Ketika matahari menginginkan bulan, tetapi matahari harus tau sebatas mana dia harus berjuang (cz).
Sadar akan dirinya yang memiliki wajah dan penampilan yang kurang menarik, membuat Mia Faradillah harus membuang jauh-jauh harapannya untuk mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki yang mau menerima dirinya apa adanya.
Tetapi semua pendirian itu seakan goyah saat seorang kakak kelasnya yang cukup populer di sekolah itu, mencoba mendekatinya.
"Mengapa orang seperti kakak, mau berteman denganku ?" (Mia Faradillah).
"Habis kamu lucu sih, Jadi aku suka !" (Tio Martadinata).
Tapi kesalahpahaman terjadi sehingga membuat hubungan mereka merenggang dan menimbulkan kebencian di hati mereka masing-masing. Setelah beberapa tahun kemudian, mereka kembali di pertemukan dalam sebuah perjodohan.
Akankah perjodohan tersebut berjalan lancar ? Dapatkah mereka memperbaiki kesalahpahaman yang selama ini terjadi ?
Mari dibaca saja ya gaess.. Dan jangan lupa beri rating bintang limanya ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citoz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Pernikahan
Hari Pernikahan Mia dan Tio tinggal menghitung hari. Panitia Wedding Organizer terus melakukan berbagai persiapan agar menghasilkan pernikahan yang meriah sekaligus megah.
Begitu juga dengan orang-orang yang berada di rumah Keluarga besar Martadinata dan Keluarga Pak Arif. Semua sibuk mempersiapkan segala keperluan yang akan dikenakan saat hari-H nanti.
Mia pun telah mengambil cuti untuk tidak masuk ke kantor, terhitung mulai hari ini. Sedangkan Tio masih bekerja pada hari ini, dikarenakan ada beberapa proyek yang harus diselesaikan.
*********
Di ruangan Produksi, Zizi yang baru saja selesai mengerjakan laporannya bersiap mendatangi ruangan Tio untuk memberikan hasil pekerjaannya.
Dia berulang kali memandangi dirinya di cermin, sedikit merapikan rambutnya dan menebalkan lipstiknya agar terlihat menarik.
Zizi lalu mengetuk pintu ruangan Tio dan masuk ke dalamnya. Ternyata di dalam ruangan, Tio tidak sendirian. Ada Pak Andi, Manager Pemasaran yang berusia sekitar 37 tahun.
Haiss, mengganggu saja.
Batin Zizi.
"Maaf, mengganggu Pak Tio. Ini ada beberapa dokumen yang baru saja saya selesaikan. Dan meminta persetujuan Pak Tio" ucap Zizi.
Tio lalu mengambil dokumen tersebut dan memeriksanya dengan teliti.
"Wah, Ini Bu Zizi yang baru pindah dari kantor cabang kan ? Masih muda sekali sudah menjabat Manager Produksi. Sungguh pegawai yang sangat berprestasi" ucap Pak Andi.
"Terima kasih, Pak" ucap Zizi yang merasa tersipu sekaligus bangga, ada yang memujinya di depan Tio. Namun, Tio terlihat masih fokus pada dokumen yang dipegangnya.
"Saya sudah mendengar berita dari pegawai lainnya, kalau ibu Zizi ini sangat cantik. Tetapi, setelah saya menyaksikan sendiri ternyata kabar itu bukan sekedar isapan jempol semata ya" tambah Pak Andi.
Zizi semakin merona. Dia merasa berada di atas angin sekarang.
"Pak Andi terlalu berlebihan" ucap Zizi seraya tersenyum.
Zizi kembali melirik Tio, dan kali ini Tio menatap wajahnya. Zizi gugup dengan tatapan mata Tio. Hatinya berdebar.
"Masih ada lagi dokumen yang meminta persetujuan saya ?" tanya Tio tiba-tiba.
"Hmm.. Untuk hari ini, hanya itu saja Pak" ucap Zizi.
"Iya, Bu Zizi. Kalau ada lagi dokumen yang perlu tanda tangannya Pak Tio, cepat diberikan hari ini juga. Soalnya, besok Pak Tio tidak masuk bekerja" ucap Pak Andi.
"Loh, kenapa Pak Tio tidak masuk bekerja ?" tanya Zizi kaget.
"Anda belum tahu ya ? Besok Pak Tio sudah mulai cuti untuk menyiapkan pernikahannya. Kan pernikahan Pak Tio tinggal 3 hari lagi" ucap Pak Andi.
Zizi seakan tidak percaya mendengar ucapan Pak Andi barusan.
Jadi mereka masih tetap melanjutkan pernikahan ini ?
Batin Zizi.
"Hmm.. Kalau begitu, saya izin kembali ke ruangan saya sekarang, Pak" ucap Zizi sambil memgambil kembali dokumen yang berada di atas meja, yang telah ditanda tangani oleh Tio.
Tio hanya mengangguk.
*******
Zizi melangkah ke ruangannya dengan perasaan kesal dan marah. Dia mendatangi Kezia yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Kezia" ucap Zizi.
"Ehmm" ucap Kezia yang menjawab sapaan Zizi tanpa menoleh sama sekali pada Zizi. Dia masih terus asyik memandangi rancangan desain yang dia buat, di layar laptopnya.
"Kamu bilang kemarin, kak Tio batal menikah dengan Mia" ucap Zizi.
"Tetapi, tadi semua orang ramai membicarakan Pak Tio yang akan cuti bekerja karena akan melangsungkan pernikahannya" sambung Zizi yang kelihatan frustasi.
Kezia lalu menatap Zizi.
"Loh, siapa bilang ? Kan aku kemarin bilangnya 'mungkin'. Ya, jadi belum pasti dong" ucap Kezia enteng.
Zizi lalu menarik kursi yang ada di dekatnya, dan duduk mendekati Kezia.
"Berarti kita harus cara lain agar pernikahan tersebut dibatalkan ?" tanya Zizi.
Mendengar ucapan Zizi, Kezia melepaskan tangannya dari mouse yang dia pegang dan menghentikan pekerjaannya.
"Pikirkan saja sendiri. Aku tidak mau ikut campur lagi" ucap Kezia.
Kezia lalu berdiri dari kursinya, mengambil map miliknya yang bewarna biru.
"Tapi, yang perlu kak Zizi tahu. Seberapa besar pun usaha kak Zizi untuk membatalkannya. Sepertinya akan sia-sia saja tuh" ucap Kezia sambil berlalu meninggalkan Zizi di sana.
Zizi terperanga mendengar ucapan Kezia barusan.
Kenapa dia jadi acuh tak acuh terhadap masalah ini. Seperti sudah tidak tertarik lagi. Tadinya aku pikir, dia bisa menjadi pion catur dalam rencanaku.
Batin Zizi.
*****************
Kezia yang merasa malas untuk melihat Zizi, bahkan walau sekedar berbincang sebentar, akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar ruangan mencari udara segar. Dia pergi ke kantin kantor di lantai bawah untuk membeli beberapa cemilan dan minuman softdrink. Dia duduk sebentar di sana, menikmati minuman dan cemilan yang dia beli tadi. Setelah selesai, dia berencana kembali ke ruangannya.
Kezia lalu melangkah menuju lift untuk naik ke atas. Namun, dia terpaksa menunggu karena lift sedang dipakai.
Sembari menunggu, Kezia mengibas-ngibaskan map biru yang di pegangnya sedari tadi.
Haiss.. aku lupa ! Seharusnya aku mengantar map yang berisi hasil kerjaku ini ke ruangan kak Tio. Aku malah melipir ke kantin dulu. Habisnya sih ! Aku kesal mendengar ucapan kak Zizi tadi. Jadi, aku perlu penyegaran untuk memperbaiki moodku.
Batin Kezia.
"Tinggg"
Tiba-tiba pintu lift terbuka. Kezia buru-buru masuk ke dalam lift dan menekan tombol ke lantai 9, tempat ruangan Tio bekerja. Kebetulan hanya ada dirinya sendiri di dalam lift tersebut.
Namun, tiba-tiba seorang pria yang mengenakan jas bewarna hitam menghentikan pintu lift yang hampir saja tertutup.
Tunggu !" ucap seorang Pria sambil menahan pintu lift.
Kezia menekan tombol untuk menghentikan pintu lift menutup.
"Terima kasih" ucap laki-laki tersebut menatap wajah Kezia.
Namun, dia tampak kaget saat memandang wajah Kezia.
"Kamu ?" ucap lelaki tersebut.
Begitu juga dengan Kezia yang tidak kalah terkejutnya saat menatap laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.
"Si Koper ?" teriak Kezia kaget.
Lelaki itu menyeringai.
"Si koper ? Sewaktu di bandara kamu memanggilku dengan sebutan preman kampung, yang lupa minum obat. Dan sekarang, kau bahkan memberikanku julukan si koper. Lalu apalagi setelah ini, Hah ?" ucap Afkar yang langsung meninggikan nada suaranya.
"Setelah ini ? Setelah ini aku berharap tidak melihatmu lagi !" ucap Kezia.
Kezia nampak berpikir.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Kezia.
"Apa aku harus bercerita kepada orang yang tidak aku kenal, tentang tujuanku kemari !" ucap Afkar.
"Jangan-jangan... Oops !" Kezia menutup mulutnya.
Apa yang dipikirkan perempuan aneh ini !
Batin Afkar.
"Jangan-jangan kamu sengaja mencari tahu tentang keberadaanku disini" ucap Kezia.
"Sudah aku duga ada yang tidak beres pada dirimu. Mulai dari mencoba menukar koper milikku dan sekarang mencoba menjadi penguntit, mengikutiku kemana-mana. Kamu ini menyukaiku ya ?" sambung Kezia.
Afkar mengernyit.
"Apa kamu pikir aku sudah tidak waras ?" ucap Afkar.
"Iya !" ucap Kezia yang menjawab cepat.
Afkar tecengang mendengar jawaban Kezia.
"Aku jadi bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya yang sudah gila diantara kita berdua" ucap Afkar.
"Tiingg"
Tiba-tiba pintu lift terbuka kembali di lantai 9. Tempat dimana ruangan Tio bekerja.
Kezia lalu keluar dari pintu lift, begitu juga dengan Afkar.
Benar kan dia penguntit. Sekarang dia bahkan mengikuti sampai kemari.
Batin Kezia.
Afkar lalu menghampiri meja resepsionis dan berbicara dengan petugas resepsionis.
Sedangkan Kezia melangkah masuk menuju ruangan Tio.
Namun tiba-tiba, saat akan melangkah menuju ruangan Tio. Pak Andi yang baru saja keluar dari ruangan Tio menyapanya.
"Kezia kebetulan kamu disni" ucap Pak Andi.
Kezia menghentikan langkahnya.
"Bisa kita duduk sebentar di sofa itu, saya ingin membahas masalah pekerjaan" ucap Pak Andi menunjuk sofa di dekat meja resepsionis.
"Oh iya, tentu saja Pak" ucap Kezia.
Setelah keduanya duduk di sofa tersebut, mereka mulai mengobrol.
"Ada apa Pak ?" tanya Kezia.
"Kezia, desain tentang pembangunan hotel bintang lima kemarin, sebaiknya tidak menggunakan ruangan sudut ya. Karena akan memerlukan banyak pencahayaan agar terlihat lebih terang. Jadi, biaya listriknya juga akan lebih mahal. Kemarin pihak hotel membicarakan ini dengan saya. Mereka meminta seperti itu" ucap Pak Andi.
"Oh, baiklah akan segera saya ubah nanti" ucap Kezia.
Pak Andi mengangguk.
"Kamu mau menemui Pak Tio ?" tanya Pak Andi.
"Iya, Pak. Saya mau mendiskusikan rancangan desain untuk pembangunan Mall Metropolitan" ucap Kezia.
"Oh, Iya silahkan. Pak Tio ada di dalam kok. Tadi saya baru selesai membahas pekerjaan dengannya" ucap Pak Andi.
"Terima kasih, Pak. Saya ke dalam dulu kalau begitu" ucap Kezia.
********
Sedangkan di dalam ruangan Tio, Afkar dengan berapi-api menceritakan kejadian yang baru saja dia alami di lift.
"Apa kau ingat, aku pernah bercerita tentang perempuan gila yang menuduhku mencuri kopernya ?" tanya Afkar.
foto : Afkar.
Tio mengernyit. Dia nampak berpikir.
"Aku tidak ingat" ucap Tio.
"Ck.. Payah ! Ternyata ingatanmu sangat buruk" ucap Afkar.
Tio tersenyum sinis.
"Aku hanya mengingat hal yang penting saja" ucap Tio.
"Kau tahu, aku kembali bertemu dengan perempuan gila itu di kantormu tadi. Apa dia bekerja disini ? Mengapa Perusahaanmu mempekerjakan orang seperti dia ?" tanya Afkar.
"Aku tidak tahu pegawai mana yang kamu maksud. Tetapi, dengan serangkaian tes seleksi pegawai yang ketat, apa masuk akal perusahaanku mempekerjakan orang yang tidak waras ?" tanya balik Tio.
"Lalu apa tujuanmu datang kemari hanya untuk membahas pegawai itu ?" sambung Tio.
"Tentu saja, tidak ! Aku ke sini ingin membahas pekerjaan denganmu. Perusahaanku ingin membangun kantor cabang di daerah. Jadi, aku ingin memakai jasa kontraktor perusahaanmu untuk pembangunannya" ucap Afkar.
Tio mengangguk.
Mereka membahas obrolan semakin dalam. Sampai suara ketukan pintu, menghentikan obrolan mereka.
Afkar terkejut saat melihat Kezia yang masuk ke dalam ruangan. Begitupun sebaliknya.
"Jadi, kamu mengikutiku sampai ke sini juga !" ucap Kezia yang terlihat kesal.
Afkar tersenyum mengejek.
"Sebenarnya ada masalah apa sih dengan kepalamu ? Sepertinya kamu terlihat normal" ucap Afkar.
"Jelas-jelas dari tadi aku yang lebih dulu ada disini. Tetapi, kamu bilang aku mengikutimu ?" ucap Afkar yang sudah terpancing emosinya.
Kezia lalu menghampiri Tio dan merangkul lengan Tio.
"Kak, cepat usir orang ini dari sini ! Dia itu penguntit !" rengek Kezia.
Afkar tampak kaget mendengar pernyataan Kezia barusan.
"Tunggu dulu ! Apa kamu bilang tadi ? Kakak ?" ucap Afkar.
"Jadi, dia.. ?" Afkar menoleh pada Tio sekarang. Dia tampak kebingungan. Pikirannya bertambah ruwet sekarang.
Jangan lupa like, komen, gift dan vote ya 🙏🏼
Terima kasih utk karya Kak 🙏🏻 Semangat utk karya2 terbarunya 💪🏻🌷
PASTI RAHMA SBNARNYA GK TAU KLAKUAN SI ZIZIK MEDUSA..