Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Bisikan di Lorong Gelap
"Kau pikir selembar kertas nikah murah itu bisa membuatku berlutut dan melayanimu seperti pelacur, Dodi? Jangan bermimpi!"
Suara desisan tajam Odelia memecah kesunyian paviliun belakang yang pengap. Wanita yang kini kehilangan seluruh kemewahannya itu berdiri dengan tangan bersedekap, menatap jijik ke arah pria paruh baya yang baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja kayu usang.
Pak Dodi mengembuskan napas panjang, wajahnya yang lelah tampak kuyu di bawah pendar lampu neon yang berkedip-kedip. "Odelia, jaga bicaramu. Tuan James yang meminta kita menikah. Jika kau tidak suka, silakan keluar dari rumah ini sekarang juga dan jadilah gelandangan."
"Kau berani mengusirku?!" Odelia melangkah maju, menunjuk wajah suaminya dengan jari yang gemetar karena amarah. "Kau itu hanya sopir! Hanya budak di rumah ini! Jika bukan karena jebakan sialan Bellamy malam itu, aku tidak akan sudi sudi menyentuh kulitmu yang kasar itu!"
"Cukup, Odelia!" Pak Dodi memukul meja dengan keras, membuat Odelia sedikit tersentak mundur. "Kau pikir aku senang mendapati diriku tidur dengan wanita licik sepertimu? Aku juga korban di sini! Sekarang diamlah, atau aku akan melaporkan pada Tuan James bahwa kau masih berniat memeras keluarga ini!"
Odelia mengertakkan giginya hingga mengeluarkan bunyi berderit. Ia membalikkan tubuhnya dengan kasar, melangkah keluar dari kamar paviliun menuju lorong belakang mansion yang gelap. Dadanya naik turun menahan pasokan udara yang terasa menyesakkan. Rasa terhina ini terlalu besar untuk ia tanggung sendiri.
Di belokan lorong dekat dapur utama, sebuah langkah kaki yang santai terdengar mendekat. Odelia menajamkan pandangannya dan melihat Bellamy sedang berjalan perlahan sambil membawa segelas susu hangat.
"Oh, selamat malam, Nyonya Dodi," sapa Bellamy dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat manis namun sarat akan ejekan yang mematikan. "Bagaimana malam pertamamu di paviliun belakang? Apakah kasurnya cukup empuk untuk wanita terhormat sepertimu?"
Odelia mengepalkan tangannya di balik saku daster katunnya yang murah. "Bellamy Guinevere... kau tidak perlu berpura-pura lagi di depanku. Aku tahu kau yang menukar kopi itu malam itu! Kau yang merencanakan semua ini untuk menghancurkanku!"
Bellamy menghentikan langkahnya, tepat satu meter di depan Odelia. Ia menyesap susunya perlahan, lalu menatap Odelia dengan sepasang mata yang mendadak berubah menjadi sedingin es—tatapan mata seorang pembunuh bayaran yang sudah biasa melihat darah.
"Jika iya, lalu kenapa?" bisik Bellamy, suaranya sangat rendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau ingin mengadu pada Papa? Atau kau ingin menangis di depan media? Silakan, Odelia. Tapi ingat, aku punya video rekaman saat tangan kotormu memasukkan racun itu ke dalam cangkir Papa. Satu gerakan salah darimu, dan video itu akan langsung berpindah ke meja kapolres."
Wajah Odelia instan memucat pasi mendengarnya. "Kau... kau merekamnya?"
"Tentu saja," Bellamy tersenyum miring, sebuah senyuman cegil yang membuat bulu kuduk Odelia meremang. "Aku bukan Bellamy bodoh yang bisa kau setir dengan air mata palsumu lagi. Jadi, nikmati saja status barumu sebagai istri sopir. Setidaknya Papa masih cukup baik hati tidak melemparmu ke penjara bawah tanah."
"Kau benar-benar iblis..." desis Odelia dengan bibir bergetar.
"Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya kau terima, Ular Tua," sahut Bellamy santai. Ia melangkah melewati Odelia begitu saja, mengabaikan getaran kemarahan yang dipancarkan oleh wanita itu.
Namun, sebelum Bellamy mencapai tangga utama, ponsel di saku gaun tidurnya bergetar. Ia mengeluarkan benda pipih itu dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal—Dallas Enrique.
[Apakah kau sudah tidur? Seseorang mengirimkan proposal bisnis distrik barat yang baru ke email-ku. Aku tahu ini buatanmu, bukan buatan tim analis Guinevere. Bahasanya terlalu agresif untuk ukuran korporasi biasa.]
Bellamy menahan tawanya di tengah lorong yang sepi. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan dengan ritme santai. [Tentu saja itu buatanku, Tuan Muda Dallas. Aku sengaja membuatnya sedikit agresif agar kau tahu bahwa aku tidak hanya ingin menguasai pasar distrik barat, tapi juga ingin menguasaimu secepatnya. Bagaimana? Apa kau terkesan?]
Di tempat lain, di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi, Dallas Enrique kembali dibuat salah tingkah di depan layar laptopnya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya yang mendadak terasa hangat. Telinganya perlahan berubah menjadi kemerahan hanya karena membaca pesan teks yang sangat blak-blakan itu.
"Wanita ini... benar-benar tidak punya urat malu," gumam Dallas, namun sudut bibirnya tidak bisa berbohong. Sebuah senyuman tipis terukir di sana, memecah ekspresi kaku yang selama ini selalu ia pertahankan di depan semua orang.
Dallas mengetik balasan dengan lambat, menimbang setiap kata agar tidak terlihat terlalu terpengaruh. [Fokuslah pada pesta gala minggu depan, Bellamy. Jangan sampai spekulasi bisnismu ini merusak reputasi keluargamu di depan para kolega.]
Bellamy yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung membaca pesan itu dan tersenyum puas. [Jangan khawatir, Sayang. Di pesta gala nanti, aku akan memastikan seluruh dunia tahu bahwa mahkota Guinevere hanya akan bersanding dengan kekuatan Enrique yang sesungguhnya. Yaitu kau. Selamat malam, Calon Suamiku.]
Dallas tidak membalas pesan terakhir itu. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup dengan ritme yang terlalu cepat untuk ukuran seorang pria sedingin dirinya. Sifat cegil dari Bellamy yang sekarang benar-benar menjadi candu baru yang perlahan mulai meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang ia bangun selama belasan tahun ini.
Sementara itu, di kamar paviliun belakang yang gelap, Odelia masih duduk di tepi ranjang dengan mata yang menatap kosong ke arah dinding. Rasa benci di dadanya sudah mencapai puncaknya, bersiap untuk meledak kapan saja.
"Pesta gala minggu depan..." gumam Odelia dengan suara serak yang mengerikan. "Kau ingin bersinar di sana, Bellamy? Aku akan memastikan malam itu menjadi malam pemakaman bagi reputasimu dan seluruh kesombonganmu!"
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣