Dia ternyata dosenku sendiri. Dia menawarkan bantuan membayarkan semua hutang-hutangku saat harus membiayai pengobatan ibu.
Tapi aku tidak mau menerimanya begitu saja. Akhirnya diapun menawarkan sebuah penawaran yang membuatku sangat terkejut
Dia menginginkanku agar mau bersandiwara menjadi istrinya. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
beda 180°
“Mas, kok kita makan disini sih?” protesku saat tahu klo ternyata dia malah nunjuk kantin perusahaan sebagai tempat untuk makan siang
“Lha kamu sendiri tadi ga jawab mau makan dimana?!” ucap mas Rifan
“Emang tadi mas tanya pendapatku ya?!” ucapku mencoba mengingat-ngingat kembali
“Ya ga sih. Cuma seenggaknya kamu langsung kasih ide gitu, mau makan dimana?!” ucap mas Rifan ga mau kalah
“Jadi ini salahku ya?!” ucapku
“Ya ga gitu juga Cil.” Sahut mas Rifan
Dan disaat yang bersamaan, ternyata Reno mendatangi kami
“Eh Cil, kamu makan disini juga?” tanya Reno
“Ehm.. Ehm..” ucap mas Rifan
“Eh maaf pak bos. Ternyata ada pak bos juga?!” celetuk Reno yang memang ga sadar ada mas Rifan disini
“Hmm..” sahut mas Rifan singkat
“Dasar..!” gumamku lirih
“Pak bos, aku boleh gabung ga nih? Masalahnya ga enak klo makan sendirian.” Ucap Reno
“Iya Ren, kamu boleh kok makan juga di sini. Ya kan pak?!” ucapku ga memberi kesempatan buat mas Rifan menjawab
“Ingat... Jaga imege, pak Direktur.” Ucapku berbisik
“Awas kamu nanti ya Cil.” Gumam mas Rifan tapi aku masih bisa dengar jelas
“Huh takut... Coba aja klo berani.” Sahutku lirih dengan nada menantang
Reno yang melihat tingkah kamipun merasa bingung.
“Kalian kenapa?” tanya Reno
“Oh, kami ga kenapa-kenapa kok. Emang ada yang aneh ya?!” tanyaku
“Ga kok. Cuma kalian terlihat akrab. Memang kalian udah lama saling kenal?” tanya Reno penasaran
“Oh... Itu.. Kami kenal baru tadi pagi. Bukan begitu pak bos?!” ucapku yang sedikit meledek mas Rifan
“Hmm...” sahut mas Rifan singkat yang menahan kesalnya kepadaku
Lalu tiba-tiba datanglah wakil Direktur kita, pak Rian.
“Hai pak, makan di kantin juga nih?” tanya pak Rifan
“Ga. Aku kesini mau mandi. Udah tau mau makan, pake ngomong gitu segala.” Ucap mas Rifan sewot
“Ya elah fan, ditanya begitu aja sampai sesewot itu.” Ucap pak Rian yang ternyata mereka berdua seumuran
“Eh, kalian tahu ga kenapa pak bos bisa kaya begini?” tanya pak Rian yang ga tahu atau pura-pura ga tahu
“Aku ga tahu pak. Emang pak bos kenapa pak?” tanya Reno yang memang ga tahu lalu pak Rian memberi isyarat pada Reno dengan melirik ke arahku
“Hei.. Hei... Kalian pada kenapa? Kok lihat aku kaya begitu?” tanyaku protes
“Kamu pasti tahu kan Cil, kenapa pak bos sampai kaya begini?” tanya pak Rian
“Sumpah deh, aku ga tahu.” Sahutku yang terus melanjutkan makan
“Hadeuh.. Kenapa sih fan, kamu sampai suka sama nih cewe’ yang diam-diam berbeda 180° ini?” gumam mas Rifan dalam hati yang diam-diam memperhatikan tingkahku
“Eh Cill, kamu emang punya kepribadian ganda ya?” tanya mas Rifan
“Uhuk.. Uhuk..” Cilla tersedak mendengar pertanyaanku
“Nih minum. Kamu ga apa-apa Cill?” tanya Reno sambil memberikan segelas air dan aku pun menggeleng
“Maksud pak boss apa ya?” tanyaku
“Iya, kenapa aku merasa klo sikap kamu ini beda.” Ucap mas Rifan
“Beda gimana maksud pak boss?” tanyaku
“Ya beda aja pokoknya.” Sahut mas Rifan
“Ah itu mah biasa aja. Perasaan pak bos aja kali. Aku tuh dari dulu emang seperti ini.” Ucapku
“Klo ga percaya, tanya aja sama Reno dan juga pak Rian.” Tambahku
“Oh begitu...” ucapnya yang aku sendiri ga tahu apa maksudnya
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan Comentnya ya..🙏
.