Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana bangun bisnis malam
Suara deru mesin mobil mewah itu mendadak terasa begitu jauh, teredam oleh dentum jantung Celeste yang berdegup liar menghantam tulang rusuknya. Bagaimana cara dia memuaskan suaminya, sedangkan dia nggak tahu harus apa? Posisi bagaimana? Ingin menolak? Percuma. Di depannya adalah sosok pria mesum dan melakukan apa saja untuk keinginannya terwujud.
Lucian menarik Celeste semakin rapat, seolah ingin merengkuh wanita itu masuk ke dalam tulangnya. Dengan napas yang memburu dan terengah-engah, tangan besar pria itu bergerak lincah menelusuri garis tubuh istrinya. Jemari kokoh itu dengan gesit meraih ujung tanktop hitam Celeste, lalu dalam satu gerakan tegas, melucuti pakaian itu sepenuhnya hingga tubuh bagian atas sang istri kini terekspos tanpa sehelai benang pun di hadapannya.
Celeste terkesiap, dadanya naik turun dengan cepat. Udara dingin kabin mobil yang berpadu dengan tatapan memuja sekaligus lapar dari mata kelam Lucian membuat kulitnya merinding hebat. Ia menunduk malu, berusaha menutupi diri, namun Lucian dengan lembut namun mutlak menyingkirkan tangan gemetar itu.
"Jangan sembunyikan dirimu dariku, Este-ku," bisik Lucian serak, suaranya begitu berat dan menghipnotis di tengah deru napas mereka yang beradu. Tangannya bergerak menuntun tangan kecil istrinya, tangan yang beberapa saat yang lalu membuat lawan jatuh, membuka tali pinggang nya.
Celeste melotot lucu sambil meneguk ludah kasar dengan tangan bergetar.
"Relax Dear!" bisiknya lagi. Bersamaan suara klik di sabuk pinggang terdengar. Pria itu kembali menuntun tangan istrinya menarik pelan sabuk itu. Setelah itu, dia membuan sembarangan ke lantai mobil.
Lucian mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya berbisik, "Angkat bok*ngmu sedikit, Dear". Tangan pria itu benar-benar liar dan lihai sangat begitu saja dengan mudahnya melepaskan celana jeans istrinya hingga hanya menyisakan celana dalam.
Pria itu menarik Celeste agar sepenuhnya duduk di atas pangkuannya. Dengan posisi berhadapan, tubuh mereka bersentuhan tanpa ada jarak. Celeste menggigit bibir bawahnya, meraba bahu bidang suaminya dengan canggung. Gerakannya di atas pangkuan Lucian terasa kaku dan ragu-ragu, namun hal itu justru membuat sang penguasa St. Claire mendesis tertahan, kewalahan menghadapi kepolosan istrinya.
Setelah sepenuhnya masuk, Lucian mendesah pelan menatap istrinya penuh gairah. "Gerakkan pinggulmu, dear... ikuti alorku," desis Lucian parau, menuntun jemari Celeste dan mengarahkan pinggang gadis itu.
Malam itu, di dalam mobil yang terisolasi dari dunia luar. Sentuhan Lucian berubah drastis dari yang tadinya menuntut dan liar, kini bertransformasi menjadi kelembutan tingkat tinggi yang memabukkan. Setiap ciuman yang dibubuhkannya terasa begitu memuja, merayap perlahan di setiap inci kulit Celeste dengan penuh kesabaran, seolah sedang menyembah karya seni terindah di muka bumi.
Lucian menatap manik mata Celeste lekat-lekat, menyalurkan seluruh rasa keposesifan, dan kekaguman yang tertahan. Celeste terhanyut dalam gelombang kelembutan itu jemarinya mencengkeram surai hitam suaminya, membiarkan dirinya dibawa melayang menembus batas kesadaran. Ronde demi ronde terlewati dalam keintiman yang teramat dalam dan megah, diiringi desahan napas yang saling memburu, hingga akhirnya mereka menghantam puncak kenikmatan bersamaan, melebur dalam pelukan erat yang membuat seluruh dunia seolah berhenti berputar menjelang subuh.
Ketika detik-detik menjelang subuh tiba, mobil mewah itu akhirnya memasuki pelataran mansion St. Claire.
Celeste terkulai lemah di kursi belakang, tenaganya terkuras habis hingga untuk sekadar mengangkat tangan pun ia tak sanggup. Melihat kondisi istrinya, Lucian bergerak sigap dengan penuh perhatian. Pria itu memakaikan kemeja putih miliknya yang berukuran besar ke tubuh Celeste, lalu meraih selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuh istrinya dengan cermat. Lucian sendiri hanya mengenakan celana panjang dan jas hitam tanpa kemeja, membiarkan dada bidangnya terekspos.
Ia menggendong Celeste gaya bridal style keluar dari mobil. Di lobi utama mansion, Butler Jiro ternyata masih berjaga. Pria tua itu sontak mendongak kaget saat melihat tuannya pulang menggendong sang istri, terlebih karena Jiro tahu persis bahwa Tuan Mudanya seharusnya masih berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis. Jiro menunduk dalam-dalam, menyembunyikan keheranannya.
Alih-alih langsung menuju tempat tidur, Lucian membawa Celeste menuju kamar mandi. Menyadari istrinya terlalu lemah untuk berdiri, Lucian dengan sabar membuka pakaian mereka berdua. Tanpa keraguan, ia melangkah masuk ke dalam bathtub marmer yang sudah terisi air hangat, mendudukan Celeste di atas pangkuannya dengan posisi punggung sang istri bersandar lemah pada dada telanjang suaminya.
Di dalam kehangatan air yang mengepulkan uap tipis, Lucian mengambil spons lembut. Dengan penuh kelembutan yang kontras dengan sisi liarnya di dalam mobil tadi, ia mulai menggosok tubuh Celeste, membersihkan sisa-sisa kelelahan di kulit pucat istrinya.
Celeste memejamkan mata, merasakan kehangatan air dan detak jantung teratur di balik dada bidang Lucian perlahan-lahan mengembalikan kesegarannya. Napasnya mulai teratur.
"Ian..." bisik Celeste serasa membuka matanya, menatap pantulan air di hadapan mereka.
"Hm?" gumam Lucian rendah di dekat telinganya, mengecup pelan rahang istrinya.
"Selama ini... aku terus memikirkan bagaimana caranya keluar dari bayang-bayang rumah itu, hidup mandiri, dan punya kesibukan sendiri," ucap Celeste jujur, suaranya terdengar lembut namun serius. "Aku berencana... ingin mendirikan sebuah bisnis."
Lucian menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap lengan Celeste. Alis tebal pria itu terangkat samar. "Bisnis apa?"
"Sesuatu yang berhubungan dengan dunia malam," lanjut Celeste menoleh sedikit, menatap lurus manik mata suaminya. "Bukan dunia bawah yang berbahaya seperti taruhan liar... tapi sesuatu yang elegan. Seperti galeri seni malam, kafe bernuansa astronomi, atau tempat di mana orang-orang bisa menikmati malam tanpa rasa takut. Karena... bagiku, malam tidak pernah jahat. Justru di sanalah aku merasa hidup."
Lucian terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat binar serius di mata hazel istrinya. Alih-alih melarang atau meremehkan, sudut bibir Lucian justru terangkat membentuk senyum tipis penuh kebanggaan yang teramat menawan.
"Klub malam, galeri, atau apa pun yang ingin kamu bangun..." bisik Lucian, mengecup pelan puncak kepala Celeste dengan penuh kelembutan. "...jadikan itu nyata, Este-ku. Seluruh fasilitas, modal, dan keamanan klan St. Claire akan berada di belakangmu. Jika dunia malam adalah tempatmu bersinar, maka aku akan memastikan seluruh kota ini bertekuk lutut di bawah pijakan kakimu."
Celeste tersenyum tulus, dadanya menghangat seketika. "Benarkah? Apa kamu punya pendapat tentang bisnis apa yang cocok?"
Lucian tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, *Sebuah kafe kedengarannya bagus. Bukan hanya itu, disana kamu juga bisa membuat sebuah galeri yang kamu impikan atau tempat permainan kepada orang-orang yang seharian penuh lelah karena pekerjaan."
"Ok... Bisakah kamu membantuku mencari tempat yang bagus dan indah?" tanya Celeste. Tanpa ia sadari, ia sudah mulai nyaman berbicara dengan Lucian versi malam ini.
"Tentu saja bisa"