Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berkat cesa
Ketegangan di dalam ruang rapat utama Gedung Abraham-Mahardika Holdings telah mencapai puncaknya. AC pusat berteknologi tinggi yang biasanya mampu menjaga suhu ruangan tetap sejuk dan segar, kini seolah menyerah menghadapi konspirasi aroma yang tercipta di dalam sana. Perpaduan antara parfum maskulin premium Prancis seharga belasan juta milik Devan dan sisa-sisa keganasan bumbu jengkol balado medok kiriman koki mansion bersatu padu, menciptakan sebuah atmosfer udara yang sangat unik, eksotis, sekaligus mengintimidasi.
Di ujung meja oval berbahan kayu jati import, duduk tiga orang investor dari Yokohama, Jepang. Pemimpin delegasi mereka, Mr. Takeshi Tanaka, adalah seorang pria paruh baya berwajah sekaku patung samurai. Di sebelah kanan dan kirinya, dua asisten setianya duduk dengan punggung tegak lurus, memegang pulpen dengan presisi tinggi. Sejak lima menit yang lalu, dahi Mr. Tanaka terus berkerut. Hidungnya yang mancung sesekali kembang kempis, mencoba mengidentifikasi molekul udara aneh yang mendadak menyerang indra penciumannya.
Devan berdiri di depan layar proyektor besar dengan remote presentasi di tangan kanannya. Setelan jas hitamnya tampak sangat pas, membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Suaranya terdengar bariton dan penuh wibawa saat memaparkan rencana ekspansi bisnis properti dan teknologi hijau yang sedang mereka canangkan. Gaya bicaranya sangat profesional, bahasa Inggrisnya mengalir dengan artikulasi yang nyaris tanpa cela. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat ke arah dahi Devan, tampak bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan.
Setiap kali Devan membuka mulut untuk menekankan poin penting dalam presentasinya, embusan napasnya yang membawa aroma samar jengkol berpadu parfum itu meluncur ke arah para investor. Devan benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke dalam rawa-rawa saat itu juga. Ia melirik tajam ke arah kursi tepat di sebelah kursi direktur utamanya.
Di sana, duduklah Alice Sabrina Catherine—alias Cesa. Gadis barbar itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Dengan dress kuning terang menyala bak lebah sultan, kacamata hati yang bertengger di atas rambut sanggul acak-acakannya, dan jepit bulu ayam merah muda yang bergoyang genit setiap kali ia menoleh, Cesa justru terlihat sangat menikmati momen tersebut. Di depannya, ia dengan santai membuka stoples kecil berisi kacang atom yang entah sejak kapan sudah berada di dalam tas Hermes-nya.
*KREK... KREK... KREK...*
Suara kunyahan kacang atom Cesa memecah keheningan di sela-sela presentasi Devan. Devan menghentikan bicaranya sejenak, menoleh ke arah Cesa dengan mata yang seolah-olah memancarkan sinar laser pemusnah massal.
Cesa yang merasa ditatap malah menaikkan sebelah alisnya dengan santai. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Devan, berbisik dengan volume yang sayangnya menggema di ruang rapat yang kedap suara itu. "Kenapa lo lihat-lihat gue begitu? Terpesona ya sama kecantikan istri lo yang paripurna ini? Ayo buruan lanjutin ngomongnya, itu Mr. Tepung Beras dari Jepang kayaknya udah mulai ngantuk dengar presentasi lo yang kepanjangan. Kasih gebrakan dong!"
Devan mengepalkan tangan kirinya di balik saku celana. *“Cesa, demi tuhan, diam atau gue seret lo keluar sekarang juga!”* desis Devan lewat tatapan matanya yang membara.
Namun, bukan Cesa namanya jika bisa diancam. Cesa justru mengabaikan suaminya dan beralih menatap Mr. Tanaka. Dengan tingkat kepedean yang melampaui atmosfer bumi, Cesa melambaikan tangannya dengan heboh ke arah investor Jepang itu. "Hello, Mr. Tanaka! Konnichiwa! Genki desu ka? Jangan tegang-tegang banget dong mukanya, nanti kerutan di dahinya permanen loh, kayak jalanan rusak belum ditambal!"
Mendengar ucapan barbar Cesa dalam bahasa campuran Inggris dan Indonesia yang asal-asalan, Sekretaris Andi yang duduk di sudut ruangan langsung memejamkan mata pasrah. Ia sudah bisa membayangkan surat pemecatan dirinya dan hancurnya kerja sama ratusan miliar ini terpampang nyata di depan mata.
Mr. Tanaka terkejut. Asistennya langsung berbisik panik dalam bahasa Jepang, menerjemahkan situasi dan mencoba membaca siapa sebenarnya wanita nyentrik berbaju kuning menyala ini. Mr. Tanaka kemudian menatap Devan dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Excuse me, Mr. Mahardika," ucap Mr. Tanaka dengan aksen Jepang yang kental. "Who is this... colorful lady? And if I may ask, what is this very... peculiar and strong aroma in this room? It is very stimulating, but highly unfamiliar to us."
Devan langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Wibawanya sebagai direktur utama baru benar-benar diuji di titik terendah. Sebelum Devan sempat mengarang cerita atau meminta maaf atas bau jengkol tersebut, Cesa sudah lebih dulu menggebrak meja dengan telapak tangan kanannya.
*BRAKK!*
Semua orang di ruangan itu tersentak, termasuk Devan yang hampir saja menjatuhkan remote presentasinya.
"Ah, let me explain, Mr. Tanaka!" seru Cesa dengan kelancaran bahasa Inggris yang mengejutkan, meskipun nadanya tetap barbar dan penuh penekanan. Cesa berdiri dari kursinya, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap ketiga investor itu dengan pandangan superior bak seorang negosiator ulung kelas dunia.
"This aroma that you smell right now, is the scent of a true leader! This is the aroma of *Archidendron pauciflorum*, or what we local people call: JENGKOL!" ucap Cesa dengan intonasi yang sangat dramatis, seolah-olah ia sedang mempromosikan ramuan rahasia keabadian.
Mr. Tanaka dan kedua asistennya saling berpandangan. *“Jen-kuro?”* beo Mr. Tanaka dengan dahi yang makin berkerut dalam.
"Yes! Jengkol Balado!" lanjut Cesa tanpa memedulikan Devan yang sudah menarik-narik ujung dress kuningnya agar ia kembali duduk. Cesa malah menepis tangan Devan dengan bar-bar. "Denger ya, Mr. Tanaka. Suami gue ini, Mr. Devan yang ganteng tapi emosian ini, baru saja memakan jengkol balado super pedas sebelum rapat ini dimulai. Kenapa? Karena dia sangat menghargai rapat ini! Di Indonesia, jengkol adalah makanan para ksatria, makanan para sultan! Energi yang dihasilkan dari jengkol itu seribu kali lipat lebih dahsyat daripada minuman berenergi mana pun di dunia!"
Cesa melangkah memutari meja rapat, mendekati barisan kursi para investor Jepang dengan gaya petantang-petenteng khasnya. "Suami gue tahu kalau bernegosiasi dengan investor hebat dari Jepang seperti Anda membutuhkan fokus tingkat dewa dan stamina yang luar biasa. Makanya, dia sengaja mengonsumsi makanan sultan ini demi memberikan performa presentasi terbaiknya untuk Anda semua! Bau yang Anda cium ini bukan bau sembarangan, ini adalah bau dedikasi! Bau kerja keras! Bau keringat seorang pria yang siap membawa kerja sama kita menuju puncak kejayaan!"
Devan yang mendengar bualan tingkat tinggi istrinya hanya bisa melongo dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak tahu harus merasa terharu, malu, atau kagum dengan kemampuan Cesa mengarang cerita fiksi ilmiah tentang jengkol di depan investor asing.
Mr. Tanaka tampak tertegun. Penjelasan Cesa yang begitu berapi-api dan penuh keyakinan mulai menggoyang logikanya yang kaku. Pria paruh baya itu kembali mengendus udara. "Dedication... food? A food for sultans and warriors?"
"Exactly!" sambung Cesa, langsung menyambar rantang susun merah muda neon yang tadi ia tinggalkan di meja kerja Devan (dan entah bagaimana sudah dibawa masuk ke ruang rapat olehnya). Cesa membuka tutup rantang susun ketiga yang berisi potongan jengkol balado yang tersisa dan beberapa buah petai segar. Tanpa ragu sedikit pun, Cesa menyodorkan rantang itu tepat di bawah hidung Mr. Tanaka.
"Cesa! Apa-apaan lo! Jangan keterlaluan!" bentak Devan panik, mencoba maju untuk merebut rantang tersebut.
Namun, tindakan Cesa sudah terlambat untuk dihentikan. Mr. Tanaka secara refleks menarik napas dalam-dalam saat rantang itu disodorkan. Aroma rempah balado yang tajam, cabai yang menyengat, dan aroma khas jengkol langsung menusuk rongga hidungnya secara maksimal. Kedua asisten Mr. Tanaka sudah bersiap untuk berdiri dan memprotes tindakan tidak sopan ini.
Tapi yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan semua orang di dalam ruangan. Mata Mr. Tanaka yang biasanya sipit dan tajam tiba-tiba melebar. Tubuhnya yang kaku mendadak bergetar pelan. Ia menatap potongan jengkol berwarna merah kecokelatan di dalam rantang pink itu dengan pandangan mistis.
"Subarashii..." bisik Mr. Tanaka lirih.
"Eh? Apa katanya?" tanya Cesa sambil menoleh ke arah Andi si sekretaris.
"Artinya... luar biasa, Ibu Muda," jawab Andi dengan suara bergetar, antara tidak percaya dan syok.
Mr. Tanaka menatap Cesa dengan mata yang kini berbinar-binar. "This aroma... it has a very deep, earthy, and complex profile. It reminds me of the traditional fermented dishes in old Japan, but with an explosive kick of spices! It feels like... my drowsiness from the jet lag completely vanished in one second! My mind is totally clear now!"
Cesa langsung tertawa ngakak dengan sangat kencang, menepuk bahu Mr. Tanaka dengan bar-bar layaknya menepuk bahu teman tongkrongan. "HAHAHAHA! Tuh kan, apa gue bilang! Jengkol gue gak pernah gagal! Khasiatnya langsung instan mengalahkan kopi mana pun!"
Devan melongo melihat pemandangan di depannya. Seorang investor kelas kakap dari Jepang yang terkenal sangat dingin dan perfeksionis, kini sedang tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk takjub di hadapan istrinya yang berbaju kuning mentereng dan memegang rantang plastik anak-anak.