat ini menolak segala bentuk kesucian. Istana Kalingga adalah wilayah absolut di mana hukum manusia dan agama luluh lantak tidak bersisa.
Sementara itu, di ujung aula ghaib yang statis, permukaan air sendang hitam yang menyerupai oli mendadak mulai bergolak lambat. Sekar mempertajam penglihatan ghaibnya. Dari dalam dasar air yang pekat itu, bayangan-bayangan mengerikan mulai naik ke permukaan.
Bukan ular. Melainkan refleksi dari dunia atas.
Melalui permukaan air sendang yang bertindak sebagai cermin dua dimensi, Sekar bisa melihat kondisi kamarnya di dunia nyata secara distorsi. Di sana, tubuh fisiknya terbujur kaku seperti mayat di atas ranjang. Dia bisa melihat ibunya, Rahayu, sedang menangis histeris di pojok ruangan sambil memeluk lututnya yang gemetar. Dan yang paling jelas, dia melihat Bintang.
Pemuda itu duduk bersila di samping ranjangnya, mandi keringat dengan napas yang terengah-engah. Tangan Bintang yang memegang tasbih gaharu tampak gemetar hebat, menahan gempuran uap minyak berbau kenanga busuk yang terus menyembur dari pori-pori leher tubuh kasar Sekar. Di sekeliling ranjang, ratusan ular tanah ghaib mulai merayap naik ke atas kasur, melingkari kaki dan perut cangkang fisik Sekar, bersiap untuk mengunci raga tersebut secara permanen.
"Bintang... Ibu... tolong aku..." Sekar menjerit dari atas singgasana batu, namun suaranya tersedot habis oleh keheningan gua.
Dia menyaksikan betapa rapuhnya pertahanan manusia di dunia atas. Bintang mulai batuk darah, meneteskan cairan merah tua ke atas tegel kamar yang retak akibat benturan energi ghaib Kalingga yang kian beringas seiring berjalannya waktu menuju tengah malam Sabtu Kliwon. Sekar tahu, jika dia menyerah kalah pada rasa haus ghaib di istana ini, atau jika Bintang tumbang di dunia nyata, maka batas antara raga dan jiwanya akan terputus selamanya.
Tiba-tiba, rasa perih yang luar biasa menghantam belikat kanan Sekar di dunia ghaib. Sisik-sisik hitam di dinding gua mendadak berhenti bergetar, berganti dengan suara desisan jutaan ular yang serempak menegakkan kepala mereka menghadap ke arah Sekar.
Dari kegelapan di atas langit-langit gua, sepasang mata emas raksasa milik Kalingga kembali menyala. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan tiruan dari sosok manusianya. Yang tersisa hanyalah otoritas mutlak sang penguasa kegelapan lereng Gunung Raung.
"Waktumu sudah dekat, Cah Ayu. Malam Sabtu Kliwon sudah berada di ambang pintu langit," suara Kalingga menggelegar, meruntuhkan beberapa stalaktit hingga hancur berkeping-keping di lantai batu. "Sambutlah takdirmu, atau saksikan seluruh manusia yang mencoba menahanmu mati menjadi bangkai yang membusuk di bawah kaki-kakiku!"
Sekar mencengkeram dadanya sendiri yang kian terasa mendingin dan mengeras. Di dalam rongga jiwanya, dia bersumpah tidak akan menyentuh satu tetes pun cairan dari kerajaan terkutuk ini. Di atas takhta batu kali hitam yang masif, dengan lautan ular yang menanti kejatuhannya, Sekar mengunci rapat mulutnya, bersiap menghadapi siksaan batin terbesar yang akan menentukan apakah dia akan kembali sebagai manusia, atau bangkit sebagai ratu siluman yang abadi.