NovelToon NovelToon
Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.

Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..

"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"

Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.

Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Kekacauan di ruang perjamuan kecil itu diredam dengan cepat oleh Adrian. Dengan otoritasnya sebagai Duke dan calon Pangeran Pendamping, ia memerintahkan para bangsawan untuk kembali ke tempat duduk mereka, sementara pengawal elitnya membersihkan tubuh pelayan yang tewas dan sisa-sisa anggur beracun.

"Tidak ada yang perlu ditakuti," ucap Adrian dengan suara tenang namun berwibawa, meski matanya tetap waspada menyapu setiap sudut ruangan. "Insiden ini telah ditangani. Jamuan akan dilanjutkan."

Para bangsawan saling bertukar pandang, wajah-wajah mereka pucat dan penuh ketakutan, tapi tidak ada yang berani membantah. Mereka tahu bahwa menantang Duke Adrian dalam keadaan seperti ini sama saja dengan bunuh diri.

Kayna duduk kembali di samping Adrian, tangannya masih gemetar sedikit. Amulet di lehernya kini berwarna biru stabil, menandakan bahwa sumber racun terdekat sudah dinetralkan (atau lebih tepatnya, sudah mati). Tapi perasaan tidak nyaman itu tidak hilang.

Pelayan itu... batin Kayna. Dia memilih mati daripada tertangkap. Itu berarti dia fanatik. Atau takut pada sesuatu yang lebih mengerikan daripada kematian.

Adrian memegang tangan Kayna di bawah meja, jemarinya menginterlokasi jari-jari wanita itu dengan erat. Sentuhan itu memberikan kehangatan yang menenangkan, tapi juga mengingatkan Kayna pada kenyataan pahit: musuh mereka ada di mana-mana.

"Kita harus pulang," bisik Adrian di telinga Kayna. "Sekarang."

Kayna mengangguk. Ia tidak ingin tinggal di sini lebih lama. Udara di ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh paranoia dan kecurigaan.

Mereka meninggalkan jamuan itu dengan langkah cepat, dikawal oleh empat pengawal elit yang membentuk formasi ketat di sekeliling mereka. Sepanjang jalan kembali ke kediaman Duke, Kayna memperhatikan bayangan-bayangan di koridor istana. Setiap sudut gelap terasa mengancam. Setiap hembusan angin terdengar seperti bisikan konspirasi.

Sesampainya di kamar batu pualam, Adrian langsung mengunci pintu dari dalam. Ia tidak memanggil Rosa. Malam ini, mereka benar-benar sendirian.

Adrian berjalan menuju jendela, memastikan gemboknya masih terkunci rapat, lalu berbalik menatap Kayna. Wajahnya terlihat lelah, garis-garis halus di sekitar matanya tampak lebih dalam di bawah cahaya lilin yang redup.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih pribadi, lebih lembut.

Kayna menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang ia tahan sejak insiden di ruang perjamuan. "Aku... aku takut, Adrian."

Pengakuan itu keluar begitu saja, tanpa filter. Kayna jarang mengakui rasa takutnya. Di kehidupan pertamanya, ia belajar untuk menyembunyikan rasa sakit. Di kehidupan keduanya, ia belajar untuk menutupi keputusasaan dengan sarkasme. Tapi malam ini, topeng itu runtuh.

Adrian melangkah maju, menarik Kayna ke dalam pelukannya. Pelukan itu kuat, protektif, dan penuh dengan emosi yang tertahan.

"Aku juga takut," bisik Adrian di rambut Kayna. "Bukan karena nyawaku terancam. Tapi karena aku takut kehilanganmu. Setiap kali aku melihat kau dalam bahaya, rasanya dunia berhenti berputar."

Kayna memejamkan matanya, bersandar di dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Adrian yang cepat, mencerminkan kecemasan yang sama dengannya.

"Siapa Viper sebenarnya, Adrian?" tanya Kayna pelan. "Lord Harrow hanyalah kaki tangan. Freya adalah alat. Marquis Ardent adalah dalang di belakang layar. Tapi siapa yang mengendalikan mereka semua? Siapa yang punya kekuasaan dan sumber daya untuk menyusupkan agen ke dalam istana Raja?"

Adrian terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Kayna dengan serius.

"Aku memiliki teori," ucapnya pelan. "Tapi itu adalah teori yang sangat berbahaya. Jika benar, maka kita tidak hanya berhadapan dengan sindikat kriminal. Kita berhadapan dengan seseorang yang berada di lingkaran terdalam kekuasaan kerajaan."

Kayna menyipitkan mata. "Maksudmu... anggota keluarga kerajaan?"

Adrian mengangguk perlahan. "Paman Raja. Duke Valerius."

Kayna terkesiap. Duke Valerius adalah adik mendiang Ratu, paman dari pihak ibu Raja. Dia dikenal sebagai pria yang ambisius, kaya raya, dan memiliki pengaruh besar di militer. Selama ini, ia selalu tersenyum ramah kepada Adrian dan Kayna, bahkan pernah memberikan hadiah pernikahan berupa kalung mutiara yang mahal.

"Duke Valerius..." gumam Kayna. "Dia selalu terlihat begitu... sempurna. Terlalu sempurna."

"Justru itulah yang mencurigakan," balas Adrian. "Dia tidak pernah menunjukkan kelemahan. Tidak pernah membuat kesalahan. Dan dia memiliki akses ke dana militer rahasia yang tidak dilaporkan kepada Raja. Dana yang bisa digunakan untuk membiayai sindikat sebesar Viper."

Kayna merasa dingin merayap di tulang punggungnya. Jika Duke Valerius memang dalangnya, maka mereka berhadapan dengan musuh yang sangat kuat, sangat pintar, dan sangat dekat dengan takhta.

"Bagaimana kita membuktikannya?" tanya Kayna.

"Kita butuh bukti fisik," jawab Adrian. "Surat perintah, catatan transaksi, atau pengakuan dari seseorang yang dekat dengannya. Dan satu-satunya orang yang mungkin memiliki akses ke informasi itu adalah..."

Adrian dan Kayna saling memandang. Pikiran mereka bertemu pada kesimpulan yang sama.

"Freya," ucap mereka bersamaan.

Meski Freya diasingkan ke biara, dia adalah keponakan Lord Harrow dan mantan tunangan saingan Kayna. Dia pasti tahu sesuatu. Dan lebih penting lagi, dia pasti merasa dikhianati oleh Duke Valerius jika ternyata dia hanya dijadikan alat buang.

"Kita harus mengunjungi biara itu besok pagi," ucap Adrian tegas. "Sebelum Valerius menyadari bahwa jaringannya mulai terbongkar."

Kayna mengangguk. "Tapi bagaimana kita bisa masuk ke biara tanpa sepengetahuan Valerius? Dia pasti memiliki mata-mata di sana juga."

Adrian tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan rencana licik. "Kita tidak akan masuk sebagai Duke dan Duchess. Kita akan masuk sebagai... pasangan kekasih yang sedang bermasalah dan mencari konseling rohani."

Kayna mengangkat alisnya. "Konseling rohani? Serius?"

"Biara itu dipimpin oleh Ibu Superior Martha, seorang wanita yang sangat religius dan percaya pada kekuatan cinta sejati," jelas Adrian. "Jika kita datang dengan cerita bahwa hubungan kami retak karena tekanan politik dan kami butuh bimbingan spiritual, dia pasti akan menerima kami. Dan yang lebih penting, dia tidak akan melaporkan kedatangan kami kepada pihak luar karena aturan kerahasiaan pengakuan dosa."

Kayna tidak bisa menahan senyumnya. "Kau benar-benar jenius, Tuan Duke. Atau sangat putus asa."

"Mungkin keduanya," balas Adrian, mengecup kening Kayna. "Sekarang, tidurlah. Besok hari yang panjang menanti kita. Dan aku ingin kau segar bugar saat kita menghadapi Freya."

Kayna mengangguk. Ia berbaring di dipannya, tapi kali ini, ia tidak merasa kesepian atau takut. Adrian berbaring di tempat tidur besarnya, tapi ia tidak membelakangi Kayna. Ia menatap Kayna dari kejauhan, matanya waspada tapi juga penuh dengan kelembutan.

"Adrian," panggil Kayna pelan.

"Ya?"

"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku. Karena tetap di sini, bahkan ketika aku mencoba segala cara untuk pergi."

Adrian tersenyum, senyum yang tulus dan hangat di tengah kegelapan malam. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu, Kayna. Karena kau adalah satu-satunya hal yang membuat hidupku berarti."

Kayna memejamkan matanya, merasakan kehangatan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak bermimpi tentang kematian. Ia bermimpi tentang masa depan. Masa depan di mana ia dan Adrian berdiri bersama, melawan badai, dan menang.

Dan mimpi itu... mimpi itu indah.

1
Luna
😣😣ikut tegang 😮😮😱😱😱😱
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Luna
nah gini kan enak sama sama kerja sama mau menghabisi pemberontak🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣 bahasa Jawa nya di bantu mamah alias di hancurin dalam. mulut trs di pindah🤣🤣🤣 muntah q
falea sezi
mending cari jalan buat kabur dr Duke. dripada mati bundir🤣
Wahyu Ningsih
mungkin dia terlalu lelah dgn dunia yg kejam
Wahyu Ningsih
sending banget ceweknya
Luna
coba kau cari kegiatan baru contoh belajar berperang berperang dan membasmi ayahmu sendiri,mungkin itu bisa membuat keputusasaan mu sedikit berkurang
Luna
kalo dibilang capek semua orang juga capek termasuk aku, apalagi capek hidup mau mati rasanya tapi ngebayangin dampaknya mikir dua kali gimana nasib orang yg kutinggalkan ,jika aku mati bunuh diri nambah dosa iya masuk surga juga enggak,yh dijalanin aja sih hidup sampai tuhan sendiri yg manggil aku.
Luna
diberi kesempatan hidup malah ingin mati terus 🤣🤣🤣🤣,
Luna
ngaku ajalah ,,,GK bakalan dieksekusi kok ,,,,mau bunuh diri tapi kalo dewa atau tuhan belum ngasih cap stempel lulus surga yg ada kau ditime travel ke dimensi 2 lain🤣🤣🤣, jangan ngeluh ah . coba kau pergi dari tempat itu berkeliling dunia dengan Rosa cari pengalaman hidup .
ita aja
shock pasti kayna..tdk sesuai ekspektasi
ita aja
cem mana kau kayna
..gagal terus🤣
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 balita katanya🤣🤣🤣🤣
Emalia
😄😄
Emalia
Lagi kk,up yang banyak 🤭🤭
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣mungkin karena berbeda jiwa,Duke Adrian mulai suka ,,,,,
ita aja
lagiii
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!