Sequel Mafia's in Love.
“Seorang wanita juga bisa melukai saat hatinya telah terluka. Tidak ada yang membedakan antara pria dan wanita. Bukan hanya hati, aku juga bisa melukai seluruh tubuhmu dengan tanganku sendiri.” Eleonora.
Seorang wanita yang mengubah hidupnya, menjadi jahat setelah ia di lukai. Hidupnya yang dulu terasa tenang dan tenteram harus berubah menjadi penuh darah dan tangis air mata. Tangan yang biasa digunakannya merias wajah juga harus berganti menggenggam pistol dan belati.
Semua karena cinta. Cinta memang bisa merubah seseorang menjadi jauh lebih baik. Namun, tidak dengan wanita bernama Eleonora. Tanpa disengaja, ia terjerumus ke dunia hitam untuk membalas rasa sakit hatinya kepada pria yang pernah ia cintai.
Apakah Eleonora berhasil membalaskan sakit hatinya? Apakah selamanya Eleonora akan berada di dalam dunia hitam? Apakah Eleonora akan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Mama
Satu Minggu kemudian.
Perjalanan kabur-kaburan Leona dan Kwan memang tidak sesuai dengan harapan. Mereka memiliki banyak halangan saat berlibur di Meksiko. Walau pun di bilang jalan-jalan terburuk. Tapi, Kwan dan Leona bisa membawa kenangan indah yang tidak terlupakan.
Leona dengan nama Zean. Sedangkan Kwan dengan nama Alana. Seseorang yang untuk pertama kalinya menggetarkan hati mereka. Memberi kehangatan dan rasa kepemilikan. Walaupun tidak tahu, bagaimana cara mereka bertemu dengan seseorang yang memiliki nama spesial itu.
“Ma, apa yang mama rasakan ketika pertama kali jatuh cinta?” ucap Leona sambil memejamkan mata. Wanita itu kini ada di atas pangkuan Serena. Sejak tiba di rumah, Leona lebih sering menghabiskan waktunya di kamar Serena dan memilih untuk berbaring bersama dengan sang mama tercinta.
Serena menghentikan gerakan tangannya. Sejak tadi ia mengusap lembut rambut panjang putrinya. Pertanyaan Leona membuat Serena kembali menguak masa lalunya yang sudah lama terlupakan.
“Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?” tanya Serena dengan wajah serius. Tentu saja ia tidak ingin menjawab pertanyaan Leona langsung.
“Ma, Mama kan sudah lama menikah dengan Papa. Pasti pernah merasakan cinta.” Leona membuka matanya. Wanita itu berbaring lalu menatap wajah cantik ibunya. “Ma, apa Papa cinta pertama mama?” tanya Leona penasaran.
“Soal itu ....” Serena terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Mengatakan kalau cinta pertamanya bukan Daniel pasti akan membuat Leona memunculkan pertanyaan baru. Leona wanita yang cerdas. Ia tidak akan mungkin diam saja ketika mengetahui secuil masa lalu kedua orang tuanya yang terbilang luar biasa.
“Ma ... Kenapa mama terlihat ragu? Apa papa bukan cinta pertama mama?” Leona beranjak dari pangkuan Serena. Wanita itu menatap wajah Serena dengan sejuta tanya.
“Ya tentu saja cinta pertama mama. Hanya saja, mama dan papa menikah karena dijodohkan sayang,” ucap Serena dengan senyuman indah. Ia tidak ingin mengungkit masalah Zeroun. Selama ini, Leona tidak pernah tahu keberadaan Zeroun. Serena dan Daniel belum pernah membawa Aleo maupun Leona pergi ke inggris untuk berkunjung di istana megah Zeroun dan Emelie. Kesibukan telah membuat Serena dan Daniel lupa akan waktu yang terus berjalan cepat. Hingga tidak terasa, sudah cukup lama ia tidak bertemu langsung dengan sahabat terbaiknya itu. Selama ini mereka hanya memberi kabar melalui telepon saja.
“Dijodohkan?” tanya Leona bingung.
“Ya, sayang. Mama dan Papa di jodohkan. Kami saling jatuh cinta setelah menikah,” ucap Serena dengan bibir tersenyum. Wanita itu menyelipkan rambut Leona di belakang telinga. “Apa kau sedang jatuh cinta saat ini?”
Leona mengukir senyuman. “Aku tidak tahu ini jatuh cinta atau tidak Ma. Dia pria yang sangat asyik untuk di ajak bicara,” jawab Leona sambil membayangkan wajah Zean.
“Siapa? Apa mama boleh tahu?” Serena terlihat sangat penasaran.
Leona menggeleng pelan. “Ma, selama ini semua yang terjadi dalam hidup Leona dan Kak Aleo selalu saja mama ketahui. Untuk hal yang satu ini, apa mama mau berjanji sama Leona. Mama jangan mencari tahu soal urusan percintaan Leona dan Kak Aleo. Kami sudah besar, Ma. Kami berhak memiliki privasi.”
Serena mengangguk pelan. “Baiklah. Mama dan Papa tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Tapi, kau harus ingat satu hal Leona. Tetap jaga dirimu. Ada banyak pria jahat yang selalu mengucapkan janji palsu. Kau tidak bisa mempercayai semua pria yang jika berada di hadapanmu bersikap baik. Bisa saja ia memiliki niat jahat di belakangmu. Apa kau mengerti maksud mama?”
“Ya, Ma. Leona sayang sama mama.” Leona memeluk tubuh Serena.
“Jika saatnya telah tiba, kau harus memperkenalkan mama dengan pria itu. Mama akan menilai baik buruknya pria itu nanti,” ucap Serena sambil mengusap lembut punggung Leona.
“Baik, Ma,” jawab Leona dengan senyuman.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Aleo muncul dari balik pintu dengan senyuman yang indah. “Ma, Tante Shabira dan Paman Kenzo datang. Mereka menunggu mama di ruang tamu.”
Serena mengangguk pelan. Wanita itu melepas tubuh Leona dari pelukannya. “Mama ke sana dulu ya sayang?” Serena mendaratkan kecupan sayang di pucuk kepala Leona.
Leona hanya tersenyum manis. Wanita itu memperhatikan punggung Serena yang berjalan menjauh. “Kak Aleo, apa Kwan juga ada?”
“Tentu saja dia juga ikut. Dia tidak memiliki teman selain dirimu,” ucap Aleo dengan tangan terlipat di depan dada.
Leona beranjak dari tempat tidur. Wanita itu berlari kencang menuju ke arah pintu. “Aku akan menemui Kwan!” teriaknya penuh semangat.
Aleo hanya menggeleng pelan kepalanya sebelum mengikuti langkah Leona dari belakang.
***
Meksiko.
Di sebuah ruangan berukuran sempit. Lily duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat. Wajahnya dipenuhi luka. Bahkan tetes darah segar dari dahinya juga masih menetes dengan deras. Tubuhnya di penuhi memar-memar akibat bekas pukulan. Ia menunduk dengan wajah yang sangat sedih. Lily tidak pernah menyangka, kalau hidupnya yang selama ini selalu berkuasa kini bisa berakhir seperti sekarang. Hanya gara-gara jatuh cinta.
Zean duduk di depan Lily. Pria itu bersandar di sebuah kursi kayu dengan tangan di depan dada. Kedua matanya memperhatikan Lily dengan seksama. “Aku sudah mempercayaimu selama ini, Lily. Kenapa kau berubah menjadi wanita pembakang?” ucap Zean dengan wajah yang sangat serius.
“Aku membencimu, Zean,” ucap Lily dengan kepala yang masih menunduk. “Kau tidak akan pernah bisa menguasai mafia yang sudah aku bentuk sejak lama. Mereka akan mencariku dan menyelamatkan nyawaku.” Walau harapannya tipis, tapi lily masih menyimpan harapan kalau pasukan mafia miliknya akan segera muncul untuk menyelamatkannya.
“Lily, apa kau lupa. Kau sudah mengumumkan penyerahan kekuasaanmu di depan semua orang. Sejak saat itu, mafia yang kau bentuk tela berganti nama dengan The Devils.” Zean tertawa penuh kemenangan. “Seharusnya kau menyadarinya sejak awal, Lily. Aku tidak pernah cinta padamu. Bahkan untuk menciummu saja aku merasa sangat jijik. Aku mendekatimu hanya ingin menguasai Brazil.”
“Kau memang pria yang licik, Zean. Kau akan kalah dan musnah bersama dengan keserakahan yang kini sudah kau dapatkan!” umpat Lily kesal.
Zean beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu menjambak rambut Lily agar wanita itu bisa melihat wajahnya dengan jelas. “Zean Wick tidak pernah kalah! Aku pasti akan memenangkan pertarungan ini, Lily.” Zean menghempaskan rambut Lily.
Lily tertawa kencang seolah ada yang lucu saat itu. Wanita itu memandang wajah Zean dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Kau sedang bermain api, Zean. Kau tidak pernah tahu, siapa yang akan kau hadapi. Mereka tidak sendirian. Ada banyak komplotan yang melindungi mereka. Kau tidak akan menang!”
Zean melayangkan satu pukulan di wajah Lily agar wanita itu segera mengunci mulutnya. “Sayangnya nyawamu akan berakhir hari ini juga Lily. Tadinya aku berpikir untuk memberikan kesempatan kepadamu agar bisa melihat kemenanganku. Tapi, sepertinya aku salah. Kau wanita yang banyak bicara!” ucap Zean sebelum memutar tubuhnya. Pria itu menatap wajah anak buah yang berdiri tidak jauh dari pintu. “Habisi dia. Jadikan tubuhnya sebagai makanan ikan di lautan.”
“Baik, Bos,” ucap dua pria itu secara bersama.
Zean tidak lagi peduli dengan Lily. Pria itu melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat Lily di sekap selama beberapa hari ini.
Aku kembali mengulik kisa terdahulu disini. Entah ada yang ingat siapa aku? Tak mengapa jika tidak ada yang ingat, cukup aku saja yang ingat😿.
Aku Cio