Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Three
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Langkah Arabelle terhenti saat akan menuruni tangga menuju dapur, Ia diam-diam mendengarkan percakapan di ruang tamu.
"Jadi bagaimana? Kapan kita akan melangsungkan acara pertunangan itu Tuan dan Nyonya?"
Tak ada suara yang menanggapi, tapi tak lama terdengar jawaban.
"Em bagaimana ya, sebenarnya.." Ucapan Mawar terhenti karena terpotong oleh yang lain.
"Jangan lupa, kita sudah membuat kesepakatan Nyonya. Lagi pula acara pertunangan itu tertunda karena putri kami harus fokus dengan kelulusannya di luar negeri. Dan sekarang mari kita kembali lanjutkan acara pertunangan itu."
Pertunangan? Siapa? Ara memegang dadanya saat merasa denyutan sakit di sana, entah kenapa perasaannya tak enak.
Karena tak ingin mendengar lagi percakapan itu, Ia memilih kembali ke kamarnya. Wanita itu langsung tersenyum saat melihat Finn yang baru turun dari lantai tiga.
"Selamat pagi sayang."
"Pagi Mama." Jawan Finn sambil memeluk Ibunya.
"Finn betah gak di sini?"
Anak itu mengangguk cepat. "Iya, apalagi kalau ada Mama."
Ara jadi tak tega, Ia tahu kalau rumah ini sangat besar dan bisa membuat anak itu nyaman. Apalagi Finn bisa makan-makanan enak dan di sini juga banyak mainan, berbeda saat di apartemen.
Tapi Ara juga sadar ini memang bukanlah rumah mereka, Ia dan Finn tak ada hubungan kekeluargaan dengan keluarga Arion. Walaupun kedua orang tua pria itu baik padanya, tetap saja Ia merasa malu.
"Finn mau ikut Mama pulang gak?"
Anak kecil itu terdiam sebentar, berpikir. "Em Mama mau pulang?"
"Iya, inikan bukan rumah kita."
"Tapi kata Papah ini rumah kita." Cicit Finn sambil menundukan kepalanya.
Ara lalu berjongkok dan memegang kedua tangan mungil putranya. "Ya sudah kalau Finn mau di sini, Mama pulang ya. Jangan nakal."
Finn menahan tangan Ibunya saat akan pergi. "Mama, kenapa kita tidak tinggal saja di sini? Bukankah kita keluarga?"
Sakit sekali dada Ara melihat kepolosan putranya, anak itu pasti menganggap Ia dan Arion adalah suami istri. Tapi kenyataannya memang bukan, mereka sudah berpisah sejak Finn masih ada didalam kandungannya.
Finn memang belum mengerti karena anak itu masih terlalu kecil untuk tahu semua. Sebenarnya Ara takut kalau Finn tahu bagaimana hubungannya dengan Arion.
"Mama kan harus jagain apartemen, kalau ditinggal nanti gimana dong?"
"Ya sudah pindah saja, kita tinggal sama Papah, Nenek dan Kakek."
Harus apa lagi Ara menjelaskan pada Finn, anak itu sangat pintar.
"Finn dengar nak, sebenarnya Mama dan Papah sudah tidak bersama. Kamu memang anak kita, tapi Mama tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Papah."
***
"Arion bisa kita bicara dulu?"
Pria itu mengangguk pelan lalu bergabung dan duduk di sofa, Arion sangat terkejut karena melihat keluarga Novia ada di sini.
Sudah lama sekali mereka tak bertemu, bahkan seperti menghilang.
"Ada apa?"
"Bagaimana kabarmu nak? Sudah lama kita tidak bertemu."
"Kabar saya baik Nyonya, Tuan."
"Syukurlah. Langsung saja, kedatangan kami ke sini tak lain untuk membicarakan pertunanganmu bersama Novia."
Arion membelakan matanya tak percaya, apa katanya tadi? Melanjutkan pertunangan?
"Apa?!"
"Sebelumnya kami minta maaf acara pertunangan tertunda beberapa bulan karena Novia yang harus fokus mempersiapkan kelulusannya di luar negeri. Dan sekarang karena putri kami sudah selesai dengan urusannya maka mari kita lanjutkan pertunangan itu."
Arion menatap bingung kedua orang tuanya yang hanya diam saja. Apakah mereka setuju?
"Maaf tapi saya membatalkan pertunangan itu."
"Apa?! Kenapa begitu?!" Tanya Ibu Novia.
"Tentu saja, alasannya karena saya tidak mencintai putri anda Nyonya."
"Cinta itu bisa datang jika terbiasa Arion, dan menurut saya kalian memang sudah cocok."
Arion tertawa kecil. "Itu menurut anda Tuan, tapi sekali lagi maaf saya tidak bisa melanjutkan pertunangan itu, lagi pula.."
"..Lagi pula saya sudah menemukan wanita yang saya cintai. Dan kami sudah memiliki seorang putra."
"Hah?!" Orang tua Novia terkejut mendengarnya, mereka menatap tak percaya pria yang akan dijodohkan dengan putrinya.
"Saya tidak ingin menyakiti putri anda Tuan Nyonya, lebih baik saya jujur dari awal sebelum ada yang tersakiti. Sekali lagi maaf, pertunangan itu tidak bisa dilanjutkan karena saya sudah berkeluarga."
Arion lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan ke empat orang itu di ruang tamu. Ya lebih baik Ia jujur saja, lagi pula Arion tak malu mengunggapkan fakta itu.
Saat memasuki kamarnya, pria itu tersenyum melihat Ara yang duduk di balkon bersama Finn. Dilihatnya ternyata mereka sedang bermain monopoli.
"Hayo kalian lagi apa? Kenapa gak ajak Papah?"
"Papah jadi yang jagain Banknya aja ya, soalnya kita mainnya udah dari tadi." Ceria Finn lalu kembali melanjutkan permainannya.
"Hah? Gak mau ah, Papah mau ikut main." Arionpun duduk diantara mereka, Ia duduk memisahkan Ibu dan anak itu.
"Hei kau duduk di sana saja, sempit tahu." Sebal Ara sambil menunjuk kursi kecil didepan mereka.
"Gak mau wlee." Arion memeletkan lidahnya pada Ara.
"Kenapa Mesir dan Australia belum dibeli? padahalkan kalian bisa kaya."
"Uang kita tidak banyak Papah, Finn dan Mama kena denda mulu." Rengek Finn sambil menyandarkan tubuhnya pada sang Ayah.
Dan Arion langsung mengusap rambut Finn sambil mengecupnya. "Ya sudah biar Papah saja yang beli, kalau perlu semua negara Papah beli untuk kalian."
***
"Yakin mau pulang?"
"Iya lagi pula besok Finn sekolah." Ara menjawab tanpa menoleh pada Arion.
"Ya sudah, ayo." Arion hanya bisa mengikuti keinginan Ara. Sebenarnya Ia tak ingin kedua orang itu pergi ke apartemen, lebih baik mereka tinggal di rumahnya. Tapi saat Arion menawari Ara, wanita itu selalu menolaknya.
Sebenarnya Ia juga tahu kalau Ara merasa tak enak, Ia sadar mereka memang tak punya hubungan apapun. Tapi sungguh tanpa hubungan yang jelaspun, kedua orang itu adalah miliknya.
"Apa boleh aku bertanya?"
Arion berdehem tanpa menoleh pada Ara yang duduk di sampingnya karena sedang fokus menyetir.
"Kenapa kau tak menerima pertunangan itu?"
Seketika itu juga Arion langsung terkejut, dari mana wanita itu tahu? Pria itu lalu menghentikan mobilnya disamping jalan yang sepi. Ia melihat Finn yang sedang bermain game di tablet yang di berikannya beberapa hari lalu di kursi belakang.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Bisik Arion karena takut obrolan mereka terdengar oleh putranya.
"Aku tahu saja." Lirih Ara, matanya menatap dalam pria itu. "Aku tak melarangmu menikah dengan orang lain, lagi pula kita ini memang bukan siapa-siapa. Finn juga pasti senang jika punya Ibu.. baru." Cicitnya diakhir kata.
Arion bisa melihat mata Ara yang sudah berkaca-kaca, entah kenapa Ia malah bahagia. Bukan karena apa-apa, tapi apa wanita itu tak rela jika Ia menikah lagi?
Apa Ara cemburu dirinya akan bertunangan? Arion senang karena berarti Arabelle mencintainya. Akhirnya, Ia tahu semuanya.
Pria itu lalu memeluk Ara dan mengecup puncak kepala wanita itu. "Sstt jangan menangis. Aku hanya milikmu, milik kalian, kau dan Finn.
I love you, my wife."
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.