Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA KAU PEDULI
Malam telah larut ketika rumah keluarga Sinclair masih menyisakan cahaya dari ruang kerja di lantai dua. Elma Laurent duduk di sofa panjang dengan sebuah laptop terbuka di atas meja. Beberapa dokumen kasus Evelyn tersebar di sekelilingnya. Sejak sore, ia terus memeriksa berkas, mencocokkan bukti, membaca ulang isi kontrak, hingga menyusun kemungkinan langkah hukum yang akan diambil pihak lawan. Kasus itu jauh lebih rumit daripada perkiraannya. Elma mengembuskan napas panjang, jemarinya memijat pelipis yang mulai terasa berat. Matanya sudah lelah, tetapi pikirannya belum bersedia berhenti bekerja. Ia melirik jam di layar laptop. Pukul sebelas lewat tiga puluh menit.
"Sebentar lagi," gumamnya.
Namun, baru beberapa menit kembali menatap dokumen, rasa perih tiba-tiba menjalar di bagian perutnya. Elma mengernyit. Ia meletakkan tangan di atas perut, mencoba mengabaikannya. Sejak pagi ia memang hanya sempat makan sedikit. Ditambah beberapa malam terakhir yang dihabiskan dengan kurang tidur, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Elma akhirnya menutup laptop, Ia membutuhkan air minum. Dengan langkah perlahan, perempuan itu keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju dapur. Lampu dapur dinyalakan. Ia mengambil sebuah gelas dari lemari, kemudian membuka dispenser. Namun, sebelum sempat menuangkan air, rasa nyeri kembali menyerang. Tangannya refleks bergerak memegang perut. Gelas yang berada dalam genggamannya terlepas.
PRANG!
Suara pecahan kaca terdengar begitu keras di tengah sunyinya rumah. Elma tersentak, ia mundur selangkah, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna.
"Aduh..."
Satu tangannya bertumpu pada meja dapur, sedangkan tangan lainnya menekan perutnya.
Belum sempat ia mengatur napas, terdengar langkah kaki tergesa dari arah lorong.
"Elma!"
Maxime muncul di ambang pintu dapur. Kemeja hitam yang dikenakannya masih tergulung hingga siku. Ia semula hendak mengambil dokumen di ruang kerja ketika mendengar suara benda pecah dan langsung melangkah menuju sumber suara.
"Elma?"
Tatapannya langsung tertuju pada istrinya yang berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Apa yang terjadi?" Maxime segera menghampirinya.
"Jangan bergerak." Tangannya terulur menahan lengan Elma sebelum perempuan itu menginjak pecahan kaca.
"Kau terluka?"
Elma menggeleng kecil. "Tidak. Gelasnya saja yang jatuh."
Maxime tidak langsung menjawab. Perhatiannya beralih pada wajah pucat istrinya. "Lalu kenapa kau seperti ini?"
"Perutku sedikit sakit."
"Sedikit?" Tanya Maxime memastikan.
Elma mencoba tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Mungkin hanya karena terlambat makan."
Maxime menatapnya tidak percaya. "Kau sudah makan malam?"
Elma terdiam.
"Elma."
"Aku tadi makan."
"Berapa banyak?" Maxime meragukan kejujuran Elma.
"Maxime, aku baik-baik saja."
"Itu bukan jawaban". Nada suara Maxime terdengar tegas, tetapi kali ini tidak ada ketajaman seperti biasanya. Ia justru terdengar sangat khawatir.
Elma mengalihkan pandangan.
Maxime menghela napas. Kemudian, dengan hati-hati, ia menyentuh bahu istrinya. "Sejak kapan perutmu sakit?"
"Baru saja."
"Kau sudah merasakannya sejak tadi, bukan?"
Elma tidak menjawab.
Maxime mengerti dari diamnya. "Astaga, Elma..."
Ia mengusap wajahnya sebentar, berusaha mengendalikan kecemasan yang mulai memenuhi pikirannya. "Kita ke rumah sakit."
"Tidak perlu." Elma menolak.
"Elma."
"Aku hanya perlu tidur. Besok juga akan membaik."
Maxime menatapnya cukup lama. "Sayang, lihat aku."
Panggilan itu membuat Elma sedikit terkejut.
Sudah lama Maxime tidak memanggilnya dengan nada selembut itu.
Perlahan, Elma mengangkat wajah.
"Aku tidak sedang memintamu melakukan sesuatu yang sulit," ujar Maxime. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku benar-benar tidak apa-apa."
"Kau bahkan kesulitan berdiri sekarang."
"Aku masih bisa berjalan."
"Dan aku tidak ingin menunggu sampai kau tidak bisa melakukannya."
Maxime menurunkan tubuhnya sedikit agar pandangan mereka sejajar. Tangannya meraih jemari Elma yang terasa dingin.
"Dengarkan aku. Aku tahu kau tidak suka merepotkan orang lain. Aku juga tahu kau selalu merasa bisa mengurus semuanya sendiri. Tapi, kali ini biarkan aku yang mengurusmu."
Elma terdiam. "Aku bisa mengurus diriku sendiri, Maxime."
"Aku tahu."
"Jadi, jangan berlebihan."
"Aku tidak berlebihan." Maxime mengusap punggung tangannya perlahan. "Aku suamimu, Elma. Bukankah sudah seharusnya aku memperhatikanmu?"
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Elma sedikit goyah. Ia menunduk, memperhatikan jemari mereka yang saling bertaut. Maxime tidak pernah benar-benar menjadi laki-laki yang pandai mengungkapkan perhatian. Selama ini, ia lebih sering menyembunyikan kepeduliannya di balik sikap dingin dan kalimat-kalimat singkat. Namun malam ini berbeda. Tidak ada gengsi, tidak ada jarak yang sengaja ia ciptakan. Hanya ada kecemasan yang begitu jelas di matanya.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu," ucap Elma akhirnya.
Dahi Maxime sedikit berkerut. "Merepotkanku?"
Elma mengangguk pelan.
Maxime terdiam beberapa detik sebelum mengembuskan napas. "Elma, ada banyak hal yang harus kupikirkan setiap hari. Perusahaan, keluarga, urusan bisnis, dan berbagai masalah lainnya. Tapi, kau bukan salah satu masalah yang harus kupikirkan sebagai beban."
Ia mengangkat tangan Elma, kemudian menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Jangan pernah menganggap kehadiranmu sebagai sesuatu yang merepotkan bagiku."
Elma menatapnya.
"Kalau kau sakit, aku ingin tahu. Kalau kau lelah, aku ingin kau beristirahat. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, aku ingin kau mengatakannya. Aku tidak bisa menjanjikan akan selalu memiliki jawaban untuk semuanya, tetapi setidaknya jangan menutup kesempatan bagiku untuk berada di sampingmu."
Ada sesuatu yang menghangat di dada Elma, Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Maxime kemudian melirik pecahan kaca di lantai. "Jangan bergerak dulu. Aku akan membersihkannya."
"Tidak perlu. Biar aku saja."
Maxime menoleh cepat. "Elma."
"Apa?"
"Kau sedang sakit perut dan masih ingin membersihkan pecahan kaca?"
Elma mengerucutkan bibirnya sedikit. "Aku hanya mengatakan—"
"Aku tahu. Sekarang, bisakah kau berhenti mengkhawatirkan pekerjaan rumah untuk beberapa menit?"
Nada suaranya begitu lembut hingga Elma tidak menemukan alasan untuk membantah. Maxime mengambil sapu dan pengki yang tersimpan di sudut dapur. Setelah memastikan seluruh pecahan kaca telah dibersihkan, ia kembali menghampiri istrinya.
"Kita berangkat sekarang."
Elma masih terlihat ragu. "Maxime, sungguh, aku hanya—"
"Sayang." Maxime memotong ucapannya dengan lembut.
"Jangan membuatku harus memohon."
Elma terdiam.
Laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kekhawatiran, ketakutan, sekaligus kelembutan yang jarang sekali diperlihatkannya.
"Aku tidak suka melihatmu kesakitan seperti ini," lanjutnya. "Dan aku akan jauh lebih tenang kalau dokter sudah memeriksamu."
Elma akhirnya menghela napas kecil. "Baiklah."
Maxime tampak sedikit lega. "Benarkah?"
"Iya. Tapi jangan terlalu panik."
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di wajah Maxime sedikit mengendur. "Aku akan berusaha."
Ia kemudian melepas jas yang tersampir di kursi dan menyampirkannya ke bahu Elma. "Pakailah. Di luar dingin."
"Aku tidak kedinginan."
"Anggap saja aku yang sedang merasa dingin."
Elma mendongak menatapnya.
Maxime hanya merapikan kerah jas tersebut tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Kemudian, ia menyelipkan satu tangan ke belakang punggung Elma dan tangan lainnya menopang lengannya. "Pelan-pelan. Jangan terburu-buru."
"Aku masih bisa berjalan sendiri."
"Aku tahu. Tapi aku ingin membantumu."
Elma akhirnya membiarkan Maxime membimbingnya menuju pintu depan. Sebelum keluar, Maxime mengambil kunci mobil dan meminta salah satu staf rumah menghubungi sopir. Namun, ia berubah pikiran beberapa detik kemudian.
"Siapkan mobil. Aku yang akan mengemudi."
Elma menoleh. "Kau tidak perlu menyetir sendiri."
"Aku ingin berada di sampingmu sepanjang perjalanan."
Elma tidak lagi membantah.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Maxime mengemudi dengan kecepatan stabil. Sesekali ia melirik ke arah Elma yang duduk bersandar dengan mata terpejam.
"Masih sakit?" Tanyanya.
Elma membuka mata sedikit. "Sedikit."
"Kalau semakin sakit, langsung katakan."
"Iya."
"Jangan ditahan."
"Iya, Maxime."
Laki-laki itu meliriknya sekilas. "Kau terdengar kesal."
Elma menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin kau berkonsentrasi menyetir."
Maxime mengangguk kecil. Beberapa saat kemudian, tangannya bergerak meraih tangan Elma yang terletak di atas pangkuan. Ia menggenggamnya sebentar sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan.
Elma menoleh. "Maxime?"
"Hm?"
"Terima kasih."
Maxime tidak langsung menjawab. "Untuk apa?"
"Karena sudah mengkhawatirkanku."
Kali ini Maxime menoleh sekilas. Tatapannya melembut. "Kau tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti itu."
Elma tersenyum tipis.
"Baiklah."
"Dan satu lagi."
"Apa?"
"Setelah ini, jangan bekerja sampai larut malam."
Elma menghela napas. "Kasus Evelyn belum selesai."
"Kasus itu bisa menunggu beberapa jam." Maxime sudah tahu masalah Evelyn.
"Maxime, kau tidak mengerti. Besok aku harus—"
"Aku tidak sedang menyuruhmu berhenti bekerja."
Maxime mengusap ibu jarinya pada punggung tangan Elma. "Aku hanya memintamu menjaga dirimu sendiri. Kau boleh menjadi pengacara terbaik di ruang sidang, kau boleh menghadapi siapa pun tanpa rasa takut. Tapi ketika berada di rumah, kau tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa kau kuat."
Elma terdiam. "Kau juga boleh merasa lelah, Elma."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa begitu menyentuh. Elma memandang wajah suaminya beberapa saat.
"Aku akan berusaha," jawabnya lirih.
Maxime mengangguk. "Bagus."
Ia kembali menatap jalan, sementara jemarinya tetap menggenggam tangan Elma. Malam itu, setelah sekian lama, Elma kembali merasa tenang, ia tak harus menghadapi semuanya sendirian. Sementara itu Maxime mulai memahami bahwa perhatian kecil yang selama ini ia anggap sederhana ternyata memiliki arti begitu besar bagi perempuan di sampingnya.
☆