NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN DARI NISAN AWEN

Pagi-pagi sekali, Alu sudah terbangun. Mengingat rencana mereka untuk pergi ke makam Awen, semangatnya langsung membara. Dia ingin segera mendapatkan kembali tubuh dan jati dirinya sebelum mereka kembali menjalani perkuliahan.

Alu tidak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi. Dia sudah cukup kesal karena diganggu sekelompok pemuda dan digoda oleh kasir minimarket yang mengira dirinya seorang perempuan.

Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Alu mengenakan pakaian milik Afu karena pakaiannya sendiri sudah tidak cocok lagi dengan tubuhnya sekarang.

Ketika matahari mulai menampakkan diri dan cahaya hangatnya menembus celah tirai kamar, Alu segera menghampiri tempat tidur Afu.

“Afu, bangun!”

Afu hanya membuka mata sebentar, lalu memejamkannya kembali. Dia menarik selimut lebih tinggi hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Namun, Alu tidak menyerah. Dia menarik sedikit selimut itu, kemudian menepuk-nepuk pipi Afu agar saudaranya segera bangun.

“Afu, ayo, buruan bangun! Katanya mau nganterin gue ke makam Awen!”

Cahaya matahari yang menerobos celah tirai jatuh tepat di wajah Afu. Dia mengecap-ngecapkan bibir, lalu membuka mata perlahan.

Alu berdiri di samping tempat tidur sambil membungkukkan tubuhnya. Wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Afu.

Afu langsung terbelalak.

Seorang wanita cantik sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat!

Dia terdiam cukup lama, berusaha menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Alu justru tersenyum ceria.

“Syukurlah, akhirnya lu bangun juga!”

Suara itu menyadarkan Afu dari sisa-sisa kantuknya.

Tanpa berpikir panjang, Afu langsung mendorong tubuh Alu menjauh. Alu hampir terjatuh ke belakang dan buru-buru mengayunkan tangannya untuk menjaga keseimbangan.

“Alu, lu gila, ya?! Gue hampir jatuh kena tembok!”

Afu masih duduk terpaku di atas tempat tidur. Wajah dan suara yang berada di hadapannya membuat perasaannya semakin tidak menentu.

Dulu gue cuma bisa membayangkan Awen ada di samping gue. Tapi sekarang, bahkan saat bangun tidur pun, gue harus melihat wajahnya.

Awen, gue harus gimana menyikapi semua ini?

Sementara itu, Alu yang kesal karena Afu tidak menanggapi omelannya langsung meraih kaleng semprotan obat nyamuk yang terletak di dekatnya, lalu melemparkannya ke arah Afu.

Afu adalah seorang atlet taekwondo amatir. Dia dan Alu pernah mengikuti latihan taekwondo, sehingga meskipun bukan atlet profesional, refleks Afu masih cukup terlatih.

Dengan sigap, Afu berhasil menangkap kaleng semprotan obat nyamuk itu.

“Alu, hati-hati! Kalau kena kepala gue, bisa bocor!”

Namun, bukannya merasa bersalah, Alu justru terpukau melihat kemampuan saudaranya.

“Wih, keren juga lu, Afu! Coba lemparin balik kaleng itu ke gue. Gue pasti masih lebih profesional daripada lu!”

Tanpa menunggu jawaban, Afu langsung melemparkan kaleng tersebut ke arah Alu.

Alu yang semula percaya diri langsung terkejut melihat benda itu melayang ke arahnya. Dia buru-buru mengangkat kedua tangan untuk menangkapnya, tetapi kaleng itu justru melesat melewati celah tangannya dan menghantam keningnya.

TRANG!

“Aduh!” teriak Alu.

Afu langsung panik.

Meskipun yang berdiri di hadapannya adalah Alu, wajah cantik itu tetap mengingatkannya pada Awen, perempuan yang pernah dia sukai.

Afu segera bangkit, menghampiri Alu, lalu membantunya duduk di sofa. Setelah itu, dia mengambil kotak obat dan memeriksa kening saudaranya dengan cemas.

“Mana yang sakit? Biar gue obatin!”

Alu menatap Afu dengan heran. Biasanya, saudaranya itu tidak terlalu peduli terhadap apa yang terjadi padanya. Namun, kali ini Afu terlihat begitu panik hanya karena sebuah kaleng semprotan obat nyamuk.

“Gue nggak apa-apa, Afu. Lagian, cuma kaleng obat nyamuk yang kena kening gue, kok.”

Afu tidak langsung menjawab. Dia menyentuh kening Alu yang mulai sedikit membengkak dan memerah akibat benturan tadi.

Sentuhan itu membuat keduanya mendadak terdiam.

Jantung Alu berdegup kencang. Begitu pula dengan Afu.

Alu menatap tangan Afu yang masih menyentuh keningnya. Tanpa sadar, dia menyentuh tangan itu dengan lembut.

Afu langsung tersentak.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan di antara keduanya.

Namun, Afu segera menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya. Dia menarik tangannya, lalu berdiri dan meletakkan kembali kotak obat ke tempat semula.

“Ya udah, kalau lu nggak apa-apa, gue mau mandi dulu!”

Afu segera meninggalkan Alu.

Sementara itu, Alu masih memegangi keningnya. Dia tersenyum tipis, tetapi tidak bisa menjelaskan perasaan aneh yang baru saja muncul di dadanya.

Seharusnya dari dulu kita memang saling memperhatikan sebagai saudara.

Kenapa dulu kita malah sering bertengkar cuma karena masalah sepele, bahkan terkadang nggak peduli satu sama lain?

Alu mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah perasaan seorang saudara yang mulai menyadari pentingnya perhatian.

Namun, jauh di dalam hatinya, dia sendiri tidak yakin apakah itu benar-benar alasannya atau sekadar cara untuk menutupi debaran aneh yang baru saja dirasakannya.

.....

Setelah menempuh perjalanan dan memasuki jalan yang melintasi kompleks pemakaman, Alu dan Afu memperlambat laju sepeda motor mereka. Keduanya berusaha mengingat posisi makam Awen.

Begitu menemukannya, mereka menghentikan motor dan turun.

Beberapa karangan bunga masih terlihat di sekitar pusara. Ada pula buah-buahan yang sebagian sudah tampak rusak, entah karena dimakan binatang atau diambil orang.

Alu dan Afu segera berjongkok di hadapan makam Awen.

Entah kenapa, Afu mendadak merasa sentimentil. Dia membelai nisan Awen dengan lembut, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Setelah beberapa saat, Alu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu mulai bercerita kepada Awen tentang kejadian yang menimpa diri nya.

“Awen, maafin gue, ya. Kita memang belum akrab dan belum saling kenal. Tapi beberapa waktu lalu, gue pernah menggoda Alu karena sebenarnya dia suka sama lu, meskipun nggak pernah berani mengungkapkannya.”

Alu langsung memukul pundak Afu.

“Lu jangan bawa-bawa nama gue! Ini nggak ada hubungannya sama gue!”

Afu hanya mengangguk-angguk. Dia mengangkat kedua telapak tangannya yang masih saling menempel ke arah Alu, seolah sedang meminta ampun.

Setelah itu, dia kembali menghadap nisan Awen.

“Tapi malamnya, begitu bangun tidur, gue malah udah berubah jadi elo.

Dia diam sejenak, kemudian melanjutkan dengan lebih jelas.

Awen. Sebenarnya, apa lu marah sama gue? Terus, lu ngutuk gue, ya?”

Alu menahan tawa sambil menutup mulut dan memalingkan wajahnya. Menurutnya, ucapan Afu terdengar sangat lucu.

Dia kemudian ikut menghadap nisan Awen.Alu melanjutkan kata-katanya .

“Awen, kenapa lu bikin gue jadi repot, sih? Apa lu benci sama gue?”

Setelah pertanyaan itu terlontar, mereka berdua terdiam. Tatapan mereka tertuju pada nisan Awen, seolah berharap ada jawaban dari sana.

Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita dari balik nisan.

Suaranya agak serak dan berat, seperti suara perempuan dewasa.

“IYA! GUE BENCI SAMA ELU!”

Alu langsung melompat dan memeluk Afu yang masih berjongkok. Keduanya sama-sama ketakutan.

Namun, Afu segera menempelkan telunjuk ke bibirnya, meminta Alu agar tidak panik.

Perlahan, Alu melepaskan pelukannya.

Afu kemudian mendekatkan telinga ke arah nisan, berusaha memastikan apakah suara tadi benar-benar terdengar atau hanya khayalan mereka.

Karena tidak mendengar suara apa pun lagi, Afu akhirnya mundur.

Alu kembali menatap nisan Awen dengan ragu.

“Barusan lu bilang benci sama gue. Apa kita salah dengar?”

Tiba-tiba, suara itu kembali terdengar dari balik nisan.

“ELU NGGAK SALAH DENGAR! GUE EMANG BENCI SAMA ELU!”

Kali ini, Alu tidak memeluk Afu. Dia malah memukul lengan saudaranya untuk memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.

“Afu! Lu dengar suara itu, nggak?”

Afu menelan ludah sebelum menjawab dengan ragu-ragu.

“Sepertinya gue juga dengar.”

Alu kembali menghadap nisan.

“Terus, sekarang lu mau apa dari gue?”

Suara itu kembali terdengar, kali ini dengan jawaban yang sama sekali tidak mereka duga.

“GUE MAU NASI AYAM!”

Alu dan Afu saling berpandangan.

Dengan suara berbisik, Alu bertanya kepada Afu, “Awen minta nasi ayam. Terus gimana?”

Afu menatap Alu, lalu mengangguk.

“Udah, biar gue yang beli. Di pintu masuk tadi gue lihat ada yang jualan.”

“Jangan lama-lama, Fu. Gue takut!”

Afu hendak menjawab, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Dia segera menaiki sepeda motor dan meninggalkan area pemakaman.

Tak lama kemudian, Afu kembali dengan membawa tiga bungkus nasi ayam.

Alu menatapnya heran.

“Afu, lu beli nasi ayam banyak banget?”

“Yang satu buat Awen. Dua bungkus lagi buat kita. Nanti setelah pulang dari sini, kita bisa langsung makan.”

Alu mengangguk, memahami maksud saudaranya.

Dia mengambil sebungkus nasi ayam, lalu meletakkannya di samping nisan Awen.

Keduanya menunggu dengan tegang.

Namun, tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian lusuh dengan rambut gimbal dan tanpa alas kaki muncul dari Balik nisan besar di dekat mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu langsung mengambil nasi ayam yang baru saja mereka letakkan.

Setelah mendapatkan makanannya, dia berjalan pergi sambil bernyanyi.

Alu dan Afu terkejut.

Suara nyanyian wanita itu sangat mirip dengan suara serak yang sebelumnya mengaku membenci Alu dan meminta nasi ayam.

Mereka saling berpandangan.

Beberapa detik kemudian, keduanya akhirnya tertawa setelah menyadari bahwa suara misterius tadi berasal dari seorang wanita yang sering terlihat berkeliaran di sekitar kawasan pemakaman.

Alu mengembuskan napas lega.

“Gila! Gue kira tadi beneran arwah Awen!”

Afu ikut tertawa, meskipun masih merasa malu karena sempat ketakutan.

Akhirnya, mereka meninggalkan makam Awen tanpa mendapatkan jawaban pasti tentang penyebab perubahan tubuh Alu.

Namun, setidaknya satu misteri pagi itu telah terpecahkan.

Bukan arwah Awen yang meminta nasi ayam, melainkan seorang wanita Tunawisma yang bersembunyi di balik nisan.

Sayangnya, soal bagaimana Alu bisa berubah menjadi Awen, mereka masih belum menemukan jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!