NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Marines bacadare

Namanya Hanna Bianco. Dua puluh tahun, dua pekerjaan, satu ibu yang sekarat, dan tak sepeser pun untuk menyelamatkannya. Yang tak pernah ia duga: satu tamparan yang ia daratkan ke pipi seorang pria asing di klub malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Sebab pria itu adalah Luciano Santini—mafioso paling ditakuti, terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Dan malam itu, yang ia mau adalah Hanna. Ia memecatnya, memutus semua jalan keluarnya, lalu menculiknya ke dalam mansion megahnya. "Mulai sekarang," bisiknya, "kau milikku."

Tapi Luciano tak pernah membaca satu hal: gadis rapuh yang ia kurung itu dibesarkan oleh seorang mantan Marinir. Hanna tahu cara menembak, cara bertarung, cara membuat musuh menyesali hari ia dilahirkan. Dan ketika sang mafioso yang tak tersentuh itu justru jatuh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan—ketika pengkhianatan, penculikan, dan kebohongan merenggut mereka berkeping-keping—Hanna akan membuktikan bahwa "tawanan" bisa menjadi senjata paling mematikan.

Dari klub malam ke ruang rapat mafia, dari peluru ke ranjang, dari dendam ke penebusan: sebuah kisah cinta yang panas, brutal, dan tak kenal ampun—tempat pria paling berbahaya di Italia bertemu satu-satunya wanita yang tak pernah takut padanya.

Ia menculiknya karena obsesi. Ia bertahan karena cinta. Dan tak satu pun dari mereka akan keluar dari ini tanpa terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyonya Rumah Ini.

Hanna.

Papa berdiri tepat di depan Luciano dan berkata,

"Jadi Anda ingin sesuatu yang serius dengan putriku. Apa yang membuat Anda yakin bahwa hal yang dulu memisahkan kalian tidak akan terjadi lagi?"

"Tuan Sergio, aku sudah kembali diancam, dan kali ini aku tak akan membiarkan siapa pun memisahkanku dari putri Anda. Itu juga salah satu alasan aku ingin dia tinggal bersamaku. Dia diancam, dan aku belum tahu siapa dalang di balik semua ini."

Luciano menoleh ke arahku dan tersenyum, lalu melanjutkan,

"Dengan dia di dekatku, aku bisa menjaganya. Ke mana pun aku pergi, dia ikut. Aku tak akan membiarkan siapa pun memisahkanku dari putri Anda. Aku mencintainya."

"Anda tahu betapa dalam penderitaan putriku," kata Sergio Bartoli. "Anda tahu betapa sulitnya membuatnya bisa tidur tenang lagi. Putriku sudah memaafkan Anda, dan itu harus kuhormati. Tapi kalau Anda menyakitinya lagi, akan kutembak tepat di antara kedua alismu, Luciano Santini."

"Anda tak perlu khawatir. Itu tak akan terjadi. Aku mencintai gadis cantikku ini. Dan kali ini, kebersamaan kami adalah untuk selamanya."

Papa mendekat ke Luciano dan berkata, "Kau kurestui." Lalu ia melangkah maju dan meninju Luciano hingga terjatuh ke lantai. "Nah, sekarang kau benar-benar mendapat restuku."

Aku berlari ke sisi Luciano.

"Sayang, kamu tidak apa-apa?"

"Bukan apa-apa, sayang. Kurasa aku memang pantas mendapatkannya."

Saat itu ponsel Luciano berdering, dan kudengar ia berkata,

"Siapa kau. Tunjukkan dirimu. Kau tak akan pernah mendapatkannya. Lebih baik kubunuh kau dulu. Aku bersumpah, saat kutemukan kau, kau akan menyesal pernah menyebut namanya." Lalu ia memutus sambungan.

"Ada apa, sayang?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.

"Bajingan itu lagi. Dia tahu kita di sini. Katanya karena aku tak mau melepaskanmu, kau akan… tidak, lupakan. Aku tak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."

"Siapa yang begitu bodoh sampai berani mengancam Hanna Bartoli?" Santiago menimpali. "Tenang, adik kecilku, tak akan ada yang menyentuh sehelai rambutmu, aku berjanji. Akan kukirim anak buahku untuk menjagamu dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu. Untuk sekarang aku harus pergi. Aku dan Tania… harus ke dokter."

"Ada apa dengan Tania, Kak Santi? Dia sakit? Di mana dia? Aku mau menemuinya."

"Tenang, adik kecil. Tania lebih dari baik-baik saja. Kamu akan jadi bibi."

"Apa? Ya ampun! Selamat, Kak! Aku akan jadi bibi, senangnya! Aku bahagia dua orang kesayanganku bersatu, bahagia, dan akan jadi orang tua. Yeeey!"

Aku memeluk kakakku yang tampan.

"Jaga dia baik-baik, Kak Santi. Nanti akan kuomeli si Tania, sahabat yang jahat itu, karena tak memberitahuku."

Aku mengerucutkan bibir dan menyilangkan tangan di dada.

"Iya, karena sekarang kamu sudah punya Tania, aku ditempatkan di urutan… mana? Paling belakang," kataku, bersikap seperti anak kecil.

Santi memelukku dan memutar-mutar tubuhku.

"Itu tak akan pernah terjadi. Kamu akan selalu jadi putri kecilku dan buah hatiku, adikku. Aku sayang kamu."

"Aku juga sayang kamu, Kak Santi. Aku punya kakak paling tampan sedunia."

Kami berpamitan dan berangkat menuju mansion Luciano. Di perjalanan, Luciano menelepon seseorang dan berkata,

"Semuanya sudah siap? Aku dalam perjalanan bersama ratuku, dan semuanya harus sempurna. Kau lihat sendiri, aku menepati janjiku, aku merebutnya kembali. Kuharap sekarang kau memaafkanku." Lalu ia memutus sambungan.

Aku memandangnya dan bertanya siapa tadi, sayang. Ia menjawab,

"Tadi Mario. Selama ini dia hanya bicara seperlunya denganku, sampai aku merebutmu kembali dan kau kembali menjadi Nyonya Santini."

"Iya," aku tertawa dan berkata, "aku senang tahu ada orang yang peduli padaku."

"Sayang, bukan satu orang. Ada tiga—Teresa, dan aku, yang paling mencintaimu…"

"Lalu aku tidur di mana, sayang? Di kamarmu?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alis.

"Sayang, aku ingin kamu tahu bahwa Carola tak pernah menyentuh ranjang kita. Kuusir dia dari rumah ini. Tak dia maupun perempuan lain pernah ada di ranjang itu. Tapi Mario tetap bersikeras dan mengeluarkan semua perabot dari kamar itu. Semuanya baru. Itulah yang tadi kutanyakan padanya."

"Kurasa kamu harus menaikkan gaji Mario," kataku dengan senyum nakal.

Sepanjang jalan, ia terus menggenggam tanganku dan menciumnya, begitu terus hingga kami tiba di mansion.

Kuakui, ada rasa haru saat mengingat semua yang pernah kualami di sini—yang baik dan yang buruk, kebahagiaan dan luka. Saat kami tiba, Mario menyambutku dengan jabat tangan, tapi kupeluk dia erat-erat. Aku sangat merindukannya. Luciano berdehem, dan kusikut dia. Lalu Tere memelukku dengan mata berkaca-kaca dan berkata,

"Nona kembali. Anda tak tahu betapa senangnya saya. Anda cantik sekali, Nona Hanna."

"Terima kasih, Tere. Kamu juga cantik sekali." Lalu Luciano berkata kepada semua orang,

"Sebagian dari kalian sudah mengenal Hanna, wanita luar biasa di sisiku ini, sebagian lagi belum. Bagi yang belum, kuperkenalkan: dia wanitaku dan nyonya rumah ini. Apa pun yang dia katakan harus dilaksanakan, anggap saja seolah akulah yang mengatakannya. Setiap perintahnya wajib dipatuhi. Yang tidak setuju, silakan pergi."

Ia berdiri menghadap mereka, menatap serius, dan berkata,

"Aku ingin kalian selalu mengawasi setiap pintu masuk dan keluar. Dia tak boleh keluar tanpa perlindungan. Meski sudah ada beberapa orang yang menjaganya, itu belum cukup.

Siapa pun yang berani menatapnya dengan pandangan nakal akan mati… Ah, dan satu nasihat: jangan sampai membuatnya kehilangan kesabaran, atau dia sendiri yang akan menghadiahi kalian sebutir peluru."

Ia menggendongku, dan kami terus berciuman sepanjang jalan menuju kamar kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!