NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADA YANG MENCATAT HIDUPKU

Hujan turun dengan deras malam itu. Badai petir menyambar sesekali, kilaunya seolah menerangi sepetak kamar kos yang dibiarkan tetap gelap oleh pemiliknya. Hanya ada cahaya remang-remang yang berasal dari ponsel Anaxa. Pria itu sama sekali tidak suka kondisi ruangan yang terang benderang. Dia bisa seketika naik pitam hanya karena lampu kamar dinyalakan tiba-tiba, baginya cahaya terang hanya membuat kepalanya pusing.

Selain itu Anaxa bisa sedikit berhemat tagihan listrik karena tidak perlu menyakan lampu. Alasan yang agak konyol memang, tapi rasanya terdengar masuk akal ketika kamu menjadi mahasiswa rantau yang juga harus bekerja partime membayar uang kuliah mandiri, kos, juga keperluan hidup sehari-hari.

Dan sejak Anaxa resmi menjadi anak kos, makan seadanya, stres masalah kerja, tugas kuliah, dan kebiasaan tidur larut malamnya membuat tubuhnya semakin kurus. Kurang jam tidur membuat dirinya selalu di kondisi "hemat energi" alias tidak berbicara jika tidak perlu, membatasi pergerakan, dan bahkan cenderung menjaga jarak dari keramaian yang seakan-akan turut menguras energi hidupnya.

Hal tersebut membuat Anaxa sama sekali tidak mempunyai teman, bahkan dia rela datang menghadap dosen dan bernegosiasi agar bisa mengerjakan semua tugasnya secara individu. Dan dosen hanya bisa mengiyakan saja permintaan Anaxa, yang merupakan mahasiswa terpintar di kelas bahkan di angkatan jurusan psikologi tahun lulus 2028. Puja kerang ajaib karena Anaxa punya otak super cerdas!

Saat ini Anaxa sedang dalam masa libur selama 2 bulan, dia akan segera memasuki semester 5. Rencananya Anaxa akan memilih penjurusan ke psikologi klinis. Dan sembari menunggu masuk kuliah kembali, Anaxa kembali memfokuskan dirinya ke kerjaan dan juga tidak lupa mengikuti lomba menulis esai penelitian yang sudah berkali-kali dia menangkan sehingga namanya terpanjang di Wall of Fame di kampus dengan deretan panjang prestasinya.

Dan, yeah... begitulah kehidupan normalnya Anaxa Daemyn Elrad, pria berumur 21 tahun kebanggaan kita. Setidaknya kehidupan yang normal di malam berhujan deras itu... sampai di esok paginya semuanya mulai berubah.

Pagi itu Anaxa terbangun pukul 7 pagi. Dia mengecek sebentar notifikasi di ponsel, bangun dari tempat tidur tanpa merapikan selimut, kakinya langsung melangkah ke kamar mandi.

Buang air kecil, gosok gigi, dan cuci muka. Anaxa yang masih memakai celana pendek dan kaos longgar berencana untuk membeli kopi panas dari kedai kopi dekat kos nya. Sendal dipakai lalu pintu kamar kos dibuka. Sebelum sempat beranjak lebih jauh, mata Anaxa segera tertuju ke sebuah amplop coklat tergeletak tepat di depan pintu unit kos nya.

Amplop coklat itu diambilnya. Anaxa langsung membolak-balikan amplopnya namun tidak ada sama sekali nama pengirim atau alamat surat. Benar-benar kosong!

Dengan sedikit kebingungan, Anaxa kembali masuk kedalam kos nya sambil membawa amplop itu. Ternyata lumayan tebal saat Anaxa mengira-ngira berat amplopnya.

Sesudah amplop tersebut dibuka, Anaxa mengeluarkan 200 halaman kertas yang terlihat seperti suatu laporan. Anaxa coba membaca kertas-kertas itu dengan cepat. Dan tak lama setelah itu...

"Plak!"

200 halaman laporan itu seketika jatuh dengan banyak halaman yang menyebar berantakan di atas meja. Tubuh kurus Anaxa merinding hebat dan bulu kuduknya berdiri. Anaxa merasakan ngeri hebat yang sama sekali belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Dan jika kau penasaran dengan apa yang membuat Anaxa bisa bereaksi seperti itu, biar ku beri tahu sedikit dari isi laporannya!

Di halaman terakhir bertuliskan seperti ini: "SUBJEK 07 BELUM MENYADARI BAHWA IA SEDANG DIAMATI."

Dengan tangan sedikit gemetar, Anaxa meraih kembali halaman terakhir dan membaca ulang kalimat yang tertera disana dengan lebih teliti. Tak butuh waktu lama, pikiran-pikiran liar mulai terbentuk di kepala Anaxa.

Beberapa saat kemudian, Anaxa tertawa pelan. "Siapa sih yang iseng begini?" Perkataan itu mengisi ruang kos yang sepi tiada jawab. Anaxa mencoba mengambil selebaran kertas lain secara acak lalu membacanya.

HARI KE 17

Subjek kembali tertidur pukul 02:41

Bangun pukul 07:03

Mengabaikan sarapan

Membeli kopi seperti biasa

Menatap hujan 11 menit sebelum berangkat kerja part-time

Anaxa berhenti membaca. Wajahnya yang sudah pucat akibat jarang terkena sinar matahari seakan bertambah pucat saat tulisan tersebut seakan mencatat detail kebiasaan hidupnya. "Sepertinya kebetulan..." ucap Anaxa dengan susah payah.

Dia mengambil halaman lain dan lanjut membacanya.

HARI KE 36

Subjek menangis selama kurang lebih 15 menit

Penyebab belum dapat dipastikan

Setelah itu subjek kembali mengerjakan laporan sampai pukul 03:15

"Ini... Sama sekali tidak lucu... " Anaxa kembali merinding. Panik. Ketakutan mulai menelan dirinya. Pikirnya, bagaimana bisa ada orang lain yang tahu saat dia menangis sendirian di dalam kamar kos nya??!

Anaxa kembali menatap ratusan lembar laporan lainnya yang belum dia baca. Tangannya meraih lembar lain dan membacanya satu persatu. Namun setiap kalimat yang tertera di kertas-kertas itu seakan menambah terror dan kengerian yang dirasakan oleh Anaxa.

HARI KE 58

Subjek menatap ponsel selama 23 menit

Membuka aplikasi pesan sebanyak 17 kali

Tidak mengirim satu pesan pun

Kemungkinan mengurungkan niat menghubungi seseorang

HARI KE 81

Subjek memenangkan lomba esai penelitian tingkat nasional

Tidak menunjukkan ekspresi senang

Langsung kembali bekerja pukul 20:17

Motivasi berprestasi belum dapat dipastikan

Anaxa tidak sanggup berkata-kata. Semua yang dituliskan dalam laporan tersebut adalah benar. Bahkan jam kerjanya juga tepat!

Napas Anaxa mulai tidak beraturan. Halaman lain diambilnya dengan cepat.

HARI KE 103

Subjek menyalakan lampu kamar

Mematikannya kembali dalam waktu 6 detik

Memijat pelipis selama 1 menit 49 detik

Sensitivitas terhadap cahaya masih konsisten

Secara refleks, Anaxa langsung menatap ke saklar lampu kamarnya. Tubuhnya langsung membeku dan kepalanya penuh dengan pikiran yang berkecamuk.

Untuk pertama kalinya sejak Anaxa membuka amplop itu, Anaxa bukan seperti membaca laporan penelitian. Melainkan seperti laporan dari orang yang masih diawasi.

Dan itu dirinya!

Dengan cepat Anaxa menaruh kembali lembar laporan itu di atas meja. Dia langsung berlari dan keluar dari kamar kos nya. Seolah-olah mencari pertanda ataupun seseorang yang saat ini sedang mengawasinya.

Anaxa menelusuri lorong kos. Kosong!

Dia mencoba naik ke lantai dua. Tak ada orang.

Anaxa turun lagi. Masih kosong.

Lalu Anaxa pergi ke luar kos. Dia bertanya kepada pak satpam tua yang menjaga kos an. "Gak ada orang, dek. Cuma kamu yang tetap di kos. Yang lain pada pulang kampung kan?"

Dan ucapan itu seperti petir menyambar di pagi hari yang damai.

"Tapi... tadi pagi ada yang naruh amplop depan pintu saya pak..."

"Amplop?" Pak satpam itu malah bingung.

"Iya. Amplop coklat. Tebal. Banyak kertas."

Pak satpam itu menggeleng pelan. "Dari subuh saya duduk disini, dek. Gak ada orang masuk. Gak ada kurir. Gak ada tamu. Kalau ada orang yang naruh barang, pasti saya lihat." Pak satpam itu menunjuk ke arah gerbang kos yang hanya punya satu jalur akses keluar-masuk.

Anaxa membeku. Tangannya mengepal. Dia menatap bangunan kos nya yang tampak biasa. Lorong sempit. Cat tembok yang mulai mengelupas. Pot dengan banyaknya tanaman mengering. Matanya tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan.

Tetapi, untuk pertama kalinya sejak dia tinggal disana... tempat itu mendadak menjadi asing. Seolah-olah ada yang ikut tinggal bersamanya. Mengawasinya. Mencatat. Menunggu. Bahkan mengetahui setiap rutinitasnya.

Anaxa segera berlalu kembali ke kamar.

"Brak!"

Pintu ditutup dengan kencang. Tangannya dengan gelagapan mengunci dua kali pintu kamar kosnya. Anaxa menarik gorden. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan.

Kolong tempat tidur.

Lemari.

Kamar mandi.

Balkon kecil.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Namun perasaan sedang diawasi tidak ikut menghilang. Anaxa perlahan menoleh ke lembaran laporan yang masih berantakan di meja. Tatapannya kembali berhenti di halaman terakhir. Kalimat terror itu masih ada.

"SUBJEK 07 BELUM MENYADARI BAHWA IA SEDANG DIAMATI."

Kali ini, Anaxa tidak bertanya siapa yang menulis semua laporan itu.

Dia hanya memiliki satu pertanyaan. Apakah orang itu... masih mengamatinya saat ini? 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!