DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pelindung Dibalik Bayangan
Malam itu bulan tersembunyi di balik gumpalan awan kelabu, membiarkan halaman luas kediaman mendiang Kenzaburo tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Angin berhembus pelan, menyapu dedaunan kering di halaman, namun di antara suara gemerisik itu terdengar langkah kaki yang terukur — lembut, namun tak cukup senyap untuk telinga yang telah terlatih mendeteksi bahaya sejak belasan tahun lalu.
Di balik pilar besar yang menaungi serambi belakang, Kakashi berdiri diam, menyatu dengan bayangan. Ia telah tiba sejak fajar menyingsing, menyelinap masuk tanpa diketahui siapa pun — bukan sebagai tamu, bukan sebagai pengawal yang dilantik, melainkan sebagai bayangan yang tak diundang namun tak akan pergi sebelum tugasnya selesai. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang belum pernah ia cabut sejak meninggalkan kota ini: gagangnya diukir menyerupai wajah iblis bermata celah, senjata yang dulu menjadi tanda kesetiaannya, kini kembali dipegangi untuk satu tujuan saja.
Lima orang menyusup masuk, bergerak beriringan menuju sayap timur kediaman — tempat kamar Nona Aoi berada. Mereka berpakaian serba hitam, wajah tertutup kain, di pinggang tergantung belati dan pedang pendek yang berkilau samar. Mereka tak berbicara, hanya memberi isyarat dengan tangan, yakin tak ada yang menyadari kedatangan mereka. Kediaman ini sepi, penjagaan tipis, sepi seolah tak ada yang peduli.
Hingga suara berat terdengar pelan di belakang mereka.
"Kalian sudah terlalu jauh."
Pemimpin mereka berbalik seketika, namun sebelum ia sempat menarik napas atau mengangkat senjata, bayangan itu melesat. Cahaya pedang berkilat sekejap, dingin dan mematikan. Leher pria itu tersayat — tepat, cepat, tak menimbulkan jeritan. Tubuhnya melorot perlahan, ditarik pelan ke tanah sebelum sempat membentur lantai.
Empat orang lainnya berputar serentak, mata mereka membelalak melihat sosok yang muncul dari kegelapan — wajah tertutup sebagian, hanya sepasang mata yang menatap tajam di balik gagang pedang berbentuk wajah iblis yang terangkat.
"Satu per satu..." bisik suara itu, rendah dan tanpa amarah. "Siapa yang berikut?"
Mereka menerjang bersama, berharap jumlah akan mengalahkan kecepatan. Namun Kakashi bergerak bukan sekadar cepat — ia bergerak seakan bagian dari kegelapan itu sendiri. Ia meluncur di antara hantaman, menghindari belati yang mengiris udara, membalas dengan tebasan yang presisi. Tidak ada pertarungan panjang, tidak ada bentakan. Hanya denting logam sesekali, hembusan napas yang terhenti, dan tubuh yang perlahan jatuh ke tanah.
Yang kedua mencoba lari, namun Kakashi lebih dulu mendaratkan tebasan di punggungnya. Yang ketiga dan keempat menyerang dari sisi kiri dan kanan sekaligus — Kakashi berputar, pedang wajah iblis menyapu leher keduanya dalam satu gerakan mengalir. Yang terakhir berdiri terpaku, tangan gemetar memegang senjata, menyadari bahwa mereka bukan melawan satu orang, melawan kematian yang berjalan di antara mereka. Ia mengangkat pedang, namun kakinya tak kuat melangkah maju. Sebelum ia sempat berbicara atau memohon, tebasan itu turun.
Kesunyian kembali menyelimuti halaman kediaman Kenzaburo. Hanya suara napas Kakashi yang tenang, teratur, tak terengah sedikit pun. Ia berdiri di antara lima tubuh yang kini diam — tidak ada darah yang membasahi lantai secara berlebihan, tidak ada jejak yang mencolok. Ia sengaja melakukannya dengan cepat, bersih, tanpa keributan.
Ia menoleh ke arah jendela sayap timur. Cahaya lampu minyak masih menyala redup di kamar Aoi. Bayangan gadis itu terlihat samar di balik tirai, seakan sedang duduk membaca atau sekadar menatap ke luar. Di sayap seberang, ruang kerja Daiki juga masih terang — siluetnya terlihat sibuk menumpuk berkas-berkas di meja.
Keduanya tidak tahu. Tidak ada yang menyaksikan. Tidak ada yang akan tahu.
Kakashi menarik napas panjang, menyadari satu hal dengan tegas: ia tidak akan mengetuk pintu itu. Ia tidak akan melangkah masuk dan berkata "aku kembali". Ia tidak akan membiarkan nama yang dulu ia kenal, yang kini terancam, tersangkut pada dirinya — seorang ronin yang masa lalunya kelam, yang kehadirannya hanya akan membawa bahaya lebih besar. Daiki memintanya kembali sebagai pengawal, sebagai orang yang diakui. Namun Kakashi tahu: perlindungan terbaik yang bisa ia berikan justru adalah tetap tersembunyi. Biarkan mereka berpikir bahwa keberuntungan yang menjaga, atau penjaga yang tak terlihat. Biarkan mereka tenang.
Ia menyelipkan kembali pedang ke sarungnya, menyembunyikan gagang wajah iblis di balik kain jubah gelap. Ia memastikan tidak ada jejak yang tertinggal — menyusun tubuh-tubuh itu di tempat yang akan ditemukan oleh penjaga pagi nanti, namun tidak ada yang akan mengetahui siapa yang melakukannya. Tidak ada tanda tangan, tidak ada pesan, tidak ada nama. Hanya keheningan yang aman.
Langkah kakinya tak bersuara saat ia melangkah mundur, menjauh dari bangunan itu, menjauh dari cahaya yang menampakkan bayangannya. Ia tidak menoleh sekali pun, meski hatinya terasa tertinggal di sana — di ruangan tempat Aoi duduk, di ruang kerja tempat Daiki berjuang menjaga warisan pamannya.
Perjalanan pulang terasa panjang, meski jaraknya sama. Ia melintasi jalanan kota yang sepi, lalu menembus hutan dan ladang, berjalan terus hingga atap-atap rumah desa tempat ia tinggal kembali terlihat di ufuk timur, disapa cahaya fajar yang mulai memutihkan langit.
Saat ia melangkah masuk ke ruang belakang Karya Baja, udara masih terasa dingin. Toko itu sunyi, belum ada yang bangun. Kakashi berdiri sejenak di tengah ruangan, menatap palu besi dan landasan yang menjadi kesehariannya. Ia kembali — namun bukan sebagai orang yang sama yang pergi tadi. Ia kembali membawa rahasia yang lebih berat, membawa kewajiban yang tak akan ia sampaikan kepada siapa pun.
Ia menyimpan pedang wajah iblis di tempat tersembunyi di bawah lantai, menutupnya rapat-rapat, lalu mencuci tangan dan wajahnya hingga tak ada setitik pun noda yang tersisa. Pagi itu, ketika pintu toko dibuka seperti biasa, dan Kara menyapanya sambil tersenyum, Kakashi membalas dengan senyum tipis yang sama. Tak ada yang tahu. Tak ada yang perlu tahu.
Ia tetaplah pekerja pandai besi yang pendiam. Dan di kejauhan, di kediaman besar itu, dua orang yang ia sayangi akan tetap tenang, tanpa pernah menyadari bahwa setiap malam, bayangan akan berdiri di antara mereka dan bahaya — tak dilihat, tak dipuji, tak dikenal, namun tak akan pergi.